Friday, October 7, 2016

Aku Tersenyum, Maka Aku Ada

Oleh Masyhari
Mengaisbun.blogspot.com - Pagi-pagi buka fb di hape, tetiba sebuah gambar bola dunia tersenyum. Katanya ini hari 07/10/2016 adalah “HARI SENYUM SEDUNIA. Sekilas, agak terasa lucu, tampaknya. Kok sampai-sampai senyum loh ada peringatan harinya. Sambil mesam-mesem, kutulis ini.
Seberapa pentingkah tersenyum itu?
Tersenyum amat sangat penting bagi manusia. Tersenyum menandakan kesehatan prima psikologi seorang yang tersenyum. Bagi yang mendapatkan senyuman, pun akan ikut tertransfer energi positif yang mendamaikan.
Di hari-hari dunia yang semakin panas dan garang, penduduknya. Di berbagai belahan dunia, yang katanya modern ini, perang masih saja berkecamuk dan makin memanas, bergejolak. Seakan tak ditahu, kapan perang kan berakhir. "Mama, kapan gejolak perang ini kan berakhir?” Tanya anak kecil di Palestina. Maka, senyum tulus amat dirindukan. Tetap tersenyum, walau kondisi tak begitu menyenangkan. Tetap tersenyum untuk menebar kebaikan. Senyum laksana butiran embun sejuk yang membasahi, meredam panas gejolak api amarah dalam diri.
Kalaulah tak punya harta, senyum pun sudah sedekah. Sang Nabi SAW menegaskan urgensi senyum ini. “Senyum yang kau tebarkan di hadapan saudaramu adalah sedekah.” Sedekah harta tak mengurangi kekayaan, tapi ia investasi yang mengkayakan di masa depan. Sedekah senyuman, kan menebarkan kedamaian ke seluruh penjuru alam.
Banyak yang terlupa. Seakan agama hanya melulu soal ibadah vertikal kepada Tuhan yang menciptakannya. Mereka berlomba-lomba persembanyahkan sebanyak-banyaknya ritual agar disayang oleh-Nya. Shalat, ngaji, jihad, dan lain sebagainya. Padahal, hampir segala ibadah itu memiliki dimensi sosial, ibadah horizontal yang berimplikasi pada kehidupan manusia dengan sesamanya dan alam sekitarnya. Itulah akhlak dan budi pekerti.
Dalam agama Islam misalanya, Al-Qur'an selalu menyandingkan keimanan dengan amal saleh. Bukan sekali, tapi banyak ayat berulang kali. Tak sempurna iman seseorang, tanpa adanya akhlak, tersiratnya. Pun berulang kali Nabi Muhammad SAW menegaskan pentingnya akhlak.
“Sungguh, aku diutus tiada lain hanya untuk menyempurnakan akhlak.”
“Siapa yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, maka ia harus memuliakan tamunya.”
“Orang Islam (muslim) ialah yang membuat selamat orang lain dari lisan dan tangannya.”
Kalaulah kita tak bisa berkata baik, maka diam adalah emas. “Siapa yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, hendaklah berkata baik, atau diam (lebih baik).”
Oleh karena itu, akhlak budi pekerti adalah nomor SATU. Dan TERSENYUM adalah cerminan akhlak dan budi pekerti baik nan mulia. Tersenyumlah, kalaupun kau rasakan getirnya kehidupan.
Menutup kalam ini, saya kutipkan satu penggal sajak Ahmad Syauqi:
إنما الأمم الأخلاق ما بقيت # فإن هم ذهبت أخلاقهم ذهبوا
“Innamal umamu al-khlaqu ma baqiat. Fain humu dzahabat akhlaquhum dzahabu.” (Sungguh, umat itu dianggap ada, karena ada akhlaknya. Bila budi pekertinya tiada, keberadaannya dianggap tiada.“).
SELAMAT HARI TERSENYUM SEDUNIA-AKHIRAT. Semoga bermanfaat. Wallahu a'lam.[]
Kesambi, 07/10/2016

Wednesday, October 5, 2016

Pemuda Masjid Limbangan Ngaji Islam Nusantara pada 1 Muharram

Masyhari menghadiri undangan sebagai narasumber dalam seminar Islam Nusantara di Masjid Limbangan-Losari Brebes dalam rangka menyambut tahun baru Hijriyah 1 Muharram 1438 H. Berikut laporan selengkapnya dimuat di NU Online.


Jakarta, NU Online
Para pemuda masjid di Desa Limbangan Kecamatan Losari Kabupaten Brebes yang tergabung dalam Jam’iyah Isymalul Hijri (Ittihad Syubban Masjid Jami’ At-Taqwa Limbangan) menyelenggarakan berbagai kegiatan sejak 30 September-2 Oktober 2016 dalam rangka menyambut tahun baru 1438 H. Mereka melakukan kajian Islam Nusantara yang satu tahun belakangan ramai diperbincangkan.

Hadir sebagai narasumber kajian ini Dosen IAIN Syekh Nurjati Cirebon Ustadz Masyhari dengan moderator aktivis NU Nashruddin. Tema Islam Nusantara sengaja diangkat dalam upaya mengenalkan masyarakat tentang term yang lagi hangat.

Masyhari mengatakan, “Islam Nusantara adalah Islam khas ala Indonesia, gabungan nilai Islam teologis dengan nilai-nilai tradisi lokal, budaya, dan adat istiadat di Tanah Air. Dengan kata lain, Islam Nusantara berarti menyinergikan ajaran Islam dan adat istiadat lokal yang tersebar di wilayah Indonesia.”

Menurutnya, yang menjadi nilai pokok dari Islam adalah pesan rahmatan lil ‘alamin, pembawa keteduhan dan kedamaian, dengan tetap berlandaskan akidah tauhid sebagaimana ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad Saw. “Inilah Islam yang dikampanyekan dalam Islam Nusantara,” kata Masyhari.

Pelbagai kegiatan dalam menyambut tahun baru Hijriyah ini merupakan hajat tahunan dan sudah berlangsung selama 13 tahun setelah berdirinya jamiyah pada 6 September 1999 M. Acara ini yang dipusatkan di masjid tersebut dibuka pada Jumat (30/9) dengan seminar keagamaan dalam tema “Islam Nusantara”, lomba hafalan Al-Qur’an (MHQ) tingkat usia sekolah dasar yang digelar pada Sabtu (1/10) dan malam harinya disambung dengan istighotsah dan do’a bersama.

Sementara pawai ta’aruf, sunatan massal dan semaan kubro yang bekerja sama dengan Jam’iyyatul Qurra’ wal Huffadz Nahdlatul Ulama (JQHNU) Losari pada Ahad (2/10). Rangkaian acara ini ditutup dengan santunan anak yatim dan pengajian umum bersama KH Kholil Rohmat, kiai kondang dari Tegal. (Red Alhafiz K)

Monday, September 26, 2016

Resensi Novel: Senja Terbelah di Bumi Surabaya


Identitas Buku
Judul                   : Senja Terbelah di Bumi Surabaya
Pengarang           : Eni Ratnawati
Penerbit              : Writing Revolution
Tahun Terbit       : 2015
Tebal                   : 400 halaman


Sinopsis
Skandal masa lalu yang menimpa raksasa perusahaan Dirgantara kembali muncul ketika Bayu, direktur muda Dirgantara Group, menerima surat-surat misterius bernada romantis. Surat-surat itu dan juga wasiat papahnya sebelum meninggal membawanya bertualang di belantara kota Surabaya untuk mencari putra Dirgantara yang lain.

Bersama adiknya, Nouri, Bayu berangkat ke Surabaya tanpa sepengetahuan mamanya, nyonya Dirgantara. Di sana Bayu dipertemukan dengan Nayla, mahasiswi tingkat akhir kampus Merah Jambu, yang menjadi asisten khususnya dalam menelusuri jejak keluarga papahnya. Dengan hanya berbekal nama kecil putra papahnya mereka berdua berjuang untuk menguak misteri yang menyelimuti keluarga Dirgantara.

Berkat keteguhan Nayla satu persatu teka-teki keluarga Dirgantara mulai terkuak. Papahnya tidak hanya mempunyai seorang putra yang sudah berganti nama dengan nama yang lain, tapi juga seorang putri yang menjadi orang kepercayaan Bayu yang menyimpan dendam kepada keluarga Dirgantara. Terungkap pula asal usul Bayu yang bukan putra kandung Dirgantara.
Pertemuan Nayla dengan putra Dirgantara yang hilang mengantarkannya pada cinta sejati yang telah lama dinantinya.

Unsur Instrinsik
1.    Tema
Misteri pewaris tahta perusahaan raksasa Dirgantara Group dan skandal yang menyelimuti pemiliknya, ditingkahi kisah percintaan anak muda.
2.     Tokoh
Tokoh Utama : Bayu Dirgantara, Nayla, Nouri, Natasya, Margareta.
Tokoh Pembantu : Wiwiet, Ipoen, Marissa Soedibyo, Virnie, Mr. Shin.
Tokoh Figuran : Mariana, Ny. Liem, Joan, Josh, Ibu Soleh, Pak Soleh
3.     Alur
Novel ini menggunakan alur maju mundur, dimana peristiwa berawal dari 20 tahun sebelumnya yang menimpa Ny. Marissa. Kemudian menceritakan kehidupan Bayu sebagai putra Ny. Marissa Dirgantara pada masa kini yang diselingi dengan flashback kehidupan Bayu saat masih kecil.
4.    Sudut Pandang
Sudut pandang yang digunakan dalam penulisan novel ini adalah sudut pandang orang ketiga.
5.    Amanat
-          Kepatuhan anak kepada orang tua bagaimanapun buruknya sifat mereka selama tidak melanggar norma yang berlaku.
-          Keteguhan dalam menjalankan amanat dan tanggung jawab.
-          Persahabatan sejati.
-          Ikhlas dan pasrah terhadap takdir.
-          Cinta yang berlandaskan agama.
-          Kekuatan dalam mempertahankan ajaran agama Islam.

Keunggulan
Novel ini dituturkan dengan bahasa khas anak muda diselingi dengan beberapa ungkapan gaul dan gaya Surabaya-an. Penggambaran beberapa lokasi di Surabaya diilustrasikan dengan sangat detail. Banyak nilai-nilai keislaman yang secara implisit dinyatakan dalam sikap tokoh utama novel ini. Pada bagian akhir, pembaca dibuat tegang demi menguak misteri dan teka-teki yang sejak awal membumbui novel ini.

Kelemahan
Pada bagian awal novel, penulis banyak menggunakan ungkapan-ungkapan metafora dan kosa kata yang tidak lazim digunakan sehingga menyulitkan pembaca untuk memahaminya secara sekilas dan harus dibaca berulang kali. Alur pada bagian pertama dan kedua terkesan landai tanpa ada tekanan konflik yang tercipta oleh para tokoh sehingga tampak membosankan.

Kesimpulan
Novel ini cocok dibaca oleh siapa saja untuk mengisi waktu luang dan menemani kesendirian. Dengan gaya bahasa yang sederhana diselingi dengan kata-kata mutiara akan memperkaya siapa saja yang membacanya. Apalagi yang ingin tahu tentang kota Surabaya. [] 

Tak Selamanya Cinta Hadir dengan Rupa yang Sama

Resensi Novel "SEnja Terbelah di Bumi Surabaya" (STBS) karya Eni Ranawati
Oleh: Tamsiruddin

Judul Buku     : Senja Terbelah di Langit Surabaya
Pengarang      : Eni Ratnawati
Penerbit          : Writing Revolution Yogyakarta
Edisi               : I, 2015
Tebal              : 400 halaman
Setiap manusia terlahir dengan cinta. Ia akan tumbuh dan menjadi dewasa dengan melahirkan berjuta kisah cinta hingga benar-benar pulang kepada sang mahacinta. Meski kadang layu, namun cinta tak pernah mati. Cepat atau lambat, cinta akan tumbuh dengan cabang-cabangnya yang baru. Setiap cinta yang tumbuh juga pasti akan menemui jalannya untuk pulang.
Novel ini dibuka dengan sebuah tragedi yang begitu memilukan. Seorang wanita paruh baya ditemukan tak berdaya di sebuah jalanan sepi dengan luka di pergelangan kakinya. Polisi menyelidiki kasus ini dan berbagai spekulasi pun muncul dengan penemuan wanita itu. Hal yang paling tidak bisa dielakkan dengan tragedi seperti ini adalah perselingkuhan dalam rumah tangga. Namun, siapa yang tega melakukannya?
Novel ini mengisahkan tentang seorang pemuda tampan, pewaris tunggal perusahaan ternama di Jakarta, Dirgantara Group. Ia juga merupakan motivator bisnis ternama. Karena ketampanan dan kecermerlangan kariernya, ia terkenal dan banyak mengisi acara-acara di radio dan televisi swasta. Bayu Dirgantara memimpin perusahaanya dengan penuh tanggung jawab. Ia memiliki sekretaris yang begitu loyal bernama Reta. Sebenarnya selain menjadi sekretaris, Reta juga menyimpan perasaan kepada bos tampannya itu.
Suatu hari, Bayu berangkat ke Surabaya bersama dengan seorang karyawatinya, Nouri, yang notabene merupakan adiknya sendiri, tapi hal ini dirahasiakan di kantornya. Selama di Surabaya, Bayu mengisi berberapa seminar dan menjalankan tanggung jawab terberatnya, yaitu janji kepada mendiang Dirgantara sebelum pulang kepada penciptanya. Ia juga harus berhadapan dengan masa lalunya yang telah tertinggal jauh di belakangnya. Natasha, gadis cantik yang begitu terkenal dengan usaha resto dan butiknya menyambut Bayu dengan penuh cinta di Surabaya.
Setelah beberapa hari di Surabaya, Bayu mulai menjalankan misi rahasianya. Sementara adiknya, Nouri memilih pergi berlibur sendiri karena tak ingin berkhianat kepada ibunya, Marissa, nyonya Dirgantara. Di tengah kesibukannya, Bayu bertemu dengan seorang gadis, Nayla, dari keluarga sederhana yang akan mengantarkannya pada titik-titik terang dari sekelumit rahasia yang ia sembunyikan. Nayla diangkat menjadi staf khusus Bayu selama di Surabaya. Nayla membantu Bayu menemukan Teguh Dirgantara, anak dari Mariana, istri simpanan ayahnya.
Bayu menghabiskan waktunya selama tiga minggu untuk menemukan Teguh Surya di Surabaya. Selama tiga minggu itu, ia ditemani oleh Nayla. Potongan-potongan kisah yang mereka cari ditemukannya satu per satu. Teka-teki tentang penyebab seorang wanita menjadi korban tabrak lari di tengah jalan gelap sunyi dua puluh tahun silam mulai terjawab. Getirnya kehidupan akibat penghianatan seorang sahabat terkuak satu persatu. Tak ada yang bisa tersembunyi, semua dampak cinta yang salah pada masa lalu bermunculan membuat keluarga Dirgantara harus kuat menghadapi goncangan kehidupan. Namun, Marissa, seorang ibu yang tetap menjadi malaikat dalam segala kondisi. Ia bak lilin yang selalu rela membiarkan dirinya terbakar demi menerangi jalan hidup anak-anaknya dan orang di sekitarnya. Ia dengan lapang menjadi obat atas luka dari kesalahan yang telah dilakukan oleh suaminya sendiri.
Novel ini dikembangkan dengan teka-teki kehidupan masa lalu keluarga Bayu Dirgantara dan dibalut misteri yang membuat pembaca penasaran dengan kelanjutan kisahnya. Namun dibagian awal cerita, pengarang kurang lihai memunculkan tokoh sehingga tokoh-tokoh yang muncul di bagian awal terkesan bertumpuk. Penggunaan nama sapaan tokoh (Sasha untuk Natasha) kurang tepat karena dapat menimbulkan kesan bahwa Sasha adalah tokoh lain, sebaiknya pengarang menggantinya dengan sapaan Tasya. Selain itu, penggunaan konjungsi dan di awal kalimat tidak baku dan merusak cerita, terutama di bagian prolog yang kebetulan tokoh cerita juga bernama Dan (Inspektur Dan).
Pengarang terkesan berani mengangkat kehidupan real pengusaha-pengusaha kaya yang kadang terbelit dengan masalah rumah tangga yang berujung pada perselingkuhan. Perjuangan seorang ibu dan keteguhan hati seorang anak laki-laki yang menjadi hero dalam sebuah keluarga patut diteladani. Namun, penggambaran kehidupan malam Kota Surabaya yang dituangkan dalam tiga adegan cerita ini terkesan berani sehingga novel ini kurang baik dibaca oleh anak-anak.

Secara umum, ceritanya menarik. Sayangnya, penggambaran tokoh dan setting cerita terlalu detail dan kurang apik sehingga pembaca cenderung bosan dan kabur dengan inti cerita pada bagian-bagian tertentu. Selain itu, penggambaran konflik dalam satu waktu sama kurang tersusun rapi sehingga pembaca bingung dengan alur cerita. Butuh pengulangan (kilas balik) untuk memahami ceritanya.  Ada beberapa pergantian bab yang terasa agak patah (kurang sinkron), namun pada bagian akhir ceritanya begitu menyatu, membuai. Sayangnya, pertemuan antara Bayu dengan saudara tirinya, Tegar, begitu hambar. Klimaks cerita berlalu begitu saja tanpa ketegangan. Selain itu, masih terdapat kesalahan editing hampir di setiap halamannya, terutama penulisan kata yang tersambung, padahal seharusnya terpisah, (semisal: "halini" seharusnya "hal ini"). Di samping itu, penggunaan kata "hektar" seharusnya dituliskan dalam bentuk baku, yaitu "hektare".[]

Sunday, September 18, 2016

Resensi Novel "Senja Terbelah di Bumi Surabaya"



Oleh: Syukron Ma'mun

Pengarang     : Eni Ratnawati
Penerbit      : Writing Revolution
Tebal            : 400 halaman


Novel ini mengisahkan sebuah keluarga Dirgantara yang kaya raya yang kembali dihantui masa lalu kelam almarhum Dirgantara. Masa lalu yang datang kembali melalui surat-surat misterius yang sekilas tampak romantis, tetapi mempunyai makna yang sulit untuk dipahami, termasuk oleh Bayu Dirgantara yang telah mendapatkan surat misterius itu beberapa kali. Surat yang juga membuat Bayu mengingat wasiat papanya sebelum meninggal untuk mencari anak-anak papanya.
Bayu pun memutuskan pergi ke Surabaya untuk memenuhi wasiat papanya. Sebuah keputusan yang bisa saja membuatnya kehilangan karir di perusahaan. Kepergiannya ke Surabaya bersama Nouri adiknya. Kepergian yang dirahasiakan ke Mamanya, Ny. Dirgantara yang tak ingin masa lalu kelam Tuan Dirgantara kembali dibuka.

Suasana semakin membingungkan, namun Nouri malah tiba-tiba menghilang dan hanya meninggalkan sepucuk surat. Bayu pun merekrut Nayla untuk menggantikan posisi Nouri menjadi asisten Bayu. Pilihan Bayu tidak salah, karena Nayla, meski di awal kerja mengecewakan, banyak membantu teka-teki menemukan keluarga dari Tuan Dirgantara.

Sementara di Jakarta, Ny. Dirgantara yang mengetahui misi anaknya, melakukan tindakan-tindakan penyelidikan tanpa sepengetahuan Bayu. Penyelidikan yang hampir saja membuat nyawanya melayang ditikam oleh orang kepercayaan Bayu.

Meskipun novel ini bercerita tentang penyelidikan ala detektif, tetapi novel ini tetap menyuguhkan bumbu percintaan antar tokoh dan guyonan segar yang bisa meluruhkan ketegangan membaca kisah detektif. Sehingga pembaca bukan hanya diajak penasaran dengan akhir pencarian Bayu dan Ny. Dirgantara, tetapi juga kisah cinta Bayu, Nayla, dan Natasha.

Sekalipun ini adalah novel penyelidikan seperti novel-novel Dan Brown, tetapi penulis novel tetap memberikan pesan-pesan yang mendalam, diantaranya: menjaga keturunan dengan tidak berhubungan badan tanpa ikatan yang halal, tidak berpacaran sebelum menikah, berusaha ikhlas dan pasrah atas takdir yang menimpa, tidak sembarangan membual, dan berusaha semaksimal mungkin melaksanakan amanah atau wasiat orang tua, bagaimanapun buruknya orang tua, sejauh amanah/wasiat itu tidak melanggar hukum dan norma.

Kekurangan novel ini adalah dalam pemilihan diksi ketika mendiskripsikan sesuatu. Tak jarang, deskripsi yang diberikan tidak sampai pada imajinasi pembaca. Sehingga pembaca harus membacanya dengan teliti dan seksama. Namun, kekurangan pendeskripsian itu tak mengurangi kualitas isi cerita, alur, dan konflik dalam novel yang dikemas begitu indah dan selalu membuat pembaca penasaran sehingga ingin mengkhatamkan novel ini sekali duduk.

Cirebon, 30 Agustus 2016

Thursday, March 24, 2016

Novel ŠTBS

"Saya merasakan, kalau sudah baca novel STBS karya Eni Ratnawati ini sulit untuk berhenti.  Tulisannya mengalir dan enak dibaca. Tampak, penulis seorang pencinta ulung, atau penghayal ulung.
Salam hormat  dan respek saya pada penulis."
-H. Abu Bakar Dachlan SZ (Koordinator Qiraati DKI Jakarta dan Penulis Biografi Pak Dachlan, Bapak TK AlQuran)-

Sunday, February 21, 2016

Kecermatan

Pagi ini, jarum jam analog di dinding hapeku mununjuk angka di antara 5 dan 6. Kubersiap segera untuk ke Stasiun, berharap agar tak ketinggalan kereta pagi yang terjadwal pukul 8.00. Maklum, jarak rumah dan jalan protokol, tempat mangkal angkot cukup jauh, sementara aku jalan kaki. Ya, konon, sejam sebelum berangkat, harus sudah print-out tiket, karena yang kupegang batu kertas booking-an yang kubeli dari minimarket. Andai saja, ada kawan yang rumahnya dekat stasiun, bisa kutitipkan motor. Alangkah indah lagi jika punya lapak/ lahan di sana.
Beruntung sekali rasanya, angkot yang kutumpangi, di tengah perjalanan, para penumpang yang didominasi anak sekolahan pada turun, hingga tadinya penuh, sekarang kosong-mlompong. Tinggal aku dan sopir.
"Mas, ke Prujakan, stasiun ya?"
"Ya, pak."
Langsung, sopir motong jalur, yang jauh lebih dekat dari jalur yang semestinya. "Wah, ini supir baik hati nih!" Dalam hati kuberkata.
Angkot sudah berada di depan stasiun. "Pak, berapa?" Tanyaku, sambil kukeluarkan uang lembaran 5rb dan 2rb.
Melihat lembaran uang yang kubawa, supir hanya tersenyum, tanpa kata terucap dari bibirnya. Apa dia jadi bisu ya?hehe.
Entah aselinya berapa ongkos Kedawung-Prujakan, tak begitu penting. Yang penting, sudah sampai stasiun, sebelum jadwal keberangkatan, dan bilapun lebih, itu sebatas terima kasih atas kebaikanhati.
Kulangkahkan kaki, menapaki dua tiga anak tangga stasiun, setelah kubanting ringan pintu angkot. Mata langsung menuju fokus pada CTM, alat untuk cetak tiket mandiri. Satu persatu jemariku memencet keyboard merangkai kode booking yang tertera. Kupegang mouse, arahkan kursor pada tulisan "cetak". Jreng jreng.
"Kode booking yang anda masukkan sudah kadaluarsa. Hubungi Costumer Service." Begitu kira² bunyi (emang ada bunyinya?) di layar monitor.
Lah kok bisa? Segera kutanyakan pada petugas, setelah kusapa.
"Maaf pak, ini kenapa ya? Padahal ini masih jam 6 ya!"

"Coba sini lihat booking tiketnya!" Pinta petugas.
Kuserahkan booking tiket pada petugas itu.
"Lah, ini khan tanggal 25, kemarin, Pak!"
Lah!!
Setelah kucermati, ternyata benar (pake) bingiiiits.
"Padahal, kemarin saya pesannya di minimarket untuk hari Senin loh!" Sementara di kertas booking tak tertulis Harinya, hanya ada tanggal.
Walhasil? aku harus beli tiket baru untuk hari ini.
"Silahkan ke loket saja pak. Lain kali lebih teliti lagi pak."
Segera kulangkahkan kaki, tiga empat langkah menuju loket. Kebenaran, tidak antri, sedang sepi, hanya ada satu orang pembeli.
"Bu, masih ada tiket Tegal Arum untuk tujuan Senen pagi ini?"
"Maaf, sudah habis pak. Adanya Matarmaja berangkat pukul 06.30 harga 115rb, Majapahit 90rb berangkat pukul 07.00, dan....."
"Majapahit ajha bu."
"Ya pak, mohon maaf, pinjam katepenya sebentar."

Alhamdulillah, akhirnya dapet tiket juga, dan lebih pagi lagi, meski harus membayar lagi. Pengennya biar ekomomis, eh ternyata harus keluar lebih lagi.heheh

Memang, saat membeli tiket, sudah bilang hari Senen, tapi karena kekurangcermatan dalam melihat tanggal, kasir Alfamart dan akhirnya aku, pun salah, keliru.
Namun, beruntung lah, masih ada tiket untuk hari ini (yang terjangkau isi dompet). Kalau tidak, bisa² keberangkatan hari ini tertunda, harus balik lagi ke rumah. Oh, tidak.
Alhamdulillah, meskipun sama² ekonomu, tapi ternyata kereta Majapahit cukup nyaman, jauh lebih bagus daripada Kertajaya, Matarmaja, apalagi Tegalarum. Maklum, baru sekali ini naik Majapahit. Dan, beruntung, tiketnya cuma 90rb. Padahal, di onlinenya masih mahal, dekat angka 200an. Semoga bermanfaat.

Bismillahi majreeha wamursaha inna rabbi laghafurun rahiim.
Sampai jumpa Cirebon, selamat datang Jakarta.
Kereta Majapahit, 26/10/2016

Butuh ataukah Suka?


Pagi ini, di hari pertama mampir Jakarta, tepat di dekat pintu gerbang masjid yang kusinggahi, nasi uduk terjajakan. Tak jauh di sampingnya, seorang penghuni kontrakan sebelah sedang menyiapkan gerobak dagangan gado-gadonya yang akan dijajakannya jam 8 nanti di Pejaten. 
Menghadapi dua pilihan menu sarapan pagi ini, aku jadi teringat cerita dari seorang guruku, Pak Haji Abu Bakar Dachlan. Pada sebuah pertemuan para guru ngaji se-Jabodetabeka di Masjid Indocement Cileungsi-Bogor beberapa tahun silam. Bahwa setiap kali beliau pulang kampung, dan saat ditanyakan oleh sang Ibunda menu apa yang akan dihidangkan, beliau tidak bisa langsung menjawab. Lantas, apa yang dilakukannya? Ternyata, dalam urusan memilih menu masakan pun, beliau lakukan shalat istikharah, memohon pertimbangan kepada Allah. Tampak aneh dan berlebihan (?!). Begitu yang kurasakan, mungkin juga kawan-kawan guru lainnya, sesaat ketika mendengar kisah dari beliau kala itu.

Pesan yang ingin beliau sampaikan, menurut pembacaanku, dari hal-hal kecil pun, kita jangan pernah lupa melibatkan Allah untuk diminta pertimbangan. Sebab tiada daya dan upaya bagi manusia, selain dari-Nya. Tiada keberkahan selain yang diridhai-Nya dan tiada kebaikan yang sempurna selain atas hidayah-Nya. Kasihnya terbentang bagi setiap yang mengetuk di depan pintu-Nya. Dia Maha mengetahui, sementara manusia tidak tahu. Dengan beristikharah, meminta pertimbangan kepada-Nya, maka kita terhindar dari sikap belagu, sok tahu dan keminter.

Kembali ke soal memilih menu sarapan pagi, selain istikharah, kita bisa meminta pertimbangan pada hati dan pikiran. Adalah nasi uduk dan aneka gorengan, menu sarapan yang menjadi favorit dan merakyat bagi warga penghuni ‘kampung’ selatan Jakarta ini. Menu makanan ini hampir bisa kita temukan di kebanyakan gang kecil dalam pemukiman. Entah dari mana asal mula nasi uduk ini datang. Sementara gorengan, bila Ramadhan tiba, ia adalah makanan yang paling banyak diserbu para penunggu buka puasa. Dalam memilih makanan, kita kerap tidak begitu peduli soal gizi dan kesehatan. Bukan apa yang baik bagi kita, yang dibutuhkan oleh tubuh, jiwa dan raga kita. Apa yang kita makan, pun juga apa yang kita beli, lebih banyak apa yang kita suka. Bukan empat sehat, lima sempurna. Tapi, yang terpenting adalah kenyang. Kalau belum nasi, belum disebut makan. Sementara kehidupan ini harus seimbang, termasuk tubuh kita, harus diberi asupan yang seimbang. Karbohidrat yang didapat dari biji-bijian, umbi-umbian, dan lain sebagainya. Protein yang bisa didapat dari lauk-pauk, daging, ikan, tahu-tempe dan lain sebagainya. Serat dan vitamin bisa didapat dari sayur-mayur dan buah-buahan. Lemak bisa didapatkan dari susu, dan seterusnya.

Jauh sebelum kita hidup, kita telah diingatkan oleh Sang Pencipta, bahwa yang kita makan haruslah yang halal lagi baik. Halal saja tidak cukup, tapi juga bergizi, baik bagi tubuh kita. baik berarti tidak membahayakan. Memang, efeknya tidak terasa dalam waktu dekat. Akan tetapi, bukti nyata akan tampak, bila kita masuk Rumah Sakit. Mereka yang terbaring di ranjang pesakitan, terkena diabetes, asam urat, sakit pada liver, paru-paru dan lan sebagainya banyak disebabkan oleh ketidakseimbangan pola hidup dan khususnya oleh pola makan yang tidak sehat. Kita adalah apa yang kita konsumsi.

Semua gizi yang baik itu pun tidak sebebas-bebasnya dikonsumsi. Ia memiliki takaran yang proporsional, sesuai dengan batas kemampuan tubuh manusia. Bila tidak, entah berlebihan atau kekurangan, akan berdampak buruk bagi kesehatan. Kembali kita diingatkan Allah, “Makan dan minumlah, namun jangan berlebihan. Allah tidak suka yang berlebihan” Sedang-sedang sajalah. Sesuai dengan kebutuhan. Lantas, bagaimana takaran muatan tubuh kita? Rasulullah saw memberikan panduan secara global, yaitu sepertiga untuk makanan, sepetiga untuk minuman dan sepertiga lagi untuk bernafas. Lebih mudahnya, sebuah pepatah, konon katanya sabda Nabi, yaitu “kami adalah kaum yang tidak makan, kecuali ketika lapar. Bila makan, kami akan berhenti sebelum terasa kenyang.” Namun, tak jarang dari kita yang kalau sudah keenakan, kenyang pun tetap dilanjutkan.

Suatu ketika, seorang ahli gizi datang ke ruang perawatan ibu kami yang sedang terbaring sakit diabetes di Rumah Sakit Muhammadiyah Lamongan beberapa hari yang lalu. Ia menjelaskan, bahwa penderita diabetas harus menjaga pola makan ekstra ketat dan seimbang. Tidak hanya jenis makanan, dan takarannya, tapi waktunya juga. Ada beberap jenis makanan yang tidak boleh dikonsumsi. Dan yang boleh dikonsumsi pun ada takarannya. Itu pun harus dilakukan setiap tiga jam. Makan nasi tidak boleh bersamaan dengan ubi, singkong, gandum atau asupan karbohidrat lainnya. Bila sarapan pukul  7 pagi, maka pukul 10 makan buah atau susu kedelai. Lantas, makan siangnya pukul 13, sementara pukul 16 makan buah atau agar-agar, dan terakhir makan malam. Bila kita enggan masuk rumah sakit, menjaga pola hidup sehat adalah sebuah keniscayaan. Bukan apa yang kita mau, tapi apa yang kita butuhkan. Menjaga pola hidup sehat bentuk syukur kepada Tuhan. Bila kita bersyukur, Dia akan menambahkan kesehatan. Bila kita semau gue, siksaan pedihnya tuh bukan di sini, tapi di rumah sakit. Dan, bisa ditebak, aku lebih memilih gado-gado sebagai menu sarapan daripada nasi uduk. Bukan karena tidak suka. Sebab, aku doyan kedua-duanya. Dan meskipun nasi uduk tentunya lebih murah. Yang pasti, aku bukan penjual gado-gado.[]
Jakarta, 20 Januari 2015


Thursday, January 28, 2016

Problem Sampah dan Rendahnya Kesadaran



Kemarin Senin siang (25/01/2016), terik mentari cukup menyengat, meski beberapa hari ini hujan sedang asyik turun temurun dari langit. Di tengah perjalanan dari rumah [tinggal] menuju tempat bertugas di jalan Cipto Kota Cirebon, hari itu saya melalui Desa Dawuan (Tengah Tani). Biasanya, saya melalui jalan dalam perkampungan, dengan rute: jembatan gantung atas sungai Kedung Pane-sebrangi jalan Sultan Ageng Tirtayaa – Irigasi - Tuk –Cidengjaya - belok Kanan - Jalan Cipto). Namun, karena jalannya berkelok-kelok, banyak ditemukan berlubang, dan cukup jauh, beberapa hari terakhir ini saya lebih memilih melalui jalan protokol, jalan utama Cirebon (Cirebon-Bandung).

Di bilangan jalan raya Kemlaka, tepatnya di jembatan atas sungai Kedung Pane, tampak oleh saya seorang pria berdiri di samping becaknya. Dengan agak terburu², pria ini membuang karung, kemudian kantong plastik kresek besar, yang [sepertinya] berisi sampah ke kali di bawah jembatan. Sementara beberapa karung dan kantong plastik yang juga berisi sampah memenuhi becaknya, juga akan dibuangnya di sungai itu.

Lalu lintas kendaraan di sekitar atas kali siang itu cukup padat. Hilir mudik manusia berkendaraan, mulai dari roda dua hingga roda empat melewati, dan mungkin juga saksikan kelakuan pria tersebut. Sayangnya, saat itu saya terburu² harus segera sampai tempat ngajar, hingga tak sempatkan turun, tegur orang itu. Hanya klakson motor yang sempat saya pencet beberapa kali, sebagai "sapaan". Kulihat sekilas, tak seorang pun dari pengguna jalan yang turun untuk menegurnya. Mungkin, mereka punya alasan yang sama, dikejar waktu, atau barangkali memang tak peduli, atau bisa jadi karena tak berani, atau karena merasa bukan wewenangnya (lantas, wewenang siapa?). 

Entah dari mana orang tersebut berasal. Bisa jadi, ia hanya 'petugas kebersihan' di sebuah pemukiman yang harus buang sampah, tapi tak tahu harus dibuang ke mana. Dikiranya KALI adalah alternatifnya. Bisa pula, itu adalah sampah dari rumah pribadinya. Tapi, soal asal-usulnya, itu sebenarnya tak terlalu penting. Yang terpenting, pria itu dan semacamnya sangat butuh edukasi. 

Sungai Kedung Pane merupakan sungai yang cukup besar dan panjang, terbentang dari arah selatan Kota Sumber Kab. Cirebon, melewati Kedawung (Desa Kedungdawa, Kedungjaya, Kemlaka, Pilang Setrayasa), hingga ke Kota Cirebon. Sungai yang cukup potensial tuk sebagai Kanal Banjir, menampung debit air hujan bila musim penghujan seperti ini. Selain sebagai sarana mandi, bernenang, hiburan dan berwisata bagi warga, bila airnya jernih dan bersih, aman dari polusi. Sayangnya, ia telah tercemar oleh limbah pabrik, limbah rumah tangga dan sampah. Bahkan, derasnya arus air kali sepanjang hujan turun, tak jua mampu menyeret bersihkan sampah yang sudah menggunung tinggi debitnya.

Masalah sampah masih menjadi PR besar bagi kita semua, Pemkot Cirebon, Pemkab Cirebon, Dinas Kebersihan dan Pertamanan, pun menjadi tanggung jawab setiap warga masyarakat. Diakui atau tidak, masyarakat kita belum tertib dan sadar akan kebersihan dan keteraturan. Masih sangat egois, berpikir instan. “Ah, yang penting mah rumah saya bersih, tak peduli lingkungan”. “Yang terpenting lingkungan saya bersih, tak peduli tetangga desa”. Sehingga, yang terjadi adalah buang sampah tidak pada tempatnya. Langkah yang harus segera dilakukan, tiada lain kecuali edukasi terhadap warga masyarakat, tentang ketertiban dan kebersihan. Kerja ini bisa dilakukan oleh swasta, LSM atau pihakdinas/ pemerintah yang peduli.

Namun, nyatanya, sampah ternyata masih menjadi problem besar umat manusia di dunia modern dengan teknologi secanggih ini! Semestinya, problem sampah yang akut ini bisa mudah ditangani, bila mau. Kemajuan teknologi harusnya bisa bantu tuk ciptakan mesin pengelola sampah, khususnya komposisasi. Toh, kita punya IPB dan lembaga pendidikan lain yang telorkan tenaga profesional tuk pengelolaan dan pengolahan sampah, untuk daur ulang, kompos, dsb. Para ahli cerdik cendekia di bidang persampahan (bc: sarjana sampah) ini bisa melakukan semacam edukasi dan pembinaan terhadap warga. Sehingga tak warga tak perlu pusing harus dibuang kemana sampah rumah tangga tersebut.

Sedangkan untuk limbah dan sampah pabrik, pihal dinas dan pemerintah harus TEGAS dalam bertindakdan tidak mudah keluarkan ijin operasi, sebelum penuhi syarat kenyamanan lingkungan dengan melakukan Analisis Dampak Lingkungan (AmDaL) yang cermat dan mendalam. Bila ada pabrik nakal, menyalahi aturan, pihak dinas atau yang berwenang harus tegas, segera menghentikan operasinya dengan mencabut ijin dan mensegelnya.

Bagaimana dengan para pekerjanya? Nganggur dong!

Pernah suatu ketika, saya terlibat obrolan ringan dengan S, salah seorang pejabat satu desa di Kecamatan Kedawung menyoal keberadaan pabrik Jeli di jalan Sultan Ageng Tirtayasa. Menurut S, pabrik tersebut berdampak negatif bagi lingkungan hidup di sekitarnya. Sungai Kedung Pane yang berada tepat di sebelah baratnya pun tercemar oleh limbahnya. Warna air sungai yang menghitam, tak lagi jernih dan beraroma busuk, sangat tak nyaman di hidung.

“Selain itu, beberapa tahun terakhir, sumber air di desa sekitar pabrik mengalami kekeringan. Sebelum pabrik itu berdiri, seingat saya belum pernah terjadi,” Ungkap S. “Bagaimana tidak? Di dalam pabrik tersebut terdapat lebih dari sepuluh titik sumur bor dengan mesin berekuatan tinggi. Hanya saja, bila ada pemeriksaan dari dinas terkait, sumber-sumber tersebut disembunyikan. Dan, tidak menutup kemungkinan, bila keberadaan sumber-sumber air tersebut ketahuan, mulut mereka pun disumpal duit, agar tidak berkoar.” Lanjut S, mengutip info dari istrinya.

“Bahkan, bila ada kunjungan dari dinas, sebagian buruh diliburkan. Entah kenapa? Pasti ada sesuatunya!” “Bagaimana tidak habis terkuras sumbernya? Lahwong, setiap harinya, 4-5 truk keluar mengangkut jelly. Semuanya dari air loh!” Tandasnya.

“Tapi, gimana ya? banyak dari warga desa sekitar yang bekerja menjadi buruh di pabrik tersebut. Bahkan, istri saya juga bekerja di sana. Lumayan untuk membantu menambah pendapatan”, Ungkap S penuh dilema. “Bila pabrik ditutup, tentu akan menambah jumlah pengangguran. Lumayan loh gaji pekanannya.”

Lagi, menurut S, banyak warga yang memilih kerja di pabrik, karena faktor jarak yang dekat. Selain itu, tentunya karena hanya modal otot, tak perlu mikir istribusi dan pemasaran, berbeda bila mereka membuka bisnis atau industri rumahan sendiri.

Diakui atau tidak, bekerja di pabrik bukanlah pekerjaan yang nikmat dan diinginkan oleh banyak orang. Bila ada yang lebih menjanjikan, mungkin mereka lebih memilihnya, dan meningalkan bekerja di pabrik, layaknya mesin. Kerja seharian dengan gaji tak mencukupi kebutuhan sebulan. Namun, apa boleh buat. Bagi banyak orang, ini adalah pilihan satu-satunya, sementara.

Lantas, solusinya?

Para cerdik cendekia, kaum sarjana dan LSM, semestinya mampu untuk ikut memikirkan hal ini, dengan melakukan semacam edukasi dan bimbingan. Bisa dengan membuat kursus atau pelatihan, selanjutnya membuka peluang bisnis rumahan, ekonomi kreatif, dan lain sejenisnya. Para pengusaha swasta, dinas terkait dan pemerintah daerah seharusnya juga aktif melakukan edukasi terhadap masyarakat grassroot. Sehingga mereka tidak lagi mengandalkan pabrik nakal sebagai tempat satu-satunya untuk bekerja. Tetapi, mereka jadikan rumah-rumah mereka sebagai “pabrik” yang memproduksi produk-produk kreatif yang bisa dijual dan dipasarkan. Pemerintah dan dinas terkait pun turut mendukung, mempromosikan dan memasarkan produk-produk tersebut. Sehingga, jasa atau barang hasil produksi mereka tidak hanya bisa menutupi kebutuhan dapurnya, namun bisa pula diekspor, dan meningkatkan marwah dan income daerah.

Itu bila pemerintah dan dinas terkait mau bergerak, taat pada sumpah jabatannya dan bisa jadi teladan bagi rakyatnya, pun juga tidak bisa jadi jaminan, masyarakat akan tertib. Apalagi bila melihat kondisi para pejabat/ birokrat yang masih setengah hati, mudah disuap dan suka nyari tambahan gaji dari pungli, mungkin nunggu seribu tahun lagi, kalau kiamat tak mendahului. Namun, dengan niat tulus dan kemauan tinggi tuk reformasi birokrasi, niscaya semua kan bisa terjadi. Sebab, tak ada yang tak mungkin di dunia ini.
Wallahu a'lam

Cirebon, 26-28/01/2016

Saturday, January 23, 2016

Cirebon Kota Terbuka

MengaisEmbun.blogspot.com - Cirebon bisa dibilang [amat] terbuka dengan "pendatang" atau urban. Bahkan, ia dikenal dengan kota transit, yang kalau boleh aku artikan, di Cirebon, kota persinggahan, dimana banyak manusia dari berbagai daerah dan beraneka macam suku bangsa dan agama singgah dan bahkan tak jarang yang menetap.
Rasanya, cukup sulit (bagiku khususnya) mengklasifikasikan termasuk suku mana penduduk aseli daerah ini, Sunda bukan, Jawa tidak semua. Suku Cirebon kah? Ya, memang lebih dekat dengan Jawa secara tradisi. Namun, hingga saat ini, Cirebon berada di bawah pemerintahan Provinsi Jawa Barat, dan bertautan cukup erat dengan Prabu Siliwangi (Pasundan). Hanya, secara bahasa lebih dekat dengan rasa Jawa, khususnya dalam kromo inggilnya. Dari sini, bisa dipahami munculnya wacana pemisahan Cirebon dari Provinsi Jawa Barat, dengan mewacanakan Provinsi Cirebon, yang beranggotakan daerah dan kota se wilayah III (Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, Kab. Indramayu, Kab. Kuningan, Kab. Majalengka) dan (konon ditambah) Brebes. Mungkin masih dan hanya akan menjadi sebatas wacana. Soal batas antara Kota dan Kabupaten saja, masih berebutan.hehehe
Memang, suku Jawa dan Sunda cukup mayoritas di sini. Namun, di Cirebon, tinggal berbagai macam suku bangsa dan etnis, sebut saja China (Thionghoa), Arab, Padang, dsb. Bahkan, sejarah Cirebon tak lepas dari Muslim Tiongkok. Cirebon dahulu merupakan kota pelabuhan. Di kota Cirebon era kini, sependek pengamatan dan pengalaman penulis, banyak warga pendatangnya. Bila hari Minggu pagi, di sekitar stadion Bima Cirebon rutin banyak warga berdatangan untuk berolahraga. Tampak dari wajah, penampilan, bahasa dan plat nomor mobilnya, mayoritas mereka bukan aseli penduduk Cirebon, melainkan Bandung, Jakarta, dan lain sebagainya.
Penduduk aseli Cirebon, sependek pengalamanku, cukup welkam dengan pendatang. Mereka (lagi-lagi sependek pengalaman penulis, jauh lebih Welkam daripada warga aseli Ibu Kota). Belum pernah, terdengar di telingaku, di sini terdengar istilah "pribumi" dan "non pribumi", sebagaimana kerap didengar sewaktu di Jakarta. Seorang pendatang di sini cukup mudah membaur dalam masyarakat yang seheterogen Jakarta, dan penduduk aseli tidak merasa "terjajah" dengan keberadaan warga pendatang. Bahkan, sependek pengalamanku "singgah" di 3 desa yang berbeda, rerata ketua RT/ RW dan Kepala desanya cukup senang dengan kedatangan warga barunya, apalagi warganya.
Jadi, kurang tepat (bila tak dikatakan salah) bila ada yang bilang, "diskriminasi rasial cukup kental di sini"! Bila rasa itu ada pada seseorang, mungkin itu lebih pada rasa dirinya sendiri. Mungkin, ia yang kurang bisa membaur dengan masyarakat.
Sebagai pendatang dari Lamongan Suara Lamongan, cukup (gimana ya?), hampir rata di sepanjang jalan protokol dari ujung barat Cirebon hingga Majalengka ke Barat dan Inderamayu ke utara, bertebaran warung tenda pecel lele Lamongan.
Bukti lainnya, dikau pernah mendengar nama "Buya Yahya" bukan? Dari mana kah asal beliau? Yang pasti, di Cirebon, beliau diterima dengan baik dakwahnya. Bisa dibilang amat banyak jamaah yang ikut mengaji di LPD Al-Bahjah, lembaga yang diasuhnya. Tahu beliau berasal dari mana? Yupz, beliau berasal dari Jawa Timur, alumni Dalwa Bangil Pasuruan, bukan putra aseli Cirebon.
Ini rasaku! Gimana rasa loe?!


Ulasan Hasil Tantangan Menulis Bareng SLI di Hari Guru Nasional

Hasil Tantangan #NulisBarengSLI #HariGuruNasional2020 #SahabatLiterasiIAICirebon Beberapa hari yang lalu (23/11/2020) aku atas nama pribad...