Tuesday, December 10, 2013

Lupakan, tatap ke depan!

Hari M Ngaidin

1
Roda zaman terus berputar
Detik berganti hari
Kemarau berlalu dengan siraman
teduh hujan bawa hijau musim semi

2
episode demi episode dilalu
dengan ribuan tokoh berperan
dan berguguran
pun puluhan lakon tlah dimainkan
jutaan narasi dengan milyaran keindahan diutarakan
dan, memori tlah dihapuskan
berharap, masa kini kan indah bersemi
dan, masa depan kan bersinar lebih terang

3
Usah kau palingkan wajahmu ke belakang
Sedikit pun tak perlu mata lirikkan
Ke hadapan arahkan pandang
Tataplah lurus ke depan

4
Raihlah cita-cintamu dalam kedamaian
Genggamlah mimpi erat-erat
Kuatkan azam yakinkan
dalam panjat doa ke hadirat
Tuhan penuh rahasia kan bukakan
tabir lembaran takdir penuh keadilan
Babakan, 09/12/2013



Sunday, December 1, 2013

Belajar Tuntas

Sistem Pendidikan Belajar Tuntas
Hari M Ngaidin*

Karena mimpi itu tidak dilarang, bahkan positif bagi masa depan, bolehlah saya memimpikan sebuah sekolah dengan sistem kurikulum berbasis kompetensi (KBK) yang sesungguhnya. Dimana pengklasifikasian kelas bukan berdasarkan usia atau lamanya masa belajar, namun berdasarkan pencapaian kemampuan individual peserta didik. Sistem ini bisa juga disebut belajar tuntas. Memang, dalam mempelajari suatu ilmu pengetahuan, tidak ada yang namanya tuntas dan tercover semua. Tuntas di sini maksudnya, peserta didik mampu menembus nilai KKM (Ketunasan Minimal), yaitu angka 6 atau 7 atau B. Dan, bagi peserta didik yang lulus pada level tertentu dengan nilai 6 boleh memilih untuk tetap tinggal di kelasnya, dan bila telah siap tes, dia segera diikutkan tes lagi. Sistem belajar tuntas menjamin kualitas. Sehingga, hanya peserta didik yang siaplah yang diuji, dan hanya yang siap-lah yang lulus.
Sistem ini tidak dibatasi oleh kurun waktu, periode, semester ataupun catur wulan. Batasannya hanya kemampuan individu peserta didik. Tes atau ujian naik level (kelas) bisa dilakukan kapan saja, yaitu apabila dia telah siap untuk naik, dia langsung dites. Tes ini tetap dilakukan, bertujuan untuk mengetahui tingkat penguasaan terhadap materi. Bahkan, harus ada standar tententu. Yang punya kelas adalah guru. Sehingga, muridlah yang masuk ke kelas guru mata pelajaran tertentu. Misalnya, kelas Matematika level 1, kelas Matematika level 2, kelas Kesenian level 1, kelas fikih level 3, kelas Qiraati level 4, kelas IPA level 3, dan lain sebagainya. Dia tidak mempunyai kelas permanen dalam satu tahun. Namun, dalam satu waktu yang bersamaan, dia memiliki banyak kelas, sesuai jumlah pelajaran. Setiap pelajaran, bisa jadi akan berbeda-beda level/ tingkatnya, sesuai dengan kapasitas/ kemampuannya.
Boleh saja bila sistem ini bisa dikatakan masih di awang-awang, dalam bayangan, dalam mimpi. Akan tetapi, kalau kita mau jujur, sebenarnya, sistem ini bukanlah baru. Secara praktik, telah dan masih diberlakukan oleh pendidikan al-Qur’an metode Qiraati, lembaga kursus, dan lain sebagainya. Bahkan, sistem ini sebetulnya telah dipakai dan sudah dipraktikkan semenjak ratusan tahun yang lalu pada masa klasik, dan telah menghasilkan ribuan ulama yang kredibel dan ahli. Dimana seorang santri datang ke rumah seorang guru untuk mempelajari bidang ilmu tertentu, atau kitab tertentu (bertalaqqi dan musyafahah), dengan cara bandongan (sima’ qiraah asy-Syekh ala al-murid) dan sorogan (tasmi al-qiraah amama asy-Syekh) kepada seorang Syekh (guru). Apabila dia telah dianggap menguasai oleh sang Syekh, dia diberi ijazah dan direkomendasikan untuk belajar di syekh yang lain. Demikianlah sistem pendidikan ulama kita terdahulu. Untuk membuktikan ini, kita bisa membuka kembali cacatan biografi para ulama klasik Islam. Di sana kita akan mendapati, bahwa mayoritas ulama dididik dengan sistem semacam ini. Sebut saja imam asy-syafi’i, Ibnu Sina, al-Ghazali, asy-Syathibi, dan lain sebagainya. Bahkan, sistem ini, disinyalir masih dipakai di beberapa halaqah kuttab di sejumlah majid timur tengah, khususnya yang menggunakan sistem pendidikan tradisional.
Sistem ini sejalan dengan teori yang dikembangkan dalam Multiple Intelligences, yang pertama kali diperkenalkan oleh Dr. Howard Gardner, pada tahun 1983. Teori ini menyatakan bahwa setiap anak cerdas, dan tidak ada anak bodoh. Setiap anak memiliki kapasitas/ kemampun potensial yang berbeda. Dimana, setiap anak dan orang dewasa paling tidak memiliki 8 kecerdasan sekaligus, namun dengan tingkatan yang berbeda-beda setiap kecerdasannya.
Terkait standar ketuntasan materi mata pelajaran di setiap level, di pelajaran Qiraati sudah jelas. Sedangkan pelajaran lain, masih dalam pemikiran. Sehingga, sementara, bisa menggunakan diktat kurikulum yang ada. Level 1 menggunakan diktat yang dipakai di kelas 1 SD, misalnya. Level 2 menggunakan diktat yang dipakai di kelas 2 SD, dan seterusnya. Untuk perkembangan selanjutnya, sistem ini bisa membuat modul sendiri pada setiap mata pelajaran, agar memiliki standar yang sama. Bisa jadi, setiap mata pelajaran memiliki level yang berbeda-beda. Dan, tentunya, jenis mata pelajaran dan tingkat kompleksitas pelajaran disesuaikan dengan tingkat usia dan kebutuhannya. Semua ini secara teknis akan diperluas dalam pembuatan modul dan kurikulum.
Saya bisa membayangkan, seandainya sistem ini dikembangkan, nantinya, bisa digambarkan ada seorang anak yang berusia 7 tahun. Bisa jadi, ia telah lulus TAS baca al-Qur’an metode Qiraati, dan hafal 10 juz al-Qur’an. Sementara pelajaran matematika baru level 4, komputer 5, membuat game level 3, desain grafis level 4, Syafawi Arabiyyah level 4, menulis Arab dengan keybord level 5, English speaking level 3, IPA level 3, bicara bahasa daerah level 4, kesenian level 5, bahasa Indonesia 6, sepak bola level 2, bulu tangkis level 5, dan seterusnya, tergantung kapasitas individual anak.

Kelebihan Sistem ini
Sistem ini, menurut hemat saya sangatlah luar biasa bila dikembangkan, juga memiliki prospek yang luar biasa bagi masa depan bangsa Indonesia. Menurut asumsi saya, banyak sekali kelebihan dari sistem belajar tuntas ini, diantanya, yaitu:
Pertama, dari sisi pendidik. Guru lebih mudah menyampaikan materi pelajaran yang diampunya. Karena, peserta didik, secara mental dan materi, telah siap. Sebab, dia masuk kelas sesuai dengan levelnya.
Kedua, dari sisi peserta didik. Anak tentunya tidak merasa terbebani dengan pelajaran yang diikutinya. Karena, sebelumnya telah melalui tes terlebih dahulu, sesuai dengan kemampuannya. Dan, anak tidak ‘dipaksa’ mempelajari materi yang bukan levelnya atau bidangnya.
Berbeda dengan yang terjadi di sekolah-sekolah formal saat ini, bahkan termasuk sekolah saya dahulu. Dalam satu kelas, dengan jumlah murid 25, yang berminat, nyambung dan siap dengan pelajaran matematika di kelas hanya sekitar 5 murid. Bila yang terjadi demikian, tentu kasihan guru yang mengajar, karena harus terbebani dengan murid yang tidak nyambung. Sementara 20 murid yang lain, juga sayang, waktunya terbuang, karena menyimak materi bukan level dan minatnya. Padahal, akan lebih efektif bila mereka mengikuti pelajaran sesuai dengan bidang yang diminati dan sesuai levelnya.       
Ketiga, dari sisi orang tua. Dengan sistem ini, orang tua akan mudah mengarahkan anak-anaknya dalam melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, mudah pula dalam memilih pekerjaan dan profesinya sesuai dengan bakat dan kecenderungan anak, merujuk pada teori multiple intelligences, yang menyatakan bahwa setiap anak pintar, dengan kecenderungan masing-masing. Karena dengan sistem ini, secara otomastis, kecerdasan apa yang lebih menonjol dari anak anak terdeteksi, yaitu bisa dilihat dari pencapaian akademiknya pada masing-masing pelajaran.
Keempat, menariknya lagi, perusahaan akan mudah sekali mencari karyawan. Yaitu dengan melihat sertifikat/ ijazah yang dimilikinya, bisa diketahui dia menguasai bidang apa.
Salam perubahan, untuk membangun generasi Indonesia yang unggul. Anda berminat? Mari bergabung dan saling berbagi!
Cirebon, 27/11/2013






* Hari M Ngaidin adalah nama pena dari Masyhari. Alumni fakultas Syariah LIPIA Jakarta, 2010. Di sela-sela studinya, di LIPIA, penulis mengabdikan dirinya mengajar al-Qur’an, selama kurang lebih enam tahun, di sebuah Taman Pendidikan al-Qur’an di Jakarta Selatan dengan menggunakan metode Qiraati. Saat ini, penulis singgah di Cirebon untuk menyelesaikan studi magister Ushul Fikih program beasiswa PKU Kemenag di PPs IAIN Syekh Nurjati. Di sela-sela aktifitas studinya, penulis juga sedang mendidik dua buah hatinya, Mohammad Nabil Al-Fatih (4 tahun 3 bulan) dan Zahwa al-Kayyisah (2 tahun 2 bulan) bersama sang istri tercinta di rumah dengan sistem homeschooling, sambil mempelajari pendidikan anak secara autodidak, melalui buku-buku psikologi anak, dan lain sebagainya. Penulis bisa dikunjungi di fb: Masyhari, weblog: mengaisembun.blogspot.com, atau email: Masyharie@gmail.com

Tuesday, November 26, 2013

Sukses

oleh MM Ngaidin

Orang bilang, sukses itu hidup mapan. Orang bilang, sukses itu hidup serba berkecukupan. Menurutku, sukses itu berhasil. Berhasil meraih apa yang dicita-citakan dan diharapkan. Saat kecil, aku bercita-cita ingin terus melanjutkan sekolah, pendidikan, jenjang yang lebih tinggi, hingga Kuliah Kitab Kuning (K3). Mengapa K3? karena saat itu, ketika membaca stratifikasi program pendidikan di kalender almamater zaman semono, yang kutahu hanya itu jenjang yang tertinggi yang ada. Dan, baru akhir-akhir ini, ternyata K3 itu nama lama dari STAIDRA. Wal hasil, ternyata, aku bisa melanjutkan kuliah, meskipun bukan di sana, bahkan malah mendapat beasiswa di sebuah kampus Arab cabang  Jakarta. Saat jelang kelulusan, entah mengapa? STAIDRA/ K3 yang dahulu jadi cita-cita menjadi tak dilirik untuk dijadikan pilihan. Mungkin, hanya faktor biaya, beasiswa atau tidak kuliah sama sekali. Itulah pilihannya. Bahkan, sebelum ke Jakarta, pamanku sudah siap mengantarkanku dan membiayaiku nyantri ke Pesantren Sarang-Rembang, katanya pesantren calon kiai. Saat itu, aku menjanjikan, bila aku tidak lulus tes penyaringan di Jakarta, aku akan pulang dan siap ke Pesantren. Dan, ternyata lulus seluruh tahapan ujian. Tidak hanya S1, sekarang pun dapat beasiswa S2. Bukan hanya menggapai cita, tapi bahkan melampauinya.
Saat duduk di bangku Madrasah Aliyah (MA), cita-citaku berubah, menjadi guru, cita yang mulia. Karena, tiada yang lebih indah bagi santri selain ilmu barokah dan bermanfaat. Seringkali kata hikmah bahkan dalil-dalil bergema, katanya: 
خير الناس أنفعهم للناس
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama
خيركم من تعلم القرآن وعلمه
"Sebaik-baik kalian adalah santri dan guru ngaji”
 من علّم علما علّمه الله ما لم يعلم
“Siapa yang mau berbagi ilmu yang diketahui, Allah akan mengajari ilmu yang tidak diketahui.”
Menjadi guru, adalah cita-cita yang amat mulia. Berbagi kepada sesama. Dan, alhamdulillah, aku pun pernah menjalaninya. Kurang lebih 6 tahun lamanya. Bila sukses diartikan berhasil meraih cita, alhamdulillah, aku telah meraihnya, bahkan melampauinya.
Rasulullah SAW pernah bilang,
فإنهم يعيشون في زمان غير زمانكم
 “...Sesungguhnya, anak-anak kalian tidak hidup pada zaman kalian.” 
Artinya, lain dulu lain sekarang. Saat masih TK, bisa jadi cita-cita yang paling digemari saat itu adalah menjadi dokter, pilot, bahkan bisa jadi menjadi Doraemon. Mau apa saja, kantong ajaib. Mau ke mana saja, ambil pintu lorong ajaib dan baling-baling bambu. Saat Aliyah, bisa jadi akan berubah. Perubahan bisa jadi karena faktor tingkat pendidikan, bisa jadi karena zaman yang terus berubah, dengan tuntutan yang semakin kompleks. Perubahan itu, bisa jadi disebabkan oleh kondisi yang tidak kondusif, sehingga cita-cita sedikit dibelokkan. Karena, keadaan terkadang tidak seperti yang diharapkannya. Realitas jauh dari idealitasnya. Katanya: 
ما كل ما يتمنى المرء يدركم # تجري الرياح بما لا تشتهي السفن
“Tidak semua yang diharap manusia kan tergapai  dengan gegap gempita, karena  angin pun seringkali berhembus tidak searah dengan  keinginan kapal.” 
Manusia tidak pernah ada puasnya. Sesuatu yang (dahulu) disebut sukses, sekarang tiada apa-apanya. Sehingga, parameter sukses pun menjadi bias, sesuai tingkat kepuasan manusia terhadap takdirnya, dan sesuai dengan persepsi relativitasnya.
Pesantren Babakan, 25/11/2013  

Monday, November 25, 2013

Guru = Ayah + Ibu

Hari M Ngaidin

Selamat hari guru
setiap kita adalah guru
Jadi ortua yang guru
Ortu, ayah dan ibu
guru pertama dan utama
ber-hati-lah bila bertindak
anak kan selalu melihat
meniru
menduplikat
mengkritisi

Bila anakmu kau titipkan
pada TPA atau sekolahan
jangan terlalu banyak mengharapkan
dari guru sekolah gaji habis sepekan

walau kau telah bayar wajib SPP
pun uang gedung berjuta Rupiah
jangan pula kau bangga
bisa 'nyumbang' buat yayasan
lalu bertindak sok jadi Tuhan
..
Boleh engkau menitipkan
namun untuk pendidikan
ortu kan dipertanyakan
Selamat hari guru
setiap ortu adalah guru

guru pertama nan utama
Rumah, sekolah pertama
mari ciptakan budaya kondusif dalam Rumah..
Kata 
Ayah edy, Indonesia Strong from Home
Bila rumah baik, negara akan baik
Sekolah hanya tempat penitipan
Guru hanya wakil sementara
Ortu-lah guru yang sesungguhnya
Hari Guru adalah Hari ortu
karena setiap kita adalah guru bagi anak kita
Jangan tanya: "Kenapa dengan anak-anak kita?"
kepada guru di sekolah
Karena orang Inggris kan menjawab:
"Like father like son"
wong Jowo kan jawab:
"Kacang ora ninggal lanjaran"
Orang Indonesia jawab:
"Buah jatuh tak jauh dari pohon"
"Semut di sebrang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak kelihatan"
tak usah salahkan lingkungan luar rumah
usah usah salahkan sekolah
usah salahkan guru akhlaknya
karena Guru itulah kita
Orang Tua di rumah
Tilik Rumah Kita sendiri
Adakah yang salah?
amati dengan teliti
mungkin ada virusnya..
Mari memulai dari rumah

Pesantren Babakan, 25/11/2013

Sunday, November 24, 2013

Tulis

MM Ngaidin

kau penulis
apa yg kau lihat
tulis
apa yg kau dengar
tulis
apa yang kau pikir
tulis
kan jadi buah akalmu
apa yg kau rasa
tulis
kan jadi buah hatimu
rindu yg menggebu
cinta yg mengkalbu
juga hangat mentari
pun tenang musim semi
dan segar embun pagi 
apa yg kau dengar
tulis
kicau kutilang, juga kenari
riuh angin, juga perkutut bernyanyi
apa yg kau dapat
tulis
yang kau ingat
tulis
ada paras geulis
tulis
ada senyum manis
tulis
ada air menghujan
rekam
ada api yg menyekam

padam
Cirebon, 201113

Friday, November 22, 2013

Barzah

MM Ngaidin

1
Sapu tangan merah
Ditangan Izrail pencabut nyawa
menadah nyawa mukmin mukminah
sementara, selepas meregang sukma
Dari raga semerbak mewangi aroma
Minyak kasturi dari taman surga

2
Raga dimandikan
Di atas ranjang dibaringkan
dengan penuh halus kelembutan
sukma kan terus mengawas
dari luar, digenggam Izrail
bilapun insan mendengar
lengking jeritan, kan jatuh terkapar

3#
Jasad tlah cemerlang
Berbilas air bidara dan dikafankan
Di atas ranjang dia direbahkan
Sukma pun turutnya
Terbang melayang di atasnya

4#
Tubuh tak bernyawa itu ditanam
Dalam tanah asalnya diciptakan
Didudukkan,
Sukma pun meraga
Kembali ia tersadarkan
Dua malaikat memberondongnya
Tentang Tuhannya
Agamanya
Nabi yang diikutinya
Dia pun mengatasi dengan penuh percaya
ujian ini tiada apa
karna dia bawa kuncinya

Cirebon, 21/11/2013

Bukan Sesiapa

MM Ngaidin

1#
Kau siapa
Aku bukan sesiapa
Hanya ingin yang ada
Bukan menyiapa
Cukup meng”apa”

2#
Hanya karya meraga
Gerak tangan ukir cerita
Langkah kaki mengayuh padu
Bukan kata memecah bayu
Pun lidah berbasah madu

3#
Kulit menghitam legam menjadi saksi
Tangan mengapal bisu menyaksi
Sekedar berbuat
Sekedar mengisi
Ruang kosong yang penuh onak duri
Hanya perbaiki
atas asa yang tak kunjung reda
Menatap mentari terangi hari
Menyambut bintang di pekat malam
dirundung awan

4#
Tampaknya, aku sedang mengigau
Sedikit hati hendak meragu
Namun pikir telah meramu
Dan asa sudah kian menguat
Jemari pun sudah tak sabar menanti
Raih gagang kampak
Kayu besar yang harus dirajam
Bajak pun kian mengkarat
sekarat
merindu sawah ladang yang kian mengering
terlunta

5#
Aku lihat masih ada air mengalir
Dari tinggi bukit nun jauh diamat
Aku sedikit ragu tuk mendapat
Namun asa sudah menguat
Rimbun hutan bambu masih lah cukup
Tuk membatang pipa
alirkan tetesan dari telaga kemakmuran
Sedikit memang
Namun waktu kan mengumpulkan
Tak usah lah menunggu hujan
Di musim kemarau nan tak jua datang

Babakan, 20/11/2013

Tuesday, November 19, 2013

الاختلاف من لوازم الحياة

إنّه لا شك في أنّ الاختلاف من سنة الحياة البشرية، ومن ذلك الاختلاف اختلاف الليل والنهار، واختلاف الألسنة والألوان، واختلاف الأجناس والقبائل، واختلاف الآراء والأفكار. ولاختلاف ذلك كله فوائد عديدة، منها ابتلاء وامتحان من الله تعالى لمعرفة أي الناس أحسنهم عملا، ومنها آيات لجلالة قدرة الله وعظمته، ومنها التعارف بين البشر فيبعث روح المحبة والأخوة بينهم، وغيرها من الفوائد. وإن الناس إذا فكروا عرفوها جيدا أن كون الاختلاف دافعا لهم للاستباق في الخيرات ومجالا للتعارف والتفاهم بينهم فيقوّي ذلك رباط الأخوة الإسلامية والبشرية.
        إنّ الاختلاف ليس الفرقة، فالاختلاف نعمة والفرقة والافتراق نقمة، وكما قد بين الله تعالى لنا في قوله: ((وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَانِكُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِلْعَالِمِينَ))[1]، وقوله تعالى : ((إن في خلق السموات والأرض واختلاف الليل والنهار... لآيات لقوم يعقلون)) [2]، وقوله تعالى : ((إِنَّ فِي اخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَمَا خَلَقَ اللَّهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَّقُونَ))[3]، وقوله تعالى : ((إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ ))[4]، والآيات الأخرى مما يدلنا على أنّ الاختلاف آية من آيات الله الباهرة. واستفادة من هذا الاختلاف يكون لنا كطلاب العلوم الشرعية في قسم الدراسة العليا درس في فقه المقارن، وهو عبارة عن مقارنة المذاهب الفقهية الإسلامية.
إن مقارنة المذاهب هي السعي في معرفة آراء أئمة مذهب من المذاهب في المسائل المختلف فيها مع ذكر أدلة كل منهم وتعليلاتهم وطرقهم في استنباط الأحكام. والهدف من هذه الدراسة لتعرف المذاهب الفقهية والآراء المختلفة وأدلتهم والأسباب التي تجعلهم مختلفين في ذلك، وليس الهدف من الدراسة هو استهانة وتتبع ضعف قول أحد الأئمة، وإنما الهدف هو البحث عن أرجح الأقوال الصائبة، لأن كل مجتهد مصيب، وإن كان الاجتهاد خطأ فله أجر واحد. وهذه المقارنة أيضا تهدف لابتعاد الأمة عن العصبية في المذهب أو القول أو أي عالم، والعصبية في الغالب تكون بسبب الجهالة وعدم معرفة المعلومات الصحيحة عن المذاهب الفقهية الموجودة وأدلتهم. وقال الإمام الشافعي : ((إن رأيي صواب يحتمل الخطأ ورأي غيري خطأ يحتمل صواب))، فالمقارنة يبعث روح التسامح والأخوة الإسلامية.






[1]  الآية 10 من سورة الروم
[2]  الآية 164 من سورة البقرة
[3]  الآية 6 من سورة يونس 
[4]  الآية 160 من سورة آل عمران

Belum Jadi saja, Sudah Mengganggu

Sebelumnya, mohon maaf bila ada personal atau pihak yang tersinggung!”
Di kompasiana, aku termasuk pendatang baru. Karena memang baru kemarin tepatnya, aku ‘resmi’ jadi bloger kompasiana. Lagi ayik-asyiknya baca sebuah tulisan, tiba-tiba, sebuah iklan dengan sangat menohok, menutup tulisan yang sedang aku baca tersebut.  Iklan dengan gambar seorang tokoh yang masih dibilang muda. Bertuliskan namanya dan tahun perhelatan pesta besar pilpres 2014. Sang tokoh saat ini menjabat menteri kabinet IB-II dan sekaligus ketua salah satu persatuan olahraga bergengsi di negeri ini. Langsung muncullah dalam hati sebuah kalimat yang menjadi judul tulisan ini “belum jadi presiden saja, sudah mengganggu”.
Memang, kita harus akui, bahwa uangnya terlalu banyak, untuk sekedar dikeluarkan untuk iklan begituan. Masih recehan, mungkin. Dan, tentunya, dia bisa beriklan di mana saja dan di media apa saja. Namun, bukankah lebih arif dan elegan bila pengaturan iklannya cukup diletakkan di margin saja, (bisa kanan, kanan, atas, atau bawah), bukan di tengah halaman. Bukankah ini bisa diatur dan dibicarakan dengan pihak kompasiana. Dan, ternyata, memang di bagian kanan dan atas sudah ada. Namun, ini bisa aku tafsirkan, bahwa sang tokoh, tampaknya belum puas menjadi menteri dan ketua persatuan itu, yang mungkin dibilang sebagai jabatan marjinal. Sehingga harus menjadi sentral, yang central adalah presiden.       
Beberapa bulan yang lalu, saat berlebaran di kampung, Jawa Timur, beberapa kali aku mondar-mandir Paciran-Surabaya. Beberapa kali melewati jalan pantura (Paciran-gresik-Surabaya), dan sesekali via jalur lamongan selatan. Di kanan-kiri dan atas jalan, terpampang spanduk, baliho dan sejenisnya, dengan dominasi calon anggota legislatif, baik pusat maupun daerah. Masing-masing daerah, dengan gambar tokoh yang mencalonkan dirinya sebagai anggota DPR di daerah tersebut dan dapil tersebut. Bahkan, ada pula satu tokoh spanduk wajahnya terpampang di sepanjang jalanan Lamongan-Gresik, caleg dari sebuah partai yang mengaku partainya Nu. Ini bisa dipahami, karena memang dia dapil kedua kabupaten ini. Aku sampat berpikir, betapa kayanya orang ini. Berapa rupiah yang telah digelontorkannya. Memajang gambar iklannya di sepanjang jalan. Malah, menurut sumber yang terpercaya, bulan ini sang tokoh merupakan pemesan baliho-spanduk terbanyak di partai tersebut. Mau berapa saja yang dikeluarkan, itu duitnya dia. Tapi, ada yang perlu untuk dikritisi di sini, yaitu, betapa ‘merusaknya’ poster-poster itu bagi keindahan pemandangan jalanan. Ah, “Belum jadi saja sudah menganggu.”
Salam damai.
Cirebon, 19/11/2013

Monday, November 18, 2013

Cinta itu

by Masyhari
Cinta itu
bisa kau temu dalam ‘bilik’ sunyimu
cinta itu bisa kau rasa dalam ‘keasrian’ surgamu
cinta itu telah mencintaimu dengan segala cinta
ada belaian lembutnya
ada senyum yang tak berkesudahan
ada embun yang senantiasa menyegarkan hari-hari kemarau panjang
ada cahya rembulan di tengah malam gelap berawan
tak berbintang
cinta itu begitu dekat
Babakan, 18/11/2013

Bentang Pustaka: Pengiriman Naskah

Ulasan Hasil Tantangan Menulis Bareng SLI di Hari Guru Nasional

Hasil Tantangan #NulisBarengSLI #HariGuruNasional2020 #SahabatLiterasiIAICirebon Beberapa hari yang lalu (23/11/2020) aku atas nama pribad...