Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Friday, February 17, 2017

Renung Pagi

Tadabbur Pagi

Duduk-duduk
santai saja
menikmati pagi yang tak lagi pagi
mentari masih bersembunyi
di balik pekatnya awat selimuti
jagat bumi pertiwi
mentadabburi citpa karya ilahi
maha suci Allah
o, alangkah indahnya
rintik gemirik air
o, betapa badi'nya
gerimis hujan
satu bukan demi satu
beriringan tetes demi tetes menyiram bumi
menyegar alam raya
memadu-kasih dalam dawai cita
cipta yang tanpa tara
karya tiada bandingnya
o, bening nian
air langit menawan
antara embun dan hujan
aku terpana
keelokan ciptaan-Nya

Saturday, November 28, 2015

Bait Rindu di Kereta Senja

Bait Rindu di Kereta Senja
oleh Masyhari

Sayang,
Apa kabarmu kini di rumah sana?
Senja ini, kereta yang kutumpangi melintasi kotamu
batas antara ibu dan menantu
Bahkan sempat
Ia berhenti sejenak, di tempat berlabuhnya ribuan rindu
Sayangnya, kereta tak izinkanku turun hampirimu, sekedar lepaskan rindu di kalbu

Sayang,
Apa kabarmu?
Semoga sehat sentosa selalu
Merindu peluk hangatku di sisimu
sabar butuh sabar, sayang
Di atas gerbong kereta tua
Di lintasan rel tua renta
konon sedari zaman belanda
menguasai tanah air kita
Jejaknya dalam mental kita
tak jua hilang, walau
Waktu dan generasi tlah berganti

Sayang,
Kutulis bait bait ini
sementara hatiku tak kuasa
membendung arus di dalam dada
menahan gejolak beribu rasa
tak bisa kubahasakan dengan kata
Ujung ibu jemari ini tak mampu menata
Lunglai tiada gairah
menari tanpa dendang irama
saat kereta injakkan Prujakan
stasiun biasa kita mulai darinya
dan kita menuju padanya
Dada ini serasa penuh air mata
tumpah meleleh dari dalam saja
tak dapat merembes keluar dari lubuknya
Oleh tabah dalam jiwa
Walau rasa begitu menyiksa

Sayang,
Memang aku harus segera
sapa Ayahku di sana kini mulai merenta
di kampung halaman kita tercinta
terbaring lemah tiada daya
dalam penantian anak yang dirindunya

Seribu hari seribu malam lamanya
tak bersua-sapa muka aku denganya
hanya ingin doa dan ridhanya

Sayang,
Doa demi doa panjatkanlah
tasbih, zikir, asmaul husna rapalkanlah
Fatihah demi fatihah kirimkanlah
Semoga kita dalam lindungan-Nya
Allah Yang Maha Kuasa
Amiiin

Jakarta-Cirebon-Surabaya, 04/11/2015

Monday, March 9, 2015

Aku Akan Tetap Menulis

Aku akan tetap menulis,
meski aku tak bisa menulis


Aku akan menulis,
meski tulisanku tak layak dikatakan tulisan

Aku kan tetap menulis,
meski banyak yang mencibir tulisanku

Aku kan tetap menulis,
meski (sepertinya) tak ada lagi waktu untuk menulis.

Aku kan tetap menulis,
meskipun (seandainya) menulis dilarang

Karena kini
aku sadar, 
aku tidak akan bisa menjadi penulis yang baik
kalau tidak memulai dari yang amburadul

Sebab,
menulis bukan bakat
sejak lahir yang sudahlah didapat
Tidak pula diwariskan secara genetif

Menulis itu kreatif
diwariskan dengan latihan 
juga pembiasaan..
Mari menuliskan ide gagasan
kenangan juga pengalaman,
Bila nanti kita mati
sejarah kan mengenang
dengan tinta emas nama kita terukirkan

isy kaatiban au mut maktuuban
Cirebon, 7 Maret 2015

Monday, March 2, 2015

Metamorfosa

Anak Ulat


Anak kecil
Bagaikan ulat
Suka bikin gatal
Menggerogoti dedaunan
Bila ia lelah dan puas, ia kan tenang rahat

Jadilah ia antung, kepompong
Tak lama, kita kan dapati ia makhluk yang elok rupawan
kupu-kupu dinamakan
Bak burung, tanpa paruh
Beraneka warna menawan
Terbang, kepakkan sayap berkelokan
Sihir mata memandang kekaguman
terpana hati tajam
Inilah metamorfosa kehidupan
Proses di dalam sabda alam
harus dilalui dan dinikmati
Menuju kebaikan, pasti

Ah, andai kita bisa bersabar sedikit
Yang tampak serupa penyakit
begitu gatal gemaskan
kan jadi hiasan
peneduh sukma
penetram jiwa raga

Tak ada yang instan
tak ada yang sia diciptakan
sebagaimana telah difirmankan
Tuhan tak malu buat satu perumpamaan
hewan sekecil nyamuk 
pun lebih rendah dari padanya

Ada pelajaran yang bisa diambil darinya
Segala yang dicipta
ada guna dan hikmah dikandungnya
hatta setan dan kejahatan
dicipta tuk suatu tujuan

Cirebon, 20/03/2015

Sunday, January 25, 2015

Bidadari Senja

::::::::::::::::::::::::

Engkau masih
dan tetap saja
tampak ayu
menawan
mataku layu
tegangkan
urat syahwat kaku

meski waktu telah memaksamu
berkepala sudah lima puluh

parasmu masih tampak mempesona
senyummu begitu menggoda

aku, dia, mereka para jejaka muda
diam-diam terpana asmara
Sungguh, usia hanya waktu
Sebab
ia tak jua merenggut
kecantikan parasmu

Andai tak ada dogma
atau tata adat agama
ia, aku, mereka
kan ungkap hati
dengan kata indah
pujimu yang memesona
Boleh Kau kata ini liar penuh dosa
tapi rasa tak apa disejarah
daripada hangus terbakar masa
KAI Kertajaya, 24/01/2015

Thursday, October 16, 2014

Download Puisiku

Selalu Angin

Kau yang di bumi
Teruslah berdiskusi
bersama alam yang sorak sorai
bergandeng angin gerak gemulai

Siang bermandi debu
Malam berselimut angin
Membanting wajah kaku
Membayang raga yang selalu angin
Pasar Prapatan, 29 September 2014/ 4 Dzul Hijjah 1435 H

Sunday, June 29, 2014

Marhaban ya Ramadhan

Oleh: Masyhari

Ramadhan telah tiba 
bulan suci umat muslim sedunia
siap ataupun tidak siap kita
yang pasti, kita harus ingat
beleh sak menika sampun Ramadhan
Sasi ingkang suci lan penuh keberkahan
Sumangga kita sedaya
Ulurkan tangan kanan
buka lima jemari tangan
saling bersalam-salaman
Kita bermaaf-maafan
atas segala khilaf dan kesalahan
Ingkang diraos menopo mboten
Mohon maaf lahir lan batin
atas segala kesalahan lan kealpaan
hal yang tak berkenan di hati tuan
dari lisan yang terucapkan
dari kata dan kalimat yang dituliskan
Sungguh sayang bila 
Ramadhan yang mulia
bulan suci penuh berkah
tersia 
terlewati begitu saja
Ngaji pun terlupa
tadarus pun tak terurus 

Dzikir wirid yang biasa
dilaku Ramadhan tahun lalu
hanyut terbawa arus kemayu
kampanye pilpres yang menguras tenaga

Tarawih pun terlewati
Masjid sepi tak berpenghuni
Kita lebih suka mencela manusia  
Di dunia maya yang tiada guna
Umpat mengumpat
saudara sendiri kita sikat
ukhuwah Islamiyyah pun berkarat
Yang tertinggal ukhuwah sesaat
asal satu suara, kita bersahabat
Saudara setanah air dibiar beku
tersumblim, habis terkikis menjadi abu
Ukhuwah wathaniyyah berubah kelabu
tak tersisa di dalam kalbu
pilu, hanya karena pemilu
Mari kita rehat sejenak, kawan
Memuji yang berlebihan
Karena itu manusia biasa
bukan malaikat utusan yang maha kuasa
pun bukan Nabi yang terlindung dari dosa
Mari kita hindarkan
membuka cela yang dilaku 'lawan'
mengadu-domba
ataupun bersilat lidah
mulut kita buang ludah
Mari kita upaya
bersihkan hati dari noda di jiwa
Sambut hari kemenangan
menuju Negeri yang kita dambakan

"Marhaban ya Ramadhan.
Syahrun azhimun mubarakun
Syahrun fihi unzilal qur'an
Syahrun mamlu'un bil rahmah wal gufran"
Tana Toraja, 1 Ramadhan 1435 H

Tuesday, May 20, 2014

Doa di Hening Malam

Sendu berbalut duka
Rindu bersarung senyap
Kalut dalam hening malam
Nestapa dalam panjat
Doa malam harap rahmat
Pinta maghfirah dan sehat
 

Ya Ghaffar
Kau amat pengampun insan pendosa

Ya Rahman
Kaulah Maha pengasih
 

Ya Hafizh
Kutitipkan pada-Mu
Buah hatiku
buah kasih sayang kami
Amanahmu kepada kami
 

Ya Syafi
Kau Maha Penyembuh segala luka yang menyayat hati
Meluluhkan mata dalam pilu tiada kendali


Ya Fattah
Kau Maha pembuka jalan buntu penuh prahara
 

Ya Sami'
Kau Maha mendengar jeritan hati kami

Ya Mujib
Kau mudah kabulkan doa hamba-Mu yang penuh aib
 

Ya 'Alim
Kau Maha mengetahui isi hati hamba yang zhalim
 

Kupanjatkan doa, 
karena Kau ajarkannyaDan, Kau kan mudah kabulkannya
 

Kumengadu pada-Mu
karena Kau yang paling berhak menerima-Nya
Kupasrahkan diriku pada-Mu
Karena Kaulah satu-satunya yang Tahu harapku
Yang Tahu isi hatiku.
Amin

Cirebon, 19 Mei 2014_00.05

Friday, April 25, 2014

Bukan Aku

:::::::::::::::::
Sepucuk surat cinta untuk kawan
oleh: Masyhari

Kawanku
dari hati yang terdalam
sungguh kukatakan
bukan aku setuju, kawanku
dengan Syi'ah Rafidhah yang ghulluw

Kawanku

Bukannya aku rela begitu saja
saat ibunda Aisyah tercinta mereka hina-hina semaunya

Kawanku

Bukan aku tak peduli
sahabat Nabi dicaci-maki tiada henti

Kawanku

Bukan pula aku tiada mengerti
shalat Jum’at tiada mereka indahi
kata mereka belum ada imam Mahdi
Imam suci yang sama-sama kita percayai

Kawanku

Bukan pula aku tak pernah menyaksi
mereka menyiksa diri begitu ngeri
saat meratapi cucu Nabi Husain bin Ali

Kawan

bukan pula aku tak tahu
mereka shalat hanya waktu telu

Kawan

Bukan pula aku berpura-pura tak tahu  
nikah mut’ah mereka laku
Namun aku juga mendengar
walau samar-samar
pendapat ini juga bersandar

Kawan

bukan karena aku tak pernah telaah buku mereka  
di sana, manusia biasa mereka anggap maksum tiada 
Fatwa mereka diagung melebihi sabda Nabi
begitu suci laksana kalam Ilahi

Kawan

bisa jadi sebagian akidah kita beda
Namun kutahu mereka bertuhan pada Yang Maha Esa

Kawan

Bukan aku diam karena bermanis muka
tapi aku hanya ingin menahan diri
aku hanya mencoba mengikuti
Nabi Harun saat dipasrahi

Akidah memang [amat] penting
namun bila ribuan nyawa
melayang tersia begitu saja karena
fitnah yang mereja-lela
karena waktu diputar-ulang tiada pernah bisa
dan manusia hanya bisa sesal saja

Sebab, bila saja Harun tidak mau menahan
perdamaian yang jadi ancaman
Bukan hanya dia yang kan dibulli
negeri pun porak-poranda tiada henti

Kawan

bukankah perdamaian
terlalu mahal untuk dikorbankan?
Aku pun kuatir, negeri tercinta yang damai tentram
jadi hancur lebur karena perang tak kunjung redam

Seperti Suria negeri Syam
Negeri subur, damai nan tentram
berubah jadi neraka jahannam
tiap hari ada saja korban

berjatuhan tiada terelakkan

Kawan

api amarah mari sedikit kita tahan
kalau bisa kita padamkan
dengan senyum cinta dan penuh pengharapan
seabab api
tak akan pernah padam dengan api

Kawanku terkasih

Sederet kata ini
sebatas ijtihad pribadi
Harapku semoga benar dari Ilahi
bila penuh dengan salah
Doakanku semoga dapat kuraih ampunan-Nya

Kawan

Demikian sepucuk surat cintaku
untukmu kawan terbaikku
Kuharapkan
kau mau memaafkan

Pesantren Babakan, 22-25 April 2014 

Thursday, March 6, 2014

Menyulam Makna

Menyulam Makna
Puisi Hari M Ngaidin

Lentik jemarimu
mengayun lembut terpadu
mengalun syahdu dalam rindu
di setiap abjad-huruf
papan bisu
mesin kecil melangit bumi

Abjad tersususn aksara
merangkai kata
menyulam aksara penuh warna
menjuntai mengalun nada suara sukma
menyusun kisah dunia
cerita anak manusia

Antara realita-fakta
dan mimpi-fiksi dunia maya
sarat makna
pesan manusia
untuk sesama
tentang budaya
tradisi asal desa
bumi kelahiran-jiwa
novelisasi hidup
dalam padu raga
jiwa
  suara
    ibarat
      darat
    jalan
  angin
buih-lamunan
 tetesan-embun
  titisan-lamun
   kukusan kata
     tuliskan kisah
Cirebon, 03/03/3014

Thursday, February 20, 2014

O bagaimana

O Alangkah Betapa Bagaimana
Hari M Ngaidin

Petuah itu begitu ku-elukan
mengalun merdu dalam kesyahduan
Kunci segala sukar
Saat tersesat di semak belukar
Bagai segar pagi di puncak bukit
hijau pepohonan menjulang melangit

bagai orang serakah
tak cukup dua saja
kalau bisa tiga, bahkan lebih baik semuanya
satu waktu bersama-sama
o, alangkah indahnya
o, betapa nikmatnya

Seakan telah menjadi ijmak segala
ahli ijtihad ataupun cerdik-cendekia
al-jam’u aula minat tarjih
daripada memilih, lebih baik dilaku semua
ya, itu kalau bisa

soal kehidupan
antara membina keluarga, langsung ke mertua
tujuan utama ke sana untuk apa
masa studi belum jua ter(wi)suda(h)
sementara sangu harta tiada apa
sebatas percaya atas kuasa
jaminan kehidupan bagi siapa saja
kepastian rizki kecukupan tak cuma harta
pilihku ketiga-tiga[nya] dalam ruang dan waktu yang sama

kali ini, semua itu semu
sebatas nyanyian menggangu jiwa
begitu tepat pada(nan) waktu
lain lubuk lain ikannya
dan pilihan harus dijatuhkan
walau berat begitu terasa
sang ruang waktu begitu singkat beri kesempatan
segudang pertanyaan juga tuntutan
tiada terjawabkan
mengapa?
Apa pentingnya?

Tajam komentar pun menghujam
Memukul remuk tulang belulang
Api yang membara pun hendak padam
Redup, lunglai, balik pulang
Ataukah cukup mengulang

Luas itu bagus
Tapi dalam itu harus
Dan itu yang utama
Pertegas masalahnya
Fokuskan pandang analisa

Catatan itu begitu menggelepar-nggema
Bagai petir begitu kerasnya menyambar
begitu kuatnya menampar
dibuatnya ku jatuh terkapar
terpukul jauh terlempar-menggelepar

betapapun keadaannya
walau bagaimanapun jua
aku harus bangkit penuh asa
ikhtiar memilih salah satunya
istikharah tanamkan percaya
memupuk keteguhan jiwa
walau berat bagitu terasa
menunggu jawaban yang tiada jua tiba menyapa
ataupun sekedar pertanyaan rumusan masalah
pun kerangka teori analisisnya

O, aku tiada berdaya...
tiada kuasa apa
kini pasrahku pada-Nya
menunggu jawaban entah itu apa
Cirebon, 17/02/
Pasca SUP Tesis PPs IAIN Syekh Nurjati Cirebon



Friday, February 14, 2014

ألف خطوة

ألف خطوة
بقلم ابن محروس


ألف خطوة بدأتها وسرت بها ليالي وأياما مضطربا

والشمس طالعة وسط النهار

والرمال الرمضاء شكاها الماشي عليها

وأجنحة الملئكة على الأفق تظلّ رجائي

طول المدى وبعد المسافة

والكيس خال عن الزاد

والخيال إلى أقطار السموات والأرض

النهار مليء بالعرق بشدة الحرارة

والليل قطرات الدموع سائلة

على السجادة الممهّدة

مناجاة الضعيف للحبيب الغني المعطي

راكعا ساجدا داعيا رافع اليدين قائلا

يا رحمن بالبرايا

ويا مهدي كل العطايا

هذه ، يا مغيث المستغيثين

وهذا بكائي وهذا رجائي في الليالي الظلماء


تشربون ، 3 ديسمبر 2012 م

Monday, February 10, 2014

Demi Nafsu

Demi Nafsu
Hari M Ngaidin

Demi nafsu
nafsu syahwat
nafsu wanita
nafsu politik
nafsu jabatan
nafsu kekuasaan
nafsu eksistensi
nafsu harta-kekayaan

Nafsu itu manusiawi
Nafsu itu niscaya
asalkan saja
pelampiasannya pada jalur-koridornya

nafsu syahwat
wanita pujaan hati
menikahlah jalurnya
ikatan janji-setia

nafsu politik-kuasa
mbok ya ndak perlu
halalkan segala cara

Demi nafsu
apapun dilaku
itu terlalu

Institusi itu memang milik bersama
termasuk kau
sah-sah saja
bila kau akuinya
namun
jangan semau kau
tafsir nafsu
penuh dusta
tafsir mimpi kuasa
penuh intrik-buta
Ciputat, 07/02/2014

Waktuku tersia

Waktuku tersia
Puisi Hari M Ngaidin

Waktu
...ku habis di jalan raya
masa produktif hanya
satu dua jam saja
shalat hanya

5 menit terasa 
[cukup] lama
Lebih sedikit sudah
Tak tahan mau kemana

Baca al-Qur’an
semoga saja
1 juz sehari
bisa jadi istiqamah
Di tengah godaan dunia
itu alhamdulillah

Kata kau 8 jam kerja
Ah,
Aku tak percaya
kau lupa
atau pura-pura

Jujur itu hebat
Disiplin itu nikmat

Tapi
ngakalin bisa saja
Apa yang tak bisa
Kita ini manusia

Hahahahaha
Weka weka weka weka
Chemungudh ea!

Kopaja P20, 07/02/2014

Ulasan Hasil Tantangan Menulis Bareng SLI di Hari Guru Nasional

Hasil Tantangan #NulisBarengSLI #HariGuruNasional2020 #SahabatLiterasiIAICirebon Beberapa hari yang lalu (23/11/2020) aku atas nama pribad...