Monday, April 20, 2015

Waspada Preman Pulo Gadung

Hari itu (16/04/2015), saya ke Jakarta karena ada satu keperluan. Karena tidak direncanakan jauh-jauh hari, saya tidak naik kereta, tapi memilih naik bus. Lagi pula, lokasi tempat tinggal saya di Cirebon agak jauh dengan Stasiun KAI, lebih jauh daripada lokasi mangkalnya bus. Saya lebih memilih turun di terminal Pulo Gadung, bukan di Kampung Rambutan, karena tujuan keperluan saya di dekat terminal Kampung Melayu. Dari Pulo Gadung ke Kamp. Melayu bisa ditempuh dengan naik satu angkot saja, mikrlet 02 atau 27 berwarna biru telur bebek. 

Selesai urusan, saya langsung balik ke Cirebon melalui terminal Pulo Gadung lagi. Rencananya, saya mau naik bus AC, Sa**bat, berbekal pengalaman beberapa waktu yang lalu, dimana saya pernah naik bus AC ini dari Cirebon dengan tarif yang sama dengan bus yang non-AC. Sesampai di Pulo Gadung, saya ditanya oleh seorang Calo, hendak kemana. Saya jawab mau ke Cirebon, dengan bus AC. Mendengar ucapan saya, seorang pemuda berusia sekitar 25an langsung bilang, "Ikut saya."
Olehnya, saya diminta ikut. Saya pun mengikutinya berjalan agak jauh. Ternyata, dia membawa saya ke loket. Di sana berjajar banyak loket. Saya diarahkan ke sebuah lokat. Katanya itu loket bus Sa**bat. Penjaga loket tersebut cewek muda. Tak lama, setelah saya bertransaksi, tawar-menawar tiket, tiba-tiba nongol seorang pria sangar berbadan besar. Wah preman ini, pikir saya. Dia mengancamku karena gak jadi beli tiket. Masak, ke Cirebon dikasih harga Rp 150rb. 
Meskipun diancam, saya tetep gak mau. Lantas dia bilang, "Ayo cepat bayar. Kasih saja 150."
Tapi, saya masih tidak mau. 
"Udah, kalau gitu, 115 saja!" Ucapnya.

Aku tetep keukeuh, gak mau.
Dia pun bilang, "Kamu ini pinter tapi gak ngerti. Pantas negeri ini hancur berantakan, gara2 orang2 kayak kau ini." Preman ini pandai bersilat lidah juga. Tapi ngibul. Penjahat tidak ngrasa bersalah, ternyata. Malah, dia nyalahin.

Si cewek penjaga loket bilang, kalo bus AC emang segitu. Aku bilang gak jadi beli. Si preman nyolot, "ganti rugi tiket yg udah dinamain."
"Tuh, liat, tiket belum dikasih nama." balasku.
Aku tetep gak mau. Aku bilang, aku ganti rugi saja buat yg anter.
Kata preman gedenya, "Kamu aku ganti rugi 50rb mau?!" Ancam dia. Maksudnya mau gebukin, kayaknya. Orang2 yg lihat pada diam, kagak berani jg. Alhamdulillah, setelah berkelit, dia akhirnya bilang,
"Udah, kalo gitu, kasih 20rb buat yang anter tadi."
Sementara, si calo kecil yang anter tadi msh nunggu agak jauh. Aku kasih dia 10rb.
Langsung aku ngacir cari Setia Negara/ Loragung. Alhamdulillah, ketemu.
Eh, pas di dlm bis, ada dua penumpang, bapak2 dan anaknya. Katanya dia juga kena palak di loket. Krn gak mau beli dan ngomong keras, dia ditodong pisau. Akhirnya, ada calo 'baikan' yg tarik mereka. Mereka ketemu sama supir baikan, cm kena 40rbuan.
Eh, ada yg datang lagi. Satu penumpang cewek usia 20an kena 150rb. Gak bisa nolak. Padahal, katanya itu duit terakhirnya. Dia telp kluarganya di rumah sambil nangis...
Sopir bilang, kalo Preman Calo di Pulo Gadung masih hidup. Polisi diam, karena mereka dikasih upeti sama preman loket.
Para preman blm bisa ditumpas, krn alasannya, penumpang yg kena jebakan loket maut itu dikasih tiket bus AC ke Jateng.
Kalau mau aman, langsung ke bus Loragung/Setia Negara. Calo gak berani, kalu sudah masuk bus. Masuk loket, masuk jebakan maut. Begitu kira2 pesan supir baik hati.
Maklum, baru pertama singgah diterminal "maut" ini. Dulu paling ke Lbk Bulus.
Memang, dulu pas awal-awal di Jkt sekitar th 2004an kawan senior Widionos Sukri sang pujangga yang pernah mangkal di pulo gadung sering cerita ttg kebengisan preman Pulogadung. Kupikir sudah hilang. Ternyata cuma di'tertib'kan....hehe

Thursday, April 2, 2015

Asal Muasal Nama Ragunan

Siang ini (31/03/2015), cuaca Cirebon cukup panas. Sengatan mentari di ujung Maret ini sepertinya sudah terasa hingga ke ubun-ubun saja. Membaca berita politik negeri yang sedang “panas-dingin” di saat-saat seperti ini tentu saja bukan pilihan yang baik. Ada baiknya mata berselancar, jalan-jalan menikmati berita traveling. Semoga akan sedikit menghijaukan dan menyegarkan suasana. Tepat, ketika membuka Kompas online, mata saya langsung tertuju pada sebuah tulisan dengan judul “Sejarah Panjang Kebun Binatang Ragunan”.
Setelah merampungkan bacaan, saya pun langsung men-sharenya di facebook.
Laporan yang ditulis oleh Denty Piawai Nastitie ini mengulas cukup banyak hal yang baru bagi saya, khususnya terkait dengan asal mula kebun binatang itu. Denty menulis bahwa Kebun Binatang ini pertama kali didirikan pada 19 September 1864 oleh seorang pelukis ternama Raden Saleh di Cikini Raya Nomor 73 Menteng Jakarta Pusat di atas lahan seluas 10 hektar miliknya. Ide pendirian itu diperoleh Raden Saleh sewaktu menempuh pendidikan di London, Inggris. Kebun binatang ini menjadi lahan penelitian, sekaligus inspirasi baginya dalam melukis.
Seiring perkembangan kota Jakarta, Cikini tak cocok lagi menjadi kebun binatang. Karena itu disiapkan lahan seluas 30 hektar di Ragunan, Jakarta Selatan. Pada tahun 1964, Pemda DKI Jakarta memindahkan koleksi Kebun Binatang Cikini ke Ragunan. Pada 22 Desember 1966 Kebun Binatang Ragunan diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta Ali adikin dengan nama Taman Margasatwa Ragunan (TMR). Saat ini, TMR berada di atas lahan seluas 174 hektar dengan beragam jenis hewan ada di dalam kandang yang dikelompokkan sesuai jenis dan habitatnya. Demikian tulis Denty.
TMR merupakan wahana rekreasi alernatif khususnya bagi warga DKI Jakarta. Pada akhir pekan, Kebun Binatang ini dipadati pengunjung. Selain karena tiketnya yang murah dan terjangkau bahkan oleh kalangan ekonomi bawah, juga karena suasanya yang asri dan nyaman, sebab dipenuhi oleh rindang pepohonan.
Di Balik Nama Ragunan
Tahukah Anda, apa asal-usul di balik nama Ragunan? Tulisan Denty di atas memang hanya fokus mengulas tentang TMR itu sendiri, sehingga soal ini tampaknya sengaja tidak dibahasnya.
Seorang ahli sejarah dan budaya Betawi, Alwi Sahab mengungkapkan, banyak warga Jakarta yang tidak mengetahui apa di balik nama Ragunan. Bahkan, ketika dilakukan penelusuran di sekitar wilayah kelurahan Ragunan, tidak jarang ditemukan warga Ragunan yang tidak mengetahui rahasia di balik nama Ragunan. Saat ini, Kelurahan Ragunan berada di wilayah Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan.
Saya sendiri pernah menulis ulasan singkat soal ini di Kompasiana. Namun di sini saya akan mencoba menuliskannya lebih panjang. Terlebih, setelah beberapa bulan yang lalu saya sempat melakukan penelusuran lapangan.
Ragunan berasal dari kata Wiraguna. Wiraguna adalah nama lain dari seorang asli Belanda bernama Hendrik Lucaasz Cardeel (1689). Ia mendapat gelar kehormatan dari Sultan Haji, nama lain dari Sultan Banten, Abu Nasar Abdul Qahar, putra Sultan Ageng Tirtayasa, sehingga ia disebut Pangeran Wiraguna. Cardel mendapat gelar pangeran karena menjadi tuan tanah pertama di kawasan tersebut. Wiraguna masuk Islam, dan kemudian kembali lagi ke agama nenek moyangnya, yaitu Kristen. Demikian menurut sejumlah literatur.
Keberadaan seorang tokoh di dalam sejarah non-fiksi akan terbuktikan kebenarannya bila telah diketahui makamnya. Alwi Shahab, di dalam sebuah bukunya tentang sejarah Jakarta, mengaku belum mengetahui jejak makamnya. Bahkan kata dia mayoritas warga Ragunan juga tidak banyak mengetahui sejarah Ragunan apalagi makamnya. Kisah tentang Ragunan seakan menjadi mitos belaka. Nama Wiraguna seakan hanya kisah fiktif belaka. Benarkah nama Ragunan hanya sebuah mitos belaka?
Tidak jauh dari Taman Margasatwa Ragunan, sekitar 3-5 km ke arah utara, terdapat sebuah gang bernama Wiraguna. Gang kecil tersebut berada di seberang kampus LIPIA. Sekarang berada tepat di samping selatan Pejaten Village (Lippo-Group). Sehingga, nama Wiraguna sangatlah populer di kalangan mahasiswa LIPIA. Tidak jarang mahasiswa kampus Arab ini semenjak gedungnya dipindah ke jalan Buncit Raya, banyak mahasiswanya yang ngekos di gang ini. Kendatipun demikian, tidak banyak mahasiswa LIPIA yang mengetahui keberadaan makam pangeran Wiraguna. Bahkan, saya sendiri, yang pernah kuliah di kampus tersebut, selama tujuh tahun tidak pernah mengetahui dan mengunjungi makamnya. Jejak kebenaran kisah tersebut bukan sekedar mitos sudah mulai terbuka titik terangnya.
Lebih lanjut, menurut informasi di sebuah blog (jakasura.wordpress.com), makam Pangeran Wiraguna terletak di perempatan Republika Pejaten Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Tepatnya di belakang apartemen samping kampus LIPIA ke arah kelurahan Pekayon-Kemang via Perempatan Republika. Sebagai bukti nyata, blog ini menampilkan sejumlah gambar foto yang dijepret oleh pemiliknya.
Kendati banyak literatur yang membahas nama Pangeran Wiraguna ini merupakan nama tuan tanah Belanda, warga sekitar Ragunan lebih mengenal sosok Pangeran Wiraguna ini merupakan prajurit kerajaan Mataram. Menurut warga RT 05/03 Kampung Pekayon, Kelurahan Ragunan, Pasar Minggu, Jaksel, Rokip (56), Pangeran Wiragunan merupakan prajurit keraton Mataram yang dengan gigih berjuang melawan Belanda di Batavia. Demikian laporan koran Sindonews.
Anak mantan juru kunci makam Pangerang Wiraguna ini menuturkan, berdasarkan cerita yang didapat dari ayahnya, Wiraguna itu berasal dari kata Wiro dan Guno. “Wiro itu artinya pasukan dan Guno keraton. Jadi bisa diartikan Wiroguno itu pasukan keraton,” terangnya kepada Sindonews di rumahnya.
Berkunjung Ke Makam Pangeran Wiraguna
Sekitar dua bulan yang lalu, ketika ke Jakarta untuk mengikuti sebuah acara, saya berkesempatan untuk membuktikan kebenaran informasi tersebut.
Pagi itu (7/02/2015), saya mengambil motor yang sudah beberapa hari dititipkan di parkiran Stasiun Pasar Senen. Setelah melewati jalan raya Kuningan, saya belokkan motor ke arah kanan, menuju Polda Metro Jaya, untuk membayar pajak motor. Dari sana saya pulang ke tempat persinggahan saya di Masjid Al-Furqon, Jatipadang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan melewati Kebayoran Baru-Masjid Agung Al-Azhar-Blok M-Cilandak-Pekayon-Jatipadang. Masjid tempat singgah saya tersebut bersebelahan dengan gang Wiraguna.
Siang itu, cuaca di bilangan Jakarta Selatan cukup panas, lebih tepatnya cerah. Ketika motor yang saya kendarai melintas di depan jalan Pekayon menuju perempatan Republika-Pejaten Village, saya teringat di dekat situ terdapat makam Pangeran Wiraguna. “Ini kesempatan untuk menelusuri jejak makam tersebut.”
Ternyata benar, tepat di depan saya, di kiri atas jalan raya terdapat sebuah papan penunjuk jalan berwarna coklat tertulis “Makam Pangeran Wiraguna” dengan anak panah mengarah ke selatan. Motor saya pelankan saat berbelok turun ke arah timur, perempatan Republika. Kondisi jalan yang berbelok tajam lagi menanjak bisa jadi membuat sebagian orang enggan untuk berhenti di sana, apalagi sekedar mampir mengunjungi sebuah makam seseorang yang belum dikenal. Apalagi bila lokasi makam tersebut tidak begitu ramai dan kelihatan dari jalan raya.

Di lereng belokan tersebut saya berhentikan motor, tepat di depan seorang penjual tanaman taman.
“Assalamu’alaikum."
“Wa’alaikumussalam."
"Permisi pak, mau tanya. Bapak tahu di mana letak makam Pangeran Wiraguna?” tanya saya kepada pria paruh baya berpeci hitam.
"Oh, di situ Mas. Di belakang bengkel tambal ban, ada sebuah gang kecil.” Jawab pria tersebut, sambil menunjuk ke arah selatan, seberang jalan.
Mendengar jawaban tersebut saya langsung menyalakan motor dan berputar balik, sedikit. Namun, di dalam hati masih bertanya-tanya, “masak sih di belakang tukang tambal ban itu?” Pasalnya, gang tersebut memang kecil, hanya muat satu motor. Letaknya yang berada di balik bengkel kecil juga membuat kebanyakan orang tidak mengira bahwa di sana ada sebuah gang. Kembali aku bertanya kepada seorang pria penjual tanaman di dekat bengkel tersebut.
“Oh, itu Mas. Itu di ujung gang. Masuknya dari bengkel tambal ban itu.” Aku mendapatkan jawaban yang sama.
Gang tersebut bersebrangan dengan AIS (Australia International School) sebuah sekolah milik Australia. Tampak, di depan gerbang besar yang terbuka itu, seorang satpam berseragam biru dongker kehitaman. Gerbang tersebut sangat kontras dengan pintu masuk ke arah makam Sang Pangeran. Jangankan sebuah gapura megah, bahkan sebuah nama petunjuk makam pun tak menghiasi mulut gang menuju makam. Tiadak ada tanda-tanda bahwa di ujung gang terdapat makam seorang pangeran. Dan, pengunjung makam cukup puas disambut oleh tukang tambal ban.
Siang itu terasa menyengat. Jarum jam di ponsel menunjuk angka 11. Segera saya menuju bengkel kecil itu. Ada dua pria tukang tambal ban yang menjaga bengkel itu.
“Bang, di ujung gang ada makam Pangeran Wiraguna, ya?” saya kembali bertanya memastikan. Sebab, gang tersebut memang kecil dan sangat sepi.
“Bisa saya naiki motor?”
“Oh, bisa.”
Pelan. Motor saya nyalakan, memasuki gang dari tengah bengkel kecil itu. Di kiri gang, terdapat tembok yang cukup tinggi, sekitar tiga meter. Sementara di samping kanan gang terdapat satu dua rumah kecil. “Barangkali milik tukang tambal ban dan penjual tanaman tadi.” Gumamku.
Tepat di ujung gang, terdapat sebuah gubuk kecil. Di belakang gubuk itu ternyata terdapat pekuburan. Gang kecil itu mengarahkan kita berbelok ke kiri. Dan, ternyata tepat hadapan kita terdapat beberapa kuburan yang cukup banyak. Kebetulan, ada seorang pria pejalan kaki yang sedang lewat.
“Pak, yang mana makam Pangeran Wiraguna?”
“Itu, yang ada di dalam rumah.” Tampak sebuah rumah kecil berukuran sekitar 4×6 di atas sebuah bukit kecil. Saya pun menapaki jalan menanjak beralaskan paving itu menuju ke sana. Jalan berukuran sekitar satu meter menuju ke rumah tersebut beralas paving. Di kanan kirinya dihiasi pohon-pohon kecil berdaun hijau merah, setinggi sekitar tiga meter. Entah apa namanya.
Langkah saya terhenti tepat di depan pagar setinggi pusar saya. Pagar besi itu kusi karatan dan sudah rusak engselnya. Rumah kecil itu tampak sepi. Saya pun memasuki pagar yang tidak terkunci itu. Ternyata, rumah itu berpintu dan pintunya terkunci rapat.
Saya membalikkan badan. Tepat lurus arah mata memandang ke timur, sebuah dinding besar tinggi menjulang. Tampaknya itu punggung gedung Apartemen Pejaten yang tepat berada di samping utara Kampus biru LIPIA.
“Wah, gagal dong, ziarahnya!” Gumamku dalam hati. Aku pun berbalik arah menuju ke sebuah rumah yang tepat berada di ujung gang tadi.
“Assalamu’alaikum.” Sapa saya kepada seorang pria berusia sekitar 40 tahunan yang sedang santai di depan rumah itu.
“Wa’alaikumus salam.”
“Maaf Bang. Abang tahu juru kunci makam Pangeran Wiraguna? Saya mau berziarah.”
“Oh, sebentar ya, Mas.”
Pria itu pun masuk ke dalam rumah. Tak lama, sebuah kunci pun diberikannya pada saya. Ternyata pria tersebutlah juru kuncinya.
“Terima kasih, Bang.”
“Ya, sama-sama.”
“Alhamdulillah, ternyata kesampaian juga.” Ucap saya di dalam hati.
Akhirnya, saya pun bergegas balik arah menuju makam tersebut. Tak lama, saya sudah berada di depan pintu rumah tersebut dan bersiap membukanya. Tak sabar rasanya.
Dan, meskipun sebagaimana disebutkan oleh Alwi Sahab bahwa Pangeran Wiraguna kembali masuk ke agama nenek moyangnya, Kristen alias murtad. Ternyata, makam yang ada di hadapan saya tidak menunjukkan sebuah pemakaman ala Kristen. Sama sekali tidak ada tanda palang, salib. Makam tersebut lebih menunjukkan sebagai makam Islam. Terlebih, di sekeliling makam tersebut terdapat pekuburan warga muslim. Di atas pintu makam tersebut terdapat sebuah papan berisi tulisan tentang tujuan ziarah kubur. Di bagian atasnya terdapat ayat Al-Qur’an surah Yunus : 107 berikut terjemahannya, yang intinya peringatan agar tidak menyembah kepada selain Allah.
Saya pun berhasil membuka pintu tersebut. Lantai rumah makam tersebut berlantai keramik putih. Bagi peziarah terdapat gelaran hambal berwarna hijau tua yang terhampar di depan pintu. Sementara kuburan tepat berada di tengah bangunan itu. Kuburan Sang Pangeran berada di bawah sebuah ranjang berkelambu putih. Kuburan dan ranjang tersebut dipagari besi. Di pagar bercat hijau tersebut terdapat tulisan Arab “Allah” dan “Muhammad”.
Sementara itu, tepat di samping pagar, terdapat beberapa buku Yasin dan Tahlil yang tertumpuk di atas sebuah meja lekar kecil. Namun, tepat di atas tumpukan buku tersebut terdapat sebuah papan berwarna putih bertuliskan:
“PERINGATAN. Banyak orang tersesat karena mereka mengharapkan berkah dari makam, seperti berkahnya: Maunah-Karomah-Ilmu-Harta- Seseorang. Maka, jadilah ziarah ke makam untuk Mengingat Mati. Insya Allah selamat dunia dan akhirat. Aminn..”
Di atas papan peringatan tersebut terdapat kotak bergembok. Mungkin semacam kotak infak untuk perawatan makam.
Melihat pemandangan tersebut, saya bertanya-tanya di dalam hati. Benarkah pangeran Wiraguna kembali ke agama nenek moyangnya? Bila benar, mengapa ia dikuburkan bukan selayaknya orang Kristen, dan diperlakukan selayaknya orang Islam? Adakah ia kembali masuk Islam di akhir hayatnya? Ataukah memang ia telah murtad, namun orang-orang kala itu tidak mengetahuinya? Teka-teki yang belum terjawab. Barangkali ada pakar sejarah yang mengetahui informasi ini. Aku sendiri belum tahu. Bahkan, sekelas Alwi Sahab saja mengaku belum tahu keberadaan makam ini
Setelah mengunci pintu, aku pun segera balik.
“Terima kasih, Bang. Ini kuncinya.” Ucapku kepada juru kunci, seraya memberikan sedikit tip untuknya.
“Sama-sama. Sudah ya? kok Cuma sebentar!”
“Iya, Bang. Sekedar pengen tahu saja. Sudah mau adzan Zhuhur.”
Saya pun segera menaiki motor, menuju tempat persinggahanku.
Di sana, saya tidak lama. Sebab, beberapa waktu lagi waktu Zhuhur akan segera tiba. Meskipun kunjungan ini menyisakan teka-teki, saya bersyukur. Semoga suatu saat akan mendapatkan jawabannya.
Semoga bermanfaat. Dan selamat berkunjung, menelusuri jejak sejarah pendahulu kita.
Cirebon, 31/03/2015
Tulisan ini pernah dimuat di:
http://jakarta.kompasiana.com/potensi-wisata/2015/03/31/asal-muasal-nama-ragunan-734449.html

Friday, March 27, 2015

Dakwah Perdamaian


Semua menawarkan dagangan ideologinya dengan bayaran kekejaman dan ancaman bagi yang tidak merelakan diri untuk mengkonsumsinya.

Paksaan dan budaya kekerasan sedang beraksi dengan riuh gempita oleh tangan-tangan orang yang mengaku sebagai wakil Tuhan. Menegakkan kebenaran yang mereka usung. Menyerang mereka yang yang dianggap sesat-menyesatkan. Kekerasan bertopeng perjuangan sedang berpesta.

Ketentraman, kemanusiaan dan kesejahteraan yang merupakan impian hidup sudah dikhawatirkan ancaman kepunahannya. Rasa menghormati dan menghargai serta toleransi terhadap pandangan orang lain sudah tak lagi diperhatikan oleh penceramah.

Apakah keberanian dalam berjuang harus diwujudkan dengan menyakiti perasakan orang lain? Bukankah keberagaman suatu keniscayaan?

Nabi pun tidak menteror manusia yang tak mau diajak mengikuti ajarannya. Karena sesungguhnya kewajiban dai hanya mengajak kepada kebenaran, bukan menjamin mereka untuk mendapat hidayah walau harus dengan paksaan. Sebab, hidayah adalah otoritas Tuhan. Bukan bagian dari hak manusia.

Pendapat yang kita klaim benar, belum tentu orang lain menerimanya sebagai kebenaran. So, harus disampaikan dengan kedamaian dan penuh kesopanan, serta kesalihan.

Jangan lupa, doa adalah suatu yang wajib. Sebab doa adalah senjata pamungkas kita, dan hidayah adalah milik Allah semata.

Sehingga, kepercayaan tidak bisa disampaikan dengan pemaksaan-pemaksaan. Mengungkapkan kebaikan dengan baik dan damai. Memberi contoh dari kebenaran yang diusung dengan penuh kebijaksanaan.

Sudah bukan saatnya teror dan kekerasan dipakai senjata. Karena lidah masih kita punya.

 Islam adalah penyeru ketentraman. Sekian.

Ciputat, 06 Agustus 2005

Thursday, March 26, 2015

Budaya Diskusi (catatan lama)

Budaya diskusi perlu untuk dilestarikan dan diberdayakan oleh insan di kolong langit ini, terlebih lagi insan akademis yang setiap hari bergelut dalam dunia intelektual atau mondar-mandir di kampus, berkelana.

Diskusi, menurut hematku, sangat bermanfaat, di antaranya; tidak membiarkan otak beku. Jadi, diskusi adalah mensyukuri nikmat Allah swt berupa otak, pikiran, lisan dan lain-lainnya. Dengan diskusi kita melatih berpikir dan sekaligus mengutarakan gagasan secara sistematis dan teratur, serta melatih kita untuk mempertahankan pendapat yang kita anggap benar dengan menggunakan hujjah, argumentasi atau dalil yang logis, ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan. Kendatipun, kadang seringkali terjadi perdebatan yang kelihatan tak teratur dan cenderung menghantam lawan diskusi. Sebagai sebuah proses belajar, hal semacam ini wajar-wajar saja. Asalkan tidak berlanjut pada bentrok fisik atau membawa perseteruan hingga di luar forum diskusi. Untuk diskusi yang berakhir permusuhan, sungguh bukan hal yang etis dan tidak patut ditiru.

Diskusi, dalam bahasa Islam, biasa disebut tukar pendapat, share, munaqashah atau musyawarah. Hanya saja, tujuan diskusi lebih mengutamakan kelapangan dada, legawa menerima masing-masing pendapat yang dishare, meskipun tidak setuju. Diskusi terkadang tidak menghasilkan kesimpulan dari hal yang didiskusikan. Sementara musyawarah (rapat), biasanya untuk menyelesaikan suatu problem, atau dengan kata lain, untuk mencari solusi yang tepat. Namun, intinya keduanya hampir sama.

Dalam diskusi, budaya yang dikedepankan adalah sikap menghormati dan menghargai pendapat orang lain, meskipun berlawanan dengan pendapat kita, ataupun kita anggap salah. Sebab, tak menutup kemungkinan, pendapat yang berlawanan dengan kita malah yang benar.

Ingat kawan, kita hanya manusia biasa.Benar kata Imam Syafi’i, “pendapat saya benar, tapi mengandung kemungkinan salah, dan pendapat orang lain salah, tapi mengandung kemungkinan benar.”

Jadi, hendaknya dalam wilayah diskusi yang menuntut keterbukaan itu bisa dibudayakan sikap legawa dan lapang dada, serta menghindari rasa ingin menang sendiri. Diskusi bukanlah tempat untuk mencari kemenangan dengan memaksakan kehendak. Akan tetapi, bagaimana –selain mendapat kebenaran- belajar bertukar ide dan mau menerima dengan lapang dada pendapat yang berbeda.

Beda itu biasa. Keragaman adalah niscaya. Sebab diskusi adalah ladang toleransi, bukan meja hijau untuk menghakimi ataupun untuk mengklaim yang paling benar sendiri.

Sebab, yang paling benar adalah Allah swt. Kebenaran mutlah hanya milik-Nya. sedangkan kebenaran pendapat manusia adalah nisbi (relatif). Wallahu a’lam.

Ciputat, malam Jumat, 05 Mei 2005
    


Monday, March 23, 2015

Bertemu Keluarga Guru Pesantren

Berawal dari sebuah pesan singkat
Wajah langit kampung pesantren Babakan siang itu sedikit diselimuti mendung. Hari sabtu itu tidak seperti sabtu biasanya. Aku tidak bertugas di kampus, sebab sedang libur tanggal merah. Setelah istirahat siang, ponselku yang tergeletak di atas meja lipat itu berbunyi, “tuing”. Tampaknya, ada sebuah pesan masuk via inbox ‘messenger’.
“Kang, saya dapat undangan menjadi juri pidato bahasa Arab di SMA Al-Azhar 5 Cirebon. Acaranya besok. Saya tidak bisa memenuhinya, karena ada kegiatan lain yang tidak bisa saya tinggalkan. Bila berkenan dan punya waktu luang, Njenengan bisa menggantikan saya.” 
Begitu kira-kira isi pesan dari seorang kawan. Secara tiba-tiba tawaran itu datang. Dan setelah dialog dan mendapatkan penjelasan beberapa hal terkait acara, saya pun mengiyakan.
Keesokan harinya, mentari pagi tampak begitu cerah. Ia mulai menampakkan cahayanya dari ufuk timur, saat jarum jam di dinding menunjuk pukul 6 tepat. Sepertinya ia sedang menyambutku hangat dan penuh suka cita. Mendung hitam yang kemarin memadati petala langit tampaknya sengaja menyingkir, menuju peristirahatanya. Seakan mempersilahkanku untuk menyambut pagi dengan penuh ceria. Hari itu aku berangkat pagi-pagi, sebab katanya acara akan dimulai sekitar pukul 8 pagi. Pukul 7:35 alhamdulillah saya sudah di tempat untuk persiapan dan memahami petunjuk teknisnya.
Sampai di arena perlombaan, aku bertemu dengan juri lainnya. Saat itu, ada dua juri lagi selainku. Salah satunya dari luar sekolah tersebut. Sambil menunggu dimulainya acara, kami terlibat perbincangan ringan, sekedar perkenalan dan seputar aktifitas sehari-hari. 
“Ana Ahmad Musyaffa’.” Dengan berbahasa Arab fasih kawan ini memperkenalkan diri. Saat ini, kawan yang mengaku sudah memiliki tiga anak ini tinggal di Kedawung-Cirebon, tidak jauh dari tempat kami sedang duduk berbincang. Katanya, dekat dengan rumah ustadz Abu Khoiruddin, koordinator Qiraati cabang Cirebon. Putra pertamanya, yang kini berusia 4,5 tahun bersekolah di TKQ milik ustadz Abu Khoiruddin.
Kawan ini alumni Gontor dan S1 Al-Azhar Mesir. Sempat ia melanjutkan kuliah S2 di sana, namun di akhir tahun kedua, ia pulang, karena kondisi Mesir saat itu sedang berkecamuk. Tak lama setelah itu, ia mengambil kuliah S2 di Pascasarjana IAIN Syekh Nurjati Cirebon prodi PAI, dan lulus tahun 2013, setahun sebelum kelulusanku di kampus yang sama. Setelah lulus, ia diminta Bapak Sumanta Hasyim untuk menjadi asdosnya, dan sampai saat ini ia mengajar sepekan sekali di IAIN Cirebon. Ia cukup kenal akrab dengan Bapak Sumanta setelah tesisnya dibimbing oleh doktor yang saat ini menjabat sebagai Rektor IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Kronologi yang sedikit sama dengan kisahku saat masuk ke PPB (Program Pengembangan Bahasa) di IAIN tersebut. Doktor ini juga yang menjadi salah satu pembimbing tesisku.  
Selain itu, menurut pengakuan kawannya, seorang guru SMA al-Azhar 5 Cirebon yang mengundangnya menjadi juri, ustadz Musyaffa’ ini adalah ketua KNRP (Komisi Nasional untuk Rakyat Palestina) perwakilan Cirebon. Ia termasuk kader PKS, dan istrinya saat ini bertugas sebagai anggota DPRD kabupaten Cirebon dari fraksi PKS.  

Ternyata, dunia ini sempit ya...
Lebih lanjut, setelah aku memperkenalkan diri bahwa aku dari Lamongan, kawan ini langsung antusias. Dari wajahnya tersirat senyum ringan dan tampak ingin bertanya lebih lanjut.
“Lamongan mana?” Tanya kawan ini, semakin penasaran.
“Paciran.” Jawabku, sambil tanda tanya di dalam hati, ada apa gerangan yang membuatnya cukup antusias.
“Paciran mana? Saya punya keluarga di Paciran. Tepatnya di Kranji.”
“Ya. Bahkan, saya dari desa itu.” Jawabku. Setelah aku tanyakan siapa yang dimaksud, ia menjawab,
“Itu, yang punya pesantren Tarbiyatut Tholabah yang diasuh Syekh Muhammad Baqier Adelan.”
“Lah, saya alumni pesantren itu. Bahkan dari TK hingga Aliyah saya sekolah di sana.”
“Kenal Ulin Nuha? Ia teman saya sewaktu kuliah di Al-Azhar Mesir.”
“Oh, kenal. Dia kakak kelas saya di sana.” Balasku.
Mendengar pengakuannya, aku pun ikut antusias untuk melanjutkan obrolan. Apalagi, hingga pukul 8:30 acara belum juga dimulai, panitia masih menunggu semua peserta berkumpul di arena perlombaan. Dan, saat itu acara baru dimulai sekitar pukul 09, ada satu jam kami berbincang.
Kawan ini, dengan bahasa Arab fasih menjelaskan bahwa Mbah Kyai Mushthofa pendiri pesantren Tarbiyatut Tholabah itu putra Mbah Yai Abdul Karim Tebuwung, Dukun, Gresik. Selain Kyai Musthofa, Kyai Abdul Karim memiliki beberapa putra dan putri, di antaranya bernama Kyai Murtadho. Begitu pengakuannya seingatku. Kyai Abdul Karim adalah pendiri pesantren Al-Karimi Tebuwung. Sementara Kiyai Musthafa hijrah ke Kranji, Kyai Murtadho tetap di Tebuwung dan selanjutnya menjadi pengasuh pesantren Al-Karimi sepeninggal abahnya. 
Kawan yang kutemui ini adalah keturunan Mbah Yai Murtadho bin Abdul Karim, Tebuwung. Mendengar pengakuannya, aku langsung terperanjat,
“Subhanallah, idzan sauqabbil yadak (tampaknya, aku harus mencium tanganmu).” Ujarku sambil bercanda, dengan hati berbunga.
Setelah melakukan penelusuran via internet, aku mendapati informasi bahwa Mbah Kyai Abdul Karim Tebuwung ini terlahir di desa Drajat Paciran, dari pasangan KH. Abdul Qohhar dan Nyai Sarwilah. Kyai Abdul Karim dua kali menikah, dari istri pertama terlahir Kyai Zaid (Tebuwung), Kh. Ishaq (Pendiri Pesantren Sidodadi Surabaya) dan Nyai Halimun Nur. Sementara dari istri yang kedua, terlahir KH. Musthofa (pendiri Pondok Pesantren Tarbiyatut Tholabah Kranji)Nyai AlimahNyai MuthiahNyai ZainabKH. Murtadlo , penerus Pengasuh Pondok Pesantren Al Karimi). Awalnya, pesantren Al-Karimi dikenal dengan Pondok Bendo, karena terletak di hutan bendo, Tebuwung. Nama al-Karimi ini diambil dari nama ayah nama pendirinya yang pertama kali.
Ternyata dunia sempit sekali. Tak dinyana, aku bertemu dengan tetangga di acara yang sama sekali tidak aku rencanakan sebelumnya. Ya, sebagai juri pengganti mempertemukanku dengan salah seorang keluarga Pesantren tercinta, di kota Cirebon ini. Kupikir, di Cirebon ini masih jarang orang Lamongan-Gresik yang berkecimpung di dunia akademik. Memang banyak warga Lamongan yang tinggal di Cirebon, bahkan hampir di setiap desa di Cirebon ini ada orang Lamongan. Namun, mereka berprofesi sebagai pedagang warung tenda Pecel Lele, yang setiap sore hingga malam mangkal di kanan kiri jalan raya sepanjang Kabupaten dan Kota Cirebon. Bahkan, menurut seorang pedagang Pecel Lele yang pernah kusinggahi, sudah ada organisasi semacam koperasi yang beranggotakan para pedagang pendatang dari Lamongan yang tinggal di Wilayah III Cirebon (Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, Kab. Kuningan, Kab. Indramayu dan Kab. Majalengka).
Ya, dunia ini terasa sempit. Kerap, kita mencari sesuatu ataupun orang, lama sekali, bertahun-tahun, tak jua kita temukan rimbanya. Namun, terkadang tanpa kita cari, bahkan rencanakan sebelumnya, peristiwa dan kejadian hebat terjadi begitu saja, sebagai sebuah suratan takdir yang di luar batas kemampuan manusia. Allah lah yang memiliki dan menguasai takdir itu. betapa banyak manusia yang telah berusaha mencari calon pasangannya menikah, namun ia jua tak mendapatinya. Namun, sebaliknya, ada seorang yang sedang santai, hanya bersiap diri, tiba-tiba datang seorang Kyai, ustadz atau dermawan yang menawarinya untuk dinikahkan dengan anaknya.
Banyak pula pasangan suami-istri yang telah berusaha dan berdoa agar diberikan keturunan. Namun, sekian tahun lamanya, mereka belum jua diberikan karunia anak. Seakan, pucuk usaha dan doa telah dikerahkannya. Sebaliknya, banyak orang yang baru saja menikah, beberapa bulan sudah positif hamil istrinya. Lancar dan subur sekali, kata orang. Bahkan hingga mereka  ikut KB untuk menyiasati jarak kelahiran. Meskipun tak jarang ada yang masih juga kebobolan. Begitulah takdir, rahasia. Manusia hanya mengusahakan dan berdoa. Selanjutnya, tawakkal, berserah diri kepada-Nya.
Selain melalui kejadian-kejadian semacam di atas, dunia sekarang ini sebagaimana kita semua tahu semakin sempit, dengan keberadaan teknologi modern, internet dan smartphone dengan segala aplikasi cerdasnya. Globalisasi, begitu kebanyakan orang menyebutnya. Berbeda kondisinya dengan beberapa tahun silam, sebelum ada hape, sms, sementara akses internet masih terbatas di kota-kota besar saja.

Dunia ini luas, loh...
Kita sering menyebut dunia ini sempit. “Ternyata, dunia ini sempit, ya!” Seperti yang kusebut di atas. Namun, ternyata lain dengan ibarat yang diungkapkan oleh Al-Qur’an yang menyebutkan bahwa bumi ini luas, “Mereka berkata, “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kalian bisa berhijrah di dalamnya.” (QS An-Nisa [4]: 97).
Lantas, mana yang benar dan yang salah? Menyikapi suatu hal di dunia ini, tak jarang ada di antara kita yang langsung menghukumi hitam-putih, benar-salah, lurus-sesat, surga-neraka, dan lain sebagainya. Padahal, ada perspektif lain yang bisa dipakai untuk melihatnya. Ya, kacamata untuk mendamaikan dan menguraikan sesuatu agar tidak saling berhadap-hadapan dan bertikai. Ahli hukum Islam dan ilmu Hadits kerap menyebutnya dengan istilah al-jam’u wa at-taufiq (memadukan dan mendamaikan). Memang, secara kasat mata berbeda dan bertentangan. Namun, bila mau diperhatikan dan direnungkan untuk dicarikan titik lain dan solusi dalam rangka mendamaikan, ternyata ada saja. Langkah memadukan harus diutamakan dan didahulukan, sebelum langkah lainnya. Begitu kaidahnya. Tentu ini bila memungkinkan. Bila pun tidak bisa, dalam titik tertentu. Di titik lain pasti ada poin yang bisa mempertemukan. Begitulah. Sebab memang dunia diciptakan dengan perbedaan. Tak ada yang sama persis di muka bumi ini. Tujuannya adalah untuk saling mengenal, memahami, dan akhirnya saling toleransi. Dialog dan tutur sapa bisa ditempuh untuk ini.
Selain itu, teori relativitas bisa juga dipakai untuk membaca hal ini. Dunia, dalam satu perspektif bisa menjadi sempit, dan dalam perspektif lain bisa jadi luas. Bagi sebagian orang, dunia ini terasa sempit, dan bagi sebagian yang lain, ia terasa luas. Karena itu, dalam ayat lain Al-Qur’an menyebutkan,
“Dan atas ketiga orang yang ditangguhkan, shingga tatkala dunia terasa sempit bagi mereka, padahal sejatinya bumi itu luas nan lapang, dan terasa sempit pula diri mereka (akibat tekanan psikologis)...” (QS At-Taubah : 118)
Memang, makna sempit-luas dalam ayat ini agak berbeda rasa dan maksud dengan sempit-luas dalam pernyataan sebelumnya. Yang satu secara lahiriyah dan maknawiyah (bathiniyyah). Namun, yang hendak digarisbawahi dari ayat tersebut yaitu tentang relatifitas bumi. Bagi sebagian orang, yang sedang berduka, gundah gulana dan galau menghadapi problematika, goncangan kehidupan dan krisis, dunia ini terasa sempit, seakan tembok besar berdiri kokoh memagari sekelilingnya. Padahal sejatinya, bumi Allah yang bisa ditapaki dan cakrawala kehidupan yang bisa dijajaki teramat luas. Sehingga, manusia bisa mencari tempat lain yang lebih sesuai dan layak baginya, mendapatkan solusi yang membuatnya keluar dari krisis. Ada jalan atas setiap masalah. Setelah kesulitan, ada kemudahan. Bila ada jalan untuk berseteru, tentu ada pula jalan untuk bersatu-padu.
Dalam sebuah pernikahan, perbedaan malah menjadi syarat sahnya pernikahan. Pernikahan sama (jenis) jelas dilarang dan bahkan terlaknat. Perbedaan sifat dan kecenderungan antara pasangan juga sebuah keniscayaan. Kesamaan sifat dan kesukaan bukan pula sebuah tanda kecocokan dan kejodohan antara pasangan. Bahkan, perbedaan inilah yang semakin memperkuat ikatan, tentu dengan saling mengenali, memahami dan menghargai masing-masing perbedaan. Diskusi dan perbincangan akan mencairkan suasana yang terkadang tegang. Dan, akhirnya sempit ataukah luas, itu tergantung sudut pandang. Wallahu a’lam.
Cirebon, 23 Maret 2015


Saturday, March 21, 2015

Menumbuhkan Kemandirian Anak


Berbicara tentang tumbuh-menumbuh ini, aku mau berkisah. Cerita ringan tentang kedua buah hati kami, Nabil dan Keysa. Soal makan. Bila yang masak ibunya sendiri, bisa dua-tiga piring mereka lahap habis. Soal sayuran, jangankan yang matang di dalam kuah sop. Yang mentah saja, seperti kubis, kacang panjang, daun kemangi, dan lain sebagainya suka dimakannya untuk lalapan.
Buah-buahan, apalagi. Dibelikan semangka satu geluntung, sehari langsung habis. Dibelikan rambutan 4 ikat, langsung disikat habis sehari. Begitu pun dengan jambu biji. Terkadang langsung dimakan, dan terkadang minta dibuatkan jus. Manggis apalagi. Dibelikan 1 kg, mereka bisa berebutan.hehehe
Entah, kenapa beberapa ortu mengeluhkan anaknya malas makan dan apalagi pakai sayuran.hemmm. Sewaktu di Jakarta, banyak ibu-ibu yang mengeluhkan anak-anaknya enggan makan. Bahkan, harus berkejaran dengan sang buah hati sambil membawa piring di tempat bermain untuk disuapi. Alhamdulillah, kedua anakku sudah cukup lama mau makan sendiri. Bahkan, tidak mau disuapi, kecuali beberapa kali saja. Yang pasti, kita sering, kalau tidak dibilang selalu, makan bersama.
Sudah cukup lama pula, mereka memakai baju sendiri. Dan akhir-akhir ini, Nabil juga mau menyisir rambut sendiri dan Keysa memakai bedak sendiri. Mereka juga tidak mau dipilihkan baju yang mau dipakainya. Dan, sore ini, kami dikagetkan oleh Mas Nabil (5,5 th). Saat ia ke belakang meletakkan untuk piringnya yang kotor sehabis makan. Eh, lama dia tak balik. Tahunya, ketika aku samperin, ternyata ia sedang nyuci beberapa piring yang kotor.
Saat kutawarkan bantuan, karena agak berat angkat piring, dia gak mau. Saat hendak kuberi contoh nyuci yang benar, dia juga enggan. Kupikir supaya ia mencontoh.
"Nabil mau nyuci sendiri. Ayah ke sana aja." Aku langsung tersadar, kalau dibantu dan dituntun, itu bukan malah membantunya. Bahkan sebaliknya, akan mengurangi kepercayaan dirinya untuk melakukan itu, dan juga berimbas pada hal-hal lainnya. Setiap hendak melakukan sesuatu, ketika anak pernah dituntun dan ditegur, ia akan ragu-ragu dan gamang untuk melakukannya. Sehingga, ia akan memilih menunggu dan meminta bantuan orang tuanya.
Kami menyimpulkan, kemandirian anak itu muncul dari kepercayaan dirinya. Ia yakin kalau bisa. Ke-PD-an ini bisa muncul dan tumbuh bila ortunya mempercayainya, tidak suka menuntunnya. Orang tua harus berusaha mengetahui apa maunya, berbicara dengannya. Setelah itu, orang tua tinggal memantau dan mengawasinya, serta memandunya, bila diperlukan.
Bahkan, saat Kobayashi sang kepala sekolah Tomoe Gakoen melihat Totto-Chan murid kecinya sedang sibuk menguras isi septik tank untuk mencari dompetnya, ia hanya bertanya sedang apa, dan membiarkannya saja. Ia hanya menanyai Totto-Chan dan memastikan bahwa ia akan memasukkan kembali semua kotoran itu ke dalam tempat asalnya. Mungkin, sebagian kita ketika dalam posisi itu akan terkaget, dan melarangnya atau mungkin membantunya. Novel Totto-Chan yang ditulis oleh Tetsuko Kuronayagi, nama aseli tokoh yang ditulisnya sendiri (novel autobiografi) ini sangat direkomendasikan untuk dibaca para orang tua, mahasiswa khususnya fakultas pendidikan, tarbiyah dan guru.
Saat ini, di usianya yang hampir 6 tahun, Nabil belum kami masukkan ke sekolah formal. Begitu pula dengan adiknya, Keysa (3,5 tahun). Kami membiarkan dia main di rumah sama adiknya dan anak-anak tetangga, bebas. Hanya saja, dalam beberapa hal, kami bersepakat untuk meminta izin terlebih dahulu, misalnya bila hendak keluar agak jauh, dsb. Permainannya antara lain membuat robot-robotan, rumah-rumahan, kemah-kemahan, becak-becaan, dlsb dari balok lego, pasir atau dengan media lain yang disukainya. Kami hanya memantau. Terkadang mereka mengambar dan mewarnai sendiri, atau bersama adiknya. Kami hanya nyiapin kertas dan krayon.
Kami pikir, anak-anak itu kerjaannya hanya bermain. Belajar apapun, bisa sambil bermain. Tanpa dsadari, sebenarnya mereka sedang belajar.
Ya, hanya saja, yang (ngakunya) pusing dan khawatir malah adik-kakakku, sebagian saudara dan tetangga di kampung. “Kok belum disekolahin?!” begitu tanya mereka heran. Maklum, di kampung, anak baru berusia 2 tahun saja, sekarang ini sudah musimnya disekolahkan di PAUD. Padahal, secara historis, kronologisnya, ide pertama kali PAUD diadakan itu karena di Barat banyak ayah yang kerja di luar rumah dan ibunya juga menjadi wanita karier di luar rumah. Jadi, sekaligus dititipkan di TPA (tempat penitipan anak), mereka diajak bermain dan belajar oleh pengasuh. Lah, kalau di kampung, ibunya kan banyak yang jadi IRT.
"Tapi kita kan tak pernah makan bangku!" Kelakar mereka. Memangnya, ada yang doyan makan bangku?hehe..
Lah, anak usia 2-6 tahun mau diajarin apa?! Kenapa tidak diajak menemani masak, nyuci sambil main air, nyapu, belajar mandiri, berkebun, tanam bunga, siram bunga, dsb. Bukankah ini juga belajar?! Belikan buku cerita anak. Kan ibunya bisa baca toh. Bacakan dia cerita. Di Jerman, menurut penuturan Ayah Edy, anak usia di bawah 7 tahun tidak diterima di SD. Yang mau sekolah SD harus capai usia 7 tahun. Lah, di sini, anak balita sudah jadi pekerja dengan jadwal padat. Tak heran, bila ada anak balita stres..
Alhamdulillah, anak kami yang besar sudah hampir bisa baca. Doa-doa harian populer dan surah-surah pendek juga cukup lancar. Hampir setiap hari keduanya minta dibacain cerita. Saat santai dan jelang tidur, sebelum baca doa. Kami belum pernah meminta mereka menghafal doa ataupun surah-surah pendek. Kami hanya membaca bersama-sama mereka, memandu. Setiap hendak makan, tidur, dan melakukan aktifitas lainnya, kami ingatkan bila lupa. “Baca apa?” Dan mereka pun langsung baca doa dan diawali dengan basmalah. Alhamdulillah.
Taman bermain juga bisa jadi 'sekolah'nya, bagi kami. Mungkin sebagian orang menganggap bahwa belajar itu hanya di sekolah. Dan belajar itu cuma dengan buku pelajaran. Padahal, ke sawah dan kebun juga belajar. Kalau tidak berseragam dan bersepatu, dianggap bukan sekolah, bukan belajar. Padahal, yang berseragam dan bersepatu di sekolah belum tentu belajar. Bahkan bisa jadi sekolah menjadi lokasi pertemuan anak dengan kawanan gengnya, dan sepulang sekolah mereka tawuran antara pelajar. Miris bukan.
Bukan berarti sekolah tidak penting. Akan tetapi, sekolah saja tidak cukup. Harus pula diperhatikan apakah anak kita benar-benar belajar, dengan dan kepada siapa dia belajar. Ia juga harus tetap diperhatikan dan diberi perhatian yang cukup sepulang dia sekolah.
Beberapa ortu, anaknya yang masih kelas satu SD, sepulang sekolah masih harus disuruh les dan belajar privat, lagi. Jadwal hariannya sudah diatur orang tuanya, layaknya akademi militer saja. Belum lagi bila ada PR dari guru sekolahnya. Wuih. Pikir gurunya, kalau tidak diberi PR, anak tidak belajar di rumah..Hemmm
Ada pula ortu yang tidak sempat melihat anaknya di rumah, kecuali akhir pekan saja. Setiap hari, ia pergi bekerja, saat anaknya masih tidur, dan sampai di rumah sepulang kerja setelah anaknnya terbaring tidur malam. Yang menemaninya di rumah hanyalah pembantunya. Begitu pula yang antar jemput sudah ada tukang ojek. Kasihan sekali bukan!
Semoga bermanfaat.

Cirebon, 21 Maret 2015

Friday, March 20, 2015

Novel Terbaru 2015 : "SENJA TERBELAH DI BUMI SURABAYA"

Segera Hadir 
Sebuah Novel Roman


Senja Terbelah di Bumi Surabaya



Penulis : Eni Ratnawati
Tebal   : 400 halaman

Berikut komentar beberapa tokoh: 
----------------------------------------
"Novel ini menyuguhkan sesuatu yang sebenarnya lumrah terjadi pada anak manusia. Tetapi setiap babnya, alurnya berjalan tak terduga, misterius dan seperti teror yang menyasar kemana-mana. Mengkisahkan hampir seluruhnya drama sebuah kehidupan; rasa penasaran yang menggebu, mimpi, pengorbanan, persahabatan, kesetiaan, pengkhianatan, asmara dan cinta yang unik dan menarik..."
- Aguk Irawan MN, Pengurus LESBUMI NU, dan penulis novel “Sang Penakluk Badai”, “Gus-Dur & Sinta” dan Haji Backpacker


“Sebuah novel impresif. Sangat mencerdaskan pembaca. Ada pergolakan emosi, cinta, sosial dan keluarga. Bagaimana dengan metafora "senja yang terbelah", nikmati roman cinta dengan menjelma menjadi Bayu. Selamat menemukan hamparan makna dalam roman impresif ini.”

- Dr. Sutejo, M. Hum, Penulis dan dosen bahasa dan sastra STKIP PGRI Ponorogo

“Di sela kesibukan mempersiapkan ujian disertasi, saya dapat kiriman novel dari seorang teman di Cirebon. Itung-itung hiburan dan selingan. Saya pun membaca "Senja Terbelah di Bumi Surabaya" karya novelis muda Eni Ratnawati. Membaca halaman pertama, saya langsung tertarik dengan alur ceritanya yang bolak-balik antara masa lalu dan masa kini, pergulatan mencari makna dari berbagai peristiwa yang dialami. Akhirnya saya pun menuntaskan bacaan saya sampai halaman terakhir. Novel ini menarik, tidak menggurui, sarat pelajaran, wajib dibaca oleh siapa saja yang mencintai bacaan segar di sela berbagai peristiwa politik yang membosankan.”
- Jajang Jahroni, Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan kandidat Doktor di Boston University Amerika


Sinopsis 

"Dear Bayu,
Apa kabar Surabaya? Ah, betapa rindunya. Sekuat rinduku padamu, Bayu. Sedikit terik seharusnya tidak membuatmu lupa akan tujuanmu. Sudahkan kau menemukannya? Ah, tentu saja tidak. Jika sebuah usaha dengan cepat menemukan hasilnya, tentu tidak ada orang yang gagal dan putus asa. Gagalkah dirimu? Atau putus asa?

LARI! LARI, Bayu.. sebelum waktumu habis. Sebelum lilin mencair membekukan mawar putih…"


Bermula dari surat misterius yang diterimanya, Bayu, direktur muda sang penerus kerajaan bisnis Dirgantara, memantapkan hati mencari sebuah keluarga lain Papanya di rimba Surabaya. Semua dipertaruhkan. Kasih Mama dan saudarinya, jabatan, perusahaan, bahkan satu-satunya nyawa.Tidak ada yang lebih mengerikan dari terbongkarnya skandal masa lalu, yangtelah menyakiti Mamanya terlalu dalam dan menyisakan kebencian pada Nouri, adiknya. Namun kenyataan menamparnya, memaksanya memilih di antara dua pilihan yang sama perih. Ancaman skandal itulah yang selalu didengungkan oleh siapapun yang mengirimkan surat-surat itu. Seolah menagih janji, atas sumpah yang telah diucapkannya di atas jasad Dirgantara, Papanya.

Tetapi benarkah kekhawatiran Lady Dirgantara, Mamanya, murni atas ketakutannya sendiri akan keselamatan Bayu? Dalam jejak penelusurannya, Bayu menemukan fakta mencengangkan perihal Mamanya dan siapapun wanita yang sedang dikejarnya. Itu sebuah pukulan berat. Rahasia di balik rahasia. Dan Bayu semakin kukuh menyibaknya. Tetapi tahukah Bayu, semakin jauh ia melangkah, semakin dekat ia dengan kenyataan kelam yang siaga dengan taring-taringnya.

Senja Terbelah di Bumi Surabaya tidak hanya hadir dalam sebuah teka-teki, tetapi juga tentang persahabatan, kesetiaan, pengkhianatan, menyuguhkan pemandangan menarik tentang makna cinta, dan cara mencinta dengan cara berbeda. 

Cirebon, 19/03/2015



Untuk Pemesanan:

- WA 0896 5280 1331

Ulasan Hasil Tantangan Menulis Bareng SLI di Hari Guru Nasional

Hasil Tantangan #NulisBarengSLI #HariGuruNasional2020 #SahabatLiterasiIAICirebon Beberapa hari yang lalu (23/11/2020) aku atas nama pribad...