Monday, March 9, 2015

Anak, Hantu dan Suntikan

Mungkin, dari judul di atas, Anda sudah menebak isi dan kemana tulisan ini mengarah. Semoga tebakan Anda benar. Tapi, maaf, sekalipun benar, aku tidak menyiapkan hadiah untuk Anda ya, kecuali tulisan ini. Semoga saja bermanfaat.hehehe
Sebagian orang tua, mungkin mengalami kesulitan ketika hendak membawa anaknya yang masih kecil ke dokter untuk diperiksakan, apalagi jika anaknya harus disuntik. Aduh rasanya sulit. Sebab, sang anak sudah merasa ketakutan terlebih dahulu.
Kasus lain, pada suatu tengah malam, tiba-tiba anak Anda yang masih kecil kebelet pengen buang air, karena takut hantu atau setan, ia pun tidak berani dan meminta Anda mengantarkannya. Malangnya, terkadang Anda sendiri malah ketakutan juga. Apa pasal?mengapa demikian, sementara hantu itu hanya hayalan, dan setan tak perlu ditakutkan.
Masalah ini sebetulnya sederhana. Terkait hal ini, anak-anak bisa diibaratkan kertas atau folder file yang masih kosong. Kertas itu akan menjadi bacaan yang indah dan berguna, jika diisi dengan goresan pena kata yang indah dan baik, dan begitu pula sebaliknya. Teori fitrah bisa kita pakai dalam hal ini. Fitrah anak adalah bersih dan suci, tidak merasa takut terhadap sesuatu. Biasa-biasa, woles saja. Persepsi anak terhadap sesuatu sesuai dengan informasi yang masuk padanya. Sehingga, bila ada anak takut terhadap kosa kata semisal monster, hantu, setan, suntikan, dan lain sebagainya, besar kemungkinan informasi yang masuk kepadanya terkait hal-hal tersebut adalah yang negatif dan menakutkan. Informasi tersebut bisa jadi dari kawannya, televisi, film, game, buku, atau bahkan bisa jadi dari Anda sendiri, tanpa disadari. Barangkali secara tidak sadar, suatu kita pernah menakutinya dengan hal-hal tersebut.
“Lekas tidur ya. Kalau tidak, nanti hantunya datang loh!”
“Kamu jangan minum es dan makan permen! Nanti kalau batuk, kamu disuntik sama dokter!” 
“Kalau kamu tidak....., nanti......!”
Selain dalam media-media yang disebutkan sebelumnya, hantu, setan, suntikan, monster dipersepsikan sebagai hal-hal yang menakutkan. Bila kita informasikan kepada anak-anak bahwa semua itu sesuatu yang biasa dan wajar-wajar saja, anak-anak pun akan menganggapnya biasa saja dan tidak takut.Persepsi ini akan dibawanya hingga ia dewasa, sampai ada info lain atau pengalaman yang menyatakan lain.
Hal ini sebagaimana yang terjadi pada Nabil (5, 5 tahun ) dan Keysa (3, 5 tahun) anak kami. Kemarin, mereka berdua dengan agak memaksa minta diantar pergi ke rumah sakit untuk disuntik. Bagaimana bisa?
Sebelumnya, anak-anak belum pernah mendengar tentang ‘ngeri’nya suntikan, baik dari tv (karena memang tidak punya tv) ataupun dari kawan sekolahnya (karena memang mereka berdua belum masuk sekolah formal).
Malam hari itu dan sebelum berangkat ke RS, kami beri tahu mereka, lebih tepatnya kami ajak untuk disuntik untuk dicek golongan darahnya.
“Nanti kalau sudah disuntik, golongan darah kamu akan diketahui. Ada yang A, B, AB atau O, dan kamu akan dapat hadiah kartu, setelah itu.” ujar saya pada keduanya.
Cek golongan darah ini ada hubungannya dengan mendidik anak berdasarkan golongan darah. Menurut sebuah buku yang ditulis berdasarkan penelitian di Jepang, juga yang disampaikan oleh PakAbubakar Dachlan, dengan mengetahui golongan darah anak, ortu atau guru akan lebih mudah mendidik anak.
Setelah diberitahu nilai positif, tujuan dan kelebihan suntikan, mereka berdua pun langsung minta diantar dengan merengek, agak memaksa. Kami pun menyanggupinya, meskipun sebenarnya ibu mereka sedang enggan untuk antar, sebab sedang kurang enak badan. Tapi, karena anak-anak merengek untuk diantar, sang ibu pun akhirnya ngalah.
Sewaktu di dalam ruangan di Rumah Sakit, ada dua petugas laboratorium yang melakukan tindakan. Satu bertindak sebagai penyuntik, dan satu lagi memegang. Petugas pun tampak sudah bersiap siaga. Mungkin kuatir nantinya anak-anak akan berontak karena ketakutan atau kesakitan. Selain itu, petugas juga meminta sang ibu memangku anak yang akan disuntik, sekaligus membantu memegangi tangannya.
Saat tiba giliran sang kakak (Nabil) disuntik, Keysa aku gendong, kuajak ngobrol, dialihkan ke hal lain, dengan tujuan jaga-jaga barangkali Nabil meraung kesakitan, agar dia tidak melihatnya saat ditusuk jarum suntik. Kuatir dia juga takut dan tidak jadi disuntik. Jurus pengalihan pun berhasil.
Dan ternyata, dengan membaca bismillah, injeksi pertama berjalan lancar.
“sakit ndak?”
“Enggak.” Jawab Nabil.
Dan alhamdulillah hal yang sama terjadi pada sang adik. Tak takut dan tidak terasa sakit.
Ciwaringin, 05/03/201

Jajanan Hari Ini: Buku Klasik

Sambil menunggu ada dosen yang hari ini udzur (tepatnya absen). Ya, nasib sebagai dosen cadangan..hiha, aku jalan santai keluar ke depan kampus, setelah menikmati sekeping dhuha dan sepotong kue alwaqiah di masjid al-Jamiah. Sekedar cari jus jambu dan beli beberapa alat tulis, boardmarker dan pulpen merah untuk koreksi.
Tidak jauh, seorang pemuda tampak sedang duduk santai. Di depannya berjajar buku-buku yang digelar di atas tikar. Buku yang dijajakan didominasi tema-tema yang menjadi nama mata kuliah. Maklum lah, segmen pasarnya para mahasiswa. Ada metodologi penelitian, karya Sugiyono, juga Suharsmi Arikunto.. Ah, jadi teringat waktu sedang berkutat dengan proposal penelitian dan tesis beberapa bulan yang lalu. Metodologi pengajaran, manajemen pendidikan, sejarah, psikologi, tasawuf, filsafat, pengantar statistik, dan sederet nama ilmiah dan akademis, khas kuliahan juga mendominasi.
Eit, di satu sudut terlihat sejumlah judul bacaan umum. Ada novel-novel Tereliye, dsb. Di sampingnya, di sela-sela jajaran buku itu, kupilih beberapa buku: 
Pertama, Dibawah (tidak dispasi. Di sini kadang aku merasa heran) Bendera Revolusi.
Penulisnya Ir. Sukarno. Ya, Bung Karno, presiden pertama kita. Buku terbitan ke lima, tahun 2005 ini setebal 624 halaman, berisi esai-esai Bung Karno yang ditulis antara tahun 1926-1941. Masih banyak tulisannya yang belum dimuat (di dalam buku ini). Pasalnya, waktu itu, khususnya tulisan tahun 1917-1925 belumlah ditemukan di mana rimbanya. Buku yang baru jilid pertama ini (katanya sih aslinya ada dua jilid), oleh penjualnya, dibandrol Rp 75.000. Setelah kutawar kena Rp 70.000. Menurutnya, buku cetakan pertamanya dibandrol Rp 1jt. Ya, karena antik, limited edition, jarang yang punya. Dan, setelah kubuka, karena tadi dibungkus plastik, tampaknya yang kubeli ini tidak ori, tapi kw, alias hasil kopian. Di sini aku terkadang sedih. Tapi, tak apalah, yang penting punya dan lumayan bagus kemasannya.
Kedua, Zaman Peralihan. Buku ini berisi kumpulan essai Soe Hok Gie, sang demonstran yang menulis buku catatan hariannya di bawah ini. Ini buku ori, kata penjualnya. Dibandrol Rp 40.000 oleh penjualnya.
Ketiga, catatan sang demonstran. Buku ini sempat mengguncang (agak lebay ya?!), tepatnya menjadi buah bibir dunia kampus Indonesia pada tahun 2005. Bukan karena apa, tapi karena mau difilmkan (meski cuplikannya saja). Maklum, mahasiswa (apalagi yang bukan mahasiswa) kita lebih suka nonton film, daripada baca buku.hehe (sambil ngaca).
Dulu, tahun itu, aku pengen beli, tapi belum cukup isi dompet. Maklum, mahasiswa kere..
Keempat dan kelima, buku karangan Dr. Harun Nasution. Oleh sebagian kalangan, sang penulis sempat dijuluki muktazilah Indonesia, karena pemikirannya. Buku-bukunya tipis dan simpel bahasa dan penyajiannya. Buku karya mantan rektor IAIN Ciputat ini berjudul Teologi Islam dan Islam di Tinjau dari Berbagai Aspeknya. Hampir, setiap mahasiswa IAIN punya buku ini, khususnya di tahun pertama, di Fakultas Ushuludin dan Syariah. Tampaknya, memang buku ini jadi pegangan "wajib" mahasiswa ushuluddin, khususnya di IAIN/UIN/STAIN. Meski tidak sedikit yang mengkritisi isinya dan entahlah. Aku sendiri agak telat kenal, karena di kampusku dulu buku panduan dan diktatnya ditulis orang Arab semua. Semester lalu dapat tugas ngampu mata kuliah ilmu kalam, tapi rujukannya dari Arab semua, ada Asy-Syahrastani, Al-Asy'ari, dsb.
Sudah, gitu aja ceritanya. Aku mau baca dulu.

Cirebon, 7 Maret 2015

Aku Akan Tetap Menulis

Aku akan tetap menulis,
meski aku tak bisa menulis


Aku akan menulis,
meski tulisanku tak layak dikatakan tulisan

Aku kan tetap menulis,
meski banyak yang mencibir tulisanku

Aku kan tetap menulis,
meski (sepertinya) tak ada lagi waktu untuk menulis.

Aku kan tetap menulis,
meskipun (seandainya) menulis dilarang

Karena kini
aku sadar, 
aku tidak akan bisa menjadi penulis yang baik
kalau tidak memulai dari yang amburadul

Sebab,
menulis bukan bakat
sejak lahir yang sudahlah didapat
Tidak pula diwariskan secara genetif

Menulis itu kreatif
diwariskan dengan latihan 
juga pembiasaan..
Mari menuliskan ide gagasan
kenangan juga pengalaman,
Bila nanti kita mati
sejarah kan mengenang
dengan tinta emas nama kita terukirkan

isy kaatiban au mut maktuuban
Cirebon, 7 Maret 2015

Tuesday, March 3, 2015

Korupsi dan Demokrasi

Catatan Koplak: Catatan lawas

Karena demokrasi adalah gambaran singkat dari pemerintahan rakyat. Segalanya berpulang pada rakyat. Dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Maka, duit dari rakyat dikorupsi, oleh aparat korup yang juga bagian dari rakyat. Juga, untuk menyejahterakan keluarganya yang bagian dari rakyat. Jadi, korupsi sesuai dengan nafas democrazy. Dan, selanjutnya, didemo oleh rakyat. Akhirnya, para koruptor dikeroyok rame-rame oleh rakyat.

Demonstrasi adalah efek dan buah dari demokrasi, sementara main hakim sendiri adalah pengamalan dari penyelaman nilai-nilai demokrasi (yang disalahpahami). Karena semua tergantung rakyat. Sementara mereka tak percaya lagi pada aparat. Maka, ketika ada koruptor, lebih baik diserahkan kepada rakyat, alias dikeroyok rame-rame. Hahahaha
Kranji, 17 Juli 2005

Wajah Ibu Kota

Oleh: Masyhari

Jakarta, bagiku wajahnya sungguh mengerikan. Betapa tidak? Bukan hanya kemacetan yang bukan lagi terasa aneh. Kendatipun, hingga saat ini, tiada seorang pun yang benar-benar merasa nyaman atau tentram dengannya. Di saat panas menyengat, sekujur badan bercucuran keringat, sementara ia di dalam jebakan kemacetan jalan raya. Tak hanya itu, polusi asap kendaraan bermotor pun sangat mengganggu nafas.

Jakarta, begitulah kondisi jalanannya, macet, asap dan keringat. Dan, lebih miris lagi, kesenjangan sosial dan ketidakmerataan pembangunan.

Terkait kemacetan, sampai hari ini, mungkin Pemda sudah berusaha menanggulanginya. Mulai dari kebijakan 3 in 1, kawasan khusus kendaraan berpenumpang tiga orang atau lebih pada pagi jam berangkat kerja dan sore hari, jam pulang kerja, hingga peningkatan jumlah infrastruktur jalan raya, jalan layang, jalan tol dalam kota, dan pada akhirnya mono rel pun mulai dikerjakan pembangunannya. Mungkin, itu juga bagian dari usaha pemerintah untuk menanggulangi kemacetan. Ya, usaha tinggallah usaha. Kenyataan tak dapat dihindarkan. Sebab, semakin hari, kemacetan kian parah. Menurut hematku, aturan tersebut kurang efektif, meskipun ada pengaruh positifnya, meskipun tidak segnifikan. Namanya juga usaha. Dan, itu patut diapresiasi dan disambut baik oleh masyarakat.

Bila dicermati, akar dasar penyebab kemacetan, biang keroknya, adalah meningkatnya jumlah kendaraan pribadi, yang diakibatkan oleh peningkatan jumlah penghuni Jakarta. Hal ini disebabkan oleh pesatnya angka kelahiran dan melonjaknya angka urbanisasi. Yang kedua ini berpengaruh pada membludaknya warga tak resmi, gembel-gembel jalanan, pengamen bus kota, pedagang asongan dan kaki lima [ilegal].

Lantas, apa korelasi antara kemacetan dan ketidakteraturan penduduk kota? Keduanya, sangat menganggu ketertiban, mengakibatkan kesemrawutan, dan ketidaknyamanan akan muncul akibat keduanya. Pada akhirnya, pemerintah pun membuat kebijakan pengusiran dan penggusuran.

Kemudian, apa solusianya? Karena, sebagaimana yang penulis ungkapkan di atas, sumber utama kemacetan adalah meningkatnya kuantitas kendaraan (mobil) pribadi yang mondar-mandir memadati jalanan, maka solusi yang tepat, menurut penulis adalah (pertama) dibuat peraturan pemerintah atau regulasi untuk membatasi pemelian atau kepemilikan kendaraan (mobil-motor) pribadi. Misalnya, setiap keluarga dibatasi hanya boleh memiliki satu mobil, dan kalaupun memang sangat darurat, sehingga harus punya dua, harus melalui izin, dan ini pun dilakukan dengan ketat. Selain itu, pemerintah atau pemegang kebijakan, harus melakukan upaya peningkatan kuantitas kendaraan umum dan kualitas pelayanannya, sehingga warga masyarakat merasa nyaman dalam berkendara, baik itu kereta api ataupun bus kota.

Selain itu, (ketiga) tentunya peran dan kesadaran masyarakat dalam membantu mengurangi kemacetan sangat penting, dengan mentaati peraturan yang dibuat, dan lebih mengutamakan bepergian menggunakan kendaraan umum daripada pribadi.

Fenomena lain yang tidak kalah membuat gatal di dalam otak adalah membludaknya jumlah anak jalanan, di setiap sudut jalan kota, di dalam bus kota dan lampu merah, anak jalanan menadahkan tangan, pengamen kecil yang tak sempat nikmati indahnya bermain dan manisnya dunia pendidikan. Keadaan lah yang menuntut mereka untuk mengamen atau menggembel, dalam rangka mempertahankan hidup. Yaitu melakukan sesuatu yang bisa dilakukan, tanpa panjang pikir dan pertimbangan. Untuk sesuap nasi, rela mempertaruhkan diri. Demi sekeping uang receh, rela terkena oceh. Alasan untuk biaya sekolah pun kerap terucap dari bibir mereka atau mereka tuliskan dalam lembaran amplop sebagai “proposal” untuk para penumpang bus kota yang berpolusi itu.

Lantas, di manakah tangan-tangan orang kaya yang dermawan? Mengapa mereka tak terjamah oleh yayasan-yayasan sosial, oleh para milyuner dan pengusaha besar? adakah mereka sudah tidak bisa merasakan ganjilnya dan ketidakseimbangan kehidupan ini? Di manakah departemen kesejahteraan rakyat? Di manakah presiden?! Saat kampanye engkau umbar janji-janji dan kepalsuan, dalam pidato yang berapi-api. Di mana anggota DPRD yang telah dipilih oleh rakyat?

Kebijakan yang selama ini dilakukan untuk alasan ketertiban dan keindahan dari aparat pemerintah adalah penggusuran dan pengusiran warga ilegal, tak punya izin resmi, meskipun mereka sudah bayar ‘upeti’ untuk oknum dari pemerintah. Mengapa mereka tidak ditempatkan pada lokasi khusus dan dibuatkan tempat tinggal dan berusaha yang layak. Toh, mereka juga warga negara Indonesia. Namun, yang tak habis pikir, mengapa masih juga banyak penduduk desa yang datang berduyun-duyun ke ibu kota, tanpa berpikir panjang, hanya modal nekat (mbonek), dan nyali besar. Padahal untuk hidup di kota, itu saja tidak cukup. Hidup di ibu kota, apalagi, harus punya tempat tujuan yang sudah jelas dan bisa menjanjikan hidup layak. Selain itu, punya ilmu “fikih” Jakarta adalah senjata ampuh untuk bisa bertahan dan memenangkan kerasnya pertempuran di medan laga Jakarta, peperangan yang penuh dengan ketegangan dan kebrutalan. Pertempuran yang menghasilkan antara kesejahteraan atauhkah kematian.

(Ditulis di Jakarta pada 19 Mei 2005 dalam bus Metromini 75 Blok M - Pasar Minggu. Ditulis ulang di Cirebon, 03/03/2015)

Monday, March 2, 2015

Metamorfosa

Anak Ulat


Anak kecil
Bagaikan ulat
Suka bikin gatal
Menggerogoti dedaunan
Bila ia lelah dan puas, ia kan tenang rahat

Jadilah ia antung, kepompong
Tak lama, kita kan dapati ia makhluk yang elok rupawan
kupu-kupu dinamakan
Bak burung, tanpa paruh
Beraneka warna menawan
Terbang, kepakkan sayap berkelokan
Sihir mata memandang kekaguman
terpana hati tajam
Inilah metamorfosa kehidupan
Proses di dalam sabda alam
harus dilalui dan dinikmati
Menuju kebaikan, pasti

Ah, andai kita bisa bersabar sedikit
Yang tampak serupa penyakit
begitu gatal gemaskan
kan jadi hiasan
peneduh sukma
penetram jiwa raga

Tak ada yang instan
tak ada yang sia diciptakan
sebagaimana telah difirmankan
Tuhan tak malu buat satu perumpamaan
hewan sekecil nyamuk 
pun lebih rendah dari padanya

Ada pelajaran yang bisa diambil darinya
Segala yang dicipta
ada guna dan hikmah dikandungnya
hatta setan dan kejahatan
dicipta tuk suatu tujuan

Cirebon, 20/03/2015

Friday, February 27, 2015

Cak Cholil Nafis Sampaikan Wejangan untuk Kader NU


Jumat malam Sabtu tadi (23/01/2015), di sebuah griya di Mampang Prapatan hadir seorang Kiyai muda yang wajahnya sudah familiar, karena beberapa tahun terakhir ini ia cukup sering muncul di televisi swasta di negeri ini. Ia adalah Cak KH. Cholil Nafis, Ph.D. Saat ini bertugas sebagai dosen dan sekretaris Program PPSTT-UI, Wakil Ketua LBM-NU, anggota BWI dan anggota MUI. Berikut ini catatan yang penulis sarikan dari wejangan yang disampaikannya kepada beberapa kader muda NU penerima beasiswa studi magister dan doktoral di Universitas Islam Imam Muhammad bin Saud di Riyadh KSA, yang akan berangkat awal Pebruari 2015.

Oleh: Masyhari



Apa yang Cak Cholil Nafis sampaikan tersarikan pada tiga poin besar, yaitu pertama, menata niat, kedua metode mencari ilmu, dan ketiga bagaimana ilmu diterapkan. Berikut uraian penjelasannya:

Pertama, pertanyaan besar sebelum kita melangkah adalah untuk apa dan siapa? Adakah untuk mencari ilmu dan dalam rangka mengharap ridha Allah SWT, ataukah networking, bahkan hanya sekedar formalitas ijazah (sertifikat) dan titel (pengakuan), agar nantinya bisa mendapatkan 'tempat' yang lebih layak secara duniawi? Niat ini perlu ditata dengan baik, agar nanti di sana bukannya belajar dan menyibukkan diri dengan mejelis ilmu dan diskusi ilmiah, malah sibuk bertransaksi dengan agen travel. Pulang dari sana, untung-untungan bisa rampung kuliah, kalau tidak?, malah asyik menjadi staf kedutaan, agen travel dan penerjemah, tidak mau balik ke tanah air.

Terlalu rendah jika kita jauh-jauh ke Riyadh- Saudi Arabia hanya demi kepentingan pribadi. Kita niatkan, nanti selepas lulus, kita abdikan diri kita pada umat, masyarakat, menjadi akademisi dan ilmuan. Menjadi yang bermanfaat bagi umat manusia (anfa'uhum lin nas)..

Tambahan: Lebih baik menjadi kepala semut, daripada menjadi ekor singa. Lebih baik menjadi pimpinan di intitusi kecil yang mandiri, daripada menjadi staff di lembaga besar. Sebesar apapun tokoh dan lembaga yang kita tebengi, tetap saja staff.

Kedua, terkait dengan metode atau teknisnya. Kuliah di Saudi masih sebatas pada teks literal, sehingga cukup dengan membaca dan meringkasnya. Agar mudah terserap dengan baik, teks-teks yang panjang kita simpelkan dengan maping (kerangka pemetaan) pembahasan secara terstruktur. 

Model kuliah yang tekstual-literal semacam ini tidaklah cukup menjadi bekal dalam menghadapi tantangan di masa depan (khususnya) di Indonesia dan dunia Internasional. Karena itu, kegiatan diskusi-diskusi luar kampus perlu diaktifkan dan pada saat liburan panjang (1-3 bulan) bisa ke luar negeri untuk melakukan pengembaraan ilmiah; ke Belanda, Jerman, Perancis, dsb. Minimal ke Maroko, Mesir, Tunisia, dsb. Atau bila pulang ke Indonesia, dirancang secara bersama untuk dilakukan pelatihan, misalnya bekerjasama dengan NU Circle, dsb. Penguatan jaringan juga akan tercipta dengan bersilaturrahmi.

Ketiga, ini adalah soal pengemasan, branding. Ilmu yang berhubungan dengan agama tidak melulu berbicara soal akhirat, semata. Pengkotak-kotakan ilmu dunia-akhirat perlu, bahkan harus, kita kikis. Kita kembalikan ilmu pada khittahnya, universalitasnya. Ilmu yang tampaknya hanya soal ibadah itu bisa kita branding dengan lebih menarik, sehingga diminati masyarakat.


Ilmuan itu layaknya apoteker. Banyak obat-obatan bertebaran di apotik. Namun, kita sediakan dan pilihkan obat sesuai dengan kebutuhan, jenis penyakit, dosis takaran dan usia pasien.

العلم شيء والتعليم شيء آخر

Artinya, ilmu adalah sesuatu hal, sementara metode mengemas ilmu adalah sesuatu yang lain.

Jangan sampai, yang mumpuni, ahli qur'an dan bahkan ahli kitab, tertinggal jauh sama muallaf dan baru ngerti agama kemarin sore, yang bahasa Arab saja tak bisa. 
Memang, input ilmu yang besar dan mendalam adalah sebuah kebaikan, namun itu saja tidak cukup, namun harus mengerti bagaimana ilmu itu bisa diterima dan diminati oleh khalayak masyarakat. Kita perhatikan kondisi masyarakat, mereka butuh apa? Faktor yang mempengaruhi keberhasilan, intelektualitas hanya berkisar 20 %. Selebihnya adalah bagaimana membangun kecerdasan emosional.

Selain itu, kita cari dan masuki segmen-segmen yang masih belum banyak dijamah. Pintar agama dan kitab kuning di dalam tubuh NU banyak. Sehingga, kalau kita bertahan di sana, yang terjadi adalah sikut-sikutan dan berantem dengan sesama. Kita keluar, nanti akan lebih berguna. Mahir baca kitab kuning adalah hal yang biasa di dalam NU. Tapi, bila kita ke 'luar', kita akan menjadi laur biasa dan lebih berguna.

Wallahu a'lam.
Jakarta, 24/01/2015


“Wejangan” Kang Sa’dun

“Wejangan” Kang Sa’dun

Berikut ini sebagian dari isi ‘wejangan’ yang dituturkan oleh Kang Dr. Sa'dun S. Afandi, kemarin tanggal 22/01/2015 di Rumah Singgah di Mampang Jakarta Selatan untuk para kader NU calon penerima beasiswa Pasca sarjana di Riyadh-KSA yang akan berangkat awal bulan Pebruari 2015.
Pertama, ada sebuah kisah yang patut dijadikan pelajaran: Shahibul hikayat adalah seorang Mahasiswa Indonesia di Mesir. Ia merupakan kawan Gus Dur sewaktu di sana. Saat Gus Dur menjadi sekretaris PPI Mesir, kawan ini lah yang menjadi ketuanya. Selain kuliah, kawan ini berbisnis. Dalam bidang ini, ia terbilang sukses dan kaya. Hingga punya rumah, bahkan 5 mobil. Suatu waktu ia tertarik dengan gadis Mesir dan akhirnya menikah dengannya. Sang istri meminta agar asetnya, harta-harta kekayaannya diatasnamakan istrinya dan setelah punya beberapa anak sebagian lagi di atasnamakan mereka. Alasannya untuk kemudahan mengurus administrasi. Sebab, di Mesir, bila menggunakan nama Mesir akan lebih mudah mengurusnya. Berbeda bila yang punya atas nama orang non-Mesir. Waktu pun berjalan. Setelah anak-anak mereka telah dewasa dan memasuki bangku kuliah, ternyata sang suami yang aseli Madura ini ditendang. Seluruh harta kekayaannya diambil sama istri, keluarga dan anak-anaknya.
Beberapa tahun setelahnya, sekitar tahun 1998, Gus Dur ke Mesir dan menemuinya, menawarkannya untuk kembali ke Indonesia. "Pulanglah. AKU AKAN MENJADI PRESIDEN. Kamu mau jadi apa, silahkan pilih!" Tawar Gus Dur.
Namun, kawan ini masih enggan pulang dan memilih bertahan di Mesir, meskipun ia terlunta-lunta, singgah dan menginap dari kontrakan satu mahasiswa yunior satu ke kontrakan mahasiswa lainnnya.
Dari kisah tersebut bisa diambil beberapa pelajaran, di antaranya:
-       Jangan sampai melirik dan tertarik untuk menggaet gadis Arab, khususnya Mesir, dan bisa jadi hampir sama berlaku bagi Arab lainnya (illa man rahima rabbuhu). Banyak di antara mereka, sampai saat ini menganggap orang 'Ajam (non-Arab) lebih rendah kastanya daripada mereka. Non-Arab dianggap sebagai bangsa pembantu (khususnya Asia tenggara), budak, kasta sudra lah) oleh mereka. Meskipun ini kasuistis, dan kesimpulannya masih prematur, asumtif-hipotetik dan cenderung generalisasi. Namun, bisa jadi kasus semacam ini banyak terjadi dan tidak menutup kemungkinan akan terulang kembali. Yang terpenting adalah, kita ambil pelajaran sebagai sikap preventif, kehati-hatian.
-       Tampaknya, Gus Dur sudah dapat ‘info’ dari bisikan alam gaib bahwa tak lama lagi akan menjadi presiden. TterTop of Form
Kedua, tahun lalu, program beasiswa kader NU ke Saudi gagal berangkat, yang disinyalir disebabkan oleh pernyataan Kang Said tentang Wahabi.
Pernyataan Kang Sa’dun ini langsung diklarifikasi oleh Cak Fuad. Bahwa sebab itu tidaklah benar. Yang sebenarnya terjadi hanyalah kesalahpahaman. Ada seorang oknum pengacau yang memiliki kepentingan pribadi, mengambil keuntungan dan peruntungan. Oknum inilah yang malah dipercaya menjadi perantara komunikasi antara Kedutaan Saudi, sebagai wakil penyedia beasiswa, dengan NU yang mendapat kesempatan beasiswa.
Sebab yang sebenarnya, pihak kedubes Saudi Arabia untuk Indonesia mengundang Kang Said makan siang melalui oknum tersebut. Pada jamuan makan siang tersebut, dubes Saudi sudah menyiapkan makanan kesukaan Kang Said. Namun, ternyata Kang Said tidak datang. Bukan apa. Karena memang beliau tidak tahu, sebab undangan tersebut tidak disampaikan oleh sang oknum. Akibat ketidakhadiran Kang Said, dubes Saudi kecewa dan marah. Imbasnya, pemberangkatan para kader NU calon penerima beasiswa pun dibatalkan.
Sementara beasiswa kali ini adalah murni dari Cak Cholis Fuad Mutamakkin sendiri yang dipercaya oleh pihak Universitas Imam Muhammad bin Saud Riyadh Saudi secara pribadi. NU dalam hal ini diwakili oleh LPTNU hanya sebagai mitra formalitas yang menjadi persyaratan penerimaan beasiswa.
Jakarta, 23/01/2015-Cirebon, 27/02/2015

Wednesday, February 25, 2015

Catatan Jumat (bagian 2)

Adzan kedua Jumat telah dikumandangkan. Temponya lebih cepat daripada yang pertama. Sebelumnya, sang muadzin kedua yang konon disebut muraqi ini membacakan (tepatnya melantunkan) teks sebuah hadits riwayat Abu Hurairah ra dengan berbahasa Arab, hadits tidak asing lagi bagi para santri dan ahli hukum Islam.
عن أبي هريرة رضي الله عنه، قال النبي صلى الله عليه وسلم: ((فإذا صعد الخطيب على المنبر فلا يتكلم، وإذا قلت لصاحبك "أنصت" والإمام يخطب فقد لغوت، ومن لغا فلا جمعة له)). أنصتوا واسمعوا وأطيعوا! رحمكم الله.
Demikian kira-kira bunyi Hadits tersebut. Ia memuat tentang adab Jumat, khususnya terkait dengan menyimak khutbah. Bila khatib telah naik mimbar, diamlah, menengo, sumpelen cucukmu, jangan bicara. Siapa yang bicara, sia-sialah shalat jumatnya. Pun, yang bilang,"diam!" pada kawannya yang bicara, sama saja, sia-sia. Begitu kira-kira terjemahan bebasnya.
Seremoni semacam ini kerap kita temui di masjid-masjid kaum tradisional di Indonesia (baca: NU). Memang, dalam sejarah hukum Islam di Arab sana, hal semacam ini tidak ditemukan. Boleh jadi, bagi sebagiab kalangan, ini dianggap bid'ah. Karena termasuk bagian dari ibadah, sehingga tak boleh ada penambahan. Lain halnya dengan ulama NU yang memandangnya sebagai ibadah ghair mahdhah. Memang, shalatnya ibadah mahdhah, tapi khutbahnya, selain mahdhah juga mengandung maqashid. Sehingga dahulu pun terjadi perdebatan apakah boleh berkhutbah dengan selain bahasa Arab, sementara jamaah tidak paham bahasa arab? 
Ritual pembacaan hadits tersebut, menurutku hanya sebatas tradisi, kearifan, yang bukan bagian dari ibadah mahdhah, sementara tujuan yang ingin dicapai (maqashid) sangat mulia. Yaitu tanbih, memberi peringatan kepada para jamaah agar menyimak khutbah, tidak sibuk dengan hal lain.
Hanya saja, yang menjadi catatan adalah, ternyata hadits tersebut tampaknya tidak dipahami oleh sebagian besar jamaah, sebab berbahasa Arab. Semestinya, bila tidak dianggap sebagai ibadah mahdhah, pembaca juga menyertakan terjemahannya, agar para jamaah bisa ambil manfaatnya dan mencernanya dengan baik. Sehingga tercapailah tujuan dari pembacaan hadits tersebut.
Karena kurang adanya kontekstualisasi, maka yang terjadi adalah seperti tadi siang. Di sampingku, tepat, seorang pemuda masih asyik BBMan, sementara khatib berkhutbah. Selain itu, seorang separuh baya, duduk di beberapa shaf di hadapanku, masih asyik memutar tasbihnya. Dan dua orang juga masih asyik berbincang santai, tanpa merasa berdosa..
Sementara Nabi saw bersabda," Siapa yang sia-sia, tiada shalat jumat baginya." Dalam hadits lain, disebutkan:
من مس الحصاة فقد لغا
"Siapa yang memainkan kerikil, sia-sialah shalat ia".
Bila diterjemahkan dengan konteks termutakhir menjadi:
"Siapa yang ngelus-elus batu akiknya, sia-sialah jumatnya.."

Sehingga, apapun yang menyibukkan dari menyimak khutbah, kecuali hal-hal tertentu yang diperbolehkan, seperti mengaminkan doa, dsb. Maka, hal itu dilarang. Kalau dahulu memainkan kerikil dan tasbih, maka pada zaman modern ini, kerikil itu bisa berupa hp, fb, bbm, whatsAp, game, path, line, wa'alihi wa ashabihi ajmain.
Semoga berguna. wallahu a'lam.

Cirebon, 20/02/2015

Catatan Jumat (Bagian I)

Adzan pertama Jumat telah dikumandangkan. Bergegas, para hadir yang sedari tadi khusyuk menyimak, menjawabnya dan berdoa setelahnya, hampir serentak berdiri untuk shalat sunnah. Ini amaliah khas kaum Nahdliyyin. Ini merupakan shalat sunnah qabliyah jumat. Bagi sebagian kalangan, ini bisa jadi akan disebut sebagai amaliyah bid'iyyah. Sebab, konon, Nabi saw dan para sahabat, generasi utama umat ini tidak pernah melakukannya. Sementara setiap ibadah harus ada contoh dan pendahulunya. Jika demikian, benarkah ini bid'ah?
Masalah ini, menurutku, paling tidak bisa dijawab dengan dua hal berikut:
Pertama, shalat ini diqiyaskan dengan shalat qabliyah Zhuhur. Dalam hal ini memang terjadi selisih pandangan antar para ulama. Ada yang melarang. Ada pula yang membolehkan. Masing-masing punya landasan dalilnya. Romi, dalam "Al-Qiyas fi Al-Ibadah..." (2010) menyebutkan sejumlah contoh qiyas dalam ibadah pada zaman Nabi saw (hlm. 96), yaitu ijtihad 'Amr yang mengkiyaskan tayamum dalam hadats besar dengan hadats kecil, qiyas aulawi hutang haji dengan hutang harta, qiyas kumur-kumur dengan mencium istri pada siang hari puasa. Selain itu, sejumlah sahabat juga menggunakan qiyas dalam ibadah sepeninggal Nabi saw. Seperti Ummu Athiyyah ra bab haid (HR. Al-Bukhari), Ibnu Umar dalam hal usapan tangan saat tayammum dg wudhu (HR. Ad-Daruquthni), dlsb.. 
Kedua, shalat tersebut diniatkan shalat sunnah mutlak. 
Pada dasarnya, shalat sunnah merupakan ibadah yang dianjurkan kapan saja, kecuali pada waktu-waktu yang diharamkan. Toh, itu bukan waktu yang diharamkan. Lagi pula, tidak selalu shalat sunnah itu bernama. Sebagaimana shalat sunnah dua rakaat yang dilakukan Nabi saw ketika menghadapi suatu masalah. Sebagian orang menyebutnya dengan shalat hajat. Namun, bila suka, bisa saja kita menyebutnya shalat [anti] galau. Begitu juga dengan shalat Bilal, yaitu shalat dua rakaat yang dilakukan sahabat Rasul ini setiap kali usai berwudhu. Sebagian dari kita menyebutnya dengan shalat sunnah wudhu. Hal ini sebagaimana yang berlaku dalam shaum (puasa). Ada puasa sehari, berbuka sehari. Kita kerap menyebutnya puasa Dawud. Karena ini puasa yang biasa dilakoni Nabi Dawud as. Teruskan sendiri, masih banyak contohnya. 
Semoga bermanfaat. Wallahu a'lam


Ulasan Hasil Tantangan Menulis Bareng SLI di Hari Guru Nasional

Hasil Tantangan #NulisBarengSLI #HariGuruNasional2020 #SahabatLiterasiIAICirebon Beberapa hari yang lalu (23/11/2020) aku atas nama pribad...