Tuesday, May 26, 2015

Info Beasiswa NU

Assalamu'alaikum wr wb

Sedikit yang aku ketahui tentang beasiswa S2 &S3 ke Jamiah al-Imam Riyadh Saudi Arabia berdasarkan pengalaman pribadi. Maaf bilamana dianggap sebagai tindakan lancang. Aku sampaikan sekedar agar kawan yang belum tahu, bisa memaklumi. Ini hanya atas nama pribadi, sebagai sesama yang mendapat cipratan kemurahan hati dari Cak Fuad. Bila ada yang salah, mohon dikritisi.
1. Jamiah el-Imam sebagai pemberi beasiswa
2. Pemegang "hak" beasiswa aslinya adalah Cak Fuad. 

3. Sementara LPTNU hanya sebagai legal formal, semacam lembaga untuk meresmikan kerjasama dengan lembaga pemberi beasiswa.

4. Beasiswa itu meliputi uang pendidikan, asrama, buku, living cost dan tiket pp Saudi-Jkt. Selebihnya, wallahu a'lam.
5. Saya sendiri dapat beasiswa, bukan karena lulus seleksi yg ketat, tapi karena faktor kemurahan hati poin ke2, dan tentunya dari Allah swt. Dan alamdulilah, sampai saat ini, aku masih percaya dengan keikhlasan Cak Khalis Fuad al-Mutamakkini.
6. Selain formalitas tes, ada beberapa prosedur yg harus dijalani sebelum berangkat ke Saudi, setelah dinyatakan lulus tes.
7. Setelah ada info diterima, sebagaimana maklum dlm birokrasi Saudi, tidak tentu waktunya kpn kepastian berangkat. Bisa jadi beberapa pekan setelah itu. Bisa pula beberapa bulan setelah itu. Bahkan tidak menutup kemungkinan bisa jd satu-dua-tiga tahun setelah itu. Berdoa saja, semoga lebih cepat dan tepat, dan peroleh yang terbaik.
8. Karena itu, ada sebagian alumni Saudi yg menyarankan kpdku, "meskipun sudah dinyatakan ditrima. Santai saja. Lakukan aktifitas di dlm negeri, seperti kuliah, mengajar, kerja, dlsb sebagaimana biasa. Hingga telah dapatkan info dari Jamiah kpn keberangkatan, dg keluarnya visa."
9. Untuk biaya tiket pesawat ke Saudi, ditalangi dulu oleh penerima beasiswa, dan akan diganti oleh pihak jamiah di Saudi.
10. Untuk biaya akomodasi dan transportasi selama di Jakarta sebelum berangkat adalah dari kantong penerima beasiswa sendiri.
11. Prosedur yg kumaksud pada poin 5 di antaranya yaitu medical check up di Medical Center di bawah Gamca dg biaya Rp 1jt. Bila lulus medical check up san dinyatakan FIT, Anda berarti siap berangkat. Bagi yg UnFIT, berarti belum, artinya jalani pengobatan. Hingga sembuh. Bila UNFIT dan ditunda berangkatnya, uang cek medis bisa diambil kembali (ada chas back jg ya, kayak iklan supermarket..hehe) sebesar 50% (500rb) di Medical Centre.
12. Selain itu ada biaya enjaz, yg besarannya kisaran 1jt (untuk kepastian jumlah, nenunggu info dari poin ke2).
13. Soal pembelian tiket. (Kebetulan, saat pemberangkatan hamlah ula aku yg bantu pemesanan tiket). Sepengalananku, kami pesan ke Rahana Travel (bpk Susilo Condet), via Cak Mukhlison, alias Cak Soni. Di sana, kita booking tiket saja, pada tgl tertentu. Tapi, jangan buru2 tiket diissued sebelum ada kepastian paspor kita telah distampel visa oleh kedutaan Saudi. Sehingga tidak ada kata: tiket hangus.
14. Untuk harga tiket, sesuai dg harga pasar. Bisa berubah-ubah sesuai waktu dan maskapai pesawatnya. Sbgai jaga2, siapkan sekitar 10 jt untul tiket. Kalau ada persediaan dana, beli saja yg bagus, meski mahal, toh nanti akan diganti. Soal ini, bisa komunikasi dg kawan2 hamlah ula yg telah berangkat.
15. Program beasiswa ini serius, bukan main2. Jadi, tak perlu ragu2 dan kuatir tidak jd berangkat. Namun, tetap ingat ttg birokrasi Saudi yg tidak pasti. Toh, bukan rukun iman.
16. LPTNU itu sepengetahuan saya adalah lembaga di bawah NU. Jadi, seperti NU, lahan pengabdian. Kita punya kewajiban terhadapnya untuk ngabdi, setelah lulus pendidikan. Dan, NU tak sewajarnya kita minta pertanggung jawaban apapun atas keluhan kita. Cukup berkeluh pd Allah. Hehehe
17. Ini bukan info resmi dari pihak mana pun. Hanya inisiatif aku sendiri. Smg bermanfaat.
18. Info ini boleh dipercaya, boleh juga tidak. Toh, bukan rukun iman.
19. Bila ada hal2 yg dirasa belum jelas, bisa tanya langsung (pada siapa ya?hehehe. Mungkin langsung ke Cak Fuad ). Dengan catatan, soalan penting dan relevan.hehe
20. Sekalian, mohon doa buatku agar diberikan kesembuhan. Jika pun memang belum diberikan kesempatan untuk ambil beasiswa S3 di Saudi, itu pun harus dianggap yang terbaik. Toh, yang terpenting sudah ada usaha dan doa. Selanjutnya, berserah diri saja pada Allah SWT.
21. Terima kasih khusus buat Cak Fuad dan ibu Najmiyah, atas kemurahan hatinya menjamu kami selama di Jakarta. Juga kepada kawan2 semua. Jazakumullahu khairan katsiira.

Wallahu a'lam. Maaf bila ada kata yang salah.

Cirebon, 24 Mei 2015 

Menunda

Pesan buat Ananda (3)

Anakku, sekalipun jangan pernah menunda tugas atau pekerjaanmu, bila telah tiba waktunya. Semenit kau tunda jadwal yang telah ditentukan, ia akan tertunda lebih lama lagi, dan akhirnya tugasmu akan menumpuk banyak.

Karena itu, sebuah pepatah bijak mengatakan, "jangan pernah menunda besok hari apa yang bisa dikerjakan hari ini."

Anakku, barangkali terbisik di hati dan pikirmu, "Ah, sebentar lagi. Sedikit lagi. Nanti saja, masih banyak kesempatan. Waktunya masih panjang." Maka, jangan pernah engkau hiraukan bisikan itu. Itulah bisikan setan, bisikan negatif dirimu. Jangan pernah percaya. Tapi, segeralah. Itu hanya nyanyian yang penuh tipu daya.

Memang, terkadang suatu ketika kita seakan punya banyak waktu, banyak kesempatan. Namun, sejatinya, tugas dan jadwal kita jauh lebih banyak dari waktu yang tersedia.

Pantaslah bila ahli hikmah dari Arab berkata, "Alwaqtu kassaifi illam taqtha'hu qatha'aka." Waktu layaknya sebilah pedang. Bila tak engkau patahkan, ia yang akan mematahkanmu.

Pepatah Inggris bilang, "waktu adalah uang." Artinya, kesempatan itu mahal harganya. Setiap waktu ada jadwal yang berbeda. Hari ini berbeda dengan esok hari. Bila kesempatan yang berharga tidak kita manfaatkan, ia kan sia-sia percuma. Setelah itu, sesal akhirnya. Dan meratap itu tiada guna, hanya menambah luka. Sebab, kesempatan yang sama tak terulang dua kali.

Anakku, engkau adalah orang yang disiplin, bila melakukan tepat waktu, sesuai yang terjadwal.

Saat engkau mendapatkan ide untuk menulis, segeralah menulis. Ambil pena dan kertas, lantas goreskan idemu dalam kata-kata. Atau nyalakan hape, komputer, laptop, arau ipadmu, lantas ketik huruf demi huruf, menaburkan ide dalam deretan kata. Segeralah menuliskannya, hingga satu tulisan rampung. Jangan kau jadikan PR, yang dikerjakan "nanti". Karena itu adalah tugas hari itu dan jam itu. Nanti ada tugas lain lagi, yang berbeda.

Ingatlah anakku, usia kita terbatas, gunakan waktu dengan sebaik-baiknya. Sekali menunda, tugasmu akan semakin banyak, dan itu akan membuatmu pusing. Lakukanlah sesuatu sedikit demi sedikit, yang terpenting rutin. Itu akan meringankan tugasmu. Bila setiap hari engkau baca buku, mempelajari bahan pelajaran sekolahmu, dan kerjakan tugas-tugas harian, jauh hari sebelum ujian, di malam ujian, engkau bisa lebih santai tinggal membaca ulang.

Anakku, orang yang suka menunda adalah orang yang terlambat. Orang yang lamban akan ditinggal oleh zaman. Saat zaman telah maju, ia yang suka menunda masih di zaman batu.

Anakku, cukuplah ayah yang rasakan penyesalan akibat menunda-nunda tugas. Tugas menumpuk, rasa lelah, letih, payah, tekanan jiwa, tidak tenang, gundah gulana. Itu akibat menunda, nanti-nanti saja.

Cirebon, 24 Mei 2015



Sekolahku Penjaraku

Menafsir sebuah teks 

Di sebuah dinding pagar di suatu daerah di Cirebon tertulis: "Sekolahku Penjaraku."

Multi tafsir, memang.

Kalau boleh menafsir, penjara diidentikkan sebagai sebuah tempat yang mengekang kebebasan dan penuh dengan penderitaan, tembok derita. Mengerikan sekali bukan?! Karena itu, di zaman kini, dimunculkan istilah pengganti yang lebih manusiawi, LP, Lembaga Pemasyarakatan. Di LP, seorang narapidana bebas mendapatkan pelatihan, bimbingan, kursus, termasuk mengontrol bisnis narkobanya..hehe

Oleh sang anak, sekolahnya disebutnya sebagai penjara. Tempat yang penuh derita dan ketidakbebasan.

Bisa pula, ini hanya sebuah ungkapan kewajaran seorang anak. Hanya kesan positif anak, dimana sekolah yang merupakan sebuah lembaga pendidikan. Di sana, aturan ditegakkan, agar seorang anak tidak berbuat semaunya, seenakudele, ikuti hawa nafsunya. Di sana, kita diberitahu mana yang boleh, mana yang tidak. Sehingga, ia tuliskan itu sebagai bentuk deklarasi, unkapan persetujuannya terhadap sekolahnya. Ya, memang sekolah semestinya begitu. Mungkin begitu maksudnya.

Atau bisa jadi, sebaliknya, karena sang anak merasa terkekang dan menderita. Dimana sebelumnya, di rumahnya dan di ruang luar sekolah, ia bebas berkreasi, tanpa batas, sebebasnya. Lantas, di sekolah ia merasa terzalimi. Karena kreatifitasnya dikebiri, sehingga ia pun menuliskan ungkapan protesnya di dinding milik warga, bukan di majalah dinding atau dinding facebook.hehe

Atau bisa pula, memang si anak yang 'nakal', tak mau diatur, 'brandal', dlsb, sehingga saat sekolah menerapkan kedisiplinan, ia melanggar aturan, lantas dihukum. Dan coretan dinding itu sebagai bentuk kekecewaannya.

Teks, sebagai sebuah objek bisa multi tafsir. Apalagi kita (aku saja lah) belum tahu, siapa yang nulis, kapan ditulis, bagaimana kondisi psikologis penulis saat itu, dan apa yang melatarbelakanginya. Selain itu, sebuah istilah yang musytarak, bermakna lebih dari satu, bisa menimbulkan ambiguitas. Melihat konteks merupakan salah satu yang bisa mendekati maksud asli dari penulis teks. Menelusuri makna sebuah kata atau istilah yang digunakan oleh penulis pada saat itu juga penting. Karena, suatu istilah, bisa berbeda makna antara zaman.

Kendati bagaimanapun, rasanya sulit bisa memastikan hakekat maksud penulis dengan tulisannya. Inilah mungkin letak urgensi hermeneutika sebagai sebuah tool untuk memahami teks. Pembaca hanya berupaya untuk mendekati maksud penulis. Bukan mengklaim diri sebagai penafsir yang paling tepat, sementara tafsiran lain salah.
Anda juga bebas menafsirkan teks ini. Bebas menilai apa naksud di baliknya. Apa pula sasaran yang hendak dituju.
wallahu a'lam.


Cirebon, 26/05/2015

Friday, May 15, 2015

Senja Terbelah di Bumi Sby, Novel


Telah Hadir
Sebuah Novel Roman


"Senja Terbelah di Bumi Surabaya"



Penulis : Eni Ratnawati
Terbit : April 2015
Tebal   : 400 halaman
Harga : Rp 55.000
ISBN : 978-602-1384-75-6

----------------------------------------
"Alur nove ini berjalan tak terduga, misterius dan seperti teror yang menyasar ke mana-mana. Mengkisahkan hampir seluruhnya drama sebuah kehidupan; rasa penasaran yang menggebu, mimpi, pengorbanan, persahabatan, kesetiaan, pengkhianatan, asmara dan cinta yang unik dan menarik..." (Aguk Irawan MN, Pengurus LESBUMI NU, dan penulis novel “Sang Penakluk Badai”, “Gus-Dur & Sinta” dan Haji Backpacker)

“Sebuah novel impresif. Sangat mencerdaskan pembaca. Ada pergolakan emosi, cinta, sosial dan keluarga. Bagaimana dengan metafora "senja yang terbelah", nikmati roman cinta dengan menjelma menjadi Bayu. Selamat menemukan hamparan makna dalam roman impresif ini." (Dr. Sutejo, M. Hum, Penulis dan dosen bahasa dan sastra STKIP PGRI Ponorogo)


“Di sela kesibukan mempersiapkan ujian disertasi, saya dapat kiriman novel dari seorang teman di Cirebon. Itung-itung hiburan dan selingan. Saya pun membaca "Senja Terbelah di Bumi Surabaya" karya novelis muda Eni Ratnawati. Membaca halaman pertama, saya langsung tertarik dengan alur ceritanya yang bolak-balik antara masa lalu dan masa kini, pergulatan mencari makna dari berbagai peristiwa yang dialami. Akhirnya saya pun menuntaskan bacaan saya sampai halaman terakhir. Novel ini menarik, tidak menggurui, sarat pelajaran, wajib dibaca oleh siapa saja yang mencintai bacaan segar di sela berbagai peristiwa politik yang membosankan.” (Jajang Jahroni, Ph. D, Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan alumni Boston University Amerika)


Sinopsis 

"Dear Bayu,
Apa kabar Surabaya? Ah, betapa rindunya. Sekuat rinduku padamu, Bayu. Sedikit terik seharusnya tidak membuatmu lupa akan tujuanmu. Sudahkan kau menemukannya? Ah, tentu saja tidak. Jika sebuah usaha dengan cepat menemukan hasilnya, tentu tidak ada orang yang gagal dan putus asa. Gagalkah dirimu? Atau putus asa?

LARI! LARI, Bayu.. sebelum waktumu habis. Sebelum lilin mencair membekukan mawar putih…"


Bermula dari surat misterius yang diterimanya, Bayu, direktur muda sang penerus kerajaan bisnis Dirgantara, memantapkan hati mencari sebuah keluarga lain Papanya di rimba Surabaya. Semua dipertaruhkan. Kasih Mama dan saudarinya, jabatan, perusahaan, bahkan satu-satunya nyawa.Tidak ada yang lebih mengerikan dari terbongkarnya skandal masa lalu, yangtelah menyakiti Mamanya terlalu dalam dan menyisakan kebencian pada Nouri, adiknya. Namun kenyataan menamparnya, memaksanya memilih di antara dua pilihan yang sama perih. Ancaman skandal itulah yang selalu didengungkan oleh siapapun yang mengirimkan surat-surat itu. Seolah menagih janji, atas sumpah yang telah diucapkannya di atas jasad Dirgantara, Papanya.

Tetapi benarkah kekhawatiran Lady Dirgantara, Mamanya, murni atas ketakutannya sendiri akan keselamatan Bayu? Dalam jejak penelusurannya, Bayu menemukan fakta mencengangkan perihal Mamanya dan siapapun wanita yang sedang dikejarnya. Itu sebuah pukulan berat. Rahasia di balik rahasia. Dan Bayu semakin kukuh menyibaknya. Tetapi tahukah Bayu, semakin jauh ia melangkah, semakin dekat ia dengan kenyataan kelam yang siaga dengan taring-taringnya.

Senja Terbelah di Bumi Surabaya tidak hanya hadir dalam sebuah teka-teki, tetapi juga tentang persahabatan, kesetiaan, pengkhianatan, menyuguhkan pemandangan menarik tentang makna cinta, dan cara mencinta dengan cara berbeda. 

Cirebon, 19/03/2015



Untuk Pemesanan:

- Pin BB : 53DF7341

- hp +62 896 83371543

- fb Masyhari atau Ratna Al-Kayyisah

Monday, April 20, 2015

Waspada Preman Pulo Gadung

Hari itu (16/04/2015), saya ke Jakarta karena ada satu keperluan. Karena tidak direncanakan jauh-jauh hari, saya tidak naik kereta, tapi memilih naik bus. Lagi pula, lokasi tempat tinggal saya di Cirebon agak jauh dengan Stasiun KAI, lebih jauh daripada lokasi mangkalnya bus. Saya lebih memilih turun di terminal Pulo Gadung, bukan di Kampung Rambutan, karena tujuan keperluan saya di dekat terminal Kampung Melayu. Dari Pulo Gadung ke Kamp. Melayu bisa ditempuh dengan naik satu angkot saja, mikrlet 02 atau 27 berwarna biru telur bebek. 

Selesai urusan, saya langsung balik ke Cirebon melalui terminal Pulo Gadung lagi. Rencananya, saya mau naik bus AC, Sa**bat, berbekal pengalaman beberapa waktu yang lalu, dimana saya pernah naik bus AC ini dari Cirebon dengan tarif yang sama dengan bus yang non-AC. Sesampai di Pulo Gadung, saya ditanya oleh seorang Calo, hendak kemana. Saya jawab mau ke Cirebon, dengan bus AC. Mendengar ucapan saya, seorang pemuda berusia sekitar 25an langsung bilang, "Ikut saya."
Olehnya, saya diminta ikut. Saya pun mengikutinya berjalan agak jauh. Ternyata, dia membawa saya ke loket. Di sana berjajar banyak loket. Saya diarahkan ke sebuah lokat. Katanya itu loket bus Sa**bat. Penjaga loket tersebut cewek muda. Tak lama, setelah saya bertransaksi, tawar-menawar tiket, tiba-tiba nongol seorang pria sangar berbadan besar. Wah preman ini, pikir saya. Dia mengancamku karena gak jadi beli tiket. Masak, ke Cirebon dikasih harga Rp 150rb. 
Meskipun diancam, saya tetep gak mau. Lantas dia bilang, "Ayo cepat bayar. Kasih saja 150."
Tapi, saya masih tidak mau. 
"Udah, kalau gitu, 115 saja!" Ucapnya.

Aku tetep keukeuh, gak mau.
Dia pun bilang, "Kamu ini pinter tapi gak ngerti. Pantas negeri ini hancur berantakan, gara2 orang2 kayak kau ini." Preman ini pandai bersilat lidah juga. Tapi ngibul. Penjahat tidak ngrasa bersalah, ternyata. Malah, dia nyalahin.

Si cewek penjaga loket bilang, kalo bus AC emang segitu. Aku bilang gak jadi beli. Si preman nyolot, "ganti rugi tiket yg udah dinamain."
"Tuh, liat, tiket belum dikasih nama." balasku.
Aku tetep gak mau. Aku bilang, aku ganti rugi saja buat yg anter.
Kata preman gedenya, "Kamu aku ganti rugi 50rb mau?!" Ancam dia. Maksudnya mau gebukin, kayaknya. Orang2 yg lihat pada diam, kagak berani jg. Alhamdulillah, setelah berkelit, dia akhirnya bilang,
"Udah, kalo gitu, kasih 20rb buat yang anter tadi."
Sementara, si calo kecil yang anter tadi msh nunggu agak jauh. Aku kasih dia 10rb.
Langsung aku ngacir cari Setia Negara/ Loragung. Alhamdulillah, ketemu.
Eh, pas di dlm bis, ada dua penumpang, bapak2 dan anaknya. Katanya dia juga kena palak di loket. Krn gak mau beli dan ngomong keras, dia ditodong pisau. Akhirnya, ada calo 'baikan' yg tarik mereka. Mereka ketemu sama supir baikan, cm kena 40rbuan.
Eh, ada yg datang lagi. Satu penumpang cewek usia 20an kena 150rb. Gak bisa nolak. Padahal, katanya itu duit terakhirnya. Dia telp kluarganya di rumah sambil nangis...
Sopir bilang, kalo Preman Calo di Pulo Gadung masih hidup. Polisi diam, karena mereka dikasih upeti sama preman loket.
Para preman blm bisa ditumpas, krn alasannya, penumpang yg kena jebakan loket maut itu dikasih tiket bus AC ke Jateng.
Kalau mau aman, langsung ke bus Loragung/Setia Negara. Calo gak berani, kalu sudah masuk bus. Masuk loket, masuk jebakan maut. Begitu kira2 pesan supir baik hati.
Maklum, baru pertama singgah diterminal "maut" ini. Dulu paling ke Lbk Bulus.
Memang, dulu pas awal-awal di Jkt sekitar th 2004an kawan senior Widionos Sukri sang pujangga yang pernah mangkal di pulo gadung sering cerita ttg kebengisan preman Pulogadung. Kupikir sudah hilang. Ternyata cuma di'tertib'kan....hehe

Thursday, April 2, 2015

Asal Muasal Nama Ragunan

Siang ini (31/03/2015), cuaca Cirebon cukup panas. Sengatan mentari di ujung Maret ini sepertinya sudah terasa hingga ke ubun-ubun saja. Membaca berita politik negeri yang sedang “panas-dingin” di saat-saat seperti ini tentu saja bukan pilihan yang baik. Ada baiknya mata berselancar, jalan-jalan menikmati berita traveling. Semoga akan sedikit menghijaukan dan menyegarkan suasana. Tepat, ketika membuka Kompas online, mata saya langsung tertuju pada sebuah tulisan dengan judul “Sejarah Panjang Kebun Binatang Ragunan”.
Setelah merampungkan bacaan, saya pun langsung men-sharenya di facebook.
Laporan yang ditulis oleh Denty Piawai Nastitie ini mengulas cukup banyak hal yang baru bagi saya, khususnya terkait dengan asal mula kebun binatang itu. Denty menulis bahwa Kebun Binatang ini pertama kali didirikan pada 19 September 1864 oleh seorang pelukis ternama Raden Saleh di Cikini Raya Nomor 73 Menteng Jakarta Pusat di atas lahan seluas 10 hektar miliknya. Ide pendirian itu diperoleh Raden Saleh sewaktu menempuh pendidikan di London, Inggris. Kebun binatang ini menjadi lahan penelitian, sekaligus inspirasi baginya dalam melukis.
Seiring perkembangan kota Jakarta, Cikini tak cocok lagi menjadi kebun binatang. Karena itu disiapkan lahan seluas 30 hektar di Ragunan, Jakarta Selatan. Pada tahun 1964, Pemda DKI Jakarta memindahkan koleksi Kebun Binatang Cikini ke Ragunan. Pada 22 Desember 1966 Kebun Binatang Ragunan diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta Ali adikin dengan nama Taman Margasatwa Ragunan (TMR). Saat ini, TMR berada di atas lahan seluas 174 hektar dengan beragam jenis hewan ada di dalam kandang yang dikelompokkan sesuai jenis dan habitatnya. Demikian tulis Denty.
TMR merupakan wahana rekreasi alernatif khususnya bagi warga DKI Jakarta. Pada akhir pekan, Kebun Binatang ini dipadati pengunjung. Selain karena tiketnya yang murah dan terjangkau bahkan oleh kalangan ekonomi bawah, juga karena suasanya yang asri dan nyaman, sebab dipenuhi oleh rindang pepohonan.
Di Balik Nama Ragunan
Tahukah Anda, apa asal-usul di balik nama Ragunan? Tulisan Denty di atas memang hanya fokus mengulas tentang TMR itu sendiri, sehingga soal ini tampaknya sengaja tidak dibahasnya.
Seorang ahli sejarah dan budaya Betawi, Alwi Sahab mengungkapkan, banyak warga Jakarta yang tidak mengetahui apa di balik nama Ragunan. Bahkan, ketika dilakukan penelusuran di sekitar wilayah kelurahan Ragunan, tidak jarang ditemukan warga Ragunan yang tidak mengetahui rahasia di balik nama Ragunan. Saat ini, Kelurahan Ragunan berada di wilayah Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan.
Saya sendiri pernah menulis ulasan singkat soal ini di Kompasiana. Namun di sini saya akan mencoba menuliskannya lebih panjang. Terlebih, setelah beberapa bulan yang lalu saya sempat melakukan penelusuran lapangan.
Ragunan berasal dari kata Wiraguna. Wiraguna adalah nama lain dari seorang asli Belanda bernama Hendrik Lucaasz Cardeel (1689). Ia mendapat gelar kehormatan dari Sultan Haji, nama lain dari Sultan Banten, Abu Nasar Abdul Qahar, putra Sultan Ageng Tirtayasa, sehingga ia disebut Pangeran Wiraguna. Cardel mendapat gelar pangeran karena menjadi tuan tanah pertama di kawasan tersebut. Wiraguna masuk Islam, dan kemudian kembali lagi ke agama nenek moyangnya, yaitu Kristen. Demikian menurut sejumlah literatur.
Keberadaan seorang tokoh di dalam sejarah non-fiksi akan terbuktikan kebenarannya bila telah diketahui makamnya. Alwi Shahab, di dalam sebuah bukunya tentang sejarah Jakarta, mengaku belum mengetahui jejak makamnya. Bahkan kata dia mayoritas warga Ragunan juga tidak banyak mengetahui sejarah Ragunan apalagi makamnya. Kisah tentang Ragunan seakan menjadi mitos belaka. Nama Wiraguna seakan hanya kisah fiktif belaka. Benarkah nama Ragunan hanya sebuah mitos belaka?
Tidak jauh dari Taman Margasatwa Ragunan, sekitar 3-5 km ke arah utara, terdapat sebuah gang bernama Wiraguna. Gang kecil tersebut berada di seberang kampus LIPIA. Sekarang berada tepat di samping selatan Pejaten Village (Lippo-Group). Sehingga, nama Wiraguna sangatlah populer di kalangan mahasiswa LIPIA. Tidak jarang mahasiswa kampus Arab ini semenjak gedungnya dipindah ke jalan Buncit Raya, banyak mahasiswanya yang ngekos di gang ini. Kendatipun demikian, tidak banyak mahasiswa LIPIA yang mengetahui keberadaan makam pangeran Wiraguna. Bahkan, saya sendiri, yang pernah kuliah di kampus tersebut, selama tujuh tahun tidak pernah mengetahui dan mengunjungi makamnya. Jejak kebenaran kisah tersebut bukan sekedar mitos sudah mulai terbuka titik terangnya.
Lebih lanjut, menurut informasi di sebuah blog (jakasura.wordpress.com), makam Pangeran Wiraguna terletak di perempatan Republika Pejaten Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Tepatnya di belakang apartemen samping kampus LIPIA ke arah kelurahan Pekayon-Kemang via Perempatan Republika. Sebagai bukti nyata, blog ini menampilkan sejumlah gambar foto yang dijepret oleh pemiliknya.
Kendati banyak literatur yang membahas nama Pangeran Wiraguna ini merupakan nama tuan tanah Belanda, warga sekitar Ragunan lebih mengenal sosok Pangeran Wiraguna ini merupakan prajurit kerajaan Mataram. Menurut warga RT 05/03 Kampung Pekayon, Kelurahan Ragunan, Pasar Minggu, Jaksel, Rokip (56), Pangeran Wiragunan merupakan prajurit keraton Mataram yang dengan gigih berjuang melawan Belanda di Batavia. Demikian laporan koran Sindonews.
Anak mantan juru kunci makam Pangerang Wiraguna ini menuturkan, berdasarkan cerita yang didapat dari ayahnya, Wiraguna itu berasal dari kata Wiro dan Guno. “Wiro itu artinya pasukan dan Guno keraton. Jadi bisa diartikan Wiroguno itu pasukan keraton,” terangnya kepada Sindonews di rumahnya.
Berkunjung Ke Makam Pangeran Wiraguna
Sekitar dua bulan yang lalu, ketika ke Jakarta untuk mengikuti sebuah acara, saya berkesempatan untuk membuktikan kebenaran informasi tersebut.
Pagi itu (7/02/2015), saya mengambil motor yang sudah beberapa hari dititipkan di parkiran Stasiun Pasar Senen. Setelah melewati jalan raya Kuningan, saya belokkan motor ke arah kanan, menuju Polda Metro Jaya, untuk membayar pajak motor. Dari sana saya pulang ke tempat persinggahan saya di Masjid Al-Furqon, Jatipadang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan melewati Kebayoran Baru-Masjid Agung Al-Azhar-Blok M-Cilandak-Pekayon-Jatipadang. Masjid tempat singgah saya tersebut bersebelahan dengan gang Wiraguna.
Siang itu, cuaca di bilangan Jakarta Selatan cukup panas, lebih tepatnya cerah. Ketika motor yang saya kendarai melintas di depan jalan Pekayon menuju perempatan Republika-Pejaten Village, saya teringat di dekat situ terdapat makam Pangeran Wiraguna. “Ini kesempatan untuk menelusuri jejak makam tersebut.”
Ternyata benar, tepat di depan saya, di kiri atas jalan raya terdapat sebuah papan penunjuk jalan berwarna coklat tertulis “Makam Pangeran Wiraguna” dengan anak panah mengarah ke selatan. Motor saya pelankan saat berbelok turun ke arah timur, perempatan Republika. Kondisi jalan yang berbelok tajam lagi menanjak bisa jadi membuat sebagian orang enggan untuk berhenti di sana, apalagi sekedar mampir mengunjungi sebuah makam seseorang yang belum dikenal. Apalagi bila lokasi makam tersebut tidak begitu ramai dan kelihatan dari jalan raya.

Di lereng belokan tersebut saya berhentikan motor, tepat di depan seorang penjual tanaman taman.
“Assalamu’alaikum."
“Wa’alaikumussalam."
"Permisi pak, mau tanya. Bapak tahu di mana letak makam Pangeran Wiraguna?” tanya saya kepada pria paruh baya berpeci hitam.
"Oh, di situ Mas. Di belakang bengkel tambal ban, ada sebuah gang kecil.” Jawab pria tersebut, sambil menunjuk ke arah selatan, seberang jalan.
Mendengar jawaban tersebut saya langsung menyalakan motor dan berputar balik, sedikit. Namun, di dalam hati masih bertanya-tanya, “masak sih di belakang tukang tambal ban itu?” Pasalnya, gang tersebut memang kecil, hanya muat satu motor. Letaknya yang berada di balik bengkel kecil juga membuat kebanyakan orang tidak mengira bahwa di sana ada sebuah gang. Kembali aku bertanya kepada seorang pria penjual tanaman di dekat bengkel tersebut.
“Oh, itu Mas. Itu di ujung gang. Masuknya dari bengkel tambal ban itu.” Aku mendapatkan jawaban yang sama.
Gang tersebut bersebrangan dengan AIS (Australia International School) sebuah sekolah milik Australia. Tampak, di depan gerbang besar yang terbuka itu, seorang satpam berseragam biru dongker kehitaman. Gerbang tersebut sangat kontras dengan pintu masuk ke arah makam Sang Pangeran. Jangankan sebuah gapura megah, bahkan sebuah nama petunjuk makam pun tak menghiasi mulut gang menuju makam. Tiadak ada tanda-tanda bahwa di ujung gang terdapat makam seorang pangeran. Dan, pengunjung makam cukup puas disambut oleh tukang tambal ban.
Siang itu terasa menyengat. Jarum jam di ponsel menunjuk angka 11. Segera saya menuju bengkel kecil itu. Ada dua pria tukang tambal ban yang menjaga bengkel itu.
“Bang, di ujung gang ada makam Pangeran Wiraguna, ya?” saya kembali bertanya memastikan. Sebab, gang tersebut memang kecil dan sangat sepi.
“Bisa saya naiki motor?”
“Oh, bisa.”
Pelan. Motor saya nyalakan, memasuki gang dari tengah bengkel kecil itu. Di kiri gang, terdapat tembok yang cukup tinggi, sekitar tiga meter. Sementara di samping kanan gang terdapat satu dua rumah kecil. “Barangkali milik tukang tambal ban dan penjual tanaman tadi.” Gumamku.
Tepat di ujung gang, terdapat sebuah gubuk kecil. Di belakang gubuk itu ternyata terdapat pekuburan. Gang kecil itu mengarahkan kita berbelok ke kiri. Dan, ternyata tepat hadapan kita terdapat beberapa kuburan yang cukup banyak. Kebetulan, ada seorang pria pejalan kaki yang sedang lewat.
“Pak, yang mana makam Pangeran Wiraguna?”
“Itu, yang ada di dalam rumah.” Tampak sebuah rumah kecil berukuran sekitar 4×6 di atas sebuah bukit kecil. Saya pun menapaki jalan menanjak beralaskan paving itu menuju ke sana. Jalan berukuran sekitar satu meter menuju ke rumah tersebut beralas paving. Di kanan kirinya dihiasi pohon-pohon kecil berdaun hijau merah, setinggi sekitar tiga meter. Entah apa namanya.
Langkah saya terhenti tepat di depan pagar setinggi pusar saya. Pagar besi itu kusi karatan dan sudah rusak engselnya. Rumah kecil itu tampak sepi. Saya pun memasuki pagar yang tidak terkunci itu. Ternyata, rumah itu berpintu dan pintunya terkunci rapat.
Saya membalikkan badan. Tepat lurus arah mata memandang ke timur, sebuah dinding besar tinggi menjulang. Tampaknya itu punggung gedung Apartemen Pejaten yang tepat berada di samping utara Kampus biru LIPIA.
“Wah, gagal dong, ziarahnya!” Gumamku dalam hati. Aku pun berbalik arah menuju ke sebuah rumah yang tepat berada di ujung gang tadi.
“Assalamu’alaikum.” Sapa saya kepada seorang pria berusia sekitar 40 tahunan yang sedang santai di depan rumah itu.
“Wa’alaikumus salam.”
“Maaf Bang. Abang tahu juru kunci makam Pangeran Wiraguna? Saya mau berziarah.”
“Oh, sebentar ya, Mas.”
Pria itu pun masuk ke dalam rumah. Tak lama, sebuah kunci pun diberikannya pada saya. Ternyata pria tersebutlah juru kuncinya.
“Terima kasih, Bang.”
“Ya, sama-sama.”
“Alhamdulillah, ternyata kesampaian juga.” Ucap saya di dalam hati.
Akhirnya, saya pun bergegas balik arah menuju makam tersebut. Tak lama, saya sudah berada di depan pintu rumah tersebut dan bersiap membukanya. Tak sabar rasanya.
Dan, meskipun sebagaimana disebutkan oleh Alwi Sahab bahwa Pangeran Wiraguna kembali masuk ke agama nenek moyangnya, Kristen alias murtad. Ternyata, makam yang ada di hadapan saya tidak menunjukkan sebuah pemakaman ala Kristen. Sama sekali tidak ada tanda palang, salib. Makam tersebut lebih menunjukkan sebagai makam Islam. Terlebih, di sekeliling makam tersebut terdapat pekuburan warga muslim. Di atas pintu makam tersebut terdapat sebuah papan berisi tulisan tentang tujuan ziarah kubur. Di bagian atasnya terdapat ayat Al-Qur’an surah Yunus : 107 berikut terjemahannya, yang intinya peringatan agar tidak menyembah kepada selain Allah.
Saya pun berhasil membuka pintu tersebut. Lantai rumah makam tersebut berlantai keramik putih. Bagi peziarah terdapat gelaran hambal berwarna hijau tua yang terhampar di depan pintu. Sementara kuburan tepat berada di tengah bangunan itu. Kuburan Sang Pangeran berada di bawah sebuah ranjang berkelambu putih. Kuburan dan ranjang tersebut dipagari besi. Di pagar bercat hijau tersebut terdapat tulisan Arab “Allah” dan “Muhammad”.
Sementara itu, tepat di samping pagar, terdapat beberapa buku Yasin dan Tahlil yang tertumpuk di atas sebuah meja lekar kecil. Namun, tepat di atas tumpukan buku tersebut terdapat sebuah papan berwarna putih bertuliskan:
“PERINGATAN. Banyak orang tersesat karena mereka mengharapkan berkah dari makam, seperti berkahnya: Maunah-Karomah-Ilmu-Harta- Seseorang. Maka, jadilah ziarah ke makam untuk Mengingat Mati. Insya Allah selamat dunia dan akhirat. Aminn..”
Di atas papan peringatan tersebut terdapat kotak bergembok. Mungkin semacam kotak infak untuk perawatan makam.
Melihat pemandangan tersebut, saya bertanya-tanya di dalam hati. Benarkah pangeran Wiraguna kembali ke agama nenek moyangnya? Bila benar, mengapa ia dikuburkan bukan selayaknya orang Kristen, dan diperlakukan selayaknya orang Islam? Adakah ia kembali masuk Islam di akhir hayatnya? Ataukah memang ia telah murtad, namun orang-orang kala itu tidak mengetahuinya? Teka-teki yang belum terjawab. Barangkali ada pakar sejarah yang mengetahui informasi ini. Aku sendiri belum tahu. Bahkan, sekelas Alwi Sahab saja mengaku belum tahu keberadaan makam ini
Setelah mengunci pintu, aku pun segera balik.
“Terima kasih, Bang. Ini kuncinya.” Ucapku kepada juru kunci, seraya memberikan sedikit tip untuknya.
“Sama-sama. Sudah ya? kok Cuma sebentar!”
“Iya, Bang. Sekedar pengen tahu saja. Sudah mau adzan Zhuhur.”
Saya pun segera menaiki motor, menuju tempat persinggahanku.
Di sana, saya tidak lama. Sebab, beberapa waktu lagi waktu Zhuhur akan segera tiba. Meskipun kunjungan ini menyisakan teka-teki, saya bersyukur. Semoga suatu saat akan mendapatkan jawabannya.
Semoga bermanfaat. Dan selamat berkunjung, menelusuri jejak sejarah pendahulu kita.
Cirebon, 31/03/2015
Tulisan ini pernah dimuat di:
http://jakarta.kompasiana.com/potensi-wisata/2015/03/31/asal-muasal-nama-ragunan-734449.html

Friday, March 27, 2015

Dakwah Perdamaian


Semua menawarkan dagangan ideologinya dengan bayaran kekejaman dan ancaman bagi yang tidak merelakan diri untuk mengkonsumsinya.

Paksaan dan budaya kekerasan sedang beraksi dengan riuh gempita oleh tangan-tangan orang yang mengaku sebagai wakil Tuhan. Menegakkan kebenaran yang mereka usung. Menyerang mereka yang yang dianggap sesat-menyesatkan. Kekerasan bertopeng perjuangan sedang berpesta.

Ketentraman, kemanusiaan dan kesejahteraan yang merupakan impian hidup sudah dikhawatirkan ancaman kepunahannya. Rasa menghormati dan menghargai serta toleransi terhadap pandangan orang lain sudah tak lagi diperhatikan oleh penceramah.

Apakah keberanian dalam berjuang harus diwujudkan dengan menyakiti perasakan orang lain? Bukankah keberagaman suatu keniscayaan?

Nabi pun tidak menteror manusia yang tak mau diajak mengikuti ajarannya. Karena sesungguhnya kewajiban dai hanya mengajak kepada kebenaran, bukan menjamin mereka untuk mendapat hidayah walau harus dengan paksaan. Sebab, hidayah adalah otoritas Tuhan. Bukan bagian dari hak manusia.

Pendapat yang kita klaim benar, belum tentu orang lain menerimanya sebagai kebenaran. So, harus disampaikan dengan kedamaian dan penuh kesopanan, serta kesalihan.

Jangan lupa, doa adalah suatu yang wajib. Sebab doa adalah senjata pamungkas kita, dan hidayah adalah milik Allah semata.

Sehingga, kepercayaan tidak bisa disampaikan dengan pemaksaan-pemaksaan. Mengungkapkan kebaikan dengan baik dan damai. Memberi contoh dari kebenaran yang diusung dengan penuh kebijaksanaan.

Sudah bukan saatnya teror dan kekerasan dipakai senjata. Karena lidah masih kita punya.

 Islam adalah penyeru ketentraman. Sekian.

Ciputat, 06 Agustus 2005

Thursday, March 26, 2015

Budaya Diskusi (catatan lama)

Budaya diskusi perlu untuk dilestarikan dan diberdayakan oleh insan di kolong langit ini, terlebih lagi insan akademis yang setiap hari bergelut dalam dunia intelektual atau mondar-mandir di kampus, berkelana.

Diskusi, menurut hematku, sangat bermanfaat, di antaranya; tidak membiarkan otak beku. Jadi, diskusi adalah mensyukuri nikmat Allah swt berupa otak, pikiran, lisan dan lain-lainnya. Dengan diskusi kita melatih berpikir dan sekaligus mengutarakan gagasan secara sistematis dan teratur, serta melatih kita untuk mempertahankan pendapat yang kita anggap benar dengan menggunakan hujjah, argumentasi atau dalil yang logis, ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan. Kendatipun, kadang seringkali terjadi perdebatan yang kelihatan tak teratur dan cenderung menghantam lawan diskusi. Sebagai sebuah proses belajar, hal semacam ini wajar-wajar saja. Asalkan tidak berlanjut pada bentrok fisik atau membawa perseteruan hingga di luar forum diskusi. Untuk diskusi yang berakhir permusuhan, sungguh bukan hal yang etis dan tidak patut ditiru.

Diskusi, dalam bahasa Islam, biasa disebut tukar pendapat, share, munaqashah atau musyawarah. Hanya saja, tujuan diskusi lebih mengutamakan kelapangan dada, legawa menerima masing-masing pendapat yang dishare, meskipun tidak setuju. Diskusi terkadang tidak menghasilkan kesimpulan dari hal yang didiskusikan. Sementara musyawarah (rapat), biasanya untuk menyelesaikan suatu problem, atau dengan kata lain, untuk mencari solusi yang tepat. Namun, intinya keduanya hampir sama.

Dalam diskusi, budaya yang dikedepankan adalah sikap menghormati dan menghargai pendapat orang lain, meskipun berlawanan dengan pendapat kita, ataupun kita anggap salah. Sebab, tak menutup kemungkinan, pendapat yang berlawanan dengan kita malah yang benar.

Ingat kawan, kita hanya manusia biasa.Benar kata Imam Syafi’i, “pendapat saya benar, tapi mengandung kemungkinan salah, dan pendapat orang lain salah, tapi mengandung kemungkinan benar.”

Jadi, hendaknya dalam wilayah diskusi yang menuntut keterbukaan itu bisa dibudayakan sikap legawa dan lapang dada, serta menghindari rasa ingin menang sendiri. Diskusi bukanlah tempat untuk mencari kemenangan dengan memaksakan kehendak. Akan tetapi, bagaimana –selain mendapat kebenaran- belajar bertukar ide dan mau menerima dengan lapang dada pendapat yang berbeda.

Beda itu biasa. Keragaman adalah niscaya. Sebab diskusi adalah ladang toleransi, bukan meja hijau untuk menghakimi ataupun untuk mengklaim yang paling benar sendiri.

Sebab, yang paling benar adalah Allah swt. Kebenaran mutlah hanya milik-Nya. sedangkan kebenaran pendapat manusia adalah nisbi (relatif). Wallahu a’lam.

Ciputat, malam Jumat, 05 Mei 2005
    


Ulasan Hasil Tantangan Menulis Bareng SLI di Hari Guru Nasional

Hasil Tantangan #NulisBarengSLI #HariGuruNasional2020 #SahabatLiterasiIAICirebon Beberapa hari yang lalu (23/11/2020) aku atas nama pribad...