Oleh: Masyhari*
* Sekretaris PC ISNU Kabupaten Cirebon 2018-2022
Silabus Mata Kuliah Pengantar Ilmu Fikih
Sekolah Tinggi Agama Islam Cirebon (STAIC)
Identitas Mata Kuliah
Mata Kuliah: Pengantar Ilmu Fikih
Jurusan/ Prodi: Tarbiyah/ PAI-PMI-PGMI-PBA
Semester/ Tahun: I/ 2017
Dosen Pengampu: Masyhari, Lc., M.H.I
Deskripsi Mata Kuliah
Ilmi fikih merupakan satu disiplin ilmu yang memiliki kedudukan yang sangat urgen di dalam rumpun ilmu keislaman.
Karena itu setiap mahasiswa khususnya di jurusan Tarbiyah diharapkan bisa menguasainya terkait dasar-dasar hukum Islam, masalah-masalah fikih, baik masalah klasik yang memiliki status hukum yang jelas, memiliki dasar hukum tekstual maupun filosofis dan telah terkodifikasikan secara rapi, maupun masalah kontemporer yang tidak secara eksplisit tertuang di al Quran dan as Sunnah.
Dengan mata kuliah ini, mahasiswa diharapkan memiliki pijakan dasar dan pemahaman, khususnya dalam mengkaji masalah aktual seiring dengan dinamika sosial yang terus berkembang melalui penetapan hukum Islam. Dengan demikian, mata kuliah ini menjadi bekal dasar bagi mahasiswa dalam memahami dan mempelajari Islam secara komprehensif.
Kompetensi
1. Memiliki kemampuan dalam hal memahami dan menjelaskan peran dan fungsi ilmu fikih, berikut prinsip-prinsip dasarnya dalam pemecahan kasus.
2. Memiliki kemampuan dalam menerapkan dan menguraikan cara kerja metode fikih dalam penetapan hukum Islam terhadap permasalahan yang tidak secara eksplisit tertuang dalam teks-teks syariat (al Qur'an dan as Sunnah).
Topik Inti
1. Pengertian dan Ruang Lingkup Ilmu Fikih
2. Sejarah Perkembangan Ilmu Fikih
3. Objek Kajian Ilmu Fikih
4. Hubungan antara Ilmu Fikih dan Ushul Fikih,
5. Fikih dan Syariah
6. Klasifikasi Ilmu Fikih
7. Sumber-Sumber Fikih
8. Kaidah-Kaidah Fikih
9. Metode Ilmu Fikih
10. Karakteristik Fikih Islam
11. Prinsip Dasar Fikih
12. Pengertian dan Pembagian Hukum Syara'
13. Hakim, Mahkum Fih dan Mahkum 'Alaih
14. Ijtihad dan Ikhtilaf
15. Mazhab-Mazhab Fikih
16. Masalah-Masalah Fikih Kontemporer
Referensi
1. Atjep Djazuli, Pengantar Ilmu Fikih
2. Imam Taqiyuddin, Kifayatul Akhyar Fi Halli Ghayatil Ikhtishar
3. Wahbah Az Zuhaily, Al Fiqh Al Islami wa Adillatuhu
4. As Shan'ani, Subulussalam Syarah Bulughul Maram
5. Khuzaimah Tahido Yanggo, Pengantar Perbandingan Mazhab Fikih
6. Musthafa Said Al Khinn, et. al, Al Fiqh Al Manhaji ala Mazhab Al Imam asy Syafi'i
7. Yusuf Al Qaradhawy, Madkhal li Dirasah Asy Syari'ah Al Islamiyyah
8. Manna' Khalil Al Qaththan, Tarikh at Tasyri' Al Islami
9. Referensi lain yang relevan dengan bidang pembahasan.
Dosen Pengampu,
Ttd.
Masyhari, Lc.,M.H.I
Oleh: Masyhari
Mungkin, membaca itu aktifitas yang mudah dilakukan. Alasannya simpel. Pertama, karena membaca layaknya makan, kegiatan konsumsi atas masakan orang (baca: penulis). Tinggal makan. Kalau enak yang dirasa, dinikmati dan dilanjutkan, kalau perlu nambah. Kalau tak enak, tinggal muntahin. Cari alternatif lain.
Ya, yang namanya makanan, tergantung selera. Ada yang suka makanan bergizi, buah sayur, madu alami, sekedar minum air putih atau susu murni. Karena lidahnya masih sayang sama perutnya dan dirinya sendiri. Tak hanya enak rasa yang diutamakan, tapi gizi yang seimbang bagi kesehatan.
Ada yang suka makan yang enak di lidah saja. Yang penting enak, makan. Puas, dan senang. Kotoran urusan(nya) (ke) belakang. Kesehatan urusan belakangan. Fast food, junk food, soft drink dan makan yang instan pun jadi pilihan. Enak sih. Lagi pula, halal kok.
Ya. Halal memang harus. Tapi, itu saja tak cukup. Tapi harus yang bergizi dan baik buatmu. Yang baik buat orang lain, bukan berarti otomatis baik buatmu. Semua ada kadar dan takarannya. Beda-beda tergantung situasi, kondisi, waktu, tempat dan siapanya. Alqur'an menyebutnya dengan thayyib. Ya, halalan thayyiban.
Bahkan, lebih parah dari itu, bisa jadi, ada yang tak peduli lagi tentang status makanan yang ada di hadapannya. Tak peduli, enak atau tidak. Tak peduli halal atau tidak. Tak peduli baik atau tidak. Yang terpenting, saya makan. Apalagi gratisan. Mumpung ada. Toh, tinggal makan.
Kedua, membaca itu objek, sebagai maf'ul bih. Dan pelakunya adalah penulisnya. Penerima, yang memperoleh informasi melalui indra yang dipakai oleh pembaca. Bisa dengan mata, kalau itu text book, atau dengan telinga, bila itu audio book. Paling tidak, sedikit banyak, pembaca akan terpengaruhi oleh buku bacaannya. "Kamu adalah apa yang kamu baca."
Karena itu, untuk mendapatkan pengaruh yang baik, bacalah tulisan dan buku yang baik dan bergizi bagi hati dan pikiranmu. Hindari tulisan yang kurang baik, apalagi bila itu hoax, berita bohong yang penuh tipu daya, yang ditujukan hanya untuk raup keuntungan rupiah atau dollar Amerika. Kuncinya, jangan mudah tergoda oleh kata "SEBARKAN! Agar surga didapat oleh tuan dan puan."
Di sinilah pentingnya verifikasi, klarifikasi, validasi dan bahkan kalau perlu purifikasi data dari serpihan-serpihan sampah yang menodainya. Meskipun itu cukup sulit dilakukan, kecuali atas rahmat dan kasih sayang Tuhan. Niatkan kebaikan, mohon pertolongan-Nya agar terhindar dari buruknya fitnah dan kejamnya hoax, dimana dampak buruknya hingga tujuh turunan. Pakai nalar akal sehat, dan pikiran yang jernih. Hindari kebencian angkara murka, dan hasutan.
Di sini, mungkin terasa bahwa membaca itu tidak cukup mudah. Butuh guru ataupun sekedar kawan diskusi, untuk pencerahan. Agar tidak disesatkan oleh setan, yang bergentayangan, ke mana saja dan menyerang siapa saja yang tak punya kawan, selain keegoisan dan merasa sebagai pengkapling kebenaran, satu satunya tiada lian.
.
Pada titik ini, membaca bisa jadi sebuah hal yang membosankan. Banyak yang malas melakukan. Termasuk yang menuliskan. Semoga kemalasan terhindarkan, dan rasa tersadarkan. Alasan demi alasan dikemukakan, hanya untuk tutupi keburukan.
Betapapun kondisinya, membaca tetap harus dilakukan. Sebab itu aktifitas yang amat sangat bermanfaat bagi kesehatan pikiran, kecerahan nalar dan ketajaman pisau analisa.
Bacalah. Bacalah dengan pertolongan Tuhanmu yang Maha mulia. Dialah yang mengajarkan dengan pena. Dia ajarkan apa yang sebelumnya tidak engkau ketahui. Membaca firman Tuhan. Begitu indah menawan. Membaca itu jendela alam, dan kunci ilmu pengetahuan, begitah dikatakan.
Kualitas membaca berbanding lurus dengan kualitas tulisan. Dan sebaliknya. Antara keduanya tak dapat dipisahkan. Yang mau tulisannya bagus, banyaklah membaca. Karena di dalam buku-buka terdapat mutiara berkilauan. Dari sana bisa disarikan dan dibentuk perhiasan sesuai selera dan yang diidamkan.
Namun, membaca saja tak cukup. Karena bacaan tak akan ada wujudnya, tanpa ada proses menuliskan. Maka, pada titik ini, menulis adalah hal yang tak dapat dihindarkan. Menulis adalah media, salah satu wasilah untuk mencapai sebuah keabadian. Di saat usia manusia terbatas oleh takdir Tuhan. Dan tulisan manusia yang dihasilkan adalah usia tambahan yang diciptakannya sendiri, seirama dengan qada' Tuhan yang dibisikkan saat azalinya zaman.
So, menulis memang tak mungkin dihindarkan, harus dilakukan. Mau atau tidak mau. Bisa atau tidak bisa.
Tapi, aku tidak bisa!
Begini, kawan. Menulis itu (sambil berlagak bak penulis kawakan..hahaha) mudah dilakukan. Sulitnya hanya saat memulainya, sesulit ketika mengakhirinya. Bila kamu sudah mulai menulis, kamu akan merasakan sensasinya, merasakan kenikmatannya, dan kesejukannya. Sehingga, tak ada satupun alasan untuk mengakhirinya, kecuali bila memang sudah saatnya.
Menulis itu mudah, bila dianggap sebagai curhatan. Tumpahkan isi hati dan pikiran. Bila kamu suka curhat, namun daripada berbusa-busa obrol omongan, tumpahkan dalam tulisan. Toh, tak ada bedanya. Bila kamu bisa bicara, kamu tentu saja bisa menulis.
Tapi, tulisanku jelek dan tidak teratur!
Teruslah menulis. Karena menulis itu proses. Dalam hidup, segalanya adalah proses. Wainnamal ilmu bit ta'allum. Ilmu digapai dengan belajar. Bisa menulis, karena membiasakan menulis. Tak ada yang terlahir sebagai penulis. Tapi penulis bisa dilahirkan dengan latihan dan latihan. Kamu bisa menulis dengan tiga kunci: satu, menulis. Dua, menulis, dan tiga, menulis. Sepintar apapun kamu, sebanyak apapun buku panduan pintar menulis yang kamu baca dan sebanyak apapun pelatihan menulis yang kamu ikuti, kalau tak menulis, kamu tak akan pernah menjadi penulis. Menulis itu bukan teori. Tapi aksi. Percayalah!
Cirebon, 25 September 2017_23:40
Salam
Mengajarkan bahasa Arab kepada penyandang tuna netra di kelas dengan penghuni lainnya yang bisa melihat adalah satu tantangan dan ujian. Mungkin berbeda ceritanya bila kelas itu murni kelas tuna netra, lebih mudah lah. Sebab, satu nodel metode pengajaran langsung bisa mencakup semua.
Saat memberi hak pada penyandang tuna netra, dikhawatirkan mahasiswa lainnya merasa cemburu, dan haknya merasa tidak ditunaikan. Ini salah satu tantangannya.
Tatangan berikutnya, saat materi istima' (listening) dan kalam (speaking), mungkin masih bisa di atasi. Buku biasa tidak begitu diperlukan. Para mahasiswa yg bisa melihat, tidak boleh melihat teks, terlebih dahulu. Karena sumber bahasa bunyi adalah suara yang diperoleh melalui indra pendengaran, maka yang diperlukan hanya telinga yang siap menyimak dan konsentrasi.
Setelah menyimak, yang kedua adalah membunyikan huruf, kata dan kalimat yang didengar. Inilah yang disebut kalam (speaking). Bagi yang bisa melihat, bisa saja dengan bantuan tulisan dari buku atau papan tulis.
Saat di ruangan kelas campuran begini, tantangannya lebih besar. Tulisan di papan tulis tidak terlalu berguna bagi penyandang tuna netra. Bagi penyandang tuna netra, semestinya bisa menggunakan buku bertulisan huruf braille. Hanya, fasilitas belum ada.
Namun, soal pembelajaran bahasa, saya banyak belajar dari anak-anak. Saat bayi atau balita, anak bisa memahami bahasa orang tua dan bisa berbicara, meskipun mereka belum bisa baca-tulis. Karena itu, baca tulis itu nomor 3 dan 4, bukan yang utama.
Nah, saat pembelajaran maharat (keahlian) baca dan tulis, tantangan kelas tentu lebih besar. Khususnya, saat di kampus belum ada fasilitas buku braille.
Untunglah, dan alhamdulillah, kini ada smartphone, sudah ada aplikasi audio baca tulisan dan juga keypad ber-audio. Saat mahasiswa lainnya menulis tugas di buku, mahasiswa penyandang tuna netra saya bisa memintanya menuliskannya pakai hape atau leptop, dan dikirimkan via WA atau email. Sayanganya, sampai hari ini, saya tanya ke mahasiswa saya, dia belum mendapati aplikasi keypad Arab yang beraudio, sebagaimana keypad tulisan bahasa Indonesia. Semoga segera diketemukan.
Selain tantangan, ini bisa jadi sebuah anugerah. Dengan ini, saya bisa banyak belajar. Saat ada ujian, berarti ada ilmu dan pengalaman yang akan didapat. Semoga.
Salam
Masyhari
Dahulukan Shalat Isya atau Makan Malam?
Postingan ini merupakan penjelasan sederhana Masyhari terkait postingan sebelumya tentang teks berbahasa Arab berikut:
"إذا حضر العشاء والعشاء فقدم العشاء على العشاء" الحديث أو كما قال رسول الله صلى الله عليه وسلم
Ini bacanya:
Idza hadharal isya' wal 'asya fa qaddimil 'asya' 'alal 'isya'.
Artinya -wallahu a'lam bimuradih-, "Bila telah tiba isya, sementara hidangan makan malam telah siap, dahulukanlah makan malam daripada shalat isya'."
.
Hadits tersebut termasuk di antara hadis yang mengkhususkan (mentakhshish) hadis Nabi saw yang menyatakan bahwa "sebaik-baik amalan adalah shalat di awal waktu". Bahwa khusus isya, sunnahnya diakhirkan sedikit, sebagaimana dijelaskan di dalam hadis lainnya. Lebih-lebih bila ada satu kegiatan yang sedang dilakukan belum usai atau telah siap satu kegiatan semisal makan malam, dimana bila ditunda akan membuyarkan kekhusyukan shalat, maka sebaiknya shalat ditunda dan lebih diutamakan mendahulukannya daripada shalat isya'.
Ini sejalan dengan kelakar dengan nada bercanda "lebih baik makan mikir shalat, daripada shalat mikirin makan." Adagium ini bukan hanya becanda, tapi memang demikianlah semestinya. Saat shalat, sementara perut lapar, dan konsentrasi terganggu oleh pikiran makan, dalam hukum fikih jadi makruh. Sebaliknya, orang makan agar kuat shalat, ini merupakan ibadah yang baik dan dianjurkan (sunnah/ mustahab).
Hal ini karena selain Nabi saw juga suka mengakhirkan pelaksanaan shalat Isya. Selain itu, beliau juga tidak suka berbincang yang tak berhikmah dilakukan setelah isya.
Nah, kalau kegiatan makan malam saja lebih didahulukan daripada shalat isya', apalagi kajian ilmu pengetahuan keagamaan yang belum rampung dan belum berujung pembahasannya, tentu lebih utama untuk didahulukan untuk dilakukan (daripada shalat isya. Sehingga dilakukan setelah kajian). Maka tidak aneh bila di sebagian pesantren ada yang melaksanakan shalat berjamaah Isya' sekitar pukul 8 atau 8.30 malam, setelah pengajian malam.
Namun, meskipun demikian, perlu dicatat, setelah makan atau kajian sebaiknya segera dilaksanankan shalat isya berjamaah, bukan malah ditunda dan ditinggal tidur, sehingga -na'udzubillah- terlewat. Wallahu 'alam.
Cirebon, 02 Agustus 2017_22.00 Wib
Kalau sampah dianggap sebagai problem yang sangat seriuuus, tentunya ia termasuk perioritas dlm perhatian toh.
Lantas, apa kira-kira program dan langkah kongkrit yang akan dilakukan oleh para kandidat bakan calon pemimpin Cirebon?
Sebenarnya, contoh kongkrit sudah banyak dilakukan dan pernah diulas dalam berbagai kesempatan. Misalnya, sampah plastik bisa diolah jadi batako, bisa pula jadi bahan campuran aspal jalan. Bekas botol dsb bisa jadi bahan baku industri kreatif rumahan (home industri), dan bisa pula didaur ulang. Kalau sampah organik bisa dipakai kompos. Yang sudah dilakukan oleh pemkot Surabaya misalnya membikin pembangkit listrik dari TPA. Ini bisa jadi dicontek.
Kalau kota Cirebon, baru bikin wisata kejorokan dan "bebauan" dari sampah? Betapa tidak, tempat transit sampah malah ditempatkam di titik-titik keramaian dan vital. Kita saksikan satu titik di jl. Wahidin, satu titik di jl. Kesambi (depan LP/ Superindo), satu titik di depan PDAM. Lantas, ada pula titik transit sampah tak resmi di Kanggraksan.
Kalau ada kemauan serius, eksekutif dan legislatif bisa berkolaborasi dg apik. Kalau anggaran sudah cukup, eksekutif tinggal bikin program kongkrit yg solutif, misalnya: Dimulai dari level RT-RW-Kelurahan/desa-kecamatan- pihak pemda lakukan edukasi secara langsung via DKP dan dinas lainnya kepada masyarakat bgaimna "mengelola sampah yg cerdas dan berbasis ekonomi kreatif", dan jangan lupa, masyarakat pun diberi suntikan dana untuk modal eksekusi program di lapangan, di semua kecmatan, di semua desa/kelurahan, di semua RT dan RW. Jangan lupa lakukan pendampingan dan pengawasan secara berkala. Bisa-bisa, Kota dan Kabupaten Cirebon jadi TELADAN.
Nah, ini sebaliknya. Kalau program dijalankan hanya untuk menghabiskan APBD. Yang penting, asal ada program, jadinya. Trotoar lama dibongkar, ganti yang baru, asal-asalan. Jalan-jalan protokol ditanami bunga dan pohon, tapi lupa menyiram dan merawatnya. Kasihan. Tapi, poster calon walikota kok banyak tertempel di pohon ya, pakai paku lagi. Merusak pemandangan, dan tidak ramah pohon.
Kalau kabupaten, Sungai Kedung Pane tuh udah jadi tempat "alternatif" bagi warga "jahil (baca: goblok)" untuk buang sampah. Saya pernah memergoki warga membuang sekarung sampah ke sungah di bawah Jembatan Kemlaka saat melintas. Karena terburu2, saya hanya meneriakinya. Dan dia langsung ngeloyor pergi.
Kalau soal pertamanan, bikin nangis. Aduh, susahnya nyari taman bermain (ramah) anak di Cirebon. Adanya pun hanya di jantung kota Sumber. Di kota, ada taman Krucuk, tapi tak ada warga yang mau menjamahnya. Coba kita berkaca, kita lihat di DKI Jakarta, taman bermain ramah anak dan warga ada di hampir setiap RW.
Kita sebagai pengelola lembaga pendidikan kanak-kanak dan keluarga, masih sulit nyari wisata alternatif semacam taman bermain dan wisata edukatif di Cirebon. Akhirnya, ya ke daerah sebelah, Kuningan. Kalau kuliner dan sandang sih, jangan ditanya, Cirebon emang jagonya, sampai sukses bikin macet juga. Karena badan jalan pun dipakai lahan jualan dan parkiran.hehe
Cirebon, 31 Juli 2017
Ada banyak problem mudarat dari FDS (Five Days School yg berimbas pada Full Day School), di samping memang ada beberapa manfaatnya.
Diakui, FDS punya beberapa manfaat dan dalam sejumlah kasus bisa diterapkan, khususnya bagi sebagian orang tua super sibuk, yang tampaknya merasa tak punya waktu untuk dampingi anaknya belajar dan bercengkrama di rumah. Mereka pergi pagi, sementara fajar belum juga menghilang, dan putra-putrinya belum sempat bangun dari ranjang. Mereka pulang dari kantornya, sementara putri-putrinya sudah terbaring di kamar tidur kesunyian. Putri-putri mereka sudah terbiasa, lima hari Senin-Jumat diantar-jemput oleh supir pribadi atau tukang ojek. Dua hari sisanya, Sabtu-Ahad, mereka bisa bercengkrama sekeluarga.
Kisah di atas real, nyata, bukan khayalan belaka. Saya pernah melihat kasus semacam ini sendiri, dan dapat cerita dari anak yang mengalami hal semacam itu. Ya, kasus semacam ini banyak terjadi di kota-kota besar dan di dalam masyarakat sosial tertentu, bukan kebanyakan kita. Sehingga, mereka2 yg alami hal ini, sibuk kerja, mereka sengaja mencari sekolah-sekolah swasta fullday, semisal SDIT, SMPIT, SMAIT, bahkan banyak yang kirim anak-anaknya ke Pesantren.
Ya, sekolah Full Day memang bukan barang baru dalam dunia pendidikan dan persekolahan di bumi ini. Pendidikan alamiah di keluarga sudah memulainya. Bahkan bisa 24 jam sehari semalam. Selanjutnya pendidikan pesantren atau Dayah. Bukan hanya 8-10 jam, anak sekolah, tapi selama 24 jam, para santri di pesantren dibimbing dan diasuh oleh para guru-ustaz dan Kyainya. Hanya sesekali dalam setahun, para santri pulang atau dikunjungi ortunya. Melatih kemandirian.
Bila FDS jadi PILIHAN ia baik saja,, Alternatif, bagi yang mau saja.
Namun, saat FDS jadi kebijakan dan harus dipaksakan secara merata? Sementara tidak semua masyarakat dan rakyat di negeri ini membutuhkan? Selain pihak pemerintah sendiri belum siap, dari berbagai hal, mulai dari infrastruktur, kurikulum maupun SDM, dan lain sebagainya?!
Terhadap #MadrasahDiniyah/TPQ
FDS ancam Madrasah dan TPQ gulung tikar, minimal banyak "santri" Madin/ TPQ akhirnya DO, karena sudah lelah atau jadwal ngajinya tiba ia masih di sekolah. Sementara, sekolah "umum" negeri di bawah Kemendiknas masih diragukan dalam pendidikan agama para siswanya di sekolahan. Lantas, para siswa dapat pendidikan agama dari mana?
Bukankah 1 kali sepekan 2 jam tak cukup?
Cukup, mungkin?!. Sementara di saat yang sama, materi yang di-UN-kan dapat jatah beberapa kali lipat. Dan, mampukah atau siapkah Sekolah2 Negeri itu ngajarin "ngaji" siswanya, layaknya di madrasah atau TPQ?
Terhadap #Masjid
Dzuhur, anak masih di sekolah. Ashar masih di sekolah. Maghrib, anak sudah lelah. Isya, waktunya ngerjain PR, tugas atau belajar persiapan sekolah.
Tak ada waktu bagi anak untuk sekedar singgah untuk berjamaah di masjid. Apalagi bisa turut takmir (semarakkan) masjid dg kegiatan remas (ikatan remaja masjid), atau kegiatan lainnya. Maka, masjid hanya terisi oleh anak TK, sebagian anak SD (usia balita-10th) dan para manula yg sudah pensiun (50th ke atas).
Di sinilah, bila DKM (Dewan Kemakmuran Masjid) dibentuk untuk meramaikan masjid, maka FDS telah jadikan Kemendiknas sbg Dewan Kesepian Masjid. Saat dua generasi dg gap jauh bertemu,, anak2 kecil dg celotehannya dan keriuhannya, bermain di masjid. Sementara manula harapkan ketenangan masa pensiun untuk beribadah.
Entah, bisa nyambungkah komunikasinya?
Bila mereka sudah makin udzur, siapa yg jadi penerusnya? Sementara remaja masih sibuk di sekolah dan pemuda di lokasi kerjanya.
Terhadap #SosialKemasyarakatan
Banyak anak jadi cuek terhadap lingkungan tempat tinggalnya. Jangankan peduli soal problem sosial, kenal dg tetangga saja tidak. Ia pergi pagi, saat mentari belum juga terbit, dan pulang saat mentari hendak tenggelam dan senja mulai temaram.
Dengan penerapan FDS untuk saat ini, Indonesia dijamin makin suram, muram dan hitam, bukan cerah dan mencerahkan. Wallahu a'lam. Lantas, mengapa FDS tetap dipaksakan?!
#TolakFDS
#AyoMondok
#GoTPQ
#GoMadin
Salam
Masyhari
Alumni Pesantren Ma Tarbiyatut Tholabah Kranji Lamongan
Cirebon, 19 Juli 2017_23:14
Ngarab = Islami?
Dulu, kita orang Jawa panggil "Emmak" dan "Bapake". Setelah mengenal islam secara kappah, dan ngaku sudah "hijrah", maka diubahlah panggilan itu jadi "ummi" dan "abi". Katanya, sudah hijrah, kudu lebih islami. Dikiranya, itu lebih Islami. Padahal, di Arab, kini sudah trend manggil ibunya dengan "Mama" (ماما), dan manggil ayahnya dg "Baba" (بابا) (lidah Arab, tak bisa "P". Aslinya sih dari kata "Papa").
Banyak dari kita, para newbie yang ngerasa baru kenal cahaya hidayah islam ngira, bahwa Ummi dan Abi itu lebih Islami dari Emboke-Mamake-ibu dan Bapake-Papa-ayah.
Pun, yang dulu panggil "Pak Lek", dan "Om" diubah jadi "'Ammi", dg alasan biar lebih Islami, sebab "'ammi" dari bahasa Arab. Padahal, tak ada beda antara "'ammi" dengan "om", artine yo paman.
Tak selalu, bahasa Arab tuh lebih Islami. Karena itu, saat ngajar bhs Arab, saya sering tegaskan hal ini ke mahasiswa bahwa kelebihislamiahan kita bukan dari kosa kata kita pake Arabic, tapi kondisional. Panggil Emmak dg halus dan lembut jauh lebih baik daripada panggil "ummi", tapi sambil bentak-bentak dg suara keras dan kasar.
Ah, saya jadi teringat satu sinetron di stasiun tipi indo**** tayang bulan ramadhan beberapa th lalu. Sebuah kluarga, suami berjubah (diperankan oleh Tedi Syah), dipanggil abi, dan kedua istri berkerudung lebar dipanggil ummi. Tapi, diceritakan, kluarga itu selalu ribut dan kluarkan kata-kata kasar.
Jadi, kalau ente udah ngerasa sudah hijrah, lebih Islami, bukan berarti ente kudu panggil emmakmu jadi ummi, dan bapakmu jadi abi. Yang lebih penting dari itu, adalah jaga sopan santun dan kalau bisa tingkatkan etika dan kelemahlembutanmu terhadap mereka. Karena Islam itu agama damai, rahmat bagi seluruh alam.
#gagalPaham
#selingan
#ملحوظة:
ولا تسيؤوا بي الظن أولا بأني أكره العربية.. كلا، أقول بكل صراحة أحب العربية لأنها لغة القرآن والرسول والتراث الإسلامي..
Hasil Tantangan #NulisBarengSLI #HariGuruNasional2020 #SahabatLiterasiIAICirebon Beberapa hari yang lalu (23/11/2020) aku atas nama pribad...