Monday, January 27, 2014

Gapyak Romo Kyai

Gapyak Romo Kyai
Oleh Hari M Ngaidin

S
ang mentari kembali ke peraduannya, ke arah barat menuju Bait-Nya. Bayangan benda pun telah condong ke arah timur, sedikit lebih tinggi dari wujud aslinya. Tanda siang hampir merendah. Cericit kicau burung gereja terdengar nyaring di atas dahan-dahan pohon besar di halaman pesantren Tabah. Pohon yang terlalu besar untuk buah-buah kecil mungil dengan rasa kecut tiada tara. Kami, santri-santri sering menyebutnya kecacil. Bila musimnya berbuah, tak jarang, anak-anak kecil iseng melemparkan batu-batu kecil ke dahan-dahan pohon ini, berharap ada buah yang jatuh ke tanah. Dan bila sebuah tembakan batu itu mengenai sasaran, riuh suara teriakan mereka yang saling memperebutkannya. Meskipun tak jarang, daun yang jatuh ternyata lebih banyak daripada buah yang diharapkan.
Berbeda dengan anak-anak, santri-santri mukim di pesantren lebih senang dengan kluweh yang pohonnya tak jauh dari kecacil itu. Bila tiba musimnya berbuah, tak jarang santri yang duduk bersantai di serambi mushalla, berharap buah kluweh akan jatuh dari pohonnya. Bahkan, tampaknya suara khas jatuhnya sudah dikenal hampir oleh semua santri. Karena memang itulah saat-saat yang mereka tunggu. Kemudian, mereka saling berkejaran, layaknya atlit peserta lari maraton olimpiade, untuk mendapatkan buah kluweh yang menjadi incaran. Lumayan untuk menjadi selingan nasi liwet dengan sambal tomat ala kadarnya. Cukup direbus di dalam panci atau bahkan dimasukkan bara kayu yang sedang merah membakar.
Sore itu, jarum pendek jam di atas dinding mushalla pesantren mengarah pada angka 4, sementara jarum panjangnya tepat di angka 12. Tampak, di dalam mushalla, para santri sedang tenggelam dalam lantunan dzikir-dzikir al-wirdu al-lathif yang memang menjadi wirid harian seluruh santri, di setiap pagi setelah shalat Subuh dan sore hari setelah shalat Ashar. Biasanya dipimpin langsung oleh al-mukarram romo kyai pengasuh pesantren Tabah (rahimahullah). Dan, bila rangkaian dzikir itu telah rampung dibaca, satu demi satu, santri bertebaran keluar dari mushalla. Karena memang jadwal rutinan seusai jamaah Ashar adalah pengajian tafsir Jalaian di ndalem. Biasanya, yang keluar agak belakangan hanya beberapa santri saja. Ada santri yang memang sengaja menunggu selesainya Romo Yai, agar bisa bersalaman dengan beliau, dan mereka ini biasanya telah membawa kitab tafsirnya sekalian ke mushalla. Namun, ada pula santri yang masih tertinggal di mushalla, sebab ketiduran. Barangkali karena terlalu khusyu’ menikmati dzikir sorenya, atau bisa jadi karena kelelahan berkegiatan di OSIS, Kepramukaan atau yang lainnya.
Sementara itu, di ndalem utara, tempat pengajian, suara terdengar cukup nyaring, seorang santri yang sedang membaca maqra’ beserta makna jawanya. Santri yang membaca ini tidak dijadwal, sekedar siapa yang bersedia saja. Dan, biasanya, yang maju untuk membaca hanya santri yang sebelumnya telah mempelajarinya, melengkapi makna gandulnya beserta harakatnya. Namun, tidak seperti biasanya, hari itu, hingga sang santri telah selesai merampungkan bacaannya, romo kyai belum juga datang. Dan, ternyata di sebelah selatan, tepat di depan mushalla, tampak romo kyai sedang sibuk mencari gapyak, alas kaki yang tadi beliau pakai ke mushalla. Beliau pun memanggil seorang santri yang baru saja menyalami beliau,
Tolong sampean ambilkan sandal saya di ndalem!”
Njeh yai.” Jawab santri itu, dengan sedikit menunduk.
Dengan bergegas, santri itu berlari menuju ndalem, segera menyampaikan kepada penghuni ndalem, romo yai memintanya untuk mengambilkan sandal beliau. Tak lama, ia telah sampai di mushalla dengan sandal di tangannya.
Entah, siapa yang berani-berani menjadikan gapyak romo yai sebagai sasaranghosobannya. Barangkali ia santri baru yang belum mengenal mana gapyak romo yai. Atau bisa jadi, ia santri yang sudah terbiasa mengutil, dan penyakit ngghosobnya sudah demikian akutnya, barangkali stadium tiga, sehingga tak peduli siapapun yang akan jadi korbannya. Atau bisa jadi, ia santri yang sengaja mengambil gapyak itu untuk disimpan dan dijadikannya kenang-kenangan, tuk diambil berkahnya (Tapi, masak ada?! tabarruk kok dengan cara ngutil? Ada ada saja). Dan, semoga saja yang mengambil bukan santri, tapi pemulung yang kebetulan lewat, saat para santri sedang asyik shalat berjamaah. Sampai saat ini, sang pengghosob gapyak itu masih misterius.
Babakan-Cirebon, 22/11/2013

No comments:

Post a Comment

Jangan lupa komentar

Ulasan Hasil Tantangan Menulis Bareng SLI di Hari Guru Nasional

Hasil Tantangan #NulisBarengSLI #HariGuruNasional2020 #SahabatLiterasiIAICirebon Beberapa hari yang lalu (23/11/2020) aku atas nama pribad...