Oleh: Masyhari*
* Sekretaris PC ISNU Kabupaten Cirebon 2018-2022
Silabus Mata Kuliah Pengantar Ilmu Fikih
Sekolah Tinggi Agama Islam Cirebon (STAIC)
Identitas Mata Kuliah
Mata Kuliah: Pengantar Ilmu Fikih
Jurusan/ Prodi: Tarbiyah/ PAI-PMI-PGMI-PBA
Semester/ Tahun: I/ 2017
Dosen Pengampu: Masyhari, Lc., M.H.I
Deskripsi Mata Kuliah
Ilmi fikih merupakan satu disiplin ilmu yang memiliki kedudukan yang sangat urgen di dalam rumpun ilmu keislaman.
Karena itu setiap mahasiswa khususnya di jurusan Tarbiyah diharapkan bisa menguasainya terkait dasar-dasar hukum Islam, masalah-masalah fikih, baik masalah klasik yang memiliki status hukum yang jelas, memiliki dasar hukum tekstual maupun filosofis dan telah terkodifikasikan secara rapi, maupun masalah kontemporer yang tidak secara eksplisit tertuang di al Quran dan as Sunnah.
Dengan mata kuliah ini, mahasiswa diharapkan memiliki pijakan dasar dan pemahaman, khususnya dalam mengkaji masalah aktual seiring dengan dinamika sosial yang terus berkembang melalui penetapan hukum Islam. Dengan demikian, mata kuliah ini menjadi bekal dasar bagi mahasiswa dalam memahami dan mempelajari Islam secara komprehensif.
Kompetensi
1. Memiliki kemampuan dalam hal memahami dan menjelaskan peran dan fungsi ilmu fikih, berikut prinsip-prinsip dasarnya dalam pemecahan kasus.
2. Memiliki kemampuan dalam menerapkan dan menguraikan cara kerja metode fikih dalam penetapan hukum Islam terhadap permasalahan yang tidak secara eksplisit tertuang dalam teks-teks syariat (al Qur'an dan as Sunnah).
Topik Inti
1. Pengertian dan Ruang Lingkup Ilmu Fikih
2. Sejarah Perkembangan Ilmu Fikih
3. Objek Kajian Ilmu Fikih
4. Hubungan antara Ilmu Fikih dan Ushul Fikih,
5. Fikih dan Syariah
6. Klasifikasi Ilmu Fikih
7. Sumber-Sumber Fikih
8. Kaidah-Kaidah Fikih
9. Metode Ilmu Fikih
10. Karakteristik Fikih Islam
11. Prinsip Dasar Fikih
12. Pengertian dan Pembagian Hukum Syara'
13. Hakim, Mahkum Fih dan Mahkum 'Alaih
14. Ijtihad dan Ikhtilaf
15. Mazhab-Mazhab Fikih
16. Masalah-Masalah Fikih Kontemporer
Referensi
1. Atjep Djazuli, Pengantar Ilmu Fikih
2. Imam Taqiyuddin, Kifayatul Akhyar Fi Halli Ghayatil Ikhtishar
3. Wahbah Az Zuhaily, Al Fiqh Al Islami wa Adillatuhu
4. As Shan'ani, Subulussalam Syarah Bulughul Maram
5. Khuzaimah Tahido Yanggo, Pengantar Perbandingan Mazhab Fikih
6. Musthafa Said Al Khinn, et. al, Al Fiqh Al Manhaji ala Mazhab Al Imam asy Syafi'i
7. Yusuf Al Qaradhawy, Madkhal li Dirasah Asy Syari'ah Al Islamiyyah
8. Manna' Khalil Al Qaththan, Tarikh at Tasyri' Al Islami
9. Referensi lain yang relevan dengan bidang pembahasan.
Dosen Pengampu,
Ttd.
Masyhari, Lc.,M.H.I
Mengajarkan bahasa Arab kepada penyandang tuna netra di kelas dengan penghuni lainnya yang bisa melihat adalah satu tantangan dan ujian. Mungkin berbeda ceritanya bila kelas itu murni kelas tuna netra, lebih mudah lah. Sebab, satu nodel metode pengajaran langsung bisa mencakup semua.
Saat memberi hak pada penyandang tuna netra, dikhawatirkan mahasiswa lainnya merasa cemburu, dan haknya merasa tidak ditunaikan. Ini salah satu tantangannya.
Tatangan berikutnya, saat materi istima' (listening) dan kalam (speaking), mungkin masih bisa di atasi. Buku biasa tidak begitu diperlukan. Para mahasiswa yg bisa melihat, tidak boleh melihat teks, terlebih dahulu. Karena sumber bahasa bunyi adalah suara yang diperoleh melalui indra pendengaran, maka yang diperlukan hanya telinga yang siap menyimak dan konsentrasi.
Setelah menyimak, yang kedua adalah membunyikan huruf, kata dan kalimat yang didengar. Inilah yang disebut kalam (speaking). Bagi yang bisa melihat, bisa saja dengan bantuan tulisan dari buku atau papan tulis.
Saat di ruangan kelas campuran begini, tantangannya lebih besar. Tulisan di papan tulis tidak terlalu berguna bagi penyandang tuna netra. Bagi penyandang tuna netra, semestinya bisa menggunakan buku bertulisan huruf braille. Hanya, fasilitas belum ada.
Namun, soal pembelajaran bahasa, saya banyak belajar dari anak-anak. Saat bayi atau balita, anak bisa memahami bahasa orang tua dan bisa berbicara, meskipun mereka belum bisa baca-tulis. Karena itu, baca tulis itu nomor 3 dan 4, bukan yang utama.
Nah, saat pembelajaran maharat (keahlian) baca dan tulis, tantangan kelas tentu lebih besar. Khususnya, saat di kampus belum ada fasilitas buku braille.
Untunglah, dan alhamdulillah, kini ada smartphone, sudah ada aplikasi audio baca tulisan dan juga keypad ber-audio. Saat mahasiswa lainnya menulis tugas di buku, mahasiswa penyandang tuna netra saya bisa memintanya menuliskannya pakai hape atau leptop, dan dikirimkan via WA atau email. Sayanganya, sampai hari ini, saya tanya ke mahasiswa saya, dia belum mendapati aplikasi keypad Arab yang beraudio, sebagaimana keypad tulisan bahasa Indonesia. Semoga segera diketemukan.
Selain tantangan, ini bisa jadi sebuah anugerah. Dengan ini, saya bisa banyak belajar. Saat ada ujian, berarti ada ilmu dan pengalaman yang akan didapat. Semoga.
Salam
Masyhari
Ada banyak problem mudarat dari FDS (Five Days School yg berimbas pada Full Day School), di samping memang ada beberapa manfaatnya.
Diakui, FDS punya beberapa manfaat dan dalam sejumlah kasus bisa diterapkan, khususnya bagi sebagian orang tua super sibuk, yang tampaknya merasa tak punya waktu untuk dampingi anaknya belajar dan bercengkrama di rumah. Mereka pergi pagi, sementara fajar belum juga menghilang, dan putra-putrinya belum sempat bangun dari ranjang. Mereka pulang dari kantornya, sementara putri-putrinya sudah terbaring di kamar tidur kesunyian. Putri-putri mereka sudah terbiasa, lima hari Senin-Jumat diantar-jemput oleh supir pribadi atau tukang ojek. Dua hari sisanya, Sabtu-Ahad, mereka bisa bercengkrama sekeluarga.
Kisah di atas real, nyata, bukan khayalan belaka. Saya pernah melihat kasus semacam ini sendiri, dan dapat cerita dari anak yang mengalami hal semacam itu. Ya, kasus semacam ini banyak terjadi di kota-kota besar dan di dalam masyarakat sosial tertentu, bukan kebanyakan kita. Sehingga, mereka2 yg alami hal ini, sibuk kerja, mereka sengaja mencari sekolah-sekolah swasta fullday, semisal SDIT, SMPIT, SMAIT, bahkan banyak yang kirim anak-anaknya ke Pesantren.
Ya, sekolah Full Day memang bukan barang baru dalam dunia pendidikan dan persekolahan di bumi ini. Pendidikan alamiah di keluarga sudah memulainya. Bahkan bisa 24 jam sehari semalam. Selanjutnya pendidikan pesantren atau Dayah. Bukan hanya 8-10 jam, anak sekolah, tapi selama 24 jam, para santri di pesantren dibimbing dan diasuh oleh para guru-ustaz dan Kyainya. Hanya sesekali dalam setahun, para santri pulang atau dikunjungi ortunya. Melatih kemandirian.
Bila FDS jadi PILIHAN ia baik saja,, Alternatif, bagi yang mau saja.
Namun, saat FDS jadi kebijakan dan harus dipaksakan secara merata? Sementara tidak semua masyarakat dan rakyat di negeri ini membutuhkan? Selain pihak pemerintah sendiri belum siap, dari berbagai hal, mulai dari infrastruktur, kurikulum maupun SDM, dan lain sebagainya?!
Terhadap #MadrasahDiniyah/TPQ
FDS ancam Madrasah dan TPQ gulung tikar, minimal banyak "santri" Madin/ TPQ akhirnya DO, karena sudah lelah atau jadwal ngajinya tiba ia masih di sekolah. Sementara, sekolah "umum" negeri di bawah Kemendiknas masih diragukan dalam pendidikan agama para siswanya di sekolahan. Lantas, para siswa dapat pendidikan agama dari mana?
Bukankah 1 kali sepekan 2 jam tak cukup?
Cukup, mungkin?!. Sementara di saat yang sama, materi yang di-UN-kan dapat jatah beberapa kali lipat. Dan, mampukah atau siapkah Sekolah2 Negeri itu ngajarin "ngaji" siswanya, layaknya di madrasah atau TPQ?
Terhadap #Masjid
Dzuhur, anak masih di sekolah. Ashar masih di sekolah. Maghrib, anak sudah lelah. Isya, waktunya ngerjain PR, tugas atau belajar persiapan sekolah.
Tak ada waktu bagi anak untuk sekedar singgah untuk berjamaah di masjid. Apalagi bisa turut takmir (semarakkan) masjid dg kegiatan remas (ikatan remaja masjid), atau kegiatan lainnya. Maka, masjid hanya terisi oleh anak TK, sebagian anak SD (usia balita-10th) dan para manula yg sudah pensiun (50th ke atas).
Di sinilah, bila DKM (Dewan Kemakmuran Masjid) dibentuk untuk meramaikan masjid, maka FDS telah jadikan Kemendiknas sbg Dewan Kesepian Masjid. Saat dua generasi dg gap jauh bertemu,, anak2 kecil dg celotehannya dan keriuhannya, bermain di masjid. Sementara manula harapkan ketenangan masa pensiun untuk beribadah.
Entah, bisa nyambungkah komunikasinya?
Bila mereka sudah makin udzur, siapa yg jadi penerusnya? Sementara remaja masih sibuk di sekolah dan pemuda di lokasi kerjanya.
Terhadap #SosialKemasyarakatan
Banyak anak jadi cuek terhadap lingkungan tempat tinggalnya. Jangankan peduli soal problem sosial, kenal dg tetangga saja tidak. Ia pergi pagi, saat mentari belum juga terbit, dan pulang saat mentari hendak tenggelam dan senja mulai temaram.
Dengan penerapan FDS untuk saat ini, Indonesia dijamin makin suram, muram dan hitam, bukan cerah dan mencerahkan. Wallahu a'lam. Lantas, mengapa FDS tetap dipaksakan?!
#TolakFDS
#AyoMondok
#GoTPQ
#GoMadin
Salam
Masyhari
Alumni Pesantren Ma Tarbiyatut Tholabah Kranji Lamongan
Cirebon, 19 Juli 2017_23:14
Salah satu program ekstra di kelas pasca TPQ Majelis Taklim Enha Warnasari Kesambi adalah latihan menulis. Di kelas yang didominasi peserta yang di sekolah formal kelas 3 SD sampai dengan kelas 7 SMP in sya Allah akan selalu digendakan praktik menulis bebas atau dengan tema tertentu, baik di kelas sekitar 5-10 menit, ataupun melalui PR, minimal satu tulisan setiap pekan. Tugas ini sebagai bentuk latihan agar anak/ santri terbiasa menulis, berani ungkapkan isi hati dan pikirannya, tanpa merasa takut atau malu².
Selanjutnya, di hari berikutnya anak² diminta membacakan hasil tulisannya ke depan kelas. Dan alhamdulillah, di awal bulan kedua semua anak santri MT Nurul Huda sudah maju satu persatu, dan semua santri yang berjumlah 15 anak sudah berani maju, meski awalnya dimulai dengan agak "memaksakan" diri mereka.
Mereka paling tidak sudah bisa menaklukkan dirinya dengan berani tampil di depan. Padahal di hari pertama (Januari 2017), cukup sulit dan berat ketika diminta maju. Saat itu, tulisan pertama yaitu tentang menjawab pertanyaan "mengapa saya enggan maju? Bagaimana caranya untuk mengatasinya?"
Hari berikutnya, tulisannya dibaca guru, malu². Tp hari ini (Februari 2017), mereka sudah berani baca tulisan karya mereka tentang: "Aku ingin menjadi apa? Dan bgmn untuk mewujudkannya?"
Untuk berikutnya, besok PR tulisannya yaitu: "Apa kesukaanku?" Mengapa dan bagaimana?"
Sengaja tema yang ditugaskan adalah yang sederhana dan mudah bagi anak untuk mengungkapkan. Yang terpenting anak percaya diri dan mau untuk menuliskan. Adapun hasilnya, nomor sekian.
Kemudian, yang penting anak berani maju. Adapun kualitas hasilnya, sambil jalan, proses latihan yang terus-menerus dan istiqamah. Sebab, saya meyakini bahwa tulis-menulis itu bukan bakat, tapi jam terbang. Semakin sering menulis (dan diperkaya dengan membaca), semakin bagus pula kualitas tulisan.
Saya berharap dengan latihan menulis setiap hari, anak² kan terbiasa menulis dan berani ungkapkan sesuatu dr hati dan pikiran secara tulisan dan lisan. Menulis berati melatih keberanian diri untuk ungkapkan ide dan gagasan. Hasilnya, ternyata luar biasa, di luar dugaan.
Selain ditampilkan di depan, dari sekian banyak tulisan yang mereka goreskan di buku tulis mereka, saya minta dari mereka untuk memilih salah satu untuk ditulis kembali di kertas, untuk kemudian ditampilkan di Majalah Dinding yang ada di Masjid, bergantian, perpekan dengan tujuan memotivasi mereka dan sekaligus update mading masjid yang sekian lama dibiarkan usang.
Menulis berarti menyusun puzle² pikiran ke dalam rangkaian kata. Dan anak² sudah mulai bisa.
Saya sengaja memasukkan materi "menulis" ini di Pasca. Padahal ini bukan materi wajib arahan dari Qiraati. Tujuannya yaitu untuk melatih anak² menulis, berliterasi sejak dini. Karena berdasarkan pengalaman, saya sering mendapati banyak MAHASISWA yg tidak bisa menulis dengan baik. Syukur² lulus dari MT bisa nulis buku. Minimal buku resep masakan. Salam literasi. [masyharie].
Cirebon, Januari 2017
Guru merupakan sebuah "profesi" yang mulia. Di tangannyalah, masa depan bangsa, bahkan dunia dan akhirat dititipkan. Menjadi seorang guru, menurut Paul Suparno, harus melalui panggilan jiwa, bahwa ia merupakan hal yang menjadi kegemaran dan cita-cita, bahwa ia merasa bertanggung jawab untuk kemajuan bangsa, dengan mencerdaskan generasinya.
Sebagai bentuk konsekuensi dalam setiap profesi, agar bisa menjalankan amanat dan tugasnya secara maksimal dan profesional, seorang guru, dituntut untuk memiliki kesiapan-kesiapan. Di antara kesiapan tersebut yaitu:
Pertama, kuasai diri. Ketika,
Kedua, kuasai kelas (peserta didik). Ilmu psikologi. Kecerdasan interpersonal dan kecerdasan sosial.
Ketiga, kuasai bahan atau materi yang disampaikan.
Keempat, kuasai metode atau teknik strategi dalam pembelajaran.
Kelima, kuasai media dan administrasi. Menyiapkan media dan administrasi pembelajaran. Serta teknis penggunaan media tersebut dlm menunjang pembelajaran.
Dan, perlu dipahami bahwa guru bukan selayaknya mesin, jalankan aktifitas pengajaran sebatas rutinitas, tanpa tarjet, visi-misi, dan tidak peduli dengan perkembangan dan kualitas peserta didiknya. Jangan sampai seorang guru tidak tahu, maju atau mundur santrinya. Guru harus berpikir secara progressif, bagaimana agar ada kemajuan, lebih baik dan lebih baik lagi.
Untuk memaksimalkan pelaksanaan kesiapan tersebut, seorang guru bisa menggunakan satu jurus yang dalam manajemen teknis dikenal dengan POAC, yaitu Planning (perencanaan), Organizing (mengatur strategi), Actuating (aksi dan eksekusi) dan Controling (pengawasan).
Guru harus punya planing (perencanaan) jangka panjang, menengah dan pendek. Punya langkah strategi jitu untuk memuluskan, melancarkan dan menyukseskan rencananya dan tujuannya itu.
Selanjutnya, ia amati dan mendata apa yang telah dilakukan. Seorang guru bisa meminta kepada atasannya (wali kelas, waka kurikulum dan kepala sekolah) untuk mengawasi dan mengamati proses dan kesiapannya dalam mengajar.
Dan, terakhir adalah evaluasi. Untuk lebih baik lagi, ada evaluasi harian, pekanan, bulanan, semesteran, tahunan, dan seterusnya. [masyharie]
Cirebon, 10/02/2017
Oleh Masyhari
Guru merupakan profesi yang amat mulia. Keberadaannya mutlak harus ada dalam suatu ruang dan masa, dalam setiap agama dan bangsa. Guru adalah pembimbing dan teladan. Ia wakil Tuhan. Tanpanya kita miskin ilmu dan budi. Jalan tak tentu arah, mudah diperdaya setan. Tak ubahnya hewan tanpa tujuan, tak kenal Tuhan.
Jasanya sungguh luar biasa besarnya. Berkat guru, kita bisa apa-apa. Dari guru kita belajar budi pekerti dan kebijaksanaan. Guru adalah teladan, dalam pola pikir, kata dan perbuatan.
Dari guru, kita belajar mendengar, belajar bersabar, apresiasi suara-suara dari luar. Maksimalkan fungsi kedua telinga, indera pendengaran, serap eneka info, kanan kiri. Ia bisa menjadi pengimbang, filter agar seimbang, kita tak bimbang.
Dari guru kita belajar berbicara, tampil berani sampaikan suara, kata hati dan ide pikiran yang terkunci. Kita belajar percaya diri. Bahwa kita bisa, dengan menguasai dan taklukkan diri sendiri.
Dari guru, kita bisa baca. Betah berlama-lama bercengkrama dengan deretan abjad, kata menyelami samudera makna, belantara informasi, dari fakta, opini, mitos, hingga hoax. Guru jadi pemandu, sharing dan bantu saring, mana asli mana palsu.
Dari guru kita bisa menulis, pun bisa melukis. Menulis, melukiskan suara abstrak dalam hati dan pikiran, dalam goresan pena atau ujung jempol kita.
Kesambi, 08/02/2017_ 11.55
Soal UTS matkul hadis ahkam
stid albiruni Babakan Ciwaringin Cirebon
1. Sebutkan dan jelaskan apa saja model atau cara penentuan awal dan akhir bulan hijriyah, dan bagaimana menurut pendapat Anda disertai dengan argumentasi dan dalilnya?
2. Jelaskan bagaimana pendapat para ulama tentang hukum memegang alQuran bagi yang berhadas, serta masing2 dalilnya, dan bagaimana menurut Anda?
3. Menurut Anda, bolehkah berzakat fitrah dengan mata uang, mengapa? Jelaskan disertai dengan argumentasi dan dalil.
Selamat mengerjakan, semoga sukses.
Soal UAS Hadis Ahkam prodi PMI Stid alBiruni Babakan Ciwaringin
1. Apa yang Anda ketahui ttg nikah mut'ah? Menurut Anda apa hukumnya? Berikan alasan dan argumentasi!
2. Bolehkah seorang wanita yang sedang haid ikut belajar membaca alQur'an di majelis taklim? Berikan alasan dan argumentasi!
3. Tuliskan esai berisi pandangan Anda tentang kafaah dlm pernikahan, kaitannya dengan hadits berikut!
تنكح المرأة لأربع: لمالها ولحسبها ولجمالها ولدينها. فاظفر بذات الدين تربت يداك..
Hasil Tantangan #NulisBarengSLI #HariGuruNasional2020 #SahabatLiterasiIAICirebon Beberapa hari yang lalu (23/11/2020) aku atas nama pribad...