Showing posts with label Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan. Show all posts

Thursday, October 25, 2018

Peran Sarjana NU dalam Pendidikan Karakter


















Oleh: Masyhari*

Para lulusan perguruan tinggi (sarjana) selama ini diasumsikan sebagai kaum cerdik cendekia yang memiliki kualitas kemampuan di atas rata-rata. Mereka sering dianggap sebagai orang pintar yang bisa melakukan perubahan dan menjadi problem solver atas berbagai macam problematika yang dihadapi masyarakat pada umumnya.
Oleh karena itu, pantaslah bila masyarakat senantiasa menunggu peran dan kiprah para sarjana dalam memperbaiki kondisi bangsa yang sedang karut marut, dimana penyakit sosial, dekadensi moral dan karakter demikian kronis melanda anak bangsa. Tingkat kenakalan di kalangan remaja demikian tinggi. Sikap hormat terhadap orang tua dan guru sudah makin redup di kalangan pelajar, siswa-siswi kita. Beberapa waktu yang lalu misalnya, kita dihebohkan dengan berita yang sangat menyayat hati, seorang guru SMK di Madura mati di tangan siswanya sendiri. Tentu ini menjadi pukulan berat bagi dunia pendidikan di negeri ini, dan patut menjadi keprihatinan bersama.
Sementara itu, peredaran narkoba di negeri ini sudah demikian hebat menyerang dan menyergap kalangan remaja-muda, para generasi bangsa kita. Bagaimana bangsa ini akan maju, bila generasi mudanya telah teracuni oleh obat-obatan terlarang yang merusak otak dan kesadaran mereka.
Hal itu diperparah dengan meningkatnya angka korupsi di kalangan elit politik dan pejabat di negeri ini, baik di level legislatif maupun eksekutif. Bahkan, untuk menjadi calon anggota legislatif ataupun eksekutif, tidak sedikit "modal mahar" yang harus dikeluarkan. Kasus suap-menyuap pun menyeret banyak nama elit negeri ini. Yang terbaru misalnya, kasus mega korupsi e-KTP tak jua mencapai garis finish. Kian hari, makin menambah daftar panjang pejabat yang terlibat. Para politikus hitam pelaku korupsi bukannya jera karena terjerat tipikor, seakan urat malu telah terputus dari mereka. Kejujuran kini amat mahal harganya.
Oleh karena itu, pendidikan karakter mutlak harus digalakkan secara serius di berbagai lini, khususnya di lembaga pendidikan madrasah sebagai institusi pendidikan di bawah kementrian agama yang lahir dan tumbuh dengan membawa pesan ikhlas beramal. Diharapkan pendidikan karakter akan menjadi peredam atau paling tidak meminimalisir tingkat dekadensi moral di negeri ini.
Di sinilah letak urgensi peran dan kiprah para sarjana, khususnya sarjana Nahdlatul Ulama yang terwadahi oleh ISNU (Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama). Mereka selain telah mengenyam pendidikan di perguruan tinggi (Universitas) juga telah banyak ditempa dengan berbagai macam uji coba kehidupan kala mereka menempuh pendidikan di pesantren. Mereka sudah seharusnya tidak lagi hanya berpikir bagaimana mencerahkan masa depan mereka sendiri, akan tetapi bagaimana menjadi pengobat dahaga bangsa yang kian hari kian kering kerontang, juga bisa meredam gejolak, meredupkan api kebencian oleh isu SARA, berita hoaks, fitnah dan lain sebagainya, dengan turun berperan aktif dalam pendidikan berbasis karakter, sikap dan moral yang baik di lembaga-lembaga pendidikan (sekolah)dan masyarakat tempat mereka mengabdi, bukan hanya kedepankan kecerdasan otak, tapi juga kecerdasan emosi, spiritualitas, kesantunan tutur kata dan sikap. Wallahu a’lam.

Sekretaris PC ISNU Kabupaten Cirebon 2018-2022

Wednesday, August 8, 2018

Pilih Belajar ataukah Mengajar?

"Lebih utama belajar ataukah mengajar?" tanya seseorang.

"Tentu, belajar lah yang lebih utama.
Dan, kalaupun sudah mengajar, tetap harus kita niatkan belajar." Jawabku.

"Banyak orang, ketika sudah berprofesi sebagai "guru" dan mengajar, ia enggan lagi untuk belajar. Karena ia merasa sudah jadi guru dan merasa pintar. Ini bagian dari kesombongan.

Orang yang sudah merasa pintar, ia enggan belajar, ia mudah menyesatkan orang yang berbeda pandangan dan sikap dengannya.

Semakin alim dan luas ilmu seseorang semakin luas pula cakrawala berpikirnya. Ia lebih mudah dan bisa menerima orang lain yang berbeda, dan tidak gampang kagetan.

Karena, semakin banyak belajar akan semakin merasa bodoh dan tidak tahu apa-apa. Sehingga ia akan terus belajar dan banyak piknik, sampai kapan? Hingga ia tutup usia."

Dalam suatu majelis di Pasuruan, seorang guru Qiraati pernah mengatakan, "Belajar wajib, mengajar tidak wajib."

Teruslah belajar. Jangan pernah  mengajar, kecuali berniat untuk belajar.

Wallahu a'lam

Wednesday, October 11, 2017

Silabus Mata Kuliah Pengantar Ilmu Fikih

Silabus Mata Kuliah Pengantar Ilmu Fikih
Sekolah Tinggi Agama Islam Cirebon (STAIC)

Identitas Mata Kuliah
Mata Kuliah: Pengantar Ilmu Fikih
Jurusan/ Prodi: Tarbiyah/ PAI-PMI-PGMI-PBA
Semester/ Tahun: I/ 2017
Dosen Pengampu: Masyhari, Lc., M.H.I

Deskripsi Mata Kuliah

Ilmi fikih merupakan satu disiplin ilmu yang memiliki kedudukan yang sangat urgen di dalam rumpun ilmu keislaman.

Karena itu setiap mahasiswa khususnya di jurusan Tarbiyah diharapkan bisa menguasainya terkait dasar-dasar hukum Islam, masalah-masalah fikih, baik masalah klasik yang memiliki status hukum yang jelas, memiliki dasar hukum tekstual maupun filosofis dan telah  terkodifikasikan secara rapi, maupun masalah kontemporer yang tidak secara eksplisit tertuang di al Quran dan as Sunnah.

Dengan mata kuliah ini, mahasiswa diharapkan memiliki pijakan dasar dan pemahaman, khususnya dalam mengkaji masalah aktual seiring dengan dinamika sosial yang terus berkembang melalui penetapan hukum Islam. Dengan demikian, mata kuliah ini menjadi bekal dasar bagi mahasiswa dalam memahami dan mempelajari Islam secara komprehensif.

Kompetensi
1. Memiliki kemampuan dalam hal memahami dan menjelaskan peran dan fungsi ilmu fikih, berikut prinsip-prinsip dasarnya dalam pemecahan kasus.
2. Memiliki kemampuan dalam menerapkan dan menguraikan cara kerja metode fikih dalam penetapan hukum Islam terhadap permasalahan yang tidak secara eksplisit tertuang dalam teks-teks syariat (al Qur'an dan as Sunnah).

Topik Inti
1. Pengertian dan Ruang Lingkup Ilmu Fikih
2. Sejarah Perkembangan Ilmu Fikih
3. Objek Kajian Ilmu Fikih
4. Hubungan antara Ilmu Fikih dan Ushul Fikih,
5. Fikih dan Syariah
6. Klasifikasi Ilmu Fikih
7. Sumber-Sumber Fikih
8. Kaidah-Kaidah Fikih
9. Metode Ilmu Fikih
10. Karakteristik Fikih Islam
11. Prinsip Dasar Fikih
12. Pengertian dan Pembagian Hukum Syara'
13. Hakim, Mahkum Fih dan Mahkum 'Alaih
14. Ijtihad dan Ikhtilaf
15. Mazhab-Mazhab Fikih
16. Masalah-Masalah Fikih Kontemporer

Referensi
1. Atjep Djazuli, Pengantar Ilmu Fikih
2. Imam Taqiyuddin, Kifayatul Akhyar Fi Halli Ghayatil Ikhtishar
3. Wahbah Az Zuhaily, Al Fiqh Al Islami wa Adillatuhu
4. As Shan'ani, Subulussalam Syarah Bulughul Maram
5. Khuzaimah Tahido Yanggo, Pengantar Perbandingan Mazhab Fikih
6. Musthafa Said Al Khinn, et. al, Al Fiqh Al Manhaji ala Mazhab Al Imam asy Syafi'i
7. Yusuf Al Qaradhawy, Madkhal li Dirasah Asy Syari'ah Al Islamiyyah
8. Manna' Khalil Al Qaththan, Tarikh at Tasyri' Al Islami
9. Referensi lain yang relevan dengan bidang pembahasan.

Dosen Pengampu,

Ttd.

Masyhari, Lc.,M.H.I

Monday, October 2, 2017

Tantangan Mengajar Bahasa Arab Untuk Tuna Netra

Mengajarkan bahasa Arab kepada penyandang tuna netra di kelas dengan penghuni lainnya yang bisa melihat adalah satu tantangan dan ujian. Mungkin berbeda ceritanya bila kelas itu murni kelas tuna netra, lebih mudah lah. Sebab, satu nodel metode pengajaran langsung bisa mencakup semua.

Saat memberi hak pada penyandang tuna netra, dikhawatirkan mahasiswa lainnya merasa cemburu, dan haknya merasa tidak ditunaikan. Ini salah satu tantangannya.

Tatangan berikutnya, saat materi istima' (listening) dan kalam (speaking), mungkin masih bisa di atasi. Buku biasa tidak begitu diperlukan. Para mahasiswa yg bisa melihat, tidak boleh melihat teks, terlebih dahulu. Karena sumber bahasa bunyi adalah suara yang diperoleh melalui indra pendengaran, maka yang diperlukan hanya telinga yang siap menyimak dan konsentrasi.

Setelah menyimak, yang kedua adalah membunyikan huruf, kata dan kalimat yang didengar. Inilah yang disebut kalam (speaking). Bagi yang bisa melihat, bisa saja dengan bantuan tulisan dari buku atau papan tulis.

Saat di ruangan kelas campuran begini, tantangannya lebih besar. Tulisan di papan tulis tidak terlalu berguna bagi penyandang tuna netra. Bagi penyandang tuna netra, semestinya bisa menggunakan buku bertulisan huruf braille. Hanya, fasilitas belum ada.

Namun, soal pembelajaran bahasa, saya banyak belajar dari anak-anak. Saat bayi atau balita, anak bisa memahami bahasa orang tua dan bisa berbicara, meskipun mereka belum bisa baca-tulis. Karena itu, baca tulis itu nomor 3 dan 4, bukan yang utama.

Nah, saat pembelajaran maharat (keahlian) baca dan tulis, tantangan kelas tentu lebih besar. Khususnya, saat di kampus belum ada fasilitas buku braille.

Untunglah, dan alhamdulillah, kini ada smartphone, sudah ada aplikasi audio baca tulisan dan juga keypad ber-audio. Saat mahasiswa lainnya menulis tugas di buku, mahasiswa penyandang tuna netra saya bisa memintanya menuliskannya pakai hape atau leptop, dan dikirimkan via WA atau email. Sayanganya, sampai hari ini, saya tanya ke mahasiswa saya, dia belum mendapati aplikasi keypad Arab yang beraudio, sebagaimana keypad tulisan bahasa Indonesia. Semoga segera diketemukan.

Selain tantangan, ini bisa jadi sebuah anugerah. Dengan ini, saya bisa banyak belajar. Saat ada ujian, berarti ada ilmu dan pengalaman yang akan didapat. Semoga.

Salam
Masyhari

Friday, July 21, 2017

Menyoal FDS

Ada banyak problem mudarat dari FDS (Five Days School yg berimbas pada Full Day School), di samping memang ada beberapa manfaatnya.

Diakui, FDS punya beberapa manfaat dan dalam sejumlah kasus bisa diterapkan, khususnya bagi sebagian orang tua super sibuk, yang tampaknya merasa tak punya waktu untuk dampingi anaknya belajar dan bercengkrama di rumah. Mereka pergi pagi, sementara fajar belum juga menghilang, dan putra-putrinya belum sempat bangun dari ranjang. Mereka pulang dari kantornya, sementara putri-putrinya sudah terbaring di kamar tidur kesunyian. Putri-putri mereka sudah terbiasa, lima hari Senin-Jumat diantar-jemput oleh supir pribadi atau tukang ojek. Dua hari sisanya, Sabtu-Ahad, mereka bisa bercengkrama sekeluarga.

Kisah di atas real, nyata, bukan khayalan belaka. Saya pernah melihat kasus semacam ini sendiri, dan dapat cerita dari anak yang mengalami hal semacam itu. Ya, kasus semacam ini banyak terjadi di kota-kota besar dan di dalam masyarakat sosial tertentu, bukan kebanyakan kita. Sehingga, mereka2 yg alami hal ini, sibuk kerja, mereka sengaja mencari sekolah-sekolah swasta fullday, semisal SDIT, SMPIT, SMAIT, bahkan banyak yang kirim anak-anaknya ke Pesantren.

Ya, sekolah Full Day memang bukan barang baru dalam dunia pendidikan dan persekolahan di bumi ini. Pendidikan alamiah di keluarga sudah memulainya. Bahkan bisa 24 jam sehari semalam. Selanjutnya pendidikan pesantren atau Dayah. Bukan hanya 8-10 jam, anak sekolah, tapi selama 24 jam, para santri di pesantren dibimbing dan diasuh oleh para guru-ustaz dan Kyainya. Hanya sesekali dalam setahun, para santri pulang atau dikunjungi ortunya. Melatih kemandirian.

Bila FDS jadi PILIHAN ia baik saja,, Alternatif, bagi yang mau saja.
Namun, saat FDS jadi kebijakan dan harus dipaksakan secara merata? Sementara tidak semua masyarakat dan rakyat di negeri ini membutuhkan? Selain  pihak pemerintah sendiri belum siap, dari berbagai hal, mulai dari infrastruktur, kurikulum maupun SDM, dan lain sebagainya?!

Terhadap #MadrasahDiniyah/TPQ
FDS ancam Madrasah dan TPQ gulung tikar, minimal banyak "santri" Madin/ TPQ akhirnya DO, karena sudah lelah atau jadwal ngajinya tiba ia masih di sekolah. Sementara, sekolah "umum" negeri di bawah Kemendiknas masih diragukan dalam pendidikan agama para siswanya di sekolahan. Lantas, para siswa dapat pendidikan agama dari mana?
Bukankah 1 kali sepekan 2 jam tak cukup?
Cukup, mungkin?!. Sementara di saat yang sama, materi yang di-UN-kan dapat jatah beberapa kali lipat. Dan, mampukah atau siapkah Sekolah2 Negeri itu ngajarin "ngaji" siswanya, layaknya di madrasah atau TPQ?

Terhadap #Masjid
Dzuhur, anak masih di sekolah. Ashar masih di sekolah. Maghrib, anak sudah lelah. Isya, waktunya ngerjain PR, tugas atau belajar persiapan sekolah.
Tak ada waktu bagi anak untuk sekedar singgah untuk berjamaah di masjid. Apalagi bisa turut takmir (semarakkan) masjid dg kegiatan remas (ikatan remaja masjid), atau kegiatan lainnya. Maka, masjid hanya terisi oleh anak TK, sebagian anak SD (usia balita-10th) dan para manula yg sudah pensiun (50th ke atas).
Di sinilah, bila DKM (Dewan Kemakmuran Masjid) dibentuk untuk meramaikan masjid, maka FDS telah jadikan Kemendiknas sbg Dewan Kesepian Masjid. Saat dua generasi dg gap jauh bertemu,, anak2 kecil dg celotehannya dan keriuhannya, bermain di masjid. Sementara manula harapkan ketenangan masa pensiun untuk beribadah.
Entah, bisa nyambungkah komunikasinya?
Bila mereka sudah makin udzur, siapa yg jadi penerusnya? Sementara remaja masih sibuk di sekolah dan pemuda di lokasi kerjanya.

Terhadap #SosialKemasyarakatan

Banyak anak jadi cuek terhadap lingkungan tempat tinggalnya. Jangankan peduli soal problem sosial, kenal dg tetangga saja tidak. Ia pergi pagi, saat mentari belum juga terbit, dan pulang saat mentari hendak tenggelam dan senja mulai temaram.

Dengan penerapan FDS untuk saat ini, Indonesia dijamin makin suram, muram dan hitam, bukan cerah dan mencerahkan. Wallahu a'lam. Lantas, mengapa FDS tetap dipaksakan?!

#TolakFDS
#AyoMondok
#GoTPQ
#GoMadin

Salam

Masyhari
Alumni Pesantren Ma Tarbiyatut Tholabah Kranji Lamongan

Cirebon, 19 Juli 2017_23:14

Monday, May 8, 2017

Sekolah Abaikan Persoalan Sosial Kemasyarakatan?

Sekolah Abaikan Persoalan Sosial Kemasyarakatan?
Oleh: Masyhari


Saya mempunyai seorang kawan (sebut saja Yanto). Di kampungnya, ia terbilang "pemuda langka", aset masyarakat yang berharga. Di usianya yang ke 26, ia tercatat sebagai sekretaris DKM di kampungnya. Ia merupakan pengurus DKM termuda, karena rerata pengurus DKM sudah tua dan manula, usia 50an-60an tahun. Saat ini, ia tercatat sebagai kandidat master di sebuah kampus negeri di Jawa Tengah.
Dia bisa dibilang seorang single-fighter. Dan demikianlah yang dirasakannya. Karena pemuda dan remaja kampungnya, pada umumnya jarang -untuk tidak menyebut tidak ada- yang turut serta aktif dalam kegiatan keagamaan dan kemasyarakatan di kampungnya. Akhirnya, sampai saat ini, tak satu pun organ kepemudaan hidup dan eksis di kampungnya. Karang taruna tak ada. Ikatan remaja masjid pun tinggal nama. IPNU-IPPNU ataupun IPM-IRM pun belum dikenal di sana. Tampaknya, banyak hal yang digelisahkannya, khususnya terkait fenomena masyarakat yang dihadapi, baik terkait dunia pendidikan ataupun dunia sosio-cultural dan keagamaan yang digeluti.

Satu hari, ia bertukar pendapat, mengkritisi fenomena pendidikan sekolah yang, satu sisi mengaktifkan dan memaksimalkan kegiatan siswa di sekolah, baik dengan kegiatan belajar sesuai kurikulim di sekolah model full-day, hingga kegiatan intra dan ekstrakurikuler. Para siswa pun berjibaku dg tugas-tugas "pendidikan" di lingkungan sekolah dengan penuh semangat. Nilai-nilai berupa angka di raport pun diperebutkan, dan kejuaraan bertingkat- tingkat pun dikejar sekuat tenaga. Inilah yang disebut dengan prestasi yang membanggakan, baik bagi sekolah maupun oleh orang tua di rumah. Para siswa ini kebanyakan jago "kandang". Kandang itu bernama sekolahan. Bangunan fisik tembok, dikelilingi pagar. Berbilang-bilang medali dikalungkan, sejuta prestasi ditorehkan. Namun, di masyarakatnya, ia jarang bergaul, apalagi berperan dan andil dalam kegiatan kemasyarakatan. Dengan tetangga rumahnya saja ia tidak mengenal dan dikenali. Keluar pagi sebelum pukul tujuh, dan pulang ke rumah sementara hari sudah petang. Di hari libur pun ia masih sibuk dengan tugas sekolah,  sekedar bersantai di dalam rumah, bermain-rehat atau rekreasi mencari hiburan keluar di akhir pekan.

Selama ini, kebanyakan tugas yang diberikan sekolah, jarang yang secara teknis bersentuhan langsung dengan masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya. Terbukti, masjid-masjid hanya dipenuhi kaum manula dan anak-anak usia TK. Kegiatan taklim di masjid tidak banyak diikuti oleh para remaja usia sekolah menengah dan mahasiswa. Mereka seakan lenyap, tiada kentara, bahkan belangnya pun tak terbaca mata.

Akibatnya, ia bisa dikata sukses dalam sekolah, namun gagal di masyarakatnya. Kalau setiap siswa mengalami hal serupa, entah bagaimana masa depan "rumah besar kita"?
Sementara dalam teori-teori digemakan dan di mimbar-mimbar seminar diteriakkan bahwa pemuda adalah generasi masa depan. Pelajar adalah agen perubahan. Lantas, bila selama belajar di sekolah hanya dituntut untuk menaikkan ratingnya di lembar-lembar raport, sementara ia jarang dan bahkan tak pernah mengenal dunia masyarakat nyata di sekitarnya, bagaimana ia tidak gagap bila setelah lulus ia dituntut untuk bisa melakukan perubahan? Bisa berinteraksi dan bergaul dengan masyarakat saja sudah bersyukur.

Ini satu PR dunia "pendidikan sekolah". Kurikulum yang ada hendaknya dilakukan perubahan. Pun diharapkan para guru dan pihak sekolah melakukan upaya bimbingan dan pengarahan agar para siswanya turut berperan aktif di masyarakat. Dalam tugas-tugas sekolah pun disisipkan adanya interaksi siswa dg melibatkan masyarakat sekeliling tempat tinggalnya. Karena selama ini, fenomena yang terjadi, banyak siswa dan ortu masih menganggap angka sebagai tujuan dan tarjet dari pendidikan di sekolah. Siswa dituntut untuk aktif belajar di sekolah dan di kegitan intra dan ekstra, karena akan menunjang dan meningkatkan nilainya di mata para gurunya. Sementara perannya di masyarakat, bisa dibilang jarang -untuk tidak menyebut "tidak pernah"- dimasukkan dalam daftar proyek sekolah yang dapat menunjang prestasi dan dimasukkan dalam nilai raportnya. Maklum, karena tarjet yang dikejar masih angka dalam kertas.

Hal ini tentunya tidak berlaku pada sekolah yang sudah tidak menuhankan angka, dan sekolah yang sudah sadar akan pentingnya peran pemuda dalam perubahan masyarakat menuju kemajuan dan lebih baik. Semoga. Di pesantren-pesantren dan sebagian madrasah di sejumlah daerah, sudah banyak melakukan upaya pengakraban pelajarnya dengan masyarakat. Kegiatan pengabdian masyarakat, bakti sosial menjadi agenda rutin. Sebut saja misalnya Mak Tarbiyatut Tholabah Kranji-Lamongan. Di sana, para santri memiliki kegiatan pengabdian masyarakat berupa bakti sosial, sejenis KKN (Kuliah Kerja Nyata) selama beberapa hari di perkampungan atau daerah pelosok.

Bahkan, tak jarang pesantren yang mewajibkan kegiatan pengabdian masyarakat kepada santri yang hendak tamat, sebagai satu syarat kelulusan. Sampai-sampai kebijakan "penahanan ijazah" pun diberlakukan, hingga rampungkan masa pengabdian, semisal di Pondok Modern Gontor Ponorogo. Pesantren Mambaus Sholihin Suci Manyar Greasik, Al-Amin Prenduan-Madura, Pesatren Sidogiri dan sebagian pesantren Al-Irsyad juga melakukan program pengabdian.

Bila sekolah-sekolah di seluruh Nusantara ini melakukan upaya serupa, upaya mendekatkan para pelajarnya dengan masyarakat sekitarnya, tentu akan muncul para pemuda pejuang, generasi perubahan sosial yang tidak gagap menghadapi dunianya. Tidak harus serupa Gontor yang menahan ijazah hingga rampung masa setahun pengabdian. Tapi paling tidak, upaya pengakraban itu dilakukan dengan serius, soal teknis banyak modelnya. Yang terpenting, misinya agar para siswa yang tidak hanya berprestasi di bidang akademik dan sebangsa sekolah, tapi juga siap menjadi agen perubahan masyarakat dan generasi penerus bangsa. Semoga.

Thursday, February 16, 2017

(Men)tradisi(kan) Tulis-Menulis Sejak Dini

Salah satu program ekstra di kelas pasca TPQ Majelis Taklim Enha Warnasari Kesambi adalah latihan menulis. Di kelas yang didominasi peserta yang di sekolah formal kelas 3 SD sampai dengan kelas 7 SMP in sya Allah akan selalu digendakan praktik menulis bebas atau dengan tema tertentu, baik di kelas sekitar 5-10 menit, ataupun melalui PR, minimal satu tulisan setiap pekan. Tugas ini sebagai bentuk latihan agar anak/ santri terbiasa menulis, berani ungkapkan isi hati dan pikirannya, tanpa merasa takut atau malu².

Selanjutnya, di hari berikutnya anak² diminta membacakan hasil tulisannya ke depan kelas. Dan alhamdulillah, di awal bulan kedua semua anak santri MT Nurul Huda sudah maju satu persatu, dan semua santri yang berjumlah 15 anak sudah berani maju, meski awalnya dimulai dengan agak "memaksakan" diri mereka.

Mereka paling tidak sudah bisa menaklukkan dirinya dengan berani tampil di depan. Padahal di hari pertama (Januari 2017), cukup sulit dan berat ketika diminta maju. Saat itu, tulisan pertama yaitu tentang menjawab pertanyaan "mengapa saya enggan maju? Bagaimana caranya untuk mengatasinya?"

Hari berikutnya, tulisannya dibaca guru, malu². Tp hari ini (Februari 2017), mereka sudah berani baca tulisan karya mereka tentang: "Aku ingin menjadi apa? Dan bgmn untuk mewujudkannya?"

Untuk berikutnya, besok PR tulisannya yaitu: "Apa kesukaanku?" Mengapa dan bagaimana?"

Sengaja tema yang ditugaskan adalah yang sederhana dan mudah bagi anak untuk mengungkapkan. Yang terpenting anak percaya diri dan mau untuk menuliskan. Adapun hasilnya, nomor sekian.
Kemudian, yang penting anak berani maju. Adapun kualitas hasilnya, sambil jalan, proses latihan yang terus-menerus dan istiqamah. Sebab, saya meyakini bahwa tulis-menulis itu bukan bakat, tapi jam terbang. Semakin sering menulis (dan diperkaya dengan membaca), semakin bagus pula kualitas tulisan.

Saya berharap dengan latihan menulis setiap hari, anak² kan terbiasa menulis dan berani ungkapkan sesuatu dr hati dan pikiran secara tulisan dan lisan. Menulis berati melatih keberanian diri untuk ungkapkan ide dan gagasan. Hasilnya, ternyata luar biasa, di luar dugaan.

Selain ditampilkan di depan, dari sekian banyak tulisan yang mereka goreskan di buku tulis mereka, saya minta dari mereka untuk memilih salah satu untuk ditulis kembali di kertas, untuk kemudian ditampilkan di Majalah Dinding yang ada di Masjid, bergantian, perpekan dengan tujuan memotivasi mereka dan sekaligus update mading masjid yang sekian lama dibiarkan usang.

Menulis berarti menyusun puzle² pikiran ke dalam rangkaian kata. Dan anak² sudah mulai bisa.
Saya sengaja memasukkan materi "menulis" ini di Pasca. Padahal ini bukan materi wajib arahan dari Qiraati. Tujuannya yaitu untuk melatih anak² menulis, berliterasi sejak dini. Karena berdasarkan pengalaman, saya sering mendapati banyak MAHASISWA yg tidak bisa menulis dengan baik. Syukur² lulus dari MT bisa nulis buku. Minimal buku resep masakan. Salam literasi. [masyharie].

Cirebon, Januari 2017

Kesiapan Guru

Guru merupakan sebuah "profesi" yang mulia. Di tangannyalah, masa depan bangsa, bahkan dunia dan akhirat dititipkan. Menjadi seorang guru, menurut Paul Suparno, harus melalui panggilan jiwa, bahwa ia merupakan hal yang menjadi kegemaran dan cita-cita, bahwa ia merasa bertanggung jawab untuk kemajuan bangsa, dengan mencerdaskan generasinya.

Sebagai bentuk konsekuensi dalam setiap profesi, agar bisa menjalankan amanat dan tugasnya secara maksimal dan profesional, seorang guru, dituntut untuk memiliki kesiapan-kesiapan. Di antara kesiapan tersebut yaitu:

Pertama, kuasai diri. Ketika,

Kedua, kuasai kelas (peserta didik). Ilmu psikologi. Kecerdasan interpersonal dan kecerdasan sosial.

Ketiga, kuasai bahan atau materi yang disampaikan.

Keempat, kuasai metode atau teknik strategi dalam pembelajaran.

Kelima, kuasai media dan administrasi. Menyiapkan media dan administrasi pembelajaran. Serta teknis penggunaan media tersebut dlm menunjang pembelajaran.

Dan, perlu dipahami bahwa guru bukan selayaknya mesin, jalankan aktifitas pengajaran sebatas rutinitas, tanpa tarjet, visi-misi,  dan tidak peduli dengan perkembangan dan kualitas peserta didiknya. Jangan sampai seorang guru tidak tahu, maju atau mundur santrinya. Guru harus berpikir secara progressif, bagaimana agar ada kemajuan, lebih baik dan lebih baik lagi.

Untuk memaksimalkan pelaksanaan kesiapan tersebut, seorang guru bisa menggunakan satu jurus yang dalam manajemen teknis dikenal dengan POAC, yaitu Planning (perencanaan), Organizing (mengatur strategi),  Actuating (aksi dan eksekusi) dan Controling (pengawasan).

Guru harus punya planing (perencanaan) jangka panjang, menengah dan pendek. Punya langkah strategi jitu untuk memuluskan, melancarkan dan menyukseskan rencananya dan tujuannya itu.

Selanjutnya, ia amati dan mendata apa yang telah dilakukan. Seorang guru bisa meminta kepada atasannya (wali kelas, waka kurikulum dan kepala sekolah) untuk mengawasi dan mengamati proses dan kesiapannya dalam mengajar.

Dan, terakhir adalah evaluasi. Untuk lebih baik lagi, ada evaluasi harian, pekanan, bulanan, semesteran, tahunan, dan seterusnya. [masyharie]

Cirebon, 10/02/2017

Peran Penting Guru

Oleh Masyhari

Guru merupakan profesi yang amat mulia. Keberadaannya mutlak harus ada dalam suatu ruang dan masa, dalam setiap agama dan bangsa. Guru adalah pembimbing dan teladan. Ia wakil Tuhan. Tanpanya kita miskin ilmu dan budi. Jalan tak tentu arah, mudah diperdaya setan. Tak ubahnya hewan tanpa tujuan, tak kenal Tuhan.

Jasanya sungguh luar biasa besarnya. Berkat guru, kita bisa apa-apa. Dari guru kita belajar budi pekerti dan kebijaksanaan. Guru adalah teladan, dalam pola pikir, kata dan perbuatan.

Dari guru, kita belajar mendengar, belajar bersabar, apresiasi suara-suara dari luar. Maksimalkan fungsi kedua telinga, indera pendengaran, serap eneka info, kanan kiri. Ia bisa menjadi pengimbang, filter agar seimbang, kita tak bimbang.

Dari guru kita belajar berbicara, tampil berani sampaikan suara, kata hati dan ide pikiran yang terkunci. Kita belajar percaya diri. Bahwa kita bisa, dengan menguasai dan taklukkan diri sendiri.

Dari guru, kita bisa baca. Betah berlama-lama bercengkrama dengan deretan abjad, kata menyelami samudera makna, belantara informasi, dari fakta, opini, mitos, hingga hoax. Guru jadi pemandu, sharing dan bantu saring, mana asli mana palsu.

Dari guru kita bisa menulis, pun bisa melukis. Menulis, melukiskan suara abstrak dalam hati dan pikiran, dalam goresan pena atau ujung jempol kita.

Kesambi, 08/02/2017_ 11.55

Tuesday, September 15, 2015

Cinta dan Panggilan Jiwa

Guru: Cinta dan Panggilan Jiwa
oleh Masyhari
Paul Suparno, dalam bukunya "Menjadi Guru Demokratis di Era Reformasi Pendidikan (MGDdERP)", menulis bahwa 'profesi' guru adalah berdasar panggilan jiwa. Ini yang mendorong adanya rasa ikhlas dalam hati. Melaku tanpa pamrih, hanya ingin berbagi, memberi, tak harap kembali. Karena jiwanya terpanggil untuk bergerak dan merasa bertanggung jawab atas orang lain di sekitarnya.
Mustahil, seorang guru akan melakukan 'tugas' mulianya dengan ringan tangan dan penuh ceria, bila tak ada panggilan jiwa, rasa tanggung jawab pribadinya, sebagai makhluk sosial, menjadi insan yang bermanfaat bagi sesama. Itulah bagian dari tujuannya. Ia yakin bahwa "berbagi" kebaikan adalah bagian dari sifat insan terbaik, khairunnas. Berbagi menjadi kebutuhannya. Inilah pengabdian itu.
Tentunya, panggilan jiwa ini akan memperkuat rasa cintanya terhadap aktifitas kependidikan, cinta terhadap ilmu pengetahuan, cinta pada siswa, cinta pada sesama guru, cinta pada sarana pendidikan, cinta pada buku, dan lain sebagainya.
Bagi seorang siswa, cinta akan menumbuhkan semangat belajarnya. Cinta itu bisa ditumbuhkembangkan di antaranya dengan memberikan pengertian dan penyadaran urgensi ilmu yang akan dipelajarinya. Bila ilmu diibaratkan sebagai makanan atau hidangan, maka belajar itu bisa diibaratkan dengan menyantap dan melahapnya (konsumsi). Bayangkan, bila seseorang dihidangkan makanan yang tidak disukainya, apa dia akan bergairah, bernafsu untuk menyantapnya? Alih-alih bisa masuk ke perut dan bergizi baginya, yang ada perutnya akan mulas dan kembali dimuntahkannya. Karena itu, menanamkan benih cinta, menyiram, memupuk dan merawat pohon cinta merupakan tugas utama, hal penting yang harus dilakukan seorang guru, sebelum melangkah pada tahapan lebih jauh.
Di antara yang bisa menumbuhkan cinta siswa dan gairah belajarnya yaitu ia mengetahui urgensi, segnifikansi dan kegunaan ilmu yang dipelajarinya. Bagi seorang mahasiswa fakultas Syariah, misalnya, bahasa Arab merupakan hal utama yang tidak bisa tidak dikuasainya, tanpa mengesampingkan bahasa lainnya. Bahasa Arab merupakan modal utama baginya. Mayoritas referensi utama hukum Islam berbahasa Arab; Al-Qur'an, As-Sunnah, kitab-kitab babon lainnya. Selain itu, penguasaan terhadap bahasa Inggris dan bahasa dunia internasional lainnya juga penting agar bisa membuka referensi bahan perbandingan, pengayaan dan bisa go internasional. Pun juga dengan bahasa lokal, setempat. Agar ia mampu mengkawinkan antara teks dengan realitas konteks, mampu menyelaraskan antara yang tersurat dan tersirat dengan kondisi dan transformasi zaman.
Faktor lain yang tidak kalah pentingnya untuk menumbuhkan cinta belajar pada ilmu adalah sosok gurunya. Betapa banyak, rasa cinta siswa terhadap ilmu atau bidang studi tertentu akan muncul dan redup, naik dan turun, seiring dengan guru yang mengampu bidang studi tersebut. Karena itu, sebagai guru, langkah awal yang dilakukan adalah berupaya dan berusaha agar menjadi guru yang dicintai siswa, syukur-syukur menjadi guru favorit. Kehadiran kita di kelas senantiasa ditunggu siswa.
"Kapan ya hari senin lagi, biar segera belajar fisika (misalnya). Asyik tahu, belajar sama Bapak guru A." 
Menyenangkan bukan? Bila siswa kita demikian merindukan kehadiran kita.

Bila sebaliknya, kita tidak menyenangkan, tidak "menggairahkan" siswa, bahkan killer, enggan tersenyum dan apatis terhadap siswa kita, maka bukan hanya kita tidak dicintai siswa, tapi ilmu atau bidang studi pun menjadi korbannya. Dan, siapa lagi yang paling bertanggung jawab atas ini semua, kalau bukan kita.
Itu semua karena siswa adalah manusia. Dan, manusia itu ingin cinta dan mencintai, ingin dihargai dan diapresiasi. Bila sekecilpun karya dan kreatifitasnya diapresiasi, ia akan semakin bersemangat. Sebab itu, kita harus menjadi manusia dan memahami karakter manusia. Meminjam istilah Munif Chatib, yaitu menjadi gurunya manusia. Sekian. Semoga bermanfaat. Wallahu a'lam..
Dari sebuah bilik kecil di dekat Stadion Bima Cirebon, 9/06/2015

Monday, September 14, 2015

Soal Hadis Ahkam

Soal UTS matkul hadis ahkam
stid albiruni Babakan Ciwaringin Cirebon

1. Sebutkan dan jelaskan apa saja model atau cara penentuan awal dan akhir bulan hijriyah, dan bagaimana menurut pendapat Anda disertai dengan argumentasi dan dalilnya?

2. Jelaskan bagaimana pendapat para ulama tentang hukum memegang alQuran bagi yang berhadas, serta masing2 dalilnya, dan bagaimana menurut Anda?

3. Menurut Anda, bolehkah berzakat fitrah dengan mata uang, mengapa? Jelaskan disertai dengan argumentasi dan dalil.

Selamat mengerjakan, semoga sukses.

Soal UAS Hadis Ahkam

Soal UAS Hadis Ahkam prodi PMI Stid alBiruni Babakan Ciwaringin

1. Apa yang Anda ketahui ttg nikah mut'ah? Menurut Anda apa hukumnya? Berikan alasan dan argumentasi!

2. Bolehkah seorang wanita yang sedang haid ikut belajar membaca alQur'an di majelis taklim? Berikan alasan dan argumentasi!

3. Tuliskan esai berisi pandangan Anda tentang kafaah dlm pernikahan, kaitannya dengan hadits berikut!

تنكح المرأة لأربع: لمالها ولحسبها ولجمالها ولدينها. فاظفر بذات الدين تربت يداك..

Thursday, September 10, 2015

Penyetaraan Ijazah LIPIA dan Luar Negeri

Mukaddimah

Bisa kuliah di kampus luar negeri merupakan nikmat dan kesempatan yang amat berharga, tidak semua orang bisa mendapatkannya. Apalagi bila berbeasiswa, gratis uang pendidikan dan diktatnya, plus dapat uang saku bulanan. Ya, memang, (ke)banyak(an) kampus di luar negeri, baik di Eropa, Australia, Amerika, Asia, Arab Timteng, memberikan beasiswa, alias kuliah dengan free (majanan), tanpa uang sepeserpun, khususnya timur tengah.  Semoga negeri ini makin sejahtera, terbebas dari lilitan hutang dan bayang-bayang antek asing, dan dipimpin oleh yang adil, beradab dan bijaksana, bukan hanya bijak sini. Sehingga, seluruh bea pendidikan dan institusi kesehatan bisa gratis, khususnya bagi warga miskin. Ämïn.

Sebut saja misalnya Al-Azhar University Kairo Mesir memberikan banyak beasiswa untuk mahasiswa luar negeri dari dana wakaf, katanya hanya untuk jurusan keagamaan saja, sementara kedokteran dlsb berbayar. Di seluruh Universitas di Saudi Arabia, yang saya dengar gratis semua, dan mendapatkan uang saku. Dana berasal dari kas negara yang katanya kebanyakan dari hasil minyak, dan mungkin dari pariwisata. Mekkah-Madinah magnet umat Islam seluruh dunia. Ya, beasiswa tak didapat oleh semua. Fa-bi ayyi äläi rabbikumä tukadzdzibän. "Nikmat mana lagi yang kalian berdua (hai jin dan manusia) dustakan?! (QS ar Rahmän). Banyak alumni SMA/Aliyah yang memimpikannya, paling tidak, konon kuliah di luar negeri itu menaikkan grade prestise diri, katanya.hehe Padahal sih, biasa saja.

Adalah Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA), satu dari sederet kampus yang memberikan beasiswa itu. Selain buku biaya studi, buku diktat, uang gedung, fasilitas perpus, mahasiswa juga memperoleh uang saku bulanan, meski tak seberapa. Kampus ini meskipun berdiri di atas tanah air Indonesia, bumi Nusantara, dimana saat ini masih ngontrak di sebuah gedung kaca biru tua di jalan Buncit Raya Ragunan (seberang Pejaten Village), namun dianggap sebagai kampus luar negeri.

Kampus tersebut merupakan cabang dari Universitas Islam el-Imam Muhammad Bin Saud di Riyadh, Kerajaan Saudi Arabia. Sehingga ijazah (strata satu fakultas Syariah) yang diterbitkannya dianggap ijazah luar negeri yang diharuskan untuk dilakukan penyetaraan di institusi negeri ini. Memang, katanya, sudah ada penyetaraan ijazah S1 LIPIA dengan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta di Ciputat, namun secara individual, mahasiswa alumni harus mengupayakannya sendiri untuk mendapatkan Surat Penyetaraan ijazah. Tentunya, sebagai mahasiswa sangat bersyukur bila seandainya proses ini tidak perlu dilakukan, dan cukup kampus yang membereskannya. Tapi bagaimana lagi, kenyataannya tidak begitu.hehehe

Untuk Apa Disetarakan?

Sebenarnya, tulisan ini dibuat karena pesanan seorang kawan penulis (ini saya yang penulis atau kawan saya yang penulis?hehe) seangkatan di LIPIA, Denis Arifandi (nama penanya DA Pakih Sati), meskipun sebenarnya sudah lama saya sendiri ingin menuliskannya. Tapi ragu, untuk apa dituliskan dan apa pula gunanya ijazah ini disetarakan? Toh, mau ngisi kajian di majelis taklim, di sekolah Islam, jadi khatib, berbisnis, apalagi menulis, tidak diperlukan selembar ijazah, apalagi SK yudisium. Ya toh! Kecuali bila mau lanjutkan studi formal di S2 dan S3.

Meskipun demikian, zaman sudah berubah, berbeda. Kita berada di zaman yang serba birokratis dan formalitas, zaman tulisan, zaman kertas, dimana selembar kertas menjadi begitu penting. Apapun harus ditulis dan dibuktikan dengan selembar kertas, tak terkecuali ijazah. Terkait dengan ijazah yang dikeluarkan luar negeri ada kebijakan regulasi, dimana semua ijazah terbitan luar negeri, bila mau dianggap sah untuk dipergunakan di dalam negeri harus disetarakan terlebih dahulu. Penggunaan itu misalnya untuk daftar PNS, kelengkapan berkas sertifikasi, daftar S2 dalam negeri, dlsb.
Sebenarnya, penyetaraan ijazah ini bukan suatu keharusan. Tapi sebatas kebutuhan dan hak pemegang ijazah luar negeri, agar ijazahnya teregistrasi di dinas pemerintahan dan diakui oleh institusi-institusi di dalam negeri, baik institusi pendidikan, maupun profesi. Artinya, kalau seorang alumni PTLN (Perguruan Tinggi Luar Negeri) ingin bekerja di luar negeri, penyetaraan ini tidak terlalu penting, tampaknya.

Lantas, Kemana Mengurusnya?

Berdasarkan pengalaman pribadi penulis mengurus ijazah sendiri sekitar tahun 2011 dan sebelumnya sekitar tahun 2009 juga sempat diminta bantuan oleh senior, ini diurus di kantor pusat Kementrian Agama. Nama ruangnya lupa saya, tapi kalau sudah berada di lantai 7 atau 8, bisa ditanyakan di sana.
Selain LIPIA, tampaknya alumni kampus-kampus Islam di Timur Tengah juga ada mengurus di ruang itu. Saat mengurus ijazah saya, tampak beberapa ijazah alumni al-Azhar Mesir, Libia, Sudan, Suria, dlsb. Ada sedikit catatan tidak begitu penting, bila dalam ijazah Strata Satu alumni al-Azhar terlulis titel "License" (Lc), di ijazah alumni LIPIA tertulis titel " Bachelor" (Bakalorius). Saya sendiri belum begitu ngeh, apa bedanya? Namun, entah kenapa pada nama-nama alumni LIPIA diberi titel Lc. Ya, mungkin karena wes kadung (sudah terlanjur begitu terkenalnya. Seakan, semua alumni S1 timteng bertitel Lc. Entahlah.hehehe

Kembali ke topik ya. Udah oot nih. Oya, beberapa waktu lalu, ada seorang kawan di kampus pascasarjana, alumni Universitas Al-Azhar Mesir, yang punya info berbeda yang juga based on pengalaman. Katanya, ia mengurus penyetaraan ijazahnya di dikti, di bawah Kementrian Pendidikan Nasional (Kemendiknas). Info serupa juga saya dapatkan dari kawan alumni LIPIA, ia mengurus penyetaraan ijazahnya di dikti. Katanya prosesnya lebih cepat, 2-7 hari kerja.

Setelah saya googling terkait info tersebut, ternyata benar, bahwa selain di kemenag, penyetaraan ijzah luar negeri juga bisa di dikti Kemendiknas, selengkapnya bisa dibaca di ijazahluarnegeri.dikti. (untuk kepastiannya, googling sendiri ya!).

Bagaimana Prosedurnya?

A. Di Kemenag
Sebenarnya, dengan kita datang langsung ke kantor Kemenag di jalan Lapangan Banteng lt. 7 akan dijelaskan prosedur teknisnya. Kita akan diberi selembar kertas kecil berisi syarat-syaratnya, bila tidak diberi bisa minta. Namun, ada baiknya bila kita telah menyiapkan segala berkas yang dipersyaratkan sebelum ke sana, sehingga di sana tinggal menyerahkan berkas. Apalagi bila kita tidak lagi tinggal di DKI Jakarta.

Di antara berkas yang dipersyaratkan yaitu:

Pertama, Pas photo berwarna. Siapkan ukuran 3x4. Tidak ada salahnya jika kita juga menyiapkan yang 4x6. Berapa lembar banyaknya, ya, sebanyak-banyaknya, sekedar buat persiapan. Kalau kuatir gak muat dompetnya, bawa minimal 6 lembar.

Kedua, surat permohonan penyetaraan ijazah Perguruan Tinggi Islam luar negeri. Surat ini kita buat sendiri, bisa pakai tulisan tangan atau ketikan komputer, disertai tanda tangan.
Oya, bila kita tidak bisa datang sendiri mengurusnya, bisa menitipkan pengurusan ke teman atau kenalan kita (itu kalau dia mau dan tidak keberatan. Jangan lupa dikasih uang transport dan jasa, sebagai bentuk nyata dari manusia waras dan sadar, bersyukur). Bila nitip, jangan lupa buat SURAT KUASA kepada yang kita tunjuk sebagai penerima kuasa, disertai tanda tangan pemberi kuasa di atas materai 6 ribu (oya, harga materai di kantor pos biasanya Rp 7rb.).

Ketiga, foto copy ijazah SD-SMA atau sederajat yang sudah dilegalisir, sebanyak 7 (tujuh) rangkap. Dan jangan lupa bawa aslinya untuk diperlihatkan. Namun, berdasarkan pengalaman bantu menguruskan punya kawan pada awal Oktober 2015, untuk foto copy ijazah SD-SMA tidak dilegalisir pun diterima oleh petugas (Bpk Simon). Pun, ternyata, saat itu hanya diminta 2 (dua) rangkap.

Keempat, foto copy ijazah S1 luar negeri dan transkip nilai, beserta terjemahannya, dan jangan lupa bawa aselinya.

Untuk ijazah dan terjemahannya diperbanyak 7 lembar. Namun, saat Oktober 2015, saya hanya diminta 2 (dua) rangkap.
Untuk terjemahannya melalui penerjemah resmi atau yang mendapat stempel resmi dari kampus Anda. Untuk yang pertama, biasanya saya mengurusnya di Penerjemah Zen alHadi di Kramat Jati, perlembar sekitar Rp 50.000-75.000 (tampaknya, kita yang alumni kampus Arab pantas untuk menghandle soal ginian. Menurut info yang masuk ke telinga saya, setiap tahun, lembaga bahasa UI membuka pendaftaran ujian penerjemah resmi tersumpah. Ikutlah kita, agar bisa jadi penerjemah resmi). Hanya saja, sayangnya, menurut info resmi dari edaran penyelenggara, ujian tersebut hanya diperuntukkan bagi pemegang KTP DKI Jakarta. Alasannya, karena ini proyek kerjasama Pemda DKI dengan Universitas Indonesia. Ya, semoga nantinya bisa diperluas untuk seluruh warga Nusantara. Amiin.

Transkip nilai yang diterjemah dan diperbanyak adalah dari semester 1-8. Tapi, pengalaman pribadi, kita serahkan yang semester satu dan delapan pun bisa diterima. Lagi pula, kalau transkip seperti di LIPIA yang 8 lembar diterjemah semua, bisa habis banyak duit kita. Lain cerita bila langsung satu lembar untuk 8 semester.

Kelima, membayar biaya Rp 50.000 (dulu, sekitar th 2011). Dulu saya diminta uang segitu oleh petugas. Uang ini bukan biaya penyetaraan ijazah, tapi uang legalisir 10 rangkap setelah SK yudisium keluar.
Setelah diserahkan berkas tersebut, kita tanya petugas, kapan selesai dan bisa diambil. Waktu itu petugas menjelaskan bahwa sesuai dengan jadwal sidang yudisium yang dalam setahun dilakukan dua kali, dan kita akan diberi info soal ini. Dan, jangan lupa minta nomor telepon atau hape petugas.
Bila sudah tiba waktu yang dijanjikan, jangan lupa telpon petugas yang bersangkutan. Jangan menunggu info dari petugas.

B. Di Dikti Kemendiknas

Setelah membuka situs penyetaraan ijazah luar negeri di dikti, di sana disebutkan kalau pendaftaran bisa onlen dan pengurusan lebih cepat, tidak sampai 7 hari. Maka, saat diminta bantu uruskan penyetaraan ijazah LIPIA punya kawan, pada awal Oktober 2015 saya pun coba mengurusnya di sana.

Letak gedung dikti berada di sebelah barat menghadap bersebrangan dengan istora Senayan. Gedung ini sebenarnya masih di dalam pagar komplek Kemendiknas yang berdekatan dengan Ratu Plaza Jakarta Selatan. Setelah saya lewati bagian FO di pintu lobi gedung dikti, saya langsung diarahkan ke atas, bagian penyetaraan ijazah luar negeri, dan setelah ditanya petugas kalau saya sudah melakukan registrasi online. Karena petugas tidak mau terima tanpa register secara onlen terlebih dahulu dan lakukan janji datang secara online juga, deng bawa kertas berisi nomor dan jadwal yang kita print-out sendiri.

Sampai di sana, saya bertemu petugas. Saat itu petugasnya seorang ibu berusia 50 tahunan tak bertudung. Setelah baca kertas yang saya bawa, dia cek di komputernya yang online. Lantas dia minta ijazah aseli, transkip nilai aseli dan terjemahannya ke bahasa Inggris, serta paspor (berikut visanya) sebagai bukti bahwa nama yang bersangkutan pernah studi di luar negeri. Karena ijazah kawan saya dari LIPIA, dan sebagaimana mafhum bahwa proses perkuliahannya di dalam negeri (Jakarta), maka dikti tidak mengakui ijazah semacam itu. Dikti hanya mengakui ijazah luar negeri yang proses studinya dilakukan di luar negeri, dibuktikan dengan paspor dan visa. Begitu kata petugasnya.

Dengan demikian, untuk LIPIA, berdasarkan pengalaman itu, tidak bisa disetarakan di dikti-kemendikti, tapi ke Kemenag. Berbeda dengan yang proses perkuliahannya langsung dilakukan di Saudi Arabia, Mesir, Sudah, Malaysia, Qatar, Australia, Yaman, Amerika, Jerman, Perancis, dsb. dimana proses penyetaraannya lebih simpel dilakukan di dikti.

Kendatipun demikian, untuk alumni LIPIA ada kabar angin segar. Sejak Januari 2015, Program Studi Sarjana Ilmu Syariah LIPIA Jakarta sudah terakreditasi A oleh BAN-PT. Artinya, menurut sumber yang cukup bisa dipercaya, bahwa dengan menyertakan Foto Copy Sertifikat Akreditasi tersebut, ijazah Fakultas Syariah LIPIA sudah tidak harus peroleh SK Yudisium dari Kemenag, tentunya dengan tetap menyertakan terjemahan ijazah dan transkip nilainya. Syukur-syukur bila ke depan pihak rektorat kampus LIPIA berkenan untuk mengeluarkan ijazah dan transkip nilai versi bahasa Indonesia, serta permudah alumninya dalam proses legalisir ijazah. Semoga saja. Amiin.
Sekian, semoga bermanfaat.

Cirebon, 10 September 2015 dan diupdate 30 Nopember 2015

Tuesday, May 26, 2015

Info Beasiswa NU

Assalamu'alaikum wr wb

Sedikit yang aku ketahui tentang beasiswa S2 &S3 ke Jamiah al-Imam Riyadh Saudi Arabia berdasarkan pengalaman pribadi. Maaf bilamana dianggap sebagai tindakan lancang. Aku sampaikan sekedar agar kawan yang belum tahu, bisa memaklumi. Ini hanya atas nama pribadi, sebagai sesama yang mendapat cipratan kemurahan hati dari Cak Fuad. Bila ada yang salah, mohon dikritisi.
1. Jamiah el-Imam sebagai pemberi beasiswa
2. Pemegang "hak" beasiswa aslinya adalah Cak Fuad. 

3. Sementara LPTNU hanya sebagai legal formal, semacam lembaga untuk meresmikan kerjasama dengan lembaga pemberi beasiswa.

4. Beasiswa itu meliputi uang pendidikan, asrama, buku, living cost dan tiket pp Saudi-Jkt. Selebihnya, wallahu a'lam.
5. Saya sendiri dapat beasiswa, bukan karena lulus seleksi yg ketat, tapi karena faktor kemurahan hati poin ke2, dan tentunya dari Allah swt. Dan alamdulilah, sampai saat ini, aku masih percaya dengan keikhlasan Cak Khalis Fuad al-Mutamakkini.
6. Selain formalitas tes, ada beberapa prosedur yg harus dijalani sebelum berangkat ke Saudi, setelah dinyatakan lulus tes.
7. Setelah ada info diterima, sebagaimana maklum dlm birokrasi Saudi, tidak tentu waktunya kpn kepastian berangkat. Bisa jadi beberapa pekan setelah itu. Bisa pula beberapa bulan setelah itu. Bahkan tidak menutup kemungkinan bisa jd satu-dua-tiga tahun setelah itu. Berdoa saja, semoga lebih cepat dan tepat, dan peroleh yang terbaik.
8. Karena itu, ada sebagian alumni Saudi yg menyarankan kpdku, "meskipun sudah dinyatakan ditrima. Santai saja. Lakukan aktifitas di dlm negeri, seperti kuliah, mengajar, kerja, dlsb sebagaimana biasa. Hingga telah dapatkan info dari Jamiah kpn keberangkatan, dg keluarnya visa."
9. Untuk biaya tiket pesawat ke Saudi, ditalangi dulu oleh penerima beasiswa, dan akan diganti oleh pihak jamiah di Saudi.
10. Untuk biaya akomodasi dan transportasi selama di Jakarta sebelum berangkat adalah dari kantong penerima beasiswa sendiri.
11. Prosedur yg kumaksud pada poin 5 di antaranya yaitu medical check up di Medical Center di bawah Gamca dg biaya Rp 1jt. Bila lulus medical check up san dinyatakan FIT, Anda berarti siap berangkat. Bagi yg UnFIT, berarti belum, artinya jalani pengobatan. Hingga sembuh. Bila UNFIT dan ditunda berangkatnya, uang cek medis bisa diambil kembali (ada chas back jg ya, kayak iklan supermarket..hehe) sebesar 50% (500rb) di Medical Centre.
12. Selain itu ada biaya enjaz, yg besarannya kisaran 1jt (untuk kepastian jumlah, nenunggu info dari poin ke2).
13. Soal pembelian tiket. (Kebetulan, saat pemberangkatan hamlah ula aku yg bantu pemesanan tiket). Sepengalananku, kami pesan ke Rahana Travel (bpk Susilo Condet), via Cak Mukhlison, alias Cak Soni. Di sana, kita booking tiket saja, pada tgl tertentu. Tapi, jangan buru2 tiket diissued sebelum ada kepastian paspor kita telah distampel visa oleh kedutaan Saudi. Sehingga tidak ada kata: tiket hangus.
14. Untuk harga tiket, sesuai dg harga pasar. Bisa berubah-ubah sesuai waktu dan maskapai pesawatnya. Sbgai jaga2, siapkan sekitar 10 jt untul tiket. Kalau ada persediaan dana, beli saja yg bagus, meski mahal, toh nanti akan diganti. Soal ini, bisa komunikasi dg kawan2 hamlah ula yg telah berangkat.
15. Program beasiswa ini serius, bukan main2. Jadi, tak perlu ragu2 dan kuatir tidak jd berangkat. Namun, tetap ingat ttg birokrasi Saudi yg tidak pasti. Toh, bukan rukun iman.
16. LPTNU itu sepengetahuan saya adalah lembaga di bawah NU. Jadi, seperti NU, lahan pengabdian. Kita punya kewajiban terhadapnya untuk ngabdi, setelah lulus pendidikan. Dan, NU tak sewajarnya kita minta pertanggung jawaban apapun atas keluhan kita. Cukup berkeluh pd Allah. Hehehe
17. Ini bukan info resmi dari pihak mana pun. Hanya inisiatif aku sendiri. Smg bermanfaat.
18. Info ini boleh dipercaya, boleh juga tidak. Toh, bukan rukun iman.
19. Bila ada hal2 yg dirasa belum jelas, bisa tanya langsung (pada siapa ya?hehehe. Mungkin langsung ke Cak Fuad ). Dengan catatan, soalan penting dan relevan.hehe
20. Sekalian, mohon doa buatku agar diberikan kesembuhan. Jika pun memang belum diberikan kesempatan untuk ambil beasiswa S3 di Saudi, itu pun harus dianggap yang terbaik. Toh, yang terpenting sudah ada usaha dan doa. Selanjutnya, berserah diri saja pada Allah SWT.
21. Terima kasih khusus buat Cak Fuad dan ibu Najmiyah, atas kemurahan hatinya menjamu kami selama di Jakarta. Juga kepada kawan2 semua. Jazakumullahu khairan katsiira.

Wallahu a'lam. Maaf bila ada kata yang salah.

Cirebon, 24 Mei 2015 

Sekolahku Penjaraku

Menafsir sebuah teks 

Di sebuah dinding pagar di suatu daerah di Cirebon tertulis: "Sekolahku Penjaraku."

Multi tafsir, memang.

Kalau boleh menafsir, penjara diidentikkan sebagai sebuah tempat yang mengekang kebebasan dan penuh dengan penderitaan, tembok derita. Mengerikan sekali bukan?! Karena itu, di zaman kini, dimunculkan istilah pengganti yang lebih manusiawi, LP, Lembaga Pemasyarakatan. Di LP, seorang narapidana bebas mendapatkan pelatihan, bimbingan, kursus, termasuk mengontrol bisnis narkobanya..hehe

Oleh sang anak, sekolahnya disebutnya sebagai penjara. Tempat yang penuh derita dan ketidakbebasan.

Bisa pula, ini hanya sebuah ungkapan kewajaran seorang anak. Hanya kesan positif anak, dimana sekolah yang merupakan sebuah lembaga pendidikan. Di sana, aturan ditegakkan, agar seorang anak tidak berbuat semaunya, seenakudele, ikuti hawa nafsunya. Di sana, kita diberitahu mana yang boleh, mana yang tidak. Sehingga, ia tuliskan itu sebagai bentuk deklarasi, unkapan persetujuannya terhadap sekolahnya. Ya, memang sekolah semestinya begitu. Mungkin begitu maksudnya.

Atau bisa jadi, sebaliknya, karena sang anak merasa terkekang dan menderita. Dimana sebelumnya, di rumahnya dan di ruang luar sekolah, ia bebas berkreasi, tanpa batas, sebebasnya. Lantas, di sekolah ia merasa terzalimi. Karena kreatifitasnya dikebiri, sehingga ia pun menuliskan ungkapan protesnya di dinding milik warga, bukan di majalah dinding atau dinding facebook.hehe

Atau bisa pula, memang si anak yang 'nakal', tak mau diatur, 'brandal', dlsb, sehingga saat sekolah menerapkan kedisiplinan, ia melanggar aturan, lantas dihukum. Dan coretan dinding itu sebagai bentuk kekecewaannya.

Teks, sebagai sebuah objek bisa multi tafsir. Apalagi kita (aku saja lah) belum tahu, siapa yang nulis, kapan ditulis, bagaimana kondisi psikologis penulis saat itu, dan apa yang melatarbelakanginya. Selain itu, sebuah istilah yang musytarak, bermakna lebih dari satu, bisa menimbulkan ambiguitas. Melihat konteks merupakan salah satu yang bisa mendekati maksud asli dari penulis teks. Menelusuri makna sebuah kata atau istilah yang digunakan oleh penulis pada saat itu juga penting. Karena, suatu istilah, bisa berbeda makna antara zaman.

Kendati bagaimanapun, rasanya sulit bisa memastikan hakekat maksud penulis dengan tulisannya. Inilah mungkin letak urgensi hermeneutika sebagai sebuah tool untuk memahami teks. Pembaca hanya berupaya untuk mendekati maksud penulis. Bukan mengklaim diri sebagai penafsir yang paling tepat, sementara tafsiran lain salah.
Anda juga bebas menafsirkan teks ini. Bebas menilai apa naksud di baliknya. Apa pula sasaran yang hendak dituju.
wallahu a'lam.


Cirebon, 26/05/2015

Friday, March 13, 2015

Cerita Pagi di Kampung Pesantren

Siluet mentari pagi dari arah timur mulai menyelinap malu-malu ke dalam gubuk kami. Melalui tepi-tepi jendela, seberkas cahaya kecil hinggap di wajah si kecil Keysa, membangunkannya dari rahat malamnya. Ia mulai membuka matanya, pelan sambil menggeliat, namun masih enggan bangkit dari ranjangnya.
Sementara sang kakak masih terbaring di kasur. Bibirnya tertutup rapat, ditarik oleh kedua sisi pipi kanan kirinya, tersenyum ringan, sementara matanya masih terpejam, tampaknya enggan untuk memutus indah mimpinya. Jarum jam bulat pipih yang menempel di dinding kamar menunjuk pada angka enam.
Soang-soang sudah bertebaran di halaman depan rumah dengan suara khasnya. Beberapa burung dara putih milik tetangga sebelah pun hinggap di beranda rumah, cecelingukan. Tampaknya mereka sedang menunggu anak-anak. Sudah beberapa hari terakhir ini, anak-anak suka meminta ibunya segenggam beras. Sambil bermain-main dengan burung-burung yang lebih mirip dengan merpati itu. Pemiliknya pernah bercerita, kalau itu memang burung dara, bukan merpati. Dahulunya hanya dua ekor. Sekarang sudah berjumlah puluhan ekor.  
“Dedek, mau jalan-jalan ta?” ucapku memancingnya agar ia segera terbangun dan beranjak dari kasurnya.
“Iya. Mau ayah. Tapi dedek masih ngantuk nih!” balasnya, sambil masih berlemas-lemas tubuh.
“Dedek bangunin mas Nabil dulu,” tawarku padanya.
“Mas, bangun yuk. Mau jalan-jalan ta?”
“Ya, dedek. Yuk.” Jawab Nabil, sambil mengucek-kucek matanya, mencoba untuk membuka matanya, berat.

Harga Sebuah Nasi Lengko

Jumat pagi ini, kami sekeluarga kecil jalan-jalan. Ya, jalan-jalan kecil. Ke dalam kampung pesantren Babakan. Sekedar untuk mencari sarapan. Sang istri sedang ingin sarapan nasi lengko. Nasi sederhana khas daerah Cirebon ini hanya ditaburi irisan kecil tempe goreng hambar tanpa garam dan mentimun dicacah, tak berbumbu. Hanya baluran kecap dan sambal merah yang membuatnya cukup terasa nikmat di lidah.
Untuk empat bungkus nasi dan enam potong gorengan, kami hanya mengeluarkan gocek sebesar Rp 14.000. Sebungkus nasi lengko di desa Babakan ini dijual dengan harga Rp 2.500. Harga ini sudah lebih tinggi dari pada setahun yang lalu. Sebelum BBM naik, harganya hanya Rp 2000. Di sini, beberapa makanan khususnya nasi dan gorengan masih terbilang sangat murah. Untuk makan sehari, 10 ribu sudah cukup. Ini bisa dimaklumi, karena mayoritas konsumennya yaitu santri-santri pesantren salaf (tradisional). Desa kerap disebut dengan desa pesantren, sebab lebih dari 40 buah pesantren berdiri di desa ini, mulai dari yang hanya berisi 10 santri hingga ribuan santri. Mulai dari yang hanya tinggal di gubuk sang Kiyai, hingga yang memiliki sekolah formal, bahkan perguruan tinggi, bervariasi.
Tidak hanya nasi lengko, ternyata, nasi goreng juga bisa didapat dengan harga santri, yaitu 4000 dengan telur. Bila tanpa telur cukup tiga ribu. Harga ini hampir merata di beberapa warung makan di dalam desa ini. Bahkan, masih ada semangkuk bakso dengan harga tiga ribu.   

Sebatas Investasi Akhirat

Terkadang, aku tidak habis pikir, kok bisa semurah itu harga bahan makanan matang di desa ini, di tengah perekonomian negeri yang sedang tidak menentu ini. Harga BBM naik, anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dollar Paman Sam hingga menembus di atas angka 13 ribu, serta naiknya harga bahan pokok, termasuk beras secara drastis. Namun ‘bisnis’ mereka tetap saja bertahan. Tidak lantas gulung tikar. Sehiangga, biaya hidup di sini, masih sangat murah dan tidak menghabiskan banyak biaya, bila hanya memenuhi kebutuhan dan tidak banyak ke sana ke mari naik kendaraan umum.
Cukup berat langkah nalarku untuk memasuki fenomena langka ini. Namun setelah merenung sejenak, lambat-laut mulai terbersit ada apa di sebaliknya, meskipun hanya sebatas kesimpulan prematur (spekulatif-hipotetik).
Aku membaca bahwa para pemilik warung di sini hanya memosisikan diri sebagai pelayan santri. Mereka rela bertahan dengan harga yang sangat murah, dengan tujuan agar dompet santri-santri mampu menjangkaunya. Pernah, suatu ketika, aku menanyakan apakah ada lauk ayam. Sang ibu penjual nasi pun menggeleng, sambil mengutarakan bahwa telur goreng mata sapi pun sudah hal yang mewah bagi kebanyakan santri. Kuatir, kalau kemahalan, santri-santri yang kebanyakan dari pedesaan ini keberatan.
Semua ini, tiada lain motivasi akhirat lah yang mendorong mereka. Ya, mereka berjualan sekaligus berinvestasi akhirat dan berharap barakah (tabarruk). Dengan konsumen langganannya santri berharap rejeki dan hidupnya barokah. Sebab, santri adalah penuntut ilmu yang didoakan para malaikat dan para kiyai, dan tidak menutup kemungkinan, warung-warung yang menghidupi mereka juga kecipratan doa ini. Selain itu, para santri ini suatu ketika akan menjadi tokoh agama, kiyai, dan lain sebagainya. Para pedagang di sini sepertinya memiliki keyakinan bahwa sisa keuntungan yang tidak dirupiahkan itu akan menjadi sedekah jariyah, yang senantiasa mengalir bersama darah di dalam tubuh para santri saat mereka memimpin pesantren-pesantren di kemudian hari. Ya, keberhasilan mereka saat itu ada sumbangsih dari para pedagang nasi.
* Sambil diiringi beberapa lantunan sajak merdu Musyari Rasyid
Babakan, 13 Maret 2015




Friday, February 27, 2015

Cak Cholil Nafis Sampaikan Wejangan untuk Kader NU


Jumat malam Sabtu tadi (23/01/2015), di sebuah griya di Mampang Prapatan hadir seorang Kiyai muda yang wajahnya sudah familiar, karena beberapa tahun terakhir ini ia cukup sering muncul di televisi swasta di negeri ini. Ia adalah Cak KH. Cholil Nafis, Ph.D. Saat ini bertugas sebagai dosen dan sekretaris Program PPSTT-UI, Wakil Ketua LBM-NU, anggota BWI dan anggota MUI. Berikut ini catatan yang penulis sarikan dari wejangan yang disampaikannya kepada beberapa kader muda NU penerima beasiswa studi magister dan doktoral di Universitas Islam Imam Muhammad bin Saud di Riyadh KSA, yang akan berangkat awal Pebruari 2015.

Oleh: Masyhari



Apa yang Cak Cholil Nafis sampaikan tersarikan pada tiga poin besar, yaitu pertama, menata niat, kedua metode mencari ilmu, dan ketiga bagaimana ilmu diterapkan. Berikut uraian penjelasannya:

Pertama, pertanyaan besar sebelum kita melangkah adalah untuk apa dan siapa? Adakah untuk mencari ilmu dan dalam rangka mengharap ridha Allah SWT, ataukah networking, bahkan hanya sekedar formalitas ijazah (sertifikat) dan titel (pengakuan), agar nantinya bisa mendapatkan 'tempat' yang lebih layak secara duniawi? Niat ini perlu ditata dengan baik, agar nanti di sana bukannya belajar dan menyibukkan diri dengan mejelis ilmu dan diskusi ilmiah, malah sibuk bertransaksi dengan agen travel. Pulang dari sana, untung-untungan bisa rampung kuliah, kalau tidak?, malah asyik menjadi staf kedutaan, agen travel dan penerjemah, tidak mau balik ke tanah air.

Terlalu rendah jika kita jauh-jauh ke Riyadh- Saudi Arabia hanya demi kepentingan pribadi. Kita niatkan, nanti selepas lulus, kita abdikan diri kita pada umat, masyarakat, menjadi akademisi dan ilmuan. Menjadi yang bermanfaat bagi umat manusia (anfa'uhum lin nas)..

Tambahan: Lebih baik menjadi kepala semut, daripada menjadi ekor singa. Lebih baik menjadi pimpinan di intitusi kecil yang mandiri, daripada menjadi staff di lembaga besar. Sebesar apapun tokoh dan lembaga yang kita tebengi, tetap saja staff.

Kedua, terkait dengan metode atau teknisnya. Kuliah di Saudi masih sebatas pada teks literal, sehingga cukup dengan membaca dan meringkasnya. Agar mudah terserap dengan baik, teks-teks yang panjang kita simpelkan dengan maping (kerangka pemetaan) pembahasan secara terstruktur. 

Model kuliah yang tekstual-literal semacam ini tidaklah cukup menjadi bekal dalam menghadapi tantangan di masa depan (khususnya) di Indonesia dan dunia Internasional. Karena itu, kegiatan diskusi-diskusi luar kampus perlu diaktifkan dan pada saat liburan panjang (1-3 bulan) bisa ke luar negeri untuk melakukan pengembaraan ilmiah; ke Belanda, Jerman, Perancis, dsb. Minimal ke Maroko, Mesir, Tunisia, dsb. Atau bila pulang ke Indonesia, dirancang secara bersama untuk dilakukan pelatihan, misalnya bekerjasama dengan NU Circle, dsb. Penguatan jaringan juga akan tercipta dengan bersilaturrahmi.

Ketiga, ini adalah soal pengemasan, branding. Ilmu yang berhubungan dengan agama tidak melulu berbicara soal akhirat, semata. Pengkotak-kotakan ilmu dunia-akhirat perlu, bahkan harus, kita kikis. Kita kembalikan ilmu pada khittahnya, universalitasnya. Ilmu yang tampaknya hanya soal ibadah itu bisa kita branding dengan lebih menarik, sehingga diminati masyarakat.


Ilmuan itu layaknya apoteker. Banyak obat-obatan bertebaran di apotik. Namun, kita sediakan dan pilihkan obat sesuai dengan kebutuhan, jenis penyakit, dosis takaran dan usia pasien.

العلم شيء والتعليم شيء آخر

Artinya, ilmu adalah sesuatu hal, sementara metode mengemas ilmu adalah sesuatu yang lain.

Jangan sampai, yang mumpuni, ahli qur'an dan bahkan ahli kitab, tertinggal jauh sama muallaf dan baru ngerti agama kemarin sore, yang bahasa Arab saja tak bisa. 
Memang, input ilmu yang besar dan mendalam adalah sebuah kebaikan, namun itu saja tidak cukup, namun harus mengerti bagaimana ilmu itu bisa diterima dan diminati oleh khalayak masyarakat. Kita perhatikan kondisi masyarakat, mereka butuh apa? Faktor yang mempengaruhi keberhasilan, intelektualitas hanya berkisar 20 %. Selebihnya adalah bagaimana membangun kecerdasan emosional.

Selain itu, kita cari dan masuki segmen-segmen yang masih belum banyak dijamah. Pintar agama dan kitab kuning di dalam tubuh NU banyak. Sehingga, kalau kita bertahan di sana, yang terjadi adalah sikut-sikutan dan berantem dengan sesama. Kita keluar, nanti akan lebih berguna. Mahir baca kitab kuning adalah hal yang biasa di dalam NU. Tapi, bila kita ke 'luar', kita akan menjadi laur biasa dan lebih berguna.

Wallahu a'lam.
Jakarta, 24/01/2015


Ulasan Hasil Tantangan Menulis Bareng SLI di Hari Guru Nasional

Hasil Tantangan #NulisBarengSLI #HariGuruNasional2020 #SahabatLiterasiIAICirebon Beberapa hari yang lalu (23/11/2020) aku atas nama pribad...