Wednesday, May 13, 2020

AKU, ANAK-ANAK DAN TOKO GRAMEDIA


MUNGKIN Anda tahu, mungkin juga tidak, semasih kuliah di Jakarta, aku tidak terlalu akrab dengan toko buku Gramedia. Biasanya, aku dan kawan-kawan akan ke Gramedia Palmerah yang letaknya tidak jauh dari kompleks DPR-MPR Senayan itu di akhir tahun. Paling sesekali singgah di stand Gramedia kalau sedang ada Book Fair di Istora Senayan. Itu pun tak selalu beli buku di sana. Anda harus maklum, di sekitar kampus tempatku kuliah di Pejaten Pasar Minggu Jakarta Selatan, saat itu belum ada toko buku raksasa ini.


Mengapa ke Gramedia nunggu akhir tahun? Ya, karena Gramedia pusat di Palmerah ini hampir setiap akhir tahun punya gelaran cuci gudang. Buku-buku yang tak habis di pasaran, saat-saat seperti itu dijual murah mulai lima ribuan. Dengan hanya bermodal seratus ribu sudah dapat buku sekardus. Anda pasti maklum kondisi sebagai mahasiswa di rantau jauh dari orang tua, untuk bisa makan sehari-hari saja sudah syukur alhamdulillah. Apalagi, buku-buku diktat kuliah semua berbahasa Arab. Jadi, buku-buku yang dibeli dari Gramedia ya sekedar buat asupan tambahan saja. Selain itu, lokasinya kan cukup jauh dari kampus.



Setelah lulus kuliah, sekitar tahun 2010, tepat di depan kampusku, berdiri satu mall besar. Pejaten Village namanya. Di pusat perbelanjaan yang bernaung di bawah Lippo Group ini ada toko buku Gramedia yang cukup besar. Setiap belanja kebutuhan rumah di pasar swalayan Mall, aku selalu sempatkan singgah toko buku Gramedia yang ada di lantai 2. Sekedar baca-baca atau kalau ada buku yang ramah isi kantong, aku akan membelinya.



Bila isi kantong tidak cocok, aku harus ngalah. Yang dibeli cukup buku cerita anak yang tipis. Aku, ketika main ke sana kan selalu bawa anak pertama. Karena anak kedua memang belum ada. Meskipun kantong tipis, tapi tetap saja berlama-lama di Gramedia. Ya, sekedar muter-muter baca buku yang ada. Karena orang semodel aku ini tidak sedikit, kursi pun tidak disediakan di sana. Mereka biasanya baca buku lesehan di sekitar rak penuh buku.



Tahun 2012, aku dan keluarga pindah ke Cirebon. Sejak itu, aku dan keluarga tidak terlalu akrab dengan Gramedia. Anda tahu, hingga tahun 2015, kami tinggal di Ciwaringin. Biasanya, aku beli buku di sekitar IAIN, tempatku studi S2. Ya, karena yang dibeli sekedar buku-buku untuk kebutuhan mengerjakan tugas kuliah.



Sekitar tahun 2015, kami pindah tinggal di sekitar Stadion Bima. Bila ada waktu longgar, aku ajak anak-anak dan istri ke perpus 400. Lokasi perpusda Kota Cirebon ini cukup dekat dengan rumah singgah kami. Memang, anak-anak terbilang suka buku, walau itu buku lebih didominasi gambar daripada teks bacaannya. Kan baca dan pinjam buku di perpus gratis. Hanya, beberapa tahun belakangan, aku tidak lagi ajak anak ke sana. Selain karena kesibukan, juga sebab tidak suka dengan warna gedung perpus 400 bagian depannya. Aku kira mirip dengan Damkar, didominasi perpaduan biru tua dan sedikit merah. Setiap kali aku melintasi perpusda itu, aku dibuat gemas. "Sebenarnya, itu ide siapa sih pilih warna begitu? Massak warnanya tidak ramah dan sejukkan mata.



Sesekali, kalau ada uang cukup, aku ajak anak-anak ke Grage Mall. Bukan untuk belanja apa, selain menuju lantai 2 dan 3, toko buku Gramedia. Anak-anak memang suka buku. Kalau selainnya, paling sekedar makan minum yang dibutuhkannya. Maklum, kami keluarga sederhana, ekonomi kelas menengah ke bawah. Buku-buku yang kami beli pun hanya satu dua, sekedar buat 2 anak yang ada.



Entah sejak tahun berapa, di bilangan Cipto dibuka toko Gramedia. Aku lupa. Toko buku ini terbilang baru. Ia masih tampak gagah perkasa meskipun berdekatan dengan Transmart dan CSB Mall yang jauh lebih besar gedungnya. Gedung toko Gramedia ini memang cukup besar, tingginya empat atau lima lantai, kalau tak salah. Aku tidak terlalu hafal jumlah lantainya. Yang pasti, dan ini yang aku sesalkan, toko buku diletakkan di lantai paling atas. Ke sana, harus melewati lantai demi lantai berisi pajangan barang dagangan mainan, peralatan kantor, alat tulis, dan sebagainya, yang tidak pernah kami singgahi kecuali sekali saat beli tas ransel hitam.



Sejak saat itu, setiap kali liburan datang, atau anak-anak ulang tahun, mereka selalu ingin diajak ke toko buku Gramedia. Sebenarnya, aku paling suka belikan buku buat mereka. Aku juga senang ajak mereka ke Gramedia. Buku-buku yang mereka suka pilih di Gramedia yaitu serial komik terjemahan dari Korea. Sekedar misal, buku Keluarga Super Irit. Ya, meskipun cukup edukatif dan berisi panduan hidup hemat, tapi membelinya malah menguras isi kantong. Buku-buku serial Korea ini, meskipun ngajarin irit dan sederhana, tapi harganya tembus sembilan puluh ribu hingga seratus ribu rupiah perbukunya. Tapi ya maklum, tampilannya memang memukau. Sampul dan lembaran isinya full colour. Anak-anak pun sangat suka. Hanya saja, sesampai mereka di rumah, buku-buku itu dilahapnya hanya sekejap mata, satu dua jam duduk, langsung khatam mereka baca.



Syukurnya, tentu aku harus bilang Alhamdulillah, sejak beberapa bulan ke belakang, toko Gramedia Cipto Cirebon ini buka cuci gudang sepanjang waktu. Mereka gelar lapak buku murah di lantai basement, dekat parkiran. Buku-buku yang biasanya dijual 80-100rb itu cukup dibandrol dengan harga 20rb. Ya, memang tidak semua seri buku tersedia. Buku-buku itu pun memang bukan baru terbit, sesuai judulnya: cuci gudang. Tapi, buku itu masih anyar, karena masih terbungkus plastik.



Ya, sejak itu, ketika kami ke Gramedia, yang kami tuju bukan lagi lantai paling tinggi. Bukan hanya karena lelah naik ke lantai atas. Tapi karena buku-buku di dekat parkiran lebih menggiurakan, tepatnya karena lebih pas dengan isi kantong. Seratus ribu di tangan, bisa dapat 6 buku. Ini sperti beberapa hari yang lalu, sebelum berangkat, dua anak aku ajak ke sana, aku beri jatah lima puluh ribu setiap mereka. Anak aku bebaskan memilih buku yang disuka, asalkan harganya tak jauh dari angka 50rb. Dan benar, keduanya dapat masing-masing 3 buku dengan harga 50rb. Mungkin mereka terinspirasi dari buku Keluarga Super Irit yang mereka baca sebelumnya. Ya, meskipun kejadiannya sama. Sesampai di rumah dari Gramedia, mereka langsung buka buku dan membaca. Anak-anak tidak beranjak dari duduknya, hingga masing-masing khatamkan 3 buku yang baru dibelinya. Wassalam.



Cirebon, 13 Mei 2020_00.07 WIB

Tuesday, April 7, 2020

TERSESAT DI HUTAN: GORESAN PENA ZAHWA

TERSESAT DI HUTAN. Demikian judul komik goresan pena Zahwa Al Kayyisah. Anak perempunku yang satu ini kini berusia 8 tahun. Sekolahnya sekarang kelas 2 SD.


Menggambar memang hobinya. Hampir di semua buku tulis bergarisnya ada coretan gambar. Model gambarnya kini banyak didominasi cergam atau sejenis komik. Kali ini, ia saya tawari dia menggambar di bidang kertas tak bergaris, ukuran A4.

Soal menggambar dia autodidak. Hampir tidak pernah ayah atau ibunya ngajari dia menggambar. Sebab, kami memang kurang mahir menggambar. Ia belajar mandiri. Menggambar sesukanya, tanpa ada yang nyuruh ataupun membimbingnya.

Sempat kami antar ia ke Ohayo Cirebon, sebuah lembaga kursus melukis dan menggambar. Namun, saat ikut kelas trial, dia kurang tertarik atau sreg dengan model kursus di sana. Sebab pastinya kurang tahu.

Selain menggambar, ia sangat suka atau bisa dibilang gila baca buku, khususnya buku cerita bergambar atau komik. Ia baca buku hampir setiap hari lebih dari sekali, tanpa disuruh ataupun diajak. Saking "gilanya baca", sambil makan dia baca komik/cergam yang tersedia di rumah. Makannya pun jadi agak lama.

Saat mau tidur, ia pun bawa setumpuk buku, lebih dari tiga. Gegara ini, ibunya jadi gregetan. "Kenapa tidak cukup 1 atau 2 buku saja sih?!" kata ibunya gemas. Soalnya, di atas ranjang jadi berantakan. Begitu ia bangun tidur, bukulah yang pertama kali dijamah oleh tangannya, sebelum ia beranjak dari ranjang.

Memang, meskipun tidak rutin, kami suka belikan buku cerita buat anak-anak, Nabil & Keysa. Kalau sedang liburan, mereka ingin diajak main ke Gramedia, terutama setelah penguasa buku ini buka toko bukunya di jalan Cipto. Buku yang mereka suka komik terjemahan dari Korea (Selatan). Rerata komik ini selain menarik kemasan dan tampilannya, juga bagus dan edukatif isinya. Hanya, harganya kurang bersahabat dengan dompet orang tua. Syukurnya, toko buku ini selalu buka obral murah buku cuci gudang di lantai parkir basement. Sejumlah judul lama diobral dengan banting harga.

Selain itu, komik Detektif Conan juga mereka suka. Buku serial karya Aoyama Gosho & Yamagishi Eiichi ini juga bacaan kesukaan ibunya. Beberapa seri komik ini yang edisi lama saya beli di lapak buku di Blok M, sebagian lagi dari seorang kawannya Gus Rijal dari Surabaya.

Mungkin, buku-buku bacaannya itu cukup berpengaruh baginya. Bisa iya, bisa tidak. Sebab utamanya, saya kira karena faktor SUKA. Saya bilang begitu, karena Nabil, kakaknya juga suka baca buku yang tak jauh beda. Tapi gaya menggambarnya agak berbeda. Zahwa bi(a)sa menggambar kreatif, tanpa melihat contoh atau pola gambar tertentu. Malah, kalau disuruh mengikuti model atau pola, ia mengalami kesulitan. Ini berbeda dengan Nabil. Ia bi(a)sanya menggambar bila ada pola atau model yang dilihat dan ditirunya. Ya, memang anak-anak tidak sama, punya gaya dan kecenderungan yang berbeda-beda.

Yang masih menjadi tanda tanya besar bagi saya adalah terkait teori belajar dan ketrampilan. Bagaimana Zahwa mendapatkan ketrampilan menggambarnya. Ia belajar dan menggambar secara mandiri, tanpa seorang guru yang membimbing dan mengajari teori menggambar. Siapa yang mengajarinya? Ya, sebagai seorang beragama Islam, mudah saja menjawabnya: Allah subhanahu wata'ala.

Semoga ke depan bisa temukan guru yang cocok baginya. Sehingga bisa lebih melejitkan kecerdasan visualnya, seperti kata Howard Gärdner, bahwa suatu kecerdasan akan bisa meningkat bila diberi stimulus atau rangsangan. Dan, kata Master Dedy Corbuzier dalam satu "ceramahnya" bahwa kita seharusnya memberikan dukungan dan kesempatan belajar anak di bidang yang diminati dan lebih dikuasainya. Anak yang suka menggambar, beri ia fasilitas menggambar. Ia akan merasa pintar dan percaya diri. Jangan malah dipaksa kursus matematika, sebab ia tidak bisa berhitung. Ia akan semakin putus asa, sebab ia merasa tidak bisa dan merasa bodoh. Bisa saja itu malah menjerumuskannya dalam jurang kehancuran. Na'udzubillah. Wallahu a'lam.[]

Masyhari

Thursday, March 26, 2020

TRADISI MENULIS DAN PLAGIARISME



Oleh: Masyhari*


Kegiatan menulis tidak dapat dilepaskan dari kehidupan manusia. Dengan tulisan manusia bisa mengabadikan hidupnya, sebab jatah usia hidup manusia terbatas. Dengan adanya karya tulis yang dihasilkan, hidup manusia menjadi abadi. Alhasil, karya tulis merupakan nyawa tambahan yang “diciptakan” manusia sendiri dari hasil usahanya. 

Dikutip dari sejarah.id, bahwa tulisan merupakan batas lorong waktu antara zaman prasejarah dengan zaman sejarah. Zaman sejarah ditandai dengan dikenalnya tulisan di kalangan umat manusia. Tulisan era sejarah awal ditemukan di prasasti-prasasti, berupa ukiran di bebatuan. 


Zaman sebelumnya disebut zaman prasejarah, disebut juga dengan zaman nirleka yang berarti tidak ada tulisan. Peristiwa atau kejadian pada masa itu tidak diabadikan dengan rekaman tulisan, sehingga generasi setelahnya tidak mengetahui detail peristiwa pada masa itu, kecuali melalui penemuan fosil dan tulang-belulang.

Dalam sejarah Islam, khususnya, tulisan memiliki tingkat urgensi yang tinggi. Berbagai cabang dan bidang ilmu pengetahuan, tidak hanya di bidang keagamaan semisal akidah, akhlak, tasawuf, fikih, ushul fikih, dan lain sebagainya, bahkan ilmu eksakta dan sosial semisal sejarah (tarikh), astronomi (falak), kedokteran (ath-thibb), farmasi (shaidalah), kimia, sastra, matematika (riyadhiyyat), dan lain sebagainya dicatat dengan rapi oleh para pakarnya, sehingga kita generasi setelah mereka dapat menikmati dan mempelajari ilmu-ilmu tersebut dan mengembangkannya hingga kini.


Karya-karya tersebut semacam literature review, pustaka yang amat berharga bagi proses penulisan karya-karya selanjutnya, sebut saja misalnya Ibnu Sina (Avicenna), menulis Al-Qanun fi Ath-Thibb-nya, sebuah karya monumental dalam bidang kedokteran. Dalam bidang Ushul Fiqh, ada Imam Asy-Syafi’i dengan Ar-Risalah yang dituliskan melalui tangan santrinya Rabi’ bin Sulaiman Al-Muradi, serta Al-Umm karyanya dalam bidang fikih.


Bagi kita, umat Islam khususnya sungguh beruntung, dahulu selain dihafalkan, Al-Qur’an juga dituliskan di berbagai media, mulai dari pelepah kurma, lontaran kayu, hingga tulang-belulang. Tidak terbayangkan bagaimana seandainya dahulu ayat-ayat tersebut tidak dituliskan? 


Sejarah penulisan Al-Qur’an berlanjut pada masa Abu Bakar. Ketika para sahabat penghafal Al-Qur’an banyak yang gugur di medan perang Yamamah (tahun 12 H), Umar bin Al-Khattab mengusulkan kepada Khalifah Abu Bakar, agar mengumpulkan tulisan ayat-ayat Al-Qur’an yang berserakan itu dan mengkodifikasikannya dengan berbagai rijwayat yang ada. 


Puncaknya, pada masa Khalifah Utsman bin Affan, beliau melakukan semacam penyuntingan, verifikasi dan validasi terhadap riwayat yang ada. Selanjutnya, mushaf Utsmani itu disalin dan disebarkan ke sejumlah wilayah yang ada.


Demikianlah sekilas kisah proses perjalanan panjang bagaimana mushaf Al-Quran terbukukan, mulai dari goresan huruf demi huruf, kata demi kata, ayat demi ayat, surat demi surat, verifikasi, pembukuan, penyalinan hingga penyebaran. 


Hal ini bisa kita analogikan pada proses panjang menghasilkan sebuah karya tulis pada era kini. Dengan konsisten dan penuh komitmen seorang penulis merangkai kata demi kata, satu demi satu, hingga tersusun kalimat. Dari kalimat terangkai sebuah alinea dalam satu topik. 


Selanjutnya tulisan-tulisan itu dikumpulkan dan diverifikasi mana yang layak dan mana yang kurang. Pada tahapan selanjutnya yaitu proses editing (penyuntingan). Bila sudah matang, tulisan dicetak, diperbanyak, diterbitkan dan terakhir didistribusikan kepada para pembacanya.


Begitu pula dengan Hadis Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Bisa kita bayangkan bagaimana seandainya sabda (qaul), tindakan (fi’l) dan keputusan (taqrir) beliau tidak diriwayatkan, lantas dituliskan dan dibukukan oleh para pakar. Tentunya, kita tidak akan bisa membacanya hingga saat ini. Demikianlah tingkat urgensitas tulisan bagi kehidupan umat Islam khususnya, dan umat manusia pada umumnya.


Lantas bagaimana sikap kita sebagai mahasiswa, selaku insan akademis yang terdidik, setiap hari berkutat di bangku perkuliahan? 


Mau tidak mau, sebagai generasi penerus kehidupan, kita harus bergerak cepat membawa tongkat estafet transmisi ilmu pengetahuan dengan aktif menulis, aktif di dunia literasi. Di kampus, aktifitas tulis-menulis tidak mungkin dapat dilepaskan. Kita tahu dan sadar betul bahwa tugas-tugas kampus tidak terlepas dari kegiatan literasi; baca dan tulis. Setiap matakuliah yang merupakan perwujudan dari ilmu yang kita pelajari berupa tulisan dan kita diharuskan untuk mengerjakan tugas-tugas penulisan dan penelitian, dalam rangka mengais dan mengembangkan ilmu pengetahuan, sebagai bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi. 
Karena itu, menghasilkan karya tulis menjadi satu syarat sesorang bisa memperoleh gelar kesarjanaan, berupa skripsi di level sarjana (S1), tesis di level magister (S2) dan disertasi di level doktoral (S3).

Hanya saja, dalam tataran realita karya tulis ilmiah yang dihasilkan mahasiswa –baik artikel, makalah, maupun skripsi-, tidak jarang ditemukan semacam plagiarisme, copas (copy paste) dari tulisan karya orang lain. Copas yang dimaksud, paling parah dengan menduplikasi karya orang lain dan mengakuinya sebagai karyanya, sedikit ataupun banyak. Bentuk minimalnya, dengan mengutip tulisan orang lain dengan jumlah banyak secara langsung hingga berhalaman-halaman apa adanya, menyalin dan menempelkannya saja, tanpa melakukan parafrase, menyesuaikan bahasa penulis asal dengan gaya bahasanya sendiri. 


Lantas, apa faktor penyebabnya? Bagaimana pula upaya atau solusi untuk meminimalisirnya?


Banyak faktor yang mengakibatkan terjadi plagiarisme di kalangan mahasiswa. Berikut ini disebutkan beberapa faktor internal yang ditengarai sebagai penyebab maraknya plagiarisme karya. Mungkin faktor lainnya masih ada lagi.


Pertama, kurangnya minat membaca

Membaca adalah aktivitas menyerap informasi dari sumber tertulis, mencerna dan memahaminya secara utuh. Ketika seseorang malas membaca, maka besar kemungkinan ia minim informasi yang bisa dituangkan ke dalam tulisannya. Kalaupun membaca, tapi tidak dicerna dan dipahami dengan baik, maka ia pun hanya menyalin dan menempelkannya.

Solusi yang ditawarkan, dengan membiasakan diri membaca. Bagi dosen pengampu matakuliah apa saja, bisa menugaskan mahasiswa membaca satu buku tuntas secara cermat dan memahaminya, dimulai dari satu paragraf ke paragraf selanjutnya, dari satu bab ke bab berikutnya, kemudian memintanya menjelaskan kepada kawan-kawannya. Setelah khatam, ia ditugaskan membaca buku lainnya, dan seterusnya. Dengan begitu, dia mulai terbiasa membaca dan menikmati tradisi membaca, meskipun awalnya terpaksa.


Kedua, tidak terbiasa menulis


Kata ahli kebijaksanaan, “Ala bisa karena terbiasa”. Seorang mahasiswa melakukan copas, ketika saya tanya mengapa, dia menjawab karena [merasa] tidak bisa merangkai kata atau merasa tidak percaya diri dengan tulisan yang dihasilkan dari rangkaian kata-katanya sendiri. Hal itu disebabkan karena ia belum memiliki tradisi menulis. 


Sejatinya, dalam menulis jam terbang menentukan kualitas. Bila jarang menulis, jari-jemari tangan akan terasa berat merangkaikan kata demi kata, menuangkan ide dan pikiran. Tulisan yang dihasilkan pun tidak enak dibaca. 


Hal ini berbeda dengan mereka yang jam terbang menulisnya sudah tinggi, setiap hari menulis, maka kata demi kata akan mudah terangkai dan kalimat demi kalimat terkoneksi dengan rapi, sehingga enak dibaca dan mudah dipahami pembacanya.


Solusi mengatasi problem ini kita harus membiasakan diri menulis setiap hari. Seorang dosen bisa memberi tugas lanjutan, setelah mahasiswa membaca, menceritakan dan mempresentasikan hasil bacaannya, ia diminta menuliskan tulisan sederhana apa yang dipahami dari bacaannya dengan redaksi bahasa mahasiswa sendiri. Satu buku diperas menjadi satu hingga tiga halaman saja. Ini semacam jurus mengikat makna yang dipopulerkan oleh Hernowo. 


Selain itu, dosen bisa pula memberikan tugas menulis resume, semacam catatan perkuliahan atau diskusi yang dilaksanakan setiap pertemuan. Dosen memberikan cukup waktu sekitar 15 menit terakhir jelang ditutupnya perkuliahan kepada mahasiswa untuk menulis sekitar setengah atau satu halaman, atau sekitar 5 alinea, berkaitan seputar topik materi perkuliahan. 


Solusi berikutnya, dalam momentum ujian, baik UTS maupun UAS, dosen memberikan soal uraian, mahasiswa diminta menjelaskan suatu persoalan secara argumentatif yang memaksanya untuk mengeluarkan pendapatnya. 


Solusi lain yang tidak kalah pentingnya, yaitu dosen dan mahasiswa membuat komitmen menulis setiap hari. Setiap hari menghasilkan satu tulisan, bebas, apa pun tema dan genrenya.  


Ketiga, tidak menguasai teknik penulisan atau pengutipan.


Kerap terjadinya kesalahan, karena seorang mahasiswa kurang memahami dan menguasai teknis penulisan dan teknis sitasi (pengutipan) yang baik. 


Seorang penulis karya ilmiah semestinya tidak hanya sebatas menyusun kutipan-kutipan dari penulis sebelumnya, akan tetapi menganalisis, menginterpretasikan, menyimpulkan, mengkomparasikannya dengan pendapat pakar lain, dan bisa mengomentari, menanggapi atau bahkan mengkritiknya. Kutipan tidak langsung lebih diutamakan. Sementara kutipan langsung sebaiknya dihindari, kecuali terpaksa, semisal teks-teks suci Al-Quran atau Hadis, ataupun manuskrip yang harus dituliskan apa adanya. 


Solusinya, dosen harus sabar membimbing dan mengarahkan mahasiswa bagaimana menulis dan mengutip yang baik. Ia berikan berbagai macam contoh tulisan yang memuat kutipan. Berikan simulasi pelatihan secara intensif dan berkelanjutan bila diperlukan.


Sebenarnya, masih banyak faktor penyebab lainnya dan bisa kita carikan solusi atas problem-problem tersebut. Sehingga, insan akademis kita bisa menghasilkan karya yang kreatif, bukan hanya copast dan plagiasi dari karya orang sebelumnya. Semoga.  

  
Cirebon, 26 Maret 2020

* Penulis adalah sekretaris PC ISNU Kabupaten Cirebon (2018-2022), dan dosen di STAI Cirebon dan IAIN Syekh Nurjati Cirebon.        
     
  


Friday, November 22, 2019

Menulis Semudah Mengobrol?

Oleh: Masyhari

Tidak sedikit yang bilang, menulis itu sulit, sesulit move on, meninggalkan kenangan indah masa silam bersama mantan. Menulis itu berat, katanya, seberat menjalin hubungan dengan jarak jauh (ldr), berjauhan dengan ia yang tersayang. Abot, gaes. 

Mematahkan asumsi tersebut banyak penulis yang bilang bahwa menulis itu mudah, semudah ngobrol. Tujuannya untuk memotivasi dan menghidupkan semangat menulis mereka yang hampir putus asa. Mengapa kemudahan mengobrol jadi bahan perumpaan? Bisa jadi karena kebanyakan orang merasa mudah sekali ngobrol ngalor ngidul, ke sana ke mari, tanpa beban dan hambatan, bahkan kadang lupa waktu. Kacang goreng dan kopi di hadapan tak terasa sampai habis, namun obrolan terus berlanjut, tak jua berujung. Sementara menulis, kerap kali satu dua menit saja sudah terasa lelahnya, mandeg, selanjutnya apa dan bagaimana.

Dengan begitu, menulis bila dilakukan seperti sedang mengobrol maka menulis akan terasa ringan, tanpa beban. Karena itu, bila kita menulis seperti sedang curhat, maka tulisan kita akan begitu mudah teralirkan, kata demi kata akan terangkai dengan begitu mudahnya.

Bahkan, tidak hanya itu, menurut Ahmad Rifai Rifan penulis buku best seller, dalam bukunya bertajuk Super Writer, mengatakan bahwa dalam menulis jangan terlalu pusing mikirin tata bahasa dan bahasa baku ataukah tidak. Jangan pula berpikir tulisan kita bagus ataukah tidak. Yang lebih penting menulis. Menulislah seperti kita sedang ngobrol, tanpa beban. Sebab, kalau kita mikirin tulisan kita bagus atau tidak, kita akan urung nulis. Setelah selesai menulis, baru kita lakukan proses editing. 

Jujur, saya sendiri tertarik membeli buku tersebut selain karena judulnya, juga karena melihat penulisnya yang buku-bukunya rerata best seller. Akan tetapi, ketika baca isi bukunya, ternyata bukunya sependek amatan amatir saya, tulisan-tulisan di dalamnya sangat-sangat biasa. Yang luar biasa, setiap kali membaca satu judul tulisan di dalamnya, saya malas melanjutkan bacaan saya. Saya tutup dan ingin menuliskan banyak ide yang ada di kepala. "Tulisan begini saja bisa jadi buku, dan best seller. Massak saya tidak bisa!" kata saya dalam hati.

Penulis lain yang patut dijadikan teladan yaitu Gus Rijal Mumazziq Zionis. Saya begitu menikmati tulisan-tulisannya. Tulisannya begitu apik mengalir layaknya aliran air bengawan Solo. Tampak dari sederet tulisannya berisi obrolan atau dialog ringan, cerita sarat hikmat dan pelajaran. Tulisan-tulisan sang rektor muda INAIFAS ini kebanyakan dipenuhi dengan kisah-kisah, entah nyata, pilem India, ataupun fiksi belaka. Dari kisah-kisah tersebut, Gus Rijal menebarkan ragam pelajaran tanpa menggurui. Bila Anda ingin menulis dengan bagus dan renyah, saya rekomendasikan untuk membaca tulisan-tulisannya. Wallahu a'lam bisshawab.

Griya Literasi, 21 November 2019

Thursday, November 21, 2019

Beda Pendapat dan Toleransi


Oleh: Masyhari


Belakangan ini, kasus intoleransi dan terorisme berbasis radikalisme-eksklusifisme beragama marak terjadi. Data yang cukup mengejutkan, ternyata tak jarang dari kalangan mahasiswa dan dosen malah terpapar intoleransi dan radikalisme ini. Padahal, semestinya kalangan akademisi dan intelektual kampus (perguruan tinggi) lah yang menjadi agen penggerak dan pionir moderasi. Sebab, di kampus mahasiswa diajarkan dan dibimbing oleh dosen cara berpikir ilmiah dan filosofis.

Di kampus, tradisi berdiskusi disemarakkan, baik di perkuliahan dalam ruang kelas maupun sekedar kongkow di warung kopi pinggir jalan. Dalam setiap mendiskusikan suatu permasalahan, tentu ada saja perbedaan dan perselisihan pandangan. Hal ini karena perbedaan perspektif, sudut pandang dan latar belakang masing-masing orang. Perbedaan pandangan kadang terjadi antar mahasiswa, antara penyaji makalah pengantar diskusi dengan audien, terkadang beda pandangan di antara audien. Tak jarang pula, mahasiswa berbeda pandangan dengan dosen pengampu matakuliah. Demikianlah dinamika yang ada. Silahkan berbeda! Sebab itu wajar dan niscaya. Utarakan pendapat. Yang terpenting, perkuat dengan argumentasi dan dalil-buktinya. Perbedaan pandangan dan pendapat disikapi dengan arif dan saling menghargai satu sama lainnya.

Dalam perkuliahan yang saya ampu, fikih kontemporer dan perbandingan mazhab, sengaja saya munculkan materi tentang "toleransi antarumat beragama". Maka, isu-isu teranyar dan segar pun sengaja saya munculkan di ruang diskusi kelas antar mahasiswa. Misalnya saja isu penyegelan rumah ibadah penganut kepercayaan lain, sebut saja Ahmadiyah misalnya. Isu lainnya, tentang hukum bekerja di rumah ibadah agama lain (semisal gereja), hukum memberikan izin pendirian rumah ibadah agama lain, dan sebagainya.

Tentunya, pada pertemuan-pertemuan awal, mahasiswa sudah dibekali dengan adab diskusi, sebab perbedaan pendapat di kalangan ulama, sejarah beda pendapat dari zaman awal Islam hingga masa kini, dan bagaimana sikap yang semestinya dalam perbedaan pendapat.

Mahasiswa saya biarkan berdiskusi dan terlibat dalam perdebatan, tentunya dipandu oleh seorang mahasiswa yang ditunjuk sebagai moderator, selaku pengatur jalannya diskusi. Bilamana diskusi mulai kurang kondusif, maka tugas dosen sebagai penengah, menenangkan keadaan.

Dalam diskusi soal membantu pendirian rumah ibadah agama lain, misalnya. Saya lemparkan pertanyaan, "Bila saja di kampungmu akan didirikan gereja, dengan izin lengkap dari RT, RW, pemerintah, Kemenag, dan sudah ber-IMB. Lantas Anda selaku warga diminta bantuan oleh panitia berupa tenaga, pikiran atau dana, sementara Anda mampu. Apa yang Anda lakukan?"

Bagi yang menjawab tidak mau membantunya, saya tanyakan alasannya. Katanya, ini bagian dari urusan agama. Membantu mendirikan gereja sama saja dengan tolong-menolong dalam kemusyrikan (ta'awun alal itsmi). "So, hukumnya berdosa, dong?" lanjut tanya saya. "Iya," jawabnya.

"Lah, apa nanti panitia tidak merasa tersinggung?"

"Kan bisa sampaikan seribu satu alasan. Entah lagi sibuk lah, atau yang lainnya. Bisa juga kita jelaskan argumentasi ideologis saya, Pak." jawabnya.

Tak jarang pula yang jawab, "Saya akan bantu tenaga, beri sumbangan dana, dan saya kirimkan jajanan untuk para pekerjanya. Khususnya bila diminta."

"Nanti kamu kira-kira dapat pahala atau dosa?" tanya saya.

"Pahala in sya Allah, Pak. Kan ini bagian dari membantu dalam kebaikan. Tolong-menolong dalam urusan dunia."

"Lah, kamu kan ikut mendirikan sarana kesyirikan?" lanjut saya memancing.
"Ini kan menurut agama saya. Kalau menurut agama mereka, itu kan ibadah. Jadi, menolong orang beribadah kan dapat pahala. Kalau saya ikut ritual agama mereka, lain cerita. Kan tidak!" jawabnya mantap.

Selain argumentasi itu, ada pula yang beberkan pandangan para ulama, baik klasik maupun kontemporer, dengan mengkontekstualisasikan dengan kondisi Indonesia. "Iya, ada yang melarangnya. Namun, kalau melihat konteks Indonesia yang plural dan heterogen, kita kedepankan toleransi dan saling menghormati."

**

Maka, yang jadi pertanyaan sekarang, apa sebenarnya yang melanda sejumlah kampus negeri kita? Konon, banyak mahasiswa dan bahkan dosennya sampai terpapar radikalisme dan kasus intoleransi. Bisa jadi, mereka yang berbasis pendidikan umum (baca: non agama), sehari-harinya belajar ilmu biologi, fisika, teknik, dsb, lantas belajar agama Islam lewat kajian-kajian keislaman tematik pekanan, berbasis ceramah, baik offline maupun online, dengan guru yang tidak bervariasi pandangan. Sehingga, yang diketahui dan yang dipahami berupa fikih dianggap sebagai syariah, sebuah kebenaran tunggal. Hal berbeda dengan kebenaran yang diyakininya dianggap salah. Sebab, kebenaran tidak mendua, katanya.

Tampaknya, fikih perbandingan mazhab, diskusi, fikih toleransi, ushul fikih, tarikh tasyri' dan maqashid syari'ah perlu diajarkan pula di kampus-kampus umum negeri, bukan hanya ajaran agama dalam satu pendapat dan mazhab. Wallahu a'lam


Thursday, October 25, 2018

Peran Sarjana NU dalam Pendidikan Karakter


















Oleh: Masyhari*

Para lulusan perguruan tinggi (sarjana) selama ini diasumsikan sebagai kaum cerdik cendekia yang memiliki kualitas kemampuan di atas rata-rata. Mereka sering dianggap sebagai orang pintar yang bisa melakukan perubahan dan menjadi problem solver atas berbagai macam problematika yang dihadapi masyarakat pada umumnya.
Oleh karena itu, pantaslah bila masyarakat senantiasa menunggu peran dan kiprah para sarjana dalam memperbaiki kondisi bangsa yang sedang karut marut, dimana penyakit sosial, dekadensi moral dan karakter demikian kronis melanda anak bangsa. Tingkat kenakalan di kalangan remaja demikian tinggi. Sikap hormat terhadap orang tua dan guru sudah makin redup di kalangan pelajar, siswa-siswi kita. Beberapa waktu yang lalu misalnya, kita dihebohkan dengan berita yang sangat menyayat hati, seorang guru SMK di Madura mati di tangan siswanya sendiri. Tentu ini menjadi pukulan berat bagi dunia pendidikan di negeri ini, dan patut menjadi keprihatinan bersama.
Sementara itu, peredaran narkoba di negeri ini sudah demikian hebat menyerang dan menyergap kalangan remaja-muda, para generasi bangsa kita. Bagaimana bangsa ini akan maju, bila generasi mudanya telah teracuni oleh obat-obatan terlarang yang merusak otak dan kesadaran mereka.
Hal itu diperparah dengan meningkatnya angka korupsi di kalangan elit politik dan pejabat di negeri ini, baik di level legislatif maupun eksekutif. Bahkan, untuk menjadi calon anggota legislatif ataupun eksekutif, tidak sedikit "modal mahar" yang harus dikeluarkan. Kasus suap-menyuap pun menyeret banyak nama elit negeri ini. Yang terbaru misalnya, kasus mega korupsi e-KTP tak jua mencapai garis finish. Kian hari, makin menambah daftar panjang pejabat yang terlibat. Para politikus hitam pelaku korupsi bukannya jera karena terjerat tipikor, seakan urat malu telah terputus dari mereka. Kejujuran kini amat mahal harganya.
Oleh karena itu, pendidikan karakter mutlak harus digalakkan secara serius di berbagai lini, khususnya di lembaga pendidikan madrasah sebagai institusi pendidikan di bawah kementrian agama yang lahir dan tumbuh dengan membawa pesan ikhlas beramal. Diharapkan pendidikan karakter akan menjadi peredam atau paling tidak meminimalisir tingkat dekadensi moral di negeri ini.
Di sinilah letak urgensi peran dan kiprah para sarjana, khususnya sarjana Nahdlatul Ulama yang terwadahi oleh ISNU (Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama). Mereka selain telah mengenyam pendidikan di perguruan tinggi (Universitas) juga telah banyak ditempa dengan berbagai macam uji coba kehidupan kala mereka menempuh pendidikan di pesantren. Mereka sudah seharusnya tidak lagi hanya berpikir bagaimana mencerahkan masa depan mereka sendiri, akan tetapi bagaimana menjadi pengobat dahaga bangsa yang kian hari kian kering kerontang, juga bisa meredam gejolak, meredupkan api kebencian oleh isu SARA, berita hoaks, fitnah dan lain sebagainya, dengan turun berperan aktif dalam pendidikan berbasis karakter, sikap dan moral yang baik di lembaga-lembaga pendidikan (sekolah)dan masyarakat tempat mereka mengabdi, bukan hanya kedepankan kecerdasan otak, tapi juga kecerdasan emosi, spiritualitas, kesantunan tutur kata dan sikap. Wallahu a’lam.

Sekretaris PC ISNU Kabupaten Cirebon 2018-2022

Wednesday, August 8, 2018

Pilih Belajar ataukah Mengajar?

"Lebih utama belajar ataukah mengajar?" tanya seseorang.

"Tentu, belajar lah yang lebih utama.
Dan, kalaupun sudah mengajar, tetap harus kita niatkan belajar." Jawabku.

"Banyak orang, ketika sudah berprofesi sebagai "guru" dan mengajar, ia enggan lagi untuk belajar. Karena ia merasa sudah jadi guru dan merasa pintar. Ini bagian dari kesombongan.

Orang yang sudah merasa pintar, ia enggan belajar, ia mudah menyesatkan orang yang berbeda pandangan dan sikap dengannya.

Semakin alim dan luas ilmu seseorang semakin luas pula cakrawala berpikirnya. Ia lebih mudah dan bisa menerima orang lain yang berbeda, dan tidak gampang kagetan.

Karena, semakin banyak belajar akan semakin merasa bodoh dan tidak tahu apa-apa. Sehingga ia akan terus belajar dan banyak piknik, sampai kapan? Hingga ia tutup usia."

Dalam suatu majelis di Pasuruan, seorang guru Qiraati pernah mengatakan, "Belajar wajib, mengajar tidak wajib."

Teruslah belajar. Jangan pernah  mengajar, kecuali berniat untuk belajar.

Wallahu a'lam

Monday, October 16, 2017

Istrikah Yang Terlaknat?


Kontekstualisasi Hadis tentang Istri Terlaknat
Oleh: Masyhari

Seseorang bertanya kepada penulis terkait dengan seorang istri yang kondisinya masih fit secara jasmani, namun enggan memenuhi permintaan suaminya berhubungan seks. Alasannya, si istri sedang ill-feel akibat perlakuan dan cara suami yang kasar serta seenaknya sendiri. Apa istri yang begini juga dilaknat malaikat sampai Subuh tiba?

Qultu: Begini kawan, suami lah yang semestinya kudu pengertian, tepatnya pinter ngerayu, menghibur dan atau kalau perlu melakukan rabaan, cumbuan halus kepada istrinya, ia bisikkan kata-kata lembut di telinga sang istri. Bila pria mudah takluk dengan pose tubuh seksi, bohay dan molek wanita, maka wanita akan mudah takluk dengan rayuan kata indah dan meneduhkan.

Sehingga, bukanlah istri yang dilaknat, tapi sebaliknya, laknat itu akan berbalik kepada suami yang kasar dan tak berperikeistrian.

Wah, ngawur ini! Liberal ini!

Ngawur?! Liberal?!

Begini akhi, jawabanku ini berdasarkan Alqur'an dan hadis loh. Dan bukankah kita kudu berpedoman pada keduanya?

Di dalam al Quran, Allah swt berfirman di dalam QS an Nisa ayat 19:
"وعاشروهن بالمعروف"
"Dan, pergaulilah mereka secara ma'ruf."

Kata ma'ruf kerap diterjemahkan "dengan baik", "sepatutnya", atau "sesuai dengan adat dan tradisi yang baik ('urf)". Hal ini sebagaimana  yang diungkapkan oleh Syekh Muhammad Abu Zahrah terkait tafsir ayat tersebut:

"Allah menerintahkan para suami agar bergaul dengan baik, dimana kedua hati dan jiwa bertaut. Sudah menjadi tabiat jiwa, ia suka pada kasih sayang, bukan sikap kasar. Kata "usyrah" pun terkadang diartikan dengan interaksi . Sementara kata "ma'ruf" maksudnya, seorang suami mempergauli istrinya dengan yang sepatutnya, menghindari hal-hal yang tidak disukai, baik menurut akal sehat, syariat ataupun adat-tradisi. Suami yang baik yaitu yang romantis, tidak membuat istri lari darinya. Ialah yang mau melakukan pendekatan padanya, dengan segala cara dan upaya, bukan malah menjauhinya," Jelas Syekh Abu Zahrah.
Bahkan, lanjut Syekh Abu Zahrah, "Sahabat Ibnu Abbas pernah berkata, "Sungguh, aku berhias untuk istriku, sebagaimana istriku berhias untukku."

Bahkan, bisa jadi, sang suamilah yang malah menjadi penyebab sang istri enggan untuk bersikap baik kepadanya. Maka, suatu ketika, seorang wanita mengadu kepada shabat Umar bin Al Khaththab, meminta agar dipisahlan dari suaminya.

Sahabat Umar pun mengarahkan pandangan ke suami wanita tersebut. Ternyata, sang suami memang berantakan, rambutnya panjang acak-acakan, pakaiannya compang-camping tak terawat. Beliau menduga, pemandangan inilah yang membuat sang istri melayangkan "gugatan" tersebut.

Maka, sahabat Umar pun mengirimnya ke tempat semacam salon & spa. Ia dimandikan, dan dipakaikan baju yang bagus dan menawan. Sang istri pun dihadirkan. Sejurus kemudian, setelah melihat tampilan baru lelakinya, sang istripun menarik kembali gugatan cerainya, lanjut Syekh Abu Zahrah.

Dengan demikian, seorang suami dituntut untuk begaul dan memperlakukan istrinya dengan lemah lembut, tutur kata yang baik dan penuh kasih sayang. Seorang suami harusnya mau belajar berkomunikasi dan berinteraksi yang baik dengan istri. Bahkan, terang Syekh Muhammad Abu Zahrah, menggauli istri dengan yang terbaik merupakan tanda-tanda kejantanan seorang suami.

Hal ini senada dengan firman Allah di atas, Rasulullah saw bersabda:


عن أبي هريرة رضي الله عنه، أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: "أكمل المؤمنين إيماناً أحسنهم خلقاً، وخياركم خياركم لنسائهم خلقاً". رواه الترمذي وقال: حديث حسن صحيح.

Diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw bersabda, "Seorang mukmin yang paling sempurna imannya yaitu yang paling baik akhlaknya, dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik akhlaknya terhadap istrinya."  (Hadis ini diriwayatkan oleh Imam at Tirmizi, dan ditempatkannya dalam derajat "hasan shahih").

Di dalam riwayat lain disebutkan:

" خيركم خيركم لأهله، وأنا خيركم لأهلي".

"Sebaik-baik kalian ialah yang paling baik sikapnya terhadap keluarganya, dan akulah yang terbaik akhlaknya terhadap keluargaku." (HR Ibnu Majah).

Dengan demikian, seorang suami dituntut agar menjadi suami yang pengertian. Dan  suami terbaik adalah suami yang paling mengerti dan penuh kasih terhadap istrinya. Karena wanita ingin dimengerti. Suami yang baik bukan suami yang kasar, yang mau menang sendiri, yang hanya bisa "mengancam dengan laknat" kepada istrinya yang enggan melayani nafsu biologisnya. Maka, laknat malaikat bisa jadi malah berbalik ke arah mereka. Na'udzubillah min dzalik. Semoga kita menjadi suami terbaik, yang penuh kasih sayang dan lemah lembut terhadap istri.

Cirebon, 16 Oktober 2017

Wednesday, October 11, 2017

Silabus Mata Kuliah Pengantar Ilmu Fikih

Silabus Mata Kuliah Pengantar Ilmu Fikih
Sekolah Tinggi Agama Islam Cirebon (STAIC)

Identitas Mata Kuliah
Mata Kuliah: Pengantar Ilmu Fikih
Jurusan/ Prodi: Tarbiyah/ PAI-PMI-PGMI-PBA
Semester/ Tahun: I/ 2017
Dosen Pengampu: Masyhari, Lc., M.H.I

Deskripsi Mata Kuliah

Ilmi fikih merupakan satu disiplin ilmu yang memiliki kedudukan yang sangat urgen di dalam rumpun ilmu keislaman.

Karena itu setiap mahasiswa khususnya di jurusan Tarbiyah diharapkan bisa menguasainya terkait dasar-dasar hukum Islam, masalah-masalah fikih, baik masalah klasik yang memiliki status hukum yang jelas, memiliki dasar hukum tekstual maupun filosofis dan telah  terkodifikasikan secara rapi, maupun masalah kontemporer yang tidak secara eksplisit tertuang di al Quran dan as Sunnah.

Dengan mata kuliah ini, mahasiswa diharapkan memiliki pijakan dasar dan pemahaman, khususnya dalam mengkaji masalah aktual seiring dengan dinamika sosial yang terus berkembang melalui penetapan hukum Islam. Dengan demikian, mata kuliah ini menjadi bekal dasar bagi mahasiswa dalam memahami dan mempelajari Islam secara komprehensif.

Kompetensi
1. Memiliki kemampuan dalam hal memahami dan menjelaskan peran dan fungsi ilmu fikih, berikut prinsip-prinsip dasarnya dalam pemecahan kasus.
2. Memiliki kemampuan dalam menerapkan dan menguraikan cara kerja metode fikih dalam penetapan hukum Islam terhadap permasalahan yang tidak secara eksplisit tertuang dalam teks-teks syariat (al Qur'an dan as Sunnah).

Topik Inti
1. Pengertian dan Ruang Lingkup Ilmu Fikih
2. Sejarah Perkembangan Ilmu Fikih
3. Objek Kajian Ilmu Fikih
4. Hubungan antara Ilmu Fikih dan Ushul Fikih,
5. Fikih dan Syariah
6. Klasifikasi Ilmu Fikih
7. Sumber-Sumber Fikih
8. Kaidah-Kaidah Fikih
9. Metode Ilmu Fikih
10. Karakteristik Fikih Islam
11. Prinsip Dasar Fikih
12. Pengertian dan Pembagian Hukum Syara'
13. Hakim, Mahkum Fih dan Mahkum 'Alaih
14. Ijtihad dan Ikhtilaf
15. Mazhab-Mazhab Fikih
16. Masalah-Masalah Fikih Kontemporer

Referensi
1. Atjep Djazuli, Pengantar Ilmu Fikih
2. Imam Taqiyuddin, Kifayatul Akhyar Fi Halli Ghayatil Ikhtishar
3. Wahbah Az Zuhaily, Al Fiqh Al Islami wa Adillatuhu
4. As Shan'ani, Subulussalam Syarah Bulughul Maram
5. Khuzaimah Tahido Yanggo, Pengantar Perbandingan Mazhab Fikih
6. Musthafa Said Al Khinn, et. al, Al Fiqh Al Manhaji ala Mazhab Al Imam asy Syafi'i
7. Yusuf Al Qaradhawy, Madkhal li Dirasah Asy Syari'ah Al Islamiyyah
8. Manna' Khalil Al Qaththan, Tarikh at Tasyri' Al Islami
9. Referensi lain yang relevan dengan bidang pembahasan.

Dosen Pengampu,

Ttd.

Masyhari, Lc.,M.H.I

Tuesday, October 3, 2017

Membaca dan Menulis

Oleh: Masyhari

Mungkin, membaca itu aktifitas yang mudah dilakukan. Alasannya simpel. Pertama, karena membaca layaknya makan, kegiatan konsumsi atas masakan orang (baca: penulis). Tinggal makan. Kalau enak yang dirasa, dinikmati dan dilanjutkan, kalau perlu nambah. Kalau tak enak, tinggal muntahin. Cari alternatif lain.

Ya, yang namanya makanan, tergantung selera. Ada yang suka makanan bergizi, buah sayur, madu alami, sekedar minum air putih atau susu murni. Karena lidahnya masih sayang sama perutnya dan dirinya sendiri. Tak hanya enak rasa yang diutamakan, tapi gizi yang seimbang bagi kesehatan.

Ada yang suka makan yang enak di lidah saja. Yang penting enak, makan. Puas, dan senang. Kotoran urusan(nya) (ke) belakang. Kesehatan urusan belakangan. Fast food, junk food, soft drink dan makan yang instan pun jadi pilihan. Enak sih. Lagi pula, halal kok.

Ya. Halal memang harus. Tapi, itu saja tak cukup. Tapi harus yang bergizi dan baik buatmu. Yang baik buat orang lain, bukan berarti otomatis baik buatmu. Semua ada kadar dan takarannya. Beda-beda tergantung situasi, kondisi, waktu, tempat dan siapanya. Alqur'an menyebutnya dengan thayyib. Ya, halalan thayyiban.

Bahkan, lebih parah dari itu, bisa jadi, ada yang tak peduli lagi tentang status makanan yang ada di hadapannya. Tak peduli, enak atau tidak. Tak peduli halal atau tidak. Tak peduli baik atau tidak. Yang terpenting, saya makan. Apalagi gratisan. Mumpung ada. Toh, tinggal makan.

Kedua, membaca itu objek, sebagai maf'ul bih. Dan pelakunya adalah penulisnya. Penerima, yang memperoleh informasi melalui indra yang dipakai oleh pembaca. Bisa dengan mata, kalau itu text book, atau dengan telinga, bila itu audio book. Paling tidak, sedikit banyak, pembaca akan terpengaruhi oleh buku bacaannya. "Kamu adalah apa yang kamu baca."

Karena itu, untuk mendapatkan pengaruh yang baik, bacalah tulisan dan buku yang baik dan bergizi bagi hati dan pikiranmu. Hindari tulisan yang kurang baik, apalagi bila itu hoax, berita bohong yang penuh tipu daya, yang ditujukan hanya untuk raup keuntungan rupiah atau dollar Amerika. Kuncinya, jangan mudah tergoda oleh kata "SEBARKAN! Agar surga didapat oleh tuan dan puan."

Di sinilah pentingnya verifikasi, klarifikasi, validasi dan bahkan kalau perlu purifikasi data dari serpihan-serpihan sampah yang menodainya. Meskipun itu cukup sulit dilakukan, kecuali atas rahmat dan kasih sayang Tuhan. Niatkan kebaikan, mohon pertolongan-Nya agar terhindar dari buruknya fitnah dan kejamnya hoax, dimana dampak buruknya hingga tujuh turunan. Pakai nalar akal sehat, dan pikiran  yang jernih. Hindari kebencian angkara murka, dan hasutan.

Di sini, mungkin terasa bahwa membaca itu tidak cukup mudah. Butuh guru ataupun sekedar kawan diskusi, untuk pencerahan. Agar tidak disesatkan oleh setan, yang bergentayangan, ke mana saja dan menyerang siapa saja yang tak punya kawan, selain keegoisan dan merasa sebagai pengkapling kebenaran, satu satunya tiada lian.
.
Pada titik ini, membaca bisa jadi sebuah hal yang membosankan. Banyak yang malas melakukan. Termasuk yang menuliskan. Semoga kemalasan terhindarkan, dan rasa tersadarkan. Alasan demi alasan dikemukakan, hanya untuk tutupi keburukan.

Betapapun kondisinya, membaca tetap harus dilakukan. Sebab itu aktifitas yang amat sangat bermanfaat bagi kesehatan pikiran,  kecerahan nalar dan ketajaman pisau analisa.

Bacalah. Bacalah dengan pertolongan Tuhanmu yang Maha mulia. Dialah yang mengajarkan dengan pena. Dia ajarkan apa yang sebelumnya tidak engkau ketahui. Membaca firman Tuhan. Begitu indah menawan. Membaca itu jendela alam, dan kunci ilmu pengetahuan, begitah dikatakan.

Kualitas membaca berbanding lurus dengan kualitas tulisan. Dan sebaliknya. Antara keduanya tak dapat dipisahkan. Yang mau tulisannya bagus, banyaklah membaca. Karena di dalam buku-buka terdapat mutiara berkilauan. Dari sana bisa disarikan dan dibentuk perhiasan sesuai selera dan yang diidamkan.

Namun, membaca saja tak cukup. Karena bacaan tak akan ada wujudnya, tanpa ada proses menuliskan. Maka, pada titik ini, menulis adalah hal yang tak dapat dihindarkan. Menulis adalah media, salah satu wasilah untuk mencapai sebuah keabadian. Di saat usia manusia terbatas oleh takdir Tuhan. Dan tulisan manusia yang dihasilkan adalah usia tambahan yang diciptakannya sendiri, seirama dengan qada' Tuhan yang dibisikkan saat azalinya zaman.

So, menulis memang tak mungkin dihindarkan, harus dilakukan. Mau atau tidak mau. Bisa atau tidak bisa.

Tapi, aku tidak bisa!

Begini, kawan. Menulis itu (sambil berlagak bak penulis kawakan..hahaha) mudah dilakukan. Sulitnya hanya saat memulainya, sesulit ketika mengakhirinya. Bila kamu sudah mulai menulis, kamu akan merasakan sensasinya, merasakan kenikmatannya, dan kesejukannya. Sehingga, tak ada satupun alasan untuk mengakhirinya, kecuali bila memang sudah saatnya.

Menulis itu mudah, bila dianggap sebagai curhatan. Tumpahkan isi hati dan pikiran. Bila kamu suka curhat, namun daripada berbusa-busa obrol omongan, tumpahkan dalam tulisan. Toh, tak ada bedanya. Bila kamu bisa bicara, kamu tentu saja bisa menulis.

Tapi, tulisanku jelek dan tidak teratur!

Teruslah menulis. Karena menulis itu proses. Dalam hidup, segalanya adalah proses. Wainnamal ilmu bit ta'allum. Ilmu digapai dengan belajar. Bisa menulis, karena membiasakan menulis. Tak ada yang terlahir sebagai penulis. Tapi penulis bisa dilahirkan dengan latihan dan latihan. Kamu bisa menulis dengan tiga kunci: satu, menulis. Dua, menulis, dan tiga, menulis. Sepintar apapun kamu, sebanyak apapun buku panduan pintar menulis yang kamu baca dan sebanyak apapun pelatihan menulis yang kamu ikuti, kalau tak menulis, kamu tak akan pernah menjadi penulis. Menulis itu bukan teori. Tapi aksi. Percayalah!

Cirebon, 25 September 2017_23:40

Salam

Monday, October 2, 2017

Tantangan Mengajar Bahasa Arab Untuk Tuna Netra

Mengajarkan bahasa Arab kepada penyandang tuna netra di kelas dengan penghuni lainnya yang bisa melihat adalah satu tantangan dan ujian. Mungkin berbeda ceritanya bila kelas itu murni kelas tuna netra, lebih mudah lah. Sebab, satu nodel metode pengajaran langsung bisa mencakup semua.

Saat memberi hak pada penyandang tuna netra, dikhawatirkan mahasiswa lainnya merasa cemburu, dan haknya merasa tidak ditunaikan. Ini salah satu tantangannya.

Tatangan berikutnya, saat materi istima' (listening) dan kalam (speaking), mungkin masih bisa di atasi. Buku biasa tidak begitu diperlukan. Para mahasiswa yg bisa melihat, tidak boleh melihat teks, terlebih dahulu. Karena sumber bahasa bunyi adalah suara yang diperoleh melalui indra pendengaran, maka yang diperlukan hanya telinga yang siap menyimak dan konsentrasi.

Setelah menyimak, yang kedua adalah membunyikan huruf, kata dan kalimat yang didengar. Inilah yang disebut kalam (speaking). Bagi yang bisa melihat, bisa saja dengan bantuan tulisan dari buku atau papan tulis.

Saat di ruangan kelas campuran begini, tantangannya lebih besar. Tulisan di papan tulis tidak terlalu berguna bagi penyandang tuna netra. Bagi penyandang tuna netra, semestinya bisa menggunakan buku bertulisan huruf braille. Hanya, fasilitas belum ada.

Namun, soal pembelajaran bahasa, saya banyak belajar dari anak-anak. Saat bayi atau balita, anak bisa memahami bahasa orang tua dan bisa berbicara, meskipun mereka belum bisa baca-tulis. Karena itu, baca tulis itu nomor 3 dan 4, bukan yang utama.

Nah, saat pembelajaran maharat (keahlian) baca dan tulis, tantangan kelas tentu lebih besar. Khususnya, saat di kampus belum ada fasilitas buku braille.

Untunglah, dan alhamdulillah, kini ada smartphone, sudah ada aplikasi audio baca tulisan dan juga keypad ber-audio. Saat mahasiswa lainnya menulis tugas di buku, mahasiswa penyandang tuna netra saya bisa memintanya menuliskannya pakai hape atau leptop, dan dikirimkan via WA atau email. Sayanganya, sampai hari ini, saya tanya ke mahasiswa saya, dia belum mendapati aplikasi keypad Arab yang beraudio, sebagaimana keypad tulisan bahasa Indonesia. Semoga segera diketemukan.

Selain tantangan, ini bisa jadi sebuah anugerah. Dengan ini, saya bisa banyak belajar. Saat ada ujian, berarti ada ilmu dan pengalaman yang akan didapat. Semoga.

Salam
Masyhari

Ulasan Hasil Tantangan Menulis Bareng SLI di Hari Guru Nasional

Hasil Tantangan #NulisBarengSLI #HariGuruNasional2020 #SahabatLiterasiIAICirebon Beberapa hari yang lalu (23/11/2020) aku atas nama pribad...