
Wednesday, May 13, 2020
AKU, ANAK-ANAK DAN TOKO GRAMEDIA

Tuesday, April 7, 2020
TERSESAT DI HUTAN: GORESAN PENA ZAHWA
TERSESAT DI HUTAN. Demikian judul
komik goresan pena Zahwa Al Kayyisah. Anak perempunku yang satu ini kini
berusia 8 tahun. Sekolahnya sekarang kelas 2 SD.Masyhari
Thursday, March 26, 2020
TRADISI MENULIS DAN PLAGIARISME
Dikutip dari sejarah.id, bahwa tulisan merupakan batas lorong waktu antara zaman prasejarah dengan zaman sejarah. Zaman sejarah ditandai dengan dikenalnya tulisan di kalangan umat manusia. Tulisan era sejarah awal ditemukan di prasasti-prasasti, berupa ukiran di bebatuan.
Zaman sebelumnya disebut zaman prasejarah, disebut juga dengan zaman nirleka yang berarti tidak ada tulisan. Peristiwa atau kejadian pada masa itu tidak diabadikan dengan rekaman tulisan, sehingga generasi setelahnya tidak mengetahui detail peristiwa pada masa itu, kecuali melalui penemuan fosil dan tulang-belulang.
Dalam sejarah Islam, khususnya, tulisan memiliki tingkat urgensi yang tinggi. Berbagai cabang dan bidang ilmu pengetahuan, tidak hanya di bidang keagamaan semisal akidah, akhlak, tasawuf, fikih, ushul fikih, dan lain sebagainya, bahkan ilmu eksakta dan sosial semisal sejarah (tarikh), astronomi (falak), kedokteran (ath-thibb), farmasi (shaidalah), kimia, sastra, matematika (riyadhiyyat), dan lain sebagainya dicatat dengan rapi oleh para pakarnya, sehingga kita generasi setelah mereka dapat menikmati dan mempelajari ilmu-ilmu tersebut dan mengembangkannya hingga kini.
Karya-karya tersebut semacam literature review, pustaka yang amat berharga bagi proses penulisan karya-karya selanjutnya, sebut saja misalnya Ibnu Sina (Avicenna), menulis Al-Qanun fi Ath-Thibb-nya, sebuah karya monumental dalam bidang kedokteran. Dalam bidang Ushul Fiqh, ada Imam Asy-Syafi’i dengan Ar-Risalah yang dituliskan melalui tangan santrinya Rabi’ bin Sulaiman Al-Muradi, serta Al-Umm karyanya dalam bidang fikih.
Bagi kita, umat Islam khususnya sungguh beruntung, dahulu selain dihafalkan, Al-Qur’an juga dituliskan di berbagai media, mulai dari pelepah kurma, lontaran kayu, hingga tulang-belulang. Tidak terbayangkan bagaimana seandainya dahulu ayat-ayat tersebut tidak dituliskan?
Sejarah penulisan Al-Qur’an berlanjut pada masa Abu Bakar. Ketika para sahabat penghafal Al-Qur’an banyak yang gugur di medan perang Yamamah (tahun 12 H), Umar bin Al-Khattab mengusulkan kepada Khalifah Abu Bakar, agar mengumpulkan tulisan ayat-ayat Al-Qur’an yang berserakan itu dan mengkodifikasikannya dengan berbagai rijwayat yang ada.
Puncaknya, pada masa Khalifah Utsman bin Affan, beliau melakukan semacam penyuntingan, verifikasi dan validasi terhadap riwayat yang ada. Selanjutnya, mushaf Utsmani itu disalin dan disebarkan ke sejumlah wilayah yang ada.
Demikianlah sekilas kisah proses perjalanan panjang bagaimana mushaf Al-Quran terbukukan, mulai dari goresan huruf demi huruf, kata demi kata, ayat demi ayat, surat demi surat, verifikasi, pembukuan, penyalinan hingga penyebaran.
Hal ini bisa kita analogikan pada proses panjang menghasilkan sebuah karya tulis pada era kini. Dengan konsisten dan penuh komitmen seorang penulis merangkai kata demi kata, satu demi satu, hingga tersusun kalimat. Dari kalimat terangkai sebuah alinea dalam satu topik.
Selanjutnya tulisan-tulisan itu dikumpulkan dan diverifikasi mana yang layak dan mana yang kurang. Pada tahapan selanjutnya yaitu proses editing (penyuntingan). Bila sudah matang, tulisan dicetak, diperbanyak, diterbitkan dan terakhir didistribusikan kepada para pembacanya.
Begitu pula dengan Hadis Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Bisa kita bayangkan bagaimana seandainya sabda (qaul), tindakan (fi’l) dan keputusan (taqrir) beliau tidak diriwayatkan, lantas dituliskan dan dibukukan oleh para pakar. Tentunya, kita tidak akan bisa membacanya hingga saat ini. Demikianlah tingkat urgensitas tulisan bagi kehidupan umat Islam khususnya, dan umat manusia pada umumnya.
Lantas bagaimana sikap kita sebagai mahasiswa, selaku insan akademis yang terdidik, setiap hari berkutat di bangku perkuliahan?
Mau tidak mau, sebagai generasi penerus kehidupan, kita harus bergerak cepat membawa tongkat estafet transmisi ilmu pengetahuan dengan aktif menulis, aktif di dunia literasi. Di kampus, aktifitas tulis-menulis tidak mungkin dapat dilepaskan. Kita tahu dan sadar betul bahwa tugas-tugas kampus tidak terlepas dari kegiatan literasi; baca dan tulis. Setiap matakuliah yang merupakan perwujudan dari ilmu yang kita pelajari berupa tulisan dan kita diharuskan untuk mengerjakan tugas-tugas penulisan dan penelitian, dalam rangka mengais dan mengembangkan ilmu pengetahuan, sebagai bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi. Karena itu, menghasilkan karya tulis menjadi satu syarat sesorang bisa memperoleh gelar kesarjanaan, berupa skripsi di level sarjana (S1), tesis di level magister (S2) dan disertasi di level doktoral (S3).
Hanya saja, dalam tataran realita karya tulis ilmiah yang dihasilkan mahasiswa –baik artikel, makalah, maupun skripsi-, tidak jarang ditemukan semacam plagiarisme, copas (copy paste) dari tulisan karya orang lain. Copas yang dimaksud, paling parah dengan menduplikasi karya orang lain dan mengakuinya sebagai karyanya, sedikit ataupun banyak. Bentuk minimalnya, dengan mengutip tulisan orang lain dengan jumlah banyak secara langsung hingga berhalaman-halaman apa adanya, menyalin dan menempelkannya saja, tanpa melakukan parafrase, menyesuaikan bahasa penulis asal dengan gaya bahasanya sendiri.
Lantas, apa faktor penyebabnya? Bagaimana pula upaya atau solusi untuk meminimalisirnya?
Banyak faktor yang mengakibatkan terjadi plagiarisme di kalangan mahasiswa. Berikut ini disebutkan beberapa faktor internal yang ditengarai sebagai penyebab maraknya plagiarisme karya. Mungkin faktor lainnya masih ada lagi.
Pertama, kurangnya minat membaca
Membaca adalah aktivitas menyerap informasi dari sumber tertulis, mencerna dan memahaminya secara utuh. Ketika seseorang malas membaca, maka besar kemungkinan ia minim informasi yang bisa dituangkan ke dalam tulisannya. Kalaupun membaca, tapi tidak dicerna dan dipahami dengan baik, maka ia pun hanya menyalin dan menempelkannya.
Solusi yang ditawarkan, dengan membiasakan diri membaca. Bagi dosen pengampu matakuliah apa saja, bisa menugaskan mahasiswa membaca satu buku tuntas secara cermat dan memahaminya, dimulai dari satu paragraf ke paragraf selanjutnya, dari satu bab ke bab berikutnya, kemudian memintanya menjelaskan kepada kawan-kawannya. Setelah khatam, ia ditugaskan membaca buku lainnya, dan seterusnya. Dengan begitu, dia mulai terbiasa membaca dan menikmati tradisi membaca, meskipun awalnya terpaksa.
Kedua, tidak terbiasa menulis
Kata ahli kebijaksanaan, “Ala bisa karena terbiasa”. Seorang mahasiswa melakukan copas, ketika saya tanya mengapa, dia menjawab karena [merasa] tidak bisa merangkai kata atau merasa tidak percaya diri dengan tulisan yang dihasilkan dari rangkaian kata-katanya sendiri. Hal itu disebabkan karena ia belum memiliki tradisi menulis.
Sejatinya, dalam menulis jam terbang menentukan kualitas. Bila jarang menulis, jari-jemari tangan akan terasa berat merangkaikan kata demi kata, menuangkan ide dan pikiran. Tulisan yang dihasilkan pun tidak enak dibaca.
Hal ini berbeda dengan mereka yang jam terbang menulisnya sudah tinggi, setiap hari menulis, maka kata demi kata akan mudah terangkai dan kalimat demi kalimat terkoneksi dengan rapi, sehingga enak dibaca dan mudah dipahami pembacanya.
Solusi mengatasi problem ini kita harus membiasakan diri menulis setiap hari. Seorang dosen bisa memberi tugas lanjutan, setelah mahasiswa membaca, menceritakan dan mempresentasikan hasil bacaannya, ia diminta menuliskan tulisan sederhana apa yang dipahami dari bacaannya dengan redaksi bahasa mahasiswa sendiri. Satu buku diperas menjadi satu hingga tiga halaman saja. Ini semacam jurus mengikat makna yang dipopulerkan oleh Hernowo.
Selain itu, dosen bisa pula memberikan tugas menulis resume, semacam catatan perkuliahan atau diskusi yang dilaksanakan setiap pertemuan. Dosen memberikan cukup waktu sekitar 15 menit terakhir jelang ditutupnya perkuliahan kepada mahasiswa untuk menulis sekitar setengah atau satu halaman, atau sekitar 5 alinea, berkaitan seputar topik materi perkuliahan.
Solusi berikutnya, dalam momentum ujian, baik UTS maupun UAS, dosen memberikan soal uraian, mahasiswa diminta menjelaskan suatu persoalan secara argumentatif yang memaksanya untuk mengeluarkan pendapatnya.
Solusi lain yang tidak kalah pentingnya, yaitu dosen dan mahasiswa membuat komitmen menulis setiap hari. Setiap hari menghasilkan satu tulisan, bebas, apa pun tema dan genrenya.
Ketiga, tidak menguasai teknik penulisan atau pengutipan.
Kerap terjadinya kesalahan, karena seorang mahasiswa kurang memahami dan menguasai teknis penulisan dan teknis sitasi (pengutipan) yang baik.
Seorang penulis karya ilmiah semestinya tidak hanya sebatas menyusun kutipan-kutipan dari penulis sebelumnya, akan tetapi menganalisis, menginterpretasikan, menyimpulkan, mengkomparasikannya dengan pendapat pakar lain, dan bisa mengomentari, menanggapi atau bahkan mengkritiknya. Kutipan tidak langsung lebih diutamakan. Sementara kutipan langsung sebaiknya dihindari, kecuali terpaksa, semisal teks-teks suci Al-Quran atau Hadis, ataupun manuskrip yang harus dituliskan apa adanya.
Solusinya, dosen harus sabar membimbing dan mengarahkan mahasiswa bagaimana menulis dan mengutip yang baik. Ia berikan berbagai macam contoh tulisan yang memuat kutipan. Berikan simulasi pelatihan secara intensif dan berkelanjutan bila diperlukan.
Sebenarnya, masih banyak faktor penyebab lainnya dan bisa kita carikan solusi atas problem-problem tersebut. Sehingga, insan akademis kita bisa menghasilkan karya yang kreatif, bukan hanya copast dan plagiasi dari karya orang sebelumnya. Semoga.
Cirebon, 26 Maret 2020
Friday, November 22, 2019
Menulis Semudah Mengobrol?
Thursday, November 21, 2019
Beda Pendapat dan Toleransi
Thursday, October 25, 2018
Peran Sarjana NU dalam Pendidikan Karakter
Oleh: Masyhari*
* Sekretaris PC ISNU Kabupaten Cirebon 2018-2022
Wednesday, August 8, 2018
Pilih Belajar ataukah Mengajar?
"Tentu, belajar lah yang lebih utama.
Dan, kalaupun sudah mengajar, tetap harus kita niatkan belajar." Jawabku.
"Banyak orang, ketika sudah berprofesi sebagai "guru" dan mengajar, ia enggan lagi untuk belajar. Karena ia merasa sudah jadi guru dan merasa pintar. Ini bagian dari kesombongan.
Orang yang sudah merasa pintar, ia enggan belajar, ia mudah menyesatkan orang yang berbeda pandangan dan sikap dengannya.
Semakin alim dan luas ilmu seseorang semakin luas pula cakrawala berpikirnya. Ia lebih mudah dan bisa menerima orang lain yang berbeda, dan tidak gampang kagetan.
Karena, semakin banyak belajar akan semakin merasa bodoh dan tidak tahu apa-apa. Sehingga ia akan terus belajar dan banyak piknik, sampai kapan? Hingga ia tutup usia."
Dalam suatu majelis di Pasuruan, seorang guru Qiraati pernah mengatakan, "Belajar wajib, mengajar tidak wajib."
Teruslah belajar. Jangan pernah mengajar, kecuali berniat untuk belajar.
Wallahu a'lam
Monday, October 16, 2017
Istrikah Yang Terlaknat?
Wah, ngawur ini! Liberal ini!
Ngawur?! Liberal?!
Begini akhi, jawabanku ini berdasarkan Alqur'an dan hadis loh. Dan bukankah kita kudu berpedoman pada keduanya?
Di dalam al Quran, Allah swt berfirman di dalam QS an Nisa ayat 19:
"Allah menerintahkan para suami agar bergaul dengan baik, dimana kedua hati dan jiwa bertaut. Sudah menjadi tabiat jiwa, ia suka pada kasih sayang, bukan sikap kasar. Kata "usyrah" pun terkadang diartikan dengan interaksi . Sementara kata "ma'ruf" maksudnya, seorang suami mempergauli istrinya dengan yang sepatutnya, menghindari hal-hal yang tidak disukai, baik menurut akal sehat, syariat ataupun adat-tradisi. Suami yang baik yaitu yang romantis, tidak membuat istri lari darinya. Ialah yang mau melakukan pendekatan padanya, dengan segala cara dan upaya, bukan malah menjauhinya," Jelas Syekh Abu Zahrah.
Bahkan, bisa jadi, sang suamilah yang malah menjadi penyebab sang istri enggan untuk bersikap baik kepadanya. Maka, suatu ketika, seorang wanita mengadu kepada shabat Umar bin Al Khaththab, meminta agar dipisahlan dari suaminya.
Sahabat Umar pun mengarahkan pandangan ke suami wanita tersebut. Ternyata, sang suami memang berantakan, rambutnya panjang acak-acakan, pakaiannya compang-camping tak terawat. Beliau menduga, pemandangan inilah yang membuat sang istri melayangkan "gugatan" tersebut.
Maka, sahabat Umar pun mengirimnya ke tempat semacam salon & spa. Ia dimandikan, dan dipakaikan baju yang bagus dan menawan. Sang istri pun dihadirkan. Sejurus kemudian, setelah melihat tampilan baru lelakinya, sang istripun menarik kembali gugatan cerainya, lanjut Syekh Abu Zahrah.
Dengan demikian, seorang suami dituntut untuk begaul dan memperlakukan istrinya dengan lemah lembut, tutur kata yang baik dan penuh kasih sayang. Seorang suami harusnya mau belajar berkomunikasi dan berinteraksi yang baik dengan istri. Bahkan, terang Syekh Muhammad Abu Zahrah, menggauli istri dengan yang terbaik merupakan tanda-tanda kejantanan seorang suami.
Hal ini senada dengan firman Allah di atas, Rasulullah saw bersabda:
Di dalam riwayat lain disebutkan:
Dengan demikian, seorang suami dituntut agar menjadi suami yang pengertian. Dan suami terbaik adalah suami yang paling mengerti dan penuh kasih terhadap istrinya. Karena wanita ingin dimengerti. Suami yang baik bukan suami yang kasar, yang mau menang sendiri, yang hanya bisa "mengancam dengan laknat" kepada istrinya yang enggan melayani nafsu biologisnya. Maka, laknat malaikat bisa jadi malah berbalik ke arah mereka. Na'udzubillah min dzalik. Semoga kita menjadi suami terbaik, yang penuh kasih sayang dan lemah lembut terhadap istri.
Cirebon, 16 Oktober 2017
Wednesday, October 11, 2017
Silabus Mata Kuliah Pengantar Ilmu Fikih
Silabus Mata Kuliah Pengantar Ilmu Fikih
Sekolah Tinggi Agama Islam Cirebon (STAIC)
Identitas Mata Kuliah
Mata Kuliah: Pengantar Ilmu Fikih
Jurusan/ Prodi: Tarbiyah/ PAI-PMI-PGMI-PBA
Semester/ Tahun: I/ 2017
Dosen Pengampu: Masyhari, Lc., M.H.I
Deskripsi Mata Kuliah
Ilmi fikih merupakan satu disiplin ilmu yang memiliki kedudukan yang sangat urgen di dalam rumpun ilmu keislaman.
Karena itu setiap mahasiswa khususnya di jurusan Tarbiyah diharapkan bisa menguasainya terkait dasar-dasar hukum Islam, masalah-masalah fikih, baik masalah klasik yang memiliki status hukum yang jelas, memiliki dasar hukum tekstual maupun filosofis dan telah terkodifikasikan secara rapi, maupun masalah kontemporer yang tidak secara eksplisit tertuang di al Quran dan as Sunnah.
Dengan mata kuliah ini, mahasiswa diharapkan memiliki pijakan dasar dan pemahaman, khususnya dalam mengkaji masalah aktual seiring dengan dinamika sosial yang terus berkembang melalui penetapan hukum Islam. Dengan demikian, mata kuliah ini menjadi bekal dasar bagi mahasiswa dalam memahami dan mempelajari Islam secara komprehensif.
Kompetensi
1. Memiliki kemampuan dalam hal memahami dan menjelaskan peran dan fungsi ilmu fikih, berikut prinsip-prinsip dasarnya dalam pemecahan kasus.
2. Memiliki kemampuan dalam menerapkan dan menguraikan cara kerja metode fikih dalam penetapan hukum Islam terhadap permasalahan yang tidak secara eksplisit tertuang dalam teks-teks syariat (al Qur'an dan as Sunnah).
Topik Inti
1. Pengertian dan Ruang Lingkup Ilmu Fikih
2. Sejarah Perkembangan Ilmu Fikih
3. Objek Kajian Ilmu Fikih
4. Hubungan antara Ilmu Fikih dan Ushul Fikih,
5. Fikih dan Syariah
6. Klasifikasi Ilmu Fikih
7. Sumber-Sumber Fikih
8. Kaidah-Kaidah Fikih
9. Metode Ilmu Fikih
10. Karakteristik Fikih Islam
11. Prinsip Dasar Fikih
12. Pengertian dan Pembagian Hukum Syara'
13. Hakim, Mahkum Fih dan Mahkum 'Alaih
14. Ijtihad dan Ikhtilaf
15. Mazhab-Mazhab Fikih
16. Masalah-Masalah Fikih Kontemporer
Referensi
1. Atjep Djazuli, Pengantar Ilmu Fikih
2. Imam Taqiyuddin, Kifayatul Akhyar Fi Halli Ghayatil Ikhtishar
3. Wahbah Az Zuhaily, Al Fiqh Al Islami wa Adillatuhu
4. As Shan'ani, Subulussalam Syarah Bulughul Maram
5. Khuzaimah Tahido Yanggo, Pengantar Perbandingan Mazhab Fikih
6. Musthafa Said Al Khinn, et. al, Al Fiqh Al Manhaji ala Mazhab Al Imam asy Syafi'i
7. Yusuf Al Qaradhawy, Madkhal li Dirasah Asy Syari'ah Al Islamiyyah
8. Manna' Khalil Al Qaththan, Tarikh at Tasyri' Al Islami
9. Referensi lain yang relevan dengan bidang pembahasan.
Dosen Pengampu,
Ttd.
Masyhari, Lc.,M.H.I
Tuesday, October 3, 2017
Membaca dan Menulis
Oleh: Masyhari
Mungkin, membaca itu aktifitas yang mudah dilakukan. Alasannya simpel. Pertama, karena membaca layaknya makan, kegiatan konsumsi atas masakan orang (baca: penulis). Tinggal makan. Kalau enak yang dirasa, dinikmati dan dilanjutkan, kalau perlu nambah. Kalau tak enak, tinggal muntahin. Cari alternatif lain.
Ya, yang namanya makanan, tergantung selera. Ada yang suka makanan bergizi, buah sayur, madu alami, sekedar minum air putih atau susu murni. Karena lidahnya masih sayang sama perutnya dan dirinya sendiri. Tak hanya enak rasa yang diutamakan, tapi gizi yang seimbang bagi kesehatan.
Ada yang suka makan yang enak di lidah saja. Yang penting enak, makan. Puas, dan senang. Kotoran urusan(nya) (ke) belakang. Kesehatan urusan belakangan. Fast food, junk food, soft drink dan makan yang instan pun jadi pilihan. Enak sih. Lagi pula, halal kok.
Ya. Halal memang harus. Tapi, itu saja tak cukup. Tapi harus yang bergizi dan baik buatmu. Yang baik buat orang lain, bukan berarti otomatis baik buatmu. Semua ada kadar dan takarannya. Beda-beda tergantung situasi, kondisi, waktu, tempat dan siapanya. Alqur'an menyebutnya dengan thayyib. Ya, halalan thayyiban.
Bahkan, lebih parah dari itu, bisa jadi, ada yang tak peduli lagi tentang status makanan yang ada di hadapannya. Tak peduli, enak atau tidak. Tak peduli halal atau tidak. Tak peduli baik atau tidak. Yang terpenting, saya makan. Apalagi gratisan. Mumpung ada. Toh, tinggal makan.
Kedua, membaca itu objek, sebagai maf'ul bih. Dan pelakunya adalah penulisnya. Penerima, yang memperoleh informasi melalui indra yang dipakai oleh pembaca. Bisa dengan mata, kalau itu text book, atau dengan telinga, bila itu audio book. Paling tidak, sedikit banyak, pembaca akan terpengaruhi oleh buku bacaannya. "Kamu adalah apa yang kamu baca."
Karena itu, untuk mendapatkan pengaruh yang baik, bacalah tulisan dan buku yang baik dan bergizi bagi hati dan pikiranmu. Hindari tulisan yang kurang baik, apalagi bila itu hoax, berita bohong yang penuh tipu daya, yang ditujukan hanya untuk raup keuntungan rupiah atau dollar Amerika. Kuncinya, jangan mudah tergoda oleh kata "SEBARKAN! Agar surga didapat oleh tuan dan puan."
Di sinilah pentingnya verifikasi, klarifikasi, validasi dan bahkan kalau perlu purifikasi data dari serpihan-serpihan sampah yang menodainya. Meskipun itu cukup sulit dilakukan, kecuali atas rahmat dan kasih sayang Tuhan. Niatkan kebaikan, mohon pertolongan-Nya agar terhindar dari buruknya fitnah dan kejamnya hoax, dimana dampak buruknya hingga tujuh turunan. Pakai nalar akal sehat, dan pikiran yang jernih. Hindari kebencian angkara murka, dan hasutan.
Di sini, mungkin terasa bahwa membaca itu tidak cukup mudah. Butuh guru ataupun sekedar kawan diskusi, untuk pencerahan. Agar tidak disesatkan oleh setan, yang bergentayangan, ke mana saja dan menyerang siapa saja yang tak punya kawan, selain keegoisan dan merasa sebagai pengkapling kebenaran, satu satunya tiada lian.
.
Pada titik ini, membaca bisa jadi sebuah hal yang membosankan. Banyak yang malas melakukan. Termasuk yang menuliskan. Semoga kemalasan terhindarkan, dan rasa tersadarkan. Alasan demi alasan dikemukakan, hanya untuk tutupi keburukan.
Betapapun kondisinya, membaca tetap harus dilakukan. Sebab itu aktifitas yang amat sangat bermanfaat bagi kesehatan pikiran, kecerahan nalar dan ketajaman pisau analisa.
Bacalah. Bacalah dengan pertolongan Tuhanmu yang Maha mulia. Dialah yang mengajarkan dengan pena. Dia ajarkan apa yang sebelumnya tidak engkau ketahui. Membaca firman Tuhan. Begitu indah menawan. Membaca itu jendela alam, dan kunci ilmu pengetahuan, begitah dikatakan.
Kualitas membaca berbanding lurus dengan kualitas tulisan. Dan sebaliknya. Antara keduanya tak dapat dipisahkan. Yang mau tulisannya bagus, banyaklah membaca. Karena di dalam buku-buka terdapat mutiara berkilauan. Dari sana bisa disarikan dan dibentuk perhiasan sesuai selera dan yang diidamkan.
Namun, membaca saja tak cukup. Karena bacaan tak akan ada wujudnya, tanpa ada proses menuliskan. Maka, pada titik ini, menulis adalah hal yang tak dapat dihindarkan. Menulis adalah media, salah satu wasilah untuk mencapai sebuah keabadian. Di saat usia manusia terbatas oleh takdir Tuhan. Dan tulisan manusia yang dihasilkan adalah usia tambahan yang diciptakannya sendiri, seirama dengan qada' Tuhan yang dibisikkan saat azalinya zaman.
So, menulis memang tak mungkin dihindarkan, harus dilakukan. Mau atau tidak mau. Bisa atau tidak bisa.
Tapi, aku tidak bisa!
Begini, kawan. Menulis itu (sambil berlagak bak penulis kawakan..hahaha) mudah dilakukan. Sulitnya hanya saat memulainya, sesulit ketika mengakhirinya. Bila kamu sudah mulai menulis, kamu akan merasakan sensasinya, merasakan kenikmatannya, dan kesejukannya. Sehingga, tak ada satupun alasan untuk mengakhirinya, kecuali bila memang sudah saatnya.
Menulis itu mudah, bila dianggap sebagai curhatan. Tumpahkan isi hati dan pikiran. Bila kamu suka curhat, namun daripada berbusa-busa obrol omongan, tumpahkan dalam tulisan. Toh, tak ada bedanya. Bila kamu bisa bicara, kamu tentu saja bisa menulis.
Tapi, tulisanku jelek dan tidak teratur!
Teruslah menulis. Karena menulis itu proses. Dalam hidup, segalanya adalah proses. Wainnamal ilmu bit ta'allum. Ilmu digapai dengan belajar. Bisa menulis, karena membiasakan menulis. Tak ada yang terlahir sebagai penulis. Tapi penulis bisa dilahirkan dengan latihan dan latihan. Kamu bisa menulis dengan tiga kunci: satu, menulis. Dua, menulis, dan tiga, menulis. Sepintar apapun kamu, sebanyak apapun buku panduan pintar menulis yang kamu baca dan sebanyak apapun pelatihan menulis yang kamu ikuti, kalau tak menulis, kamu tak akan pernah menjadi penulis. Menulis itu bukan teori. Tapi aksi. Percayalah!
Cirebon, 25 September 2017_23:40
Salam
Monday, October 2, 2017
Tantangan Mengajar Bahasa Arab Untuk Tuna Netra
Mengajarkan bahasa Arab kepada penyandang tuna netra di kelas dengan penghuni lainnya yang bisa melihat adalah satu tantangan dan ujian. Mungkin berbeda ceritanya bila kelas itu murni kelas tuna netra, lebih mudah lah. Sebab, satu nodel metode pengajaran langsung bisa mencakup semua.
Saat memberi hak pada penyandang tuna netra, dikhawatirkan mahasiswa lainnya merasa cemburu, dan haknya merasa tidak ditunaikan. Ini salah satu tantangannya.
Tatangan berikutnya, saat materi istima' (listening) dan kalam (speaking), mungkin masih bisa di atasi. Buku biasa tidak begitu diperlukan. Para mahasiswa yg bisa melihat, tidak boleh melihat teks, terlebih dahulu. Karena sumber bahasa bunyi adalah suara yang diperoleh melalui indra pendengaran, maka yang diperlukan hanya telinga yang siap menyimak dan konsentrasi.
Setelah menyimak, yang kedua adalah membunyikan huruf, kata dan kalimat yang didengar. Inilah yang disebut kalam (speaking). Bagi yang bisa melihat, bisa saja dengan bantuan tulisan dari buku atau papan tulis.
Saat di ruangan kelas campuran begini, tantangannya lebih besar. Tulisan di papan tulis tidak terlalu berguna bagi penyandang tuna netra. Bagi penyandang tuna netra, semestinya bisa menggunakan buku bertulisan huruf braille. Hanya, fasilitas belum ada.
Namun, soal pembelajaran bahasa, saya banyak belajar dari anak-anak. Saat bayi atau balita, anak bisa memahami bahasa orang tua dan bisa berbicara, meskipun mereka belum bisa baca-tulis. Karena itu, baca tulis itu nomor 3 dan 4, bukan yang utama.
Nah, saat pembelajaran maharat (keahlian) baca dan tulis, tantangan kelas tentu lebih besar. Khususnya, saat di kampus belum ada fasilitas buku braille.
Untunglah, dan alhamdulillah, kini ada smartphone, sudah ada aplikasi audio baca tulisan dan juga keypad ber-audio. Saat mahasiswa lainnya menulis tugas di buku, mahasiswa penyandang tuna netra saya bisa memintanya menuliskannya pakai hape atau leptop, dan dikirimkan via WA atau email. Sayanganya, sampai hari ini, saya tanya ke mahasiswa saya, dia belum mendapati aplikasi keypad Arab yang beraudio, sebagaimana keypad tulisan bahasa Indonesia. Semoga segera diketemukan.
Selain tantangan, ini bisa jadi sebuah anugerah. Dengan ini, saya bisa banyak belajar. Saat ada ujian, berarti ada ilmu dan pengalaman yang akan didapat. Semoga.
Salam
Masyhari
Ulasan Hasil Tantangan Menulis Bareng SLI di Hari Guru Nasional
Hasil Tantangan #NulisBarengSLI #HariGuruNasional2020 #SahabatLiterasiIAICirebon Beberapa hari yang lalu (23/11/2020) aku atas nama pribad...
-
Hasil Tantangan #NulisBarengSLI #HariGuruNasional2020 #SahabatLiterasiIAICirebon Beberapa hari yang lalu (23/11/2020) aku atas nama pribad...
-
Mukaddimah Bisa kuliah di kampus luar negeri merupakan nikmat dan kesempatan yang amat berharga, tidak semua orang bisa mendapatkannya...


