Wednesday, August 2, 2017

Dahulukan Shalat Isya atau Makan Malam?

Dahulukan Shalat Isya atau Makan Malam?

Postingan ini merupakan penjelasan sederhana Masyhari terkait postingan sebelumya tentang teks berbahasa Arab berikut:

"إذا حضر العشاء والعشاء فقدم العشاء على العشاء" الحديث أو كما قال رسول الله صلى الله عليه وسلم

Ini bacanya:
Idza hadharal isya' wal 'asya fa qaddimil 'asya' 'alal 'isya'.
Artinya -wallahu a'lam bimuradih-, "Bila telah tiba isya, sementara hidangan makan malam telah siap, dahulukanlah makan malam daripada shalat isya'."
.
Hadits tersebut termasuk di antara hadis yang mengkhususkan (mentakhshish) hadis Nabi saw yang menyatakan bahwa "sebaik-baik amalan adalah shalat di awal waktu". Bahwa khusus isya, sunnahnya diakhirkan sedikit, sebagaimana dijelaskan di dalam hadis lainnya. Lebih-lebih bila ada satu kegiatan yang sedang dilakukan belum usai atau telah siap satu kegiatan semisal makan malam, dimana bila ditunda akan membuyarkan kekhusyukan shalat, maka sebaiknya shalat ditunda dan lebih diutamakan mendahulukannya daripada shalat isya'.

Ini sejalan dengan kelakar dengan nada bercanda "lebih baik makan mikir shalat, daripada shalat mikirin makan." Adagium ini bukan hanya becanda, tapi memang demikianlah semestinya. Saat shalat, sementara perut lapar, dan konsentrasi terganggu oleh pikiran makan, dalam hukum fikih jadi makruh. Sebaliknya, orang makan agar kuat shalat, ini merupakan ibadah yang baik dan dianjurkan (sunnah/ mustahab).

Hal ini karena selain Nabi saw juga suka mengakhirkan pelaksanaan shalat Isya. Selain itu, beliau juga tidak suka berbincang yang tak berhikmah dilakukan setelah isya.

Nah, kalau kegiatan makan malam saja lebih didahulukan daripada shalat isya', apalagi kajian ilmu pengetahuan keagamaan yang belum rampung dan belum berujung pembahasannya, tentu lebih utama untuk didahulukan untuk dilakukan (daripada shalat isya. Sehingga dilakukan setelah kajian). Maka tidak aneh bila di sebagian pesantren ada yang melaksanakan shalat berjamaah Isya' sekitar pukul 8 atau 8.30 malam, setelah pengajian malam.

Namun, meskipun demikian, perlu dicatat, setelah makan atau kajian sebaiknya segera dilaksanankan shalat isya berjamaah, bukan malah ditunda dan ditinggal tidur, sehingga -na'udzubillah- terlewat. Wallahu 'alam.

Cirebon, 02 Agustus 2017_22.00 Wib

Tuesday, August 1, 2017

Mengatasi Sampah di Cirebon, Priben?

Kalau sampah dianggap sebagai problem yang sangat seriuuus, tentunya ia termasuk perioritas dlm perhatian toh.

Lantas, apa kira-kira program dan langkah kongkrit yang akan dilakukan oleh para kandidat bakan calon pemimpin Cirebon?

Sebenarnya, contoh kongkrit sudah banyak dilakukan dan pernah diulas dalam berbagai kesempatan. Misalnya, sampah plastik bisa diolah jadi batako, bisa pula jadi bahan campuran aspal jalan. Bekas botol dsb bisa jadi bahan baku industri kreatif rumahan (home industri), dan bisa pula didaur ulang. Kalau sampah organik bisa dipakai kompos. Yang sudah dilakukan oleh pemkot Surabaya misalnya membikin pembangkit listrik dari TPA. Ini bisa jadi dicontek.

Kalau kota Cirebon, baru bikin wisata kejorokan dan "bebauan" dari sampah? Betapa tidak, tempat transit sampah malah ditempatkam di titik-titik keramaian dan vital. Kita saksikan satu titik di jl. Wahidin, satu titik di jl. Kesambi (depan LP/ Superindo), satu titik di depan PDAM. Lantas, ada pula titik transit sampah tak resmi di Kanggraksan.

Kalau ada kemauan serius, eksekutif dan legislatif bisa berkolaborasi dg apik. Kalau anggaran sudah cukup, eksekutif tinggal bikin program kongkrit yg solutif, misalnya: Dimulai dari level RT-RW-Kelurahan/desa-kecamatan- pihak pemda lakukan edukasi secara langsung via DKP dan dinas lainnya kepada masyarakat bgaimna "mengelola sampah yg cerdas dan berbasis ekonomi kreatif", dan jangan lupa, masyarakat pun diberi suntikan dana untuk modal eksekusi program di lapangan, di semua kecmatan, di semua desa/kelurahan, di semua RT dan RW. Jangan lupa lakukan pendampingan dan pengawasan secara berkala. Bisa-bisa, Kota dan Kabupaten Cirebon jadi TELADAN.

Nah, ini sebaliknya. Kalau program dijalankan hanya untuk menghabiskan APBD. Yang penting, asal ada program, jadinya. Trotoar lama dibongkar, ganti yang baru, asal-asalan. Jalan-jalan protokol ditanami bunga dan pohon, tapi lupa menyiram dan merawatnya. Kasihan. Tapi, poster calon walikota kok banyak tertempel di pohon ya, pakai paku lagi. Merusak pemandangan, dan tidak ramah pohon.

Kalau kabupaten, Sungai Kedung Pane tuh udah jadi tempat "alternatif" bagi warga "jahil (baca: goblok)" untuk buang sampah. Saya pernah memergoki warga membuang sekarung sampah ke sungah di bawah Jembatan Kemlaka saat melintas. Karena terburu2, saya hanya meneriakinya. Dan dia langsung ngeloyor pergi.

Kalau soal pertamanan, bikin nangis. Aduh, susahnya nyari taman bermain (ramah) anak di Cirebon. Adanya pun hanya di jantung kota Sumber. Di kota, ada taman Krucuk, tapi tak ada warga yang mau menjamahnya. Coba kita berkaca, kita lihat di DKI Jakarta, taman bermain ramah anak dan warga ada di hampir setiap RW.

Kita sebagai pengelola lembaga pendidikan kanak-kanak dan keluarga, masih sulit nyari wisata alternatif semacam taman bermain dan wisata edukatif di Cirebon. Akhirnya, ya ke daerah sebelah, Kuningan. Kalau kuliner dan sandang sih, jangan ditanya, Cirebon emang jagonya, sampai sukses bikin macet juga. Karena badan jalan pun dipakai lahan jualan dan parkiran.hehe

Cirebon, 31 Juli 2017

Friday, July 21, 2017

Menyoal FDS

Ada banyak problem mudarat dari FDS (Five Days School yg berimbas pada Full Day School), di samping memang ada beberapa manfaatnya.

Diakui, FDS punya beberapa manfaat dan dalam sejumlah kasus bisa diterapkan, khususnya bagi sebagian orang tua super sibuk, yang tampaknya merasa tak punya waktu untuk dampingi anaknya belajar dan bercengkrama di rumah. Mereka pergi pagi, sementara fajar belum juga menghilang, dan putra-putrinya belum sempat bangun dari ranjang. Mereka pulang dari kantornya, sementara putri-putrinya sudah terbaring di kamar tidur kesunyian. Putri-putri mereka sudah terbiasa, lima hari Senin-Jumat diantar-jemput oleh supir pribadi atau tukang ojek. Dua hari sisanya, Sabtu-Ahad, mereka bisa bercengkrama sekeluarga.

Kisah di atas real, nyata, bukan khayalan belaka. Saya pernah melihat kasus semacam ini sendiri, dan dapat cerita dari anak yang mengalami hal semacam itu. Ya, kasus semacam ini banyak terjadi di kota-kota besar dan di dalam masyarakat sosial tertentu, bukan kebanyakan kita. Sehingga, mereka2 yg alami hal ini, sibuk kerja, mereka sengaja mencari sekolah-sekolah swasta fullday, semisal SDIT, SMPIT, SMAIT, bahkan banyak yang kirim anak-anaknya ke Pesantren.

Ya, sekolah Full Day memang bukan barang baru dalam dunia pendidikan dan persekolahan di bumi ini. Pendidikan alamiah di keluarga sudah memulainya. Bahkan bisa 24 jam sehari semalam. Selanjutnya pendidikan pesantren atau Dayah. Bukan hanya 8-10 jam, anak sekolah, tapi selama 24 jam, para santri di pesantren dibimbing dan diasuh oleh para guru-ustaz dan Kyainya. Hanya sesekali dalam setahun, para santri pulang atau dikunjungi ortunya. Melatih kemandirian.

Bila FDS jadi PILIHAN ia baik saja,, Alternatif, bagi yang mau saja.
Namun, saat FDS jadi kebijakan dan harus dipaksakan secara merata? Sementara tidak semua masyarakat dan rakyat di negeri ini membutuhkan? Selain  pihak pemerintah sendiri belum siap, dari berbagai hal, mulai dari infrastruktur, kurikulum maupun SDM, dan lain sebagainya?!

Terhadap #MadrasahDiniyah/TPQ
FDS ancam Madrasah dan TPQ gulung tikar, minimal banyak "santri" Madin/ TPQ akhirnya DO, karena sudah lelah atau jadwal ngajinya tiba ia masih di sekolah. Sementara, sekolah "umum" negeri di bawah Kemendiknas masih diragukan dalam pendidikan agama para siswanya di sekolahan. Lantas, para siswa dapat pendidikan agama dari mana?
Bukankah 1 kali sepekan 2 jam tak cukup?
Cukup, mungkin?!. Sementara di saat yang sama, materi yang di-UN-kan dapat jatah beberapa kali lipat. Dan, mampukah atau siapkah Sekolah2 Negeri itu ngajarin "ngaji" siswanya, layaknya di madrasah atau TPQ?

Terhadap #Masjid
Dzuhur, anak masih di sekolah. Ashar masih di sekolah. Maghrib, anak sudah lelah. Isya, waktunya ngerjain PR, tugas atau belajar persiapan sekolah.
Tak ada waktu bagi anak untuk sekedar singgah untuk berjamaah di masjid. Apalagi bisa turut takmir (semarakkan) masjid dg kegiatan remas (ikatan remaja masjid), atau kegiatan lainnya. Maka, masjid hanya terisi oleh anak TK, sebagian anak SD (usia balita-10th) dan para manula yg sudah pensiun (50th ke atas).
Di sinilah, bila DKM (Dewan Kemakmuran Masjid) dibentuk untuk meramaikan masjid, maka FDS telah jadikan Kemendiknas sbg Dewan Kesepian Masjid. Saat dua generasi dg gap jauh bertemu,, anak2 kecil dg celotehannya dan keriuhannya, bermain di masjid. Sementara manula harapkan ketenangan masa pensiun untuk beribadah.
Entah, bisa nyambungkah komunikasinya?
Bila mereka sudah makin udzur, siapa yg jadi penerusnya? Sementara remaja masih sibuk di sekolah dan pemuda di lokasi kerjanya.

Terhadap #SosialKemasyarakatan

Banyak anak jadi cuek terhadap lingkungan tempat tinggalnya. Jangankan peduli soal problem sosial, kenal dg tetangga saja tidak. Ia pergi pagi, saat mentari belum juga terbit, dan pulang saat mentari hendak tenggelam dan senja mulai temaram.

Dengan penerapan FDS untuk saat ini, Indonesia dijamin makin suram, muram dan hitam, bukan cerah dan mencerahkan. Wallahu a'lam. Lantas, mengapa FDS tetap dipaksakan?!

#TolakFDS
#AyoMondok
#GoTPQ
#GoMadin

Salam

Masyhari
Alumni Pesantren Ma Tarbiyatut Tholabah Kranji Lamongan

Cirebon, 19 Juli 2017_23:14

Thursday, June 8, 2017

Ngarab = Islami?

Ngarab = Islami?

Dulu, kita orang Jawa panggil "Emmak"  dan "Bapake". Setelah mengenal islam secara kappah, dan ngaku sudah "hijrah", maka diubahlah panggilan itu jadi "ummi" dan "abi". Katanya, sudah hijrah, kudu lebih islami. Dikiranya, itu lebih Islami. Padahal, di Arab, kini sudah trend manggil ibunya dengan "Mama" (ماما), dan manggil ayahnya dg "Baba" (بابا) (lidah Arab, tak bisa "P". Aslinya sih dari kata "Papa").

Banyak dari kita, para newbie yang ngerasa baru kenal cahaya hidayah islam ngira, bahwa Ummi dan Abi itu lebih Islami dari Emboke-Mamake-ibu dan Bapake-Papa-ayah.

Pun, yang dulu panggil "Pak Lek", dan "Om" diubah jadi "'Ammi", dg alasan biar lebih Islami, sebab "'ammi" dari bahasa Arab. Padahal, tak ada beda antara "'ammi" dengan "om", artine yo paman.

Tak selalu, bahasa Arab tuh lebih Islami. Karena itu, saat ngajar bhs Arab, saya sering tegaskan hal ini ke mahasiswa bahwa kelebihislamiahan kita bukan dari kosa kata kita pake Arabic, tapi kondisional. Panggil Emmak dg halus dan lembut jauh lebih baik daripada panggil "ummi", tapi sambil bentak-bentak dg suara keras dan kasar.

Ah, saya jadi teringat satu sinetron di stasiun tipi indo**** tayang bulan ramadhan beberapa th lalu. Sebuah kluarga, suami berjubah (diperankan oleh Tedi Syah), dipanggil abi, dan kedua istri berkerudung lebar dipanggil ummi. Tapi, diceritakan, kluarga itu selalu ribut dan kluarkan kata-kata kasar.

Jadi, kalau ente udah ngerasa sudah hijrah, lebih Islami, bukan berarti ente kudu panggil emmakmu jadi ummi, dan bapakmu jadi abi. Yang lebih penting dari itu, adalah jaga sopan santun dan kalau bisa tingkatkan etika dan kelemahlembutanmu terhadap mereka. Karena Islam itu agama damai, rahmat bagi seluruh alam.

#gagalPaham
#selingan

#ملحوظة:
ولا تسيؤوا بي الظن أولا بأني أكره العربية.. كلا، أقول بكل صراحة أحب العربية لأنها لغة القرآن والرسول والتراث الإسلامي..

Wednesday, June 7, 2017

Berhukum dengan Selain Hukum Allah

Berhukum dengan Selain Hukum Allah
Oleh: Masyhari, Lc., M.H.I


Bagi yang pernah sekolah. Di sekolah, lembaga pendidikan, baik formal, informal ataupun non formal, biasanya dibuat sebuah peraturan dan tata tertib. Aturan-aturan itu biasanya dibuat oleh sekolah demi terwujudnya kebaikan bersama, agar kegiatan belajar-mengajar bisa berjalan dengan tertib dan teratur. Inilah yang dimaksud dengan kemaslahatan bersama. Aturan itu misalnya, mengatur jadwal pelajaran, berseragam, waktu dan hari masuk, dan lain sebagainya. Sebagai catatan, aturan-aturan yang ada biasanya tidak mengambil dari Alqur'an ataupun Alhadis.

Begitu pula halnya di kelas. Mulai dari pemilihan ketua kelas. Lantas, pimpinan kelas pimpin pembuatan tata tertib kelas, dengan bimbingan wali kelas. Aturan dibuat demi ketertiban dan keteraturan kelas. Misalnya saja, dalam memilih ketua kelas, bisa jadi guru kelas akan memilih salah seorang, secara otoritatif dengan pertimbangannya sendiri. Bisa jadi, akan memilih berdasarkan usulan dari anggota kelas. Bisa jadi, wali kelas melakukan voting tertutup, atau terbuka, setelah atau tanpa adanya pencalonan. Dalam tata tertib kelas, misalnya aturan adanya jadwal piket kebersihan, iuran kas kelas, ketertiban kelas.

Biasanya, aturan-aturan kelas itu secara tekstual tidak diambilkan dari Alquran ataupun Alhadis. Namun, diputuskan bersama dalam musyawarah mufakat. Dan, tak jarang, sebagai motivasi, aturan tersebut dibumbuhi dengan hadiah (reward) atau sanksi (punishment).

Secara umum, orang tua, siswa, dan semua warga sekolah (stake-holder) sekolah menyetujui tata tertib tersebut, dan jarang yang protes dengan dalih aturan tersebut bukan bersumber dari Alqur'an dan hadis. Toh, selama tidak ada poin yang berisi hal buruk atau bertentangan dengan nilai-nilai Alquran dan alhadis. Meskipun, pernah terdengar, ada sepercik oknum yang sering melanggar aturan atau lebih memilih DO dari lembaga tersebut, berdalih aturan yang ada tidak bersumber dari Alquran dan Alhadis. Ia punya keyakinan, bahwa haram hukumnya berhukum dg selain hukum Allah, dan baginya mengikuti aturan-aturan itu tak ada kebaikannya, karena bukan bersumber dari Allah. "Aturan manusia bisa salah. Bisa saja dilanggar, toh tak berdosa," katanya.
.
Sebenarnya, tak ada bedanya, antara menjadi seorang murid atau orang tua murid di dalam sekolah, dengan menjadi rakyat di dalam sebuah negara. Selama aturan atau perundang-undangan tidak bertentangan dengan nilai-nilai Alqur'an dan Alhadis, dibuat dengan tujuan yang baik, demi terwujudnya kemaslahatan dan kedamaian bersama, maka tidak perlu mempersoalkan aturan tersebut. Sebab, "almuslimun a'ala syuruthihim", artinya -wallahu a'lam- seorang muslim itu terikat dengan syarat dan ketentuan (MoU) yang dibuat oleh antara mereka. Selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai Alquran ataupun Alhadis.


Pembahasan dalam hal ini ada di dalam kajian Ushul Fikih, yang membahas metodologi penggalian hukum Islam, yang berkaitan dengan tindak perilaku seorang mukallaf (muslim), dilengkapi dengan pendalaman tentang akhlak, nilai-nilai dan melihat tujuan-tujuan (maksud) serta hikmah ditetapkannya syariat, yang jamak dikenal dengan istilah maqashid syariah, yaitu dalam rangka mencapai kemaslahatan dan menolak kerusakan (jalb mashalih wa dar' mafasid). Lantas, ada kaidah "dar' almafasid muqaddam 'ala jalb mashalih", artinya menolak kerusakan itu lebih didahulukan daripada menggapai kebaikan, khususnya bila terjadi kontradiksi antara keduanya.

Kemasalahatan yang dimaksud, oleh Abu Hamid Muhammad Al Ghazali, dan pernah disinggung oleh gurunya Imam Al Haramain Al Juwaini, kemudian diperjelas oleh Abu Ishaq Asy Syathibi seorang ulama dari Granada, Andalusia (kini-Spanyol), secara berurutan, kemaslahatan itu terbagi menjadi tiga. Menempati urutan pertama, dan yang paling utama untuk didahulukan yaitu adh-dharuriyyat. Dharuriyyat itu sesuatu yang paling esensial dan mendasar (primer), dimana tanpanya, kehidupan akan goyang dan tidak bisa tegak. Yang kedua yaitu hajjiyyat (sekunder), dan menempati tingkatan ketiga yaitu tahsiniyyat, atau pelengkap.

Ketiga kemaslahatan itu, utamanya dharuriyyat, berputar pada penjagaan terhadap lima hal, yaiatu untuk menjaga agama (hifzh ad diin), akal (hifzh 'aql), jiwa (hifzh an nafs), harta benda (hifzh al maal) dan menjaga keturunan atau kehormatan (hifzh nasab atau 'irdh). Oleh karena itu kerap disebut dengan Adh-Dharuriyyat Al-Khams atau Al-Kulliyyat Al-Khams. Meskipun, pada giliran berikutnya, banyak para sarjana muslim kontemporer terkemuka yang memperluas dan mengebangkannya tidak terbatas pada kelima bidang tersebut. Dan, meskipun dalam periode klasik, di antara ulama tak jarang yang silang pendapat dalam kelima hal tersebut, mana yang didahulukan.

Namun belakangan, kelima hal tersebut mana yang didahulukan, bukan dilihat secara mutlak-mutlakan, tapi dilihat apakah ia termasuk dharuriyyat, hajjiyat ataukah sekedar tahsiniyyat. Pertimbangan lainnya yaitu kondisi, tradisi, situasi, waktu dan tempat yang meliputi, manakah yang lebih maslahat. Karena itu, muncullah kaidah-kaidah maqashid syariah yang bisa jadi panduan dalam mendahulukan antar kemaslahatan, khususnya bila terjadi kontradiksi. Ya, di antaranya kaidah "dar'ul mafasid muqaddam 'ala jalb al mashalih", dan lain sebagainya.

Dengan demikian, tak selalu, suatu aturan itu harus diambil secara letterlijk dari teks Alqur'an dan As Sunnah. Akan tetapi, selama suatu aturan atau pelaksanakan suatu amalan itu tidak bertentangan dengan nilai-nilai hukum Allah, dan secara umum terdapat kebaikan, dimana itu merupakan hal yang diperintahkan oleh agama, mengapa tidak harus ditaati. Jadi, masih tak mau pakai helm saat naik motor di jalan raya, dengan dalih "aturan itu tidak ada di dalam Alquran maupun Alhadis"?!

Kesambi, 13 Ramadhan 1438 H_21:22

Wednesday, May 31, 2017

Prof. KH. Chozin Nasuha Yang Kukenal

Selamat Jalan Prof Chozin:
Sosok Sederhana dan Penuh Semangat

Oleh: Masyhari

Senja ini (30/05), usai menikmati sajian berbuka puasa, hidangan jamuan penuh bungah bagi yang seharian berpuasa,  dalam satu grup WhatsApp dosen STAIC tersiar kabar sesakkan dada. Sebuah kabar duka saya terima dari seorang kawan dosen,  "inna lillahi wainna ilaihi rajiun, telah berpulang ke rahmatullah, Prof. Dr. KH. Chozin Nasuha Arjawinangun, Selasa sore ini (04 Ramadhan 1438 H/ 30 Mei 2017) pukul 17.00".
Rasanya tak percaya, sosok yang penuh semangat itu pergi tanpa ada kabar sakit terdengar sebelumnya. Saya pun langsung saya tanyakan kepada Pak Ajat, kawan dosen asal Arjawinangun yang kasih kabar tersebut, klarifikasi kebenaran berita duka itu.
"info dari Kang Husen Muhammad boten (tidak) sakit. Pulang dari Sumber jam 14.00. tiba di rmh jam 15.00, trus krasae blenak (rasa tidak enak badan), (akhirnya, bliau) buka (puasa), trus istirahat, trus turu selawase (tidur selamanya)." Jawab kawan saya.

Saya sendiri alhamdulillah bisa berkenalan dengan belau, dan berkesempatan menimba ilmu dari beliau. Meskipun tidak terlalu akrab,  saya cukup mengenal prof Chozin. Saya mengenal nama beliau sejak pertama kali tinggal di Cirebon Jawa Barat, 2012 silam. Selama dua tahun (2012-2014) kuliah kelas pasca sarjana program beasiswa kader ulama yang diinisiasi ditpdpontren kemenag RI di Ma'had Aly Al Hikamus Salafiyah Babakan Ciwaringin Cirebon hampir setiap pekan bisa bertatap muka dengan beliau. Di setiap semester ada mata kuliah yang beliau ampu. Pertemuan semakin intens dan personal, saat beliau menjadi salah satu pembimbing tesis saya di program pasca sarjana IAIN Syekh Nurjati. Sempat beberapa kali saya harus datang ke kediaman beliau di sekitar komplek Pesantren Darut Tauhid Arjawinangun, untuk bimbingan tesis.
Dalam tulisan ringan saya ini, ada beberapa hal yang saya catat dari beliau, semoga bisa menjadi inspirasi bagi saya pribadi khususnya, dan bagi para pembaca umumnya.
Pertama, beliau sosok dosen atau guru yang suka mengakrabi mahasiswanya. Tidak hanya soal materi pembahasan tesis yang akan beliau singgung, dalam proses pembimbingan. Beliau tak jarang juga tanya daerah asal, kondisi, tradisi, histori, dsb seputar daerah asal mahasiswanya, tidak terkecuali saya.
Bahkan, seusai saya diwisuda, beliau sempat kontak saya via telp untuk datang menemui beliau, baik di rumah beliau atau di kampus ISIF. Dari itu, saya tahu tidak hanya saya yang mengenal beliau, tapi beliau juga mengenali saya. Bahkan, beliau tak segan untuk "curhat" kepada saya terkait "urusan" relasi anaknya. Diceritakan karena anak beliau punya calon istri dari Lamongan, daerah asal tinggal saya. Beliau pun banyak tanya soal tradisi, adat istiadat, serta alamat si calon besan. Selain beliau juga minta kontak kawan saya Zainul Hakim yang sudah mudik ke kampung halaman di sekitar Lamongan-Gresik.
Kedua, beliau sosok sederhana dan pekerja keras. Gelar profesor ilmu tafsir UIN Sunan Gunung Djati Bandung, dan jabatan sebagai seorang rektor sebuah kampus, dengan usia senja berkepala tujuh, tidak menghalangi beliau dari  menggunakan moda transportasi umum. Dari rumahnya, beliau lebih memilih mini bus dan angkot untuk menuju kampus tempat beliau mengajar di Pasca IAIN Syekh Nurjati di Jl. Perjuangan atau ISIF di Mejasem. Jarak perjalanan sekitar sejam dengan kendaraan. Hanya sesekali waktu saja beliau diantar oleh santri beliau, semisal Kang Muttaqin atau yang lain. Apa beliau tidak punya mobil pribadi? Entah. Yang pasti rumah beliau sangat sederhana dan beliau punya cukup banyak anak, dan juga sudah bercucu.
Bayangan saya sebelumnya, sosok profesor sederhana hanya ada dalam tradisi orang Mesir, dimana mereka biasa berjalan kaki atau naik angkutan umum dari rumah ke kampus. Ternyata di Indonesia juga ada, dan itu dosen saya sendiri. Patut diteladani, meskipun sudah bergelar profesor doktor, rektor dan berusia sepuh tak menjadikan gengsi untuk berpanas dan berpenat ria di kendaraan umum.
Ketiga, sosok kritis dan guru teladan. Terkait hal ini, kami akrab dengan jargon "kepruki". " Istilah "kepruki" ini saya pertama kali dengar dari beliau di kelas. Artinya, "menyerang" atau mengkritisi pemikiran atau ide yang diungkapkan seseorang. Dalam perkuliahan, beliau tidak suka menggurui, beliau hanya jelaskan garis-garis besar, lebih dominan berisi pertanyaan kritis filosofis daripada pernyataan atau indoktrinasi. Sistem perkuliahan yang beliau terapkan, mahasiswa diberi tugas menyajikan makalah dan mempresentasikannya. Lantas beliau menjadi seperti moderator yang memprovokasi mahasiswa untuk "ngepruki" pemakalah. Setelah diakusi antar mahasiswa berjalan, beliau pun akan ikut ngepruki dengan memberondong pertanyaan kritis kepada pemakalah.
Keempat, sosok pemikir progresif dan penuh semangat. Dalam tatap muka yang ada, terbaca progresifitas pemikiran beliau. Tak heran jika beliau sering berbeda pandangan dan bersebrangan dengan kalangan kiyai pesantren tradisional yang cenderung taklid pada tradisi turats ulama zaman bahoela (baca: salaf) .
Beliau sering mengkampanyekan ide tajdid ilmu pengetahuan, termasuk pengetahuan yang berbasis agama Islam, semisal Ulumul Qur'an, tafsir, fikih dan bahkan Ushul Fikih. Landasan pemikiran beliau, kalau itu disebut sebagai ilmu pengetahun, tentu sederet fann ilmu tersebut tidak kebal kritik atau pembaharuan. Dalam hal ini, beliau pernah menyusun sebuah tulisan dan beberapa bangunan metodologi, kerangka berpikir dan filosofinya. Soal ini, beliau penuh semangat dan suka menularkan "virus" ini ke para mahasiswanya.
Kelima, sosok murid yang baik, yang menghargai "jasa guru" dan kawan yang baik. Di antara wujud penghargaan terhadap seorang tokoh dan pemikirannya adalah dengan kutipan yang dilakukan, baik dalam forum ceramah, perkuliahan ataupun tulisan.
Dalam forum perkuliahan, paling tidak ada tiga tokoh yang saya sering dengar dari beliau, yaitu Cik Hasan Bisri, seorang ahli dalam bidang penelitian dan karya ilmiah. Kedua yaitu Prof Harun Nasutian, seorang pemikir di Indonedia. Harun Nasution merupakan guru beliau di pasca sarjana IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Dalam bidang pemikiran, filsafat dan pembaharuan, tampaknya beliau banyak terinspirasi dari Harun Nasution. Nama ketiga yaitu Kiyai Masdar Farid Mas'udi. Prof Chozin tak sekali menyebut nama ini. Kiyai Masdar, kata Prof Chozin, sangat berani dalam dalam mengungkapkan ide pemikirannya, tanpa takut dicemooh. Bahkan, kisah beliau, Pak Masdar pernah sampai dilempar sandal oleh seorang kiyai dalam sebuah forum diskusi karena ide pemikirannya yang dianggap nyleneh dan menyimpang dari mainstream.
Keenam, tokoh pembela hak kaum minoritas yang tertindas. Beliau bilang, bahwa kawan-kawan penganut kepercayaan dan ajaran minoritas yang dianggap "sesat" dan menyimpang, kerap mendapatkan kezaliman dari pemerintah setempat. Karena itu, beliau bersama kawan-kawan di Isif Cirebon dan fahmina pun akrabi mereka dan lakukan upaya advokasi. Bentuk kezaliman itu misalnya, komunitas Ahmadiyah di desa Manis Lor, Jalaksana, Kuningan, karena kepercayaan mereka oleh pemerintah setempat tidak diakui sebagai penganut agama Islam, hak sipil mereka pun terzalimi. Saat menikah, anak mereka sulit (untuk tidak menyebut "tidak bisa) untuk mendapatkan Surat Nikah, dan tidak tercatat di catatan KUA setempat. Pada giliran berikutnya, berimbas pada akta lahir anak mereka dan hak perdata. Komunitas Sunda Wiwitan di Cigugur Kuningan juga termasuk yang menjadi perhatian beliau, dam kawan-kawan.
Kini, Prof Chozin telah meninggalkan kita semua,  dengan aneka warisan keteladanan akan kesederhanaan,  kesahajaan,  semangat yang menggebu dalam gerakan pemikiran (hirsh), kerja keras, dalam keuletan dan pantang menyerah,  dalam kemandirian dan pembelaan terhadap yang teraniaya.
Sebenarnya, masih banyak hal lain yang perlu dicatat dari kebaikan Prof Chozin. Namun, waktu lah yang belum memungkinkan. Selamat jalan prof Chozin, semoga amal baktimu abadi, dan tercatat sebagai amal baik di sisi Allah subhanahu wata'ala, dan husnul khatimah. Mari takziyah dan doa bersama buat beliau. Alfatihah.
Cirebon, 30-31 Mei 2017/ 5 Ramadhan 1438 H

Wednesday, May 24, 2017

Menulis, Jangan Lupa Membaca

Saat Anda Enggan Menulis, Membacalah

Bisa jadi, Anda suatu ketika merasa tak ada ide, sesuatu yang bisa dituangkan dalam tulisan. Atau ketika sedang menulis, tiba-tiba terhenti, karena ada suatu informasi atau data yang tidak Anda ketahui. Itu tandanya Anda masih manusia, wajar punya kekurangan. Maka, berhentilah sejenak. Jangan Anda paksakan diri untuk menulis. Satu hal yang harus Anda lakukan adalah membaca. Cari buku, khususnya, terkait dengan tema tulisan yang ingin atau sedang Anda tuliskan. Atau buku apa saja yang ingin Anda baca.

Suatu ketika, Eni Ratnawati pernah mengatakan bahwa "cara menulis adalah dengan banyak membaca". Artinya, kualitas dan kuantitas bacaaan akan mempengaruhi tulisan. Semakin sedikit bacaan seseorang, semakin rendah kualitas tulisannya. Begitu pula, bila ia banyak membaca, meningkat pula kualitas tulisannya. Dari tulisan seseorang bisa diketahui seberapa rajin dia membaca. Dari kutipan yang dilakukannya. Dari gaya penulisannya yang biasa, ataukh luar biasa menggugah selera. Apakah tulisannya dipenuhi fakta ilmiah, data akurat dan analogi rasional ataukah dipenuhi hoax, data khayalan dan kerancuan nalar.

Tradisi menulis harus berbanding lurus dengan tradisi membaca. Keduanya bagai dua sisi mata uang, tak dapat dipisahkan. Jangan berkhayal bisa menjadi penulis yang handal, bila Anda malas membaca, malas menikmati karya tulis para pendahulu Anda yang telah makan asam garam dunia literasi.

Anda tahu Komik Detektif Conan, bukan? Buku karya Aoyama Gosho ini terinspirasi oleh buku fiksi detektif "Sherlock Homes". Bahkan, si "Conan", sang tokoh utama komik yang kemudian diputar di dalam film serial kartun konon diambil dari penulis buku "Sherlock Homes" yaitu Sir Arthur Conan Doyle.

Anda pernah mendengar nama "Raudhah An Nazhir"? Apaan tuh? Itu bukan nama sebuah taman, tapi judul sebuah buku karya Ibnu Qudamah Al Maqdisi Al Hanbali. Kitab "babon" Ushul Fikih mazhab Hanbali ini banyak merujuk buku pendahulunya yaitu Al Mustashfa karya Hujjatul Islam, Abu Hamid, Imam Al-Ghazali. Tampaklah, Ibnu Qudamah telah melumat habis al Mustashfa Al Ghazali sebelum menulis bukunya. Dan, masih banyak kisah pembacaan lainnya yamg dilakukan oleh para ilmuan penulis terdahulu.

Jadi, kini saatnya Anda membaca! Berjalan-jalanlah ke toko buku. Manjakan mata Anda melihat aneka buku berjajar di rak-rak yang penuh pesona. Kalau bisa, beli buku secara rutin. Itu adalah cara menghargai sebuah karya.  Jangan biasakan minta buku gratis. Apalagi sehabis itu tidak dibaca. Kalau mau baca gratis, di perpustakaan saja. Hape sejuta dua juta bisa dibeli, buku hanya 40 ribu mengapa Anda bilang mahal harganya?

Cirebon, 24 Mei 2017

Monday, May 8, 2017

Sekolah Abaikan Persoalan Sosial Kemasyarakatan?

Sekolah Abaikan Persoalan Sosial Kemasyarakatan?
Oleh: Masyhari


Saya mempunyai seorang kawan (sebut saja Yanto). Di kampungnya, ia terbilang "pemuda langka", aset masyarakat yang berharga. Di usianya yang ke 26, ia tercatat sebagai sekretaris DKM di kampungnya. Ia merupakan pengurus DKM termuda, karena rerata pengurus DKM sudah tua dan manula, usia 50an-60an tahun. Saat ini, ia tercatat sebagai kandidat master di sebuah kampus negeri di Jawa Tengah.
Dia bisa dibilang seorang single-fighter. Dan demikianlah yang dirasakannya. Karena pemuda dan remaja kampungnya, pada umumnya jarang -untuk tidak menyebut tidak ada- yang turut serta aktif dalam kegiatan keagamaan dan kemasyarakatan di kampungnya. Akhirnya, sampai saat ini, tak satu pun organ kepemudaan hidup dan eksis di kampungnya. Karang taruna tak ada. Ikatan remaja masjid pun tinggal nama. IPNU-IPPNU ataupun IPM-IRM pun belum dikenal di sana. Tampaknya, banyak hal yang digelisahkannya, khususnya terkait fenomena masyarakat yang dihadapi, baik terkait dunia pendidikan ataupun dunia sosio-cultural dan keagamaan yang digeluti.

Satu hari, ia bertukar pendapat, mengkritisi fenomena pendidikan sekolah yang, satu sisi mengaktifkan dan memaksimalkan kegiatan siswa di sekolah, baik dengan kegiatan belajar sesuai kurikulim di sekolah model full-day, hingga kegiatan intra dan ekstrakurikuler. Para siswa pun berjibaku dg tugas-tugas "pendidikan" di lingkungan sekolah dengan penuh semangat. Nilai-nilai berupa angka di raport pun diperebutkan, dan kejuaraan bertingkat- tingkat pun dikejar sekuat tenaga. Inilah yang disebut dengan prestasi yang membanggakan, baik bagi sekolah maupun oleh orang tua di rumah. Para siswa ini kebanyakan jago "kandang". Kandang itu bernama sekolahan. Bangunan fisik tembok, dikelilingi pagar. Berbilang-bilang medali dikalungkan, sejuta prestasi ditorehkan. Namun, di masyarakatnya, ia jarang bergaul, apalagi berperan dan andil dalam kegiatan kemasyarakatan. Dengan tetangga rumahnya saja ia tidak mengenal dan dikenali. Keluar pagi sebelum pukul tujuh, dan pulang ke rumah sementara hari sudah petang. Di hari libur pun ia masih sibuk dengan tugas sekolah,  sekedar bersantai di dalam rumah, bermain-rehat atau rekreasi mencari hiburan keluar di akhir pekan.

Selama ini, kebanyakan tugas yang diberikan sekolah, jarang yang secara teknis bersentuhan langsung dengan masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya. Terbukti, masjid-masjid hanya dipenuhi kaum manula dan anak-anak usia TK. Kegiatan taklim di masjid tidak banyak diikuti oleh para remaja usia sekolah menengah dan mahasiswa. Mereka seakan lenyap, tiada kentara, bahkan belangnya pun tak terbaca mata.

Akibatnya, ia bisa dikata sukses dalam sekolah, namun gagal di masyarakatnya. Kalau setiap siswa mengalami hal serupa, entah bagaimana masa depan "rumah besar kita"?
Sementara dalam teori-teori digemakan dan di mimbar-mimbar seminar diteriakkan bahwa pemuda adalah generasi masa depan. Pelajar adalah agen perubahan. Lantas, bila selama belajar di sekolah hanya dituntut untuk menaikkan ratingnya di lembar-lembar raport, sementara ia jarang dan bahkan tak pernah mengenal dunia masyarakat nyata di sekitarnya, bagaimana ia tidak gagap bila setelah lulus ia dituntut untuk bisa melakukan perubahan? Bisa berinteraksi dan bergaul dengan masyarakat saja sudah bersyukur.

Ini satu PR dunia "pendidikan sekolah". Kurikulum yang ada hendaknya dilakukan perubahan. Pun diharapkan para guru dan pihak sekolah melakukan upaya bimbingan dan pengarahan agar para siswanya turut berperan aktif di masyarakat. Dalam tugas-tugas sekolah pun disisipkan adanya interaksi siswa dg melibatkan masyarakat sekeliling tempat tinggalnya. Karena selama ini, fenomena yang terjadi, banyak siswa dan ortu masih menganggap angka sebagai tujuan dan tarjet dari pendidikan di sekolah. Siswa dituntut untuk aktif belajar di sekolah dan di kegitan intra dan ekstra, karena akan menunjang dan meningkatkan nilainya di mata para gurunya. Sementara perannya di masyarakat, bisa dibilang jarang -untuk tidak menyebut "tidak pernah"- dimasukkan dalam daftar proyek sekolah yang dapat menunjang prestasi dan dimasukkan dalam nilai raportnya. Maklum, karena tarjet yang dikejar masih angka dalam kertas.

Hal ini tentunya tidak berlaku pada sekolah yang sudah tidak menuhankan angka, dan sekolah yang sudah sadar akan pentingnya peran pemuda dalam perubahan masyarakat menuju kemajuan dan lebih baik. Semoga. Di pesantren-pesantren dan sebagian madrasah di sejumlah daerah, sudah banyak melakukan upaya pengakraban pelajarnya dengan masyarakat. Kegiatan pengabdian masyarakat, bakti sosial menjadi agenda rutin. Sebut saja misalnya Mak Tarbiyatut Tholabah Kranji-Lamongan. Di sana, para santri memiliki kegiatan pengabdian masyarakat berupa bakti sosial, sejenis KKN (Kuliah Kerja Nyata) selama beberapa hari di perkampungan atau daerah pelosok.

Bahkan, tak jarang pesantren yang mewajibkan kegiatan pengabdian masyarakat kepada santri yang hendak tamat, sebagai satu syarat kelulusan. Sampai-sampai kebijakan "penahanan ijazah" pun diberlakukan, hingga rampungkan masa pengabdian, semisal di Pondok Modern Gontor Ponorogo. Pesantren Mambaus Sholihin Suci Manyar Greasik, Al-Amin Prenduan-Madura, Pesatren Sidogiri dan sebagian pesantren Al-Irsyad juga melakukan program pengabdian.

Bila sekolah-sekolah di seluruh Nusantara ini melakukan upaya serupa, upaya mendekatkan para pelajarnya dengan masyarakat sekitarnya, tentu akan muncul para pemuda pejuang, generasi perubahan sosial yang tidak gagap menghadapi dunianya. Tidak harus serupa Gontor yang menahan ijazah hingga rampung masa setahun pengabdian. Tapi paling tidak, upaya pengakraban itu dilakukan dengan serius, soal teknis banyak modelnya. Yang terpenting, misinya agar para siswa yang tidak hanya berprestasi di bidang akademik dan sebangsa sekolah, tapi juga siap menjadi agen perubahan masyarakat dan generasi penerus bangsa. Semoga.

Wednesday, April 5, 2017

Cara Mudah Menghafal Al Quran

Cara menghafal Al Quran (hasil nyimak Youtube Wirda Mansur, dan ditambahi sendiri)

أولا : ترديد الآية 20-30 مرة
1. Satu ayat dibaca berulang² sebanyak 20-30x

ثانيا : هذا التكرار العشرون مرة بالقراءة أي بالنظر إلى المصحف لا بالغيب.
2. Pengulangan sbyk itu dg melihat teks ayat di mushaf dg mata kepala, tidak hafalan.

ثالثا: ذكر رقم الآية في نهاية كل قراءتها.
3. Sebutkan nomor ayat setiap akhir bacaan ayat. Biar bisa hafal per ayat, dan bisa hafal surat dari belakang.

رابعا : قليل قر خير من كثير فر.. حسبنا حفظ آية يوميا إلى ثلاث آيات، ولكن الأهم من ذلك الاستقامة فيه.
4. Sedikit tapi kuat lebih baik daripada banyak tapi sambil lalu. Cukup sehari 1-3 ayat saja. Tapi yg lebih penting dari itu adalah istiqamahnya.

خامسا : الأفضل أن يكون التحفيظ بين يدي الأستاذ المقرئ تلقيا مشافهة.
5. Sebaiknya disetorkan ke guru Al Quran, talaqqi dan musyafahah.

سادسا : لا تزد آية إلا وقد راجعت وحفظت ما سبق إتقانا قويا..
6. Jgn tambah hafalan, kecuali sudah benar² terhafal kuat ayat sebelumnya.

سابعا: أن نكتب ما حفظناه من الآيات  في القرطاس.

7. Kita tulis ayat yg telah kita hafalkan di kertas/ buku tulis.

ثامنا : النظرية فحسب لا تنفع إلا ومعها التطبيق العملي.
8. Teori saja tak guna, kecuali dibarengi praktik.
Dst.

والله أعلم

Allah lah Yang Maha mengetahui

Semoga bermanfaat.
masyharie@gmail.com

Saturday, March 25, 2017

Santri Cinta Kebersihan (8)

: Sampah, Masalah Yang Tak Lagi Kecil

Sebagai makhluk sosial, manusia harus peduli dan tidak boleh abai terhadap lingkungan sekitar. Santri, sebagai kaum terpelajar harus bisa dan mau menjadi agen perubahan sosial. Oleh karena itu, perlu bagi seorang guru untuk memantik kepedulian santri terhadap problem lingkungan.

Berikut ini pemaparan para santri kecil kelas Pasca TPQ, MT Nurul Huda Warnasari, dengan pertanyaan, "Bila kamu melihat orang membuang sampah sembarangan di sekitar lingkunganmu, apa yang kamu lakukan?"

"Jika aku melihat orang membuang sampah sembarangan di sekitar rumah, saya akan membuang sampah tersebut ke tempatnya, atau dia saya tegur agar membuangnya di tempatnya atau dia sapu halaman rumah itu. Seharusnya dia dihukum." [Siti Nurfaizah]
-------

"Aku akan menaruhnya di tempat sampah dan menegurnya dengan perkataan halus dan lembut. Pasti orang itu akan mengerti dan tidak mengulanginya lagi.
Dan, aku akan menuliskan "Buanglah sampah pada tempatnya". Karena kebersihan sebagian dari iman.
Semua anak memperingatkan dan menegur setiap orang yang ditemui tidak membuang sampah pada tempatnya. Agar kota Cirebon bersih dan nyaman. Kalau semua warga membuang sampah sembarangan, kota menjadi kotor. Semua orang menjadi jijik, dan kota menjadi kosong.
Buanglah sampah pada tempatnya, dan adakan gotong royong, contoh jumsih (jumat bersih).
Sekian cerita dariku, semoga kalian senang membacanya dan juga bermanfaat." (Zalfa Nabila Ridwan)
------

"Jika aku melihat orang buang sampah sembarangan di sekitar lingkungan, saya akan bilang "buang sampah sembarangan itu mencemari lingkungan!"
Saya pernah melihat orang buang sampah di depan rumahku, saya pun menegur orang itu, supaya jangan membuang sampah sembarangan.
Saya juga melihat orang di jalanan, banyak yang membuang sampah sembarangan. Sudah ada tempat sampah, masih saja membuang sampah sembarangan."[M. Wildan F)
------

"Pasti aku akan menasehati orang yang membuang sampah sembarangan, seperti membuang sampah di kali. Karena membuang sampah di kali bisa menyebabkan banjir.
Banjir itu adalah luapan air dari kali, seperti di kota Jakarta, Depok, dan masih banyak lagi kota yang terkena banjir karena membuang sampah sembarangan di lingkungan sekitar.
Ada kota yang terkena Tsunami, seperti kota Banda Aceh. Dan, di Majalengka, banjir sampai ke rumah nenek saya. Banjir di antaranya diakibatkan oleh buang sampah sembarangan di lingkungan sekitar."[Siti Najma Adisa)
------

"Aku pernah melihat orang membuang sampah sebarangan. Lalu ada yang mengingatkannya agar membuang sampah di tempat yang semestinya. Airnya dia sadar kalau membuang sampah semabarangan itu menyebabkan banjir.
Aku pernah melihat di Grage, ada orang yang membeli pop-corn dan minuman, ia habiskan, dan membuang bungkusnya di lantai, ia pun dimarahi, dan akhirnya membuangnya ke tempat sampah.[Najma Humaira]
-----

"Jika aku melihat orang membuang sampah sembarangan, aku harus mengasih-tahunya agar tidak membuang sampah sembarangan di lingkunganku. Jika dia tidak mau, aku akan memberitahunya dengan keras.
Suatu ketika aku sedang berjalan-jalan naik sepeda dengan teman-temanku. Lalu, ada orang membuag sampah di jalan yang sepi dan tidak ada orang satu pun. Aku mau berbicara dan menasehatinya, tetapi orang itu langsung pergi dengan membuang sampah di jalan. Aku pun tidak sempat menasehatinya.
Jika membuang sampah di lingkungan, lingkungan itu akan tercemar, seperti banjir. Jika banjir, sampah akan mengalir dan masuk ke selokan, dan selkan akan mampet. Airnya pun keluar. Jika membuang sampah di lingkuangan, lingkungan akan kotor, tidak bersih dan tidak lagi indah.
Jaah kebersihan, karena kebersihan pangkal kesehatan."[Hilda Amelia]

Cirebon, 23/03/2017

Oh Ibu

Oleh Zalfa Nabila

Oh ibu...
Kau sangat sayang kepadaku
Kau merawatku dengan penuh
Kasih sayang yang sangat besar
Kau mengandungku selama 9 bulan
Tanpa kusadari aku sudah besar
Terima kasih ibu...

Oh ayah...
Kau menafkahiku dari pagi
Hingga malam hari
Bila aku sakit
Kau membeli obat
Untukku
Agar aku lekas sembuh
Kau adalah pahlawanku
Dan ayah terbaik yang pernah kupunya
Terima kasih ayah...
Warnasari, 24/03/2017

Ulasan Hasil Tantangan Menulis Bareng SLI di Hari Guru Nasional

Hasil Tantangan #NulisBarengSLI #HariGuruNasional2020 #SahabatLiterasiIAICirebon Beberapa hari yang lalu (23/11/2020) aku atas nama pribad...