Tuesday, November 26, 2013

Sukses

oleh MM Ngaidin

Orang bilang, sukses itu hidup mapan. Orang bilang, sukses itu hidup serba berkecukupan. Menurutku, sukses itu berhasil. Berhasil meraih apa yang dicita-citakan dan diharapkan. Saat kecil, aku bercita-cita ingin terus melanjutkan sekolah, pendidikan, jenjang yang lebih tinggi, hingga Kuliah Kitab Kuning (K3). Mengapa K3? karena saat itu, ketika membaca stratifikasi program pendidikan di kalender almamater zaman semono, yang kutahu hanya itu jenjang yang tertinggi yang ada. Dan, baru akhir-akhir ini, ternyata K3 itu nama lama dari STAIDRA. Wal hasil, ternyata, aku bisa melanjutkan kuliah, meskipun bukan di sana, bahkan malah mendapat beasiswa di sebuah kampus Arab cabang  Jakarta. Saat jelang kelulusan, entah mengapa? STAIDRA/ K3 yang dahulu jadi cita-cita menjadi tak dilirik untuk dijadikan pilihan. Mungkin, hanya faktor biaya, beasiswa atau tidak kuliah sama sekali. Itulah pilihannya. Bahkan, sebelum ke Jakarta, pamanku sudah siap mengantarkanku dan membiayaiku nyantri ke Pesantren Sarang-Rembang, katanya pesantren calon kiai. Saat itu, aku menjanjikan, bila aku tidak lulus tes penyaringan di Jakarta, aku akan pulang dan siap ke Pesantren. Dan, ternyata lulus seluruh tahapan ujian. Tidak hanya S1, sekarang pun dapat beasiswa S2. Bukan hanya menggapai cita, tapi bahkan melampauinya.
Saat duduk di bangku Madrasah Aliyah (MA), cita-citaku berubah, menjadi guru, cita yang mulia. Karena, tiada yang lebih indah bagi santri selain ilmu barokah dan bermanfaat. Seringkali kata hikmah bahkan dalil-dalil bergema, katanya: 
خير الناس أنفعهم للناس
Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama
خيركم من تعلم القرآن وعلمه
"Sebaik-baik kalian adalah santri dan guru ngaji”
 من علّم علما علّمه الله ما لم يعلم
Siapa yang mau berbagi ilmu yang diketahui, Allah akan mengajari ilmu yang tidak diketahui.”
Menjadi guru, adalah cita-cita yang amat mulia. Berbagi kepada sesama. Dan, alhamdulillah, aku pun pernah menjalaninya. Kurang lebih 6 tahun lamanya. Bila sukses diartikan berhasil meraih cita, alhamdulillah, aku telah meraihnya, bahkan melampauinya.
Rasulullah SAW pernah bilang,
فإنهم يعيشون في زمان غير زمانكم
 “...Sesungguhnya, anak-anak kalian tidak hidup pada zaman kalian.” 
Artinya, lain dulu lain sekarang. Saat masih TK, bisa jadi cita-cita yang paling digemari saat itu adalah menjadi dokter, pilot, bahkan bisa jadi menjadi Doraemon. Mau apa saja, kantong ajaib. Mau ke mana saja, ambil pintu lorong ajaib dan baling-baling bambu. Saat Aliyah, bisa jadi akan berubah. Perubahan bisa jadi karena faktor tingkat pendidikan, bisa jadi karena zaman yang terus berubah, dengan tuntutan yang semakin kompleks. Perubahan itu, bisa jadi disebabkan oleh kondisi yang tidak kondusif, sehingga cita-cita sedikit dibelokkan. Karena, keadaan terkadang tidak seperti yang diharapkannya. Realitas jauh dari idealitasnya. Katanya: 
ما كل ما يتمنى المرء يدركم # تجري الرياح بما لا تشتهي السفن
Tidak semua yang diharap manusia kan tergapai  dengan gegap gempita, karena  angin pun seringkali berhembus tidak searah dengan  keinginan kapal.” 
Manusia tidak pernah ada puasnya. Sesuatu yang (dahulu) disebut sukses, sekarang tiada apa-apanya. Sehingga, parameter sukses pun menjadi bias, sesuai tingkat kepuasan manusia terhadap takdirnya, dan sesuai dengan persepsi relativitasnya.
Pesantren Babakan, 25/11/2013  

Monday, November 25, 2013

Guru = Ayah + Ibu

Hari M Ngaidin

Selamat hari guru
setiap kita adalah guru
Jadi ortua yang guru
Ortu, ayah dan ibu
guru pertama dan utama
ber-hati-lah bila bertindak
anak kan selalu melihat
meniru
menduplikat
mengkritisi

Bila anakmu kau titipkan
pada TPA atau sekolahan
jangan terlalu banyak mengharapkan
dari guru sekolah gaji habis sepekan

walau kau telah bayar wajib SPP
pun uang gedung berjuta Rupiah
jangan pula kau bangga
bisa 'nyumbang' buat yayasan
lalu bertindak sok jadi Tuhan
..
Boleh engkau menitipkan
namun untuk pendidikan
ortu kan dipertanyakan
Selamat hari guru
setiap ortu adalah guru

guru pertama nan utama
Rumah, sekolah pertama
mari ciptakan budaya kondusif dalam Rumah..
Kata 
Ayah edy, Indonesia Strong from Home
Bila rumah baik, negara akan baik
Sekolah hanya tempat penitipan
Guru hanya wakil sementara
Ortu-lah guru yang sesungguhnya
Hari Guru adalah Hari ortu
karena setiap kita adalah guru bagi anak kita
Jangan tanya: "Kenapa dengan anak-anak kita?"
kepada guru di sekolah
Karena orang Inggris kan menjawab:
"Like father like son"
wong Jowo kan jawab:
"Kacang ora ninggal lanjaran"
Orang Indonesia jawab:
"Buah jatuh tak jauh dari pohon"
"Semut di sebrang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak kelihatan"
tak usah salahkan lingkungan luar rumah
usah usah salahkan sekolah
usah salahkan guru akhlaknya
karena Guru itulah kita
Orang Tua di rumah
Tilik Rumah Kita sendiri
Adakah yang salah?
amati dengan teliti
mungkin ada virusnya..
Mari memulai dari rumah

Pesantren Babakan, 25/11/2013

Sunday, November 24, 2013

Tulis

MM Ngaidin

kau penulis
apa yg kau lihat
tulis
apa yg kau dengar
tulis
apa yang kau pikir
tulis
kan jadi buah akalmu
apa yg kau rasa
tulis
kan jadi buah hatimu
rindu yg menggebu
cinta yg mengkalbu
juga hangat mentari
pun tenang musim semi
dan segar embun pagi 
apa yg kau dengar
tulis
kicau kutilang, juga kenari
riuh angin, juga perkutut bernyanyi
apa yg kau dapat
tulis
yang kau ingat
tulis
ada paras geulis
tulis
ada senyum manis
tulis
ada air menghujan
rekam
ada api yg menyekam

padam
Cirebon, 201113

Friday, November 22, 2013

Barzah

MM Ngaidin

1
Sapu tangan merah
Ditangan Izrail pencabut nyawa
menadah nyawa mukmin mukminah
sementara, selepas meregang sukma
Dari raga semerbak mewangi aroma
Minyak kasturi dari taman surga

2
Raga dimandikan
Di atas ranjang dibaringkan
dengan penuh halus kelembutan
sukma kan terus mengawas
dari luar, digenggam Izrail
bilapun insan mendengar
lengking jeritan, kan jatuh terkapar

3#
Jasad tlah cemerlang
Berbilas air bidara dan dikafankan
Di atas ranjang dia direbahkan
Sukma pun turutnya
Terbang melayang di atasnya

4#
Tubuh tak bernyawa itu ditanam
Dalam tanah asalnya diciptakan
Didudukkan,
Sukma pun meraga
Kembali ia tersadarkan
Dua malaikat memberondongnya
Tentang Tuhannya
Agamanya
Nabi yang diikutinya
Dia pun mengatasi dengan penuh percaya
ujian ini tiada apa
karna dia bawa kuncinya

Cirebon, 21/11/2013

Bukan Sesiapa

MM Ngaidin

1#
Kau siapa
Aku bukan sesiapa
Hanya ingin yang ada
Bukan menyiapa
Cukup meng”apa”

2#
Hanya karya meraga
Gerak tangan ukir cerita
Langkah kaki mengayuh padu
Bukan kata memecah bayu
Pun lidah berbasah madu

3#
Kulit menghitam legam menjadi saksi
Tangan mengapal bisu menyaksi
Sekedar berbuat
Sekedar mengisi
Ruang kosong yang penuh onak duri
Hanya perbaiki
atas asa yang tak kunjung reda
Menatap mentari terangi hari
Menyambut bintang di pekat malam
dirundung awan

4#
Tampaknya, aku sedang mengigau
Sedikit hati hendak meragu
Namun pikir telah meramu
Dan asa sudah kian menguat
Jemari pun sudah tak sabar menanti
Raih gagang kampak
Kayu besar yang harus dirajam
Bajak pun kian mengkarat
sekarat
merindu sawah ladang yang kian mengering
terlunta

5#
Aku lihat masih ada air mengalir
Dari tinggi bukit nun jauh diamat
Aku sedikit ragu tuk mendapat
Namun asa sudah menguat
Rimbun hutan bambu masih lah cukup
Tuk membatang pipa
alirkan tetesan dari telaga kemakmuran
Sedikit memang
Namun waktu kan mengumpulkan
Tak usah lah menunggu hujan
Di musim kemarau nan tak jua datang

Babakan, 20/11/2013

Tuesday, November 19, 2013

الاختلاف من لوازم الحياة

إنّه لا شك في أنّ الاختلاف من سنة الحياة البشرية، ومن ذلك الاختلاف اختلاف الليل والنهار، واختلاف الألسنة والألوان، واختلاف الأجناس والقبائل، واختلاف الآراء والأفكار. ولاختلاف ذلك كله فوائد عديدة، منها ابتلاء وامتحان من الله تعالى لمعرفة أي الناس أحسنهم عملا، ومنها آيات لجلالة قدرة الله وعظمته، ومنها التعارف بين البشر فيبعث روح المحبة والأخوة بينهم، وغيرها من الفوائد. وإن الناس إذا فكروا عرفوها جيدا أن كون الاختلاف دافعا لهم للاستباق في الخيرات ومجالا للتعارف والتفاهم بينهم فيقوّي ذلك رباط الأخوة الإسلامية والبشرية.
        إنّ الاختلاف ليس الفرقة، فالاختلاف نعمة والفرقة والافتراق نقمة، وكما قد بين الله تعالى لنا في قوله: ((وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَانِكُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِلْعَالِمِينَ))[1]، وقوله تعالى : ((إن في خلق السموات والأرض واختلاف الليل والنهار... لآيات لقوم يعقلون)) [2]، وقوله تعالى : ((إِنَّ فِي اخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَمَا خَلَقَ اللَّهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَّقُونَ))[3]، وقوله تعالى : ((إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ ))[4]، والآيات الأخرى مما يدلنا على أنّ الاختلاف آية من آيات الله الباهرة. واستفادة من هذا الاختلاف يكون لنا كطلاب العلوم الشرعية في قسم الدراسة العليا درس في فقه المقارن، وهو عبارة عن مقارنة المذاهب الفقهية الإسلامية.
إن مقارنة المذاهب هي السعي في معرفة آراء أئمة مذهب من المذاهب في المسائل المختلف فيها مع ذكر أدلة كل منهم وتعليلاتهم وطرقهم في استنباط الأحكام. والهدف من هذه الدراسة لتعرف المذاهب الفقهية والآراء المختلفة وأدلتهم والأسباب التي تجعلهم مختلفين في ذلك، وليس الهدف من الدراسة هو استهانة وتتبع ضعف قول أحد الأئمة، وإنما الهدف هو البحث عن أرجح الأقوال الصائبة، لأن كل مجتهد مصيب، وإن كان الاجتهاد خطأ فله أجر واحد. وهذه المقارنة أيضا تهدف لابتعاد الأمة عن العصبية في المذهب أو القول أو أي عالم، والعصبية في الغالب تكون بسبب الجهالة وعدم معرفة المعلومات الصحيحة عن المذاهب الفقهية الموجودة وأدلتهم. وقال الإمام الشافعي : ((إن رأيي صواب يحتمل الخطأ ورأي غيري خطأ يحتمل صواب))، فالمقارنة يبعث روح التسامح والأخوة الإسلامية.






[1]  الآية 10 من سورة الروم
[2]  الآية 164 من سورة البقرة
[3]  الآية 6 من سورة يونس 
[4]  الآية 160 من سورة آل عمران

Belum Jadi saja, Sudah Mengganggu

Sebelumnya, mohon maaf bila ada personal atau pihak yang tersinggung!”
Di kompasiana, aku termasuk pendatang baru. Karena memang baru kemarin tepatnya, aku ‘resmi’ jadi bloger kompasiana. Lagi ayik-asyiknya baca sebuah tulisan, tiba-tiba, sebuah iklan dengan sangat menohok, menutup tulisan yang sedang aku baca tersebut.  Iklan dengan gambar seorang tokoh yang masih dibilang muda. Bertuliskan namanya dan tahun perhelatan pesta besar pilpres 2014. Sang tokoh saat ini menjabat menteri kabinet IB-II dan sekaligus ketua salah satu persatuan olahraga bergengsi di negeri ini. Langsung muncullah dalam hati sebuah kalimat yang menjadi judul tulisan ini “belum jadi presiden saja, sudah mengganggu”.
Memang, kita harus akui, bahwa uangnya terlalu banyak, untuk sekedar dikeluarkan untuk iklan begituan. Masih recehan, mungkin. Dan, tentunya, dia bisa beriklan di mana saja dan di media apa saja. Namun, bukankah lebih arif dan elegan bila pengaturan iklannya cukup diletakkan di margin saja, (bisa kanan, kanan, atas, atau bawah), bukan di tengah halaman. Bukankah ini bisa diatur dan dibicarakan dengan pihak kompasiana. Dan, ternyata, memang di bagian kanan dan atas sudah ada. Namun, ini bisa aku tafsirkan, bahwa sang tokoh, tampaknya belum puas menjadi menteri dan ketua persatuan itu, yang mungkin dibilang sebagai jabatan marjinal. Sehingga harus menjadi sentral, yang central adalah presiden.       
Beberapa bulan yang lalu, saat berlebaran di kampung, Jawa Timur, beberapa kali aku mondar-mandir Paciran-Surabaya. Beberapa kali melewati jalan pantura (Paciran-gresik-Surabaya), dan sesekali via jalur lamongan selatan. Di kanan-kiri dan atas jalan, terpampang spanduk, baliho dan sejenisnya, dengan dominasi calon anggota legislatif, baik pusat maupun daerah. Masing-masing daerah, dengan gambar tokoh yang mencalonkan dirinya sebagai anggota DPR di daerah tersebut dan dapil tersebut. Bahkan, ada pula satu tokoh spanduk wajahnya terpampang di sepanjang jalanan Lamongan-Gresik, caleg dari sebuah partai yang mengaku partainya Nu. Ini bisa dipahami, karena memang dia dapil kedua kabupaten ini. Aku sampat berpikir, betapa kayanya orang ini. Berapa rupiah yang telah digelontorkannya. Memajang gambar iklannya di sepanjang jalan. Malah, menurut sumber yang terpercaya, bulan ini sang tokoh merupakan pemesan baliho-spanduk terbanyak di partai tersebut. Mau berapa saja yang dikeluarkan, itu duitnya dia. Tapi, ada yang perlu untuk dikritisi di sini, yaitu, betapa ‘merusaknya’ poster-poster itu bagi keindahan pemandangan jalanan. Ah, “Belum jadi saja sudah menganggu.”
Salam damai.
Cirebon, 19/11/2013

Monday, November 18, 2013

Cinta itu

by Masyhari
Cinta itu
bisa kau temu dalam ‘bilik’ sunyimu
cinta itu bisa kau rasa dalam ‘keasrian’ surgamu
cinta itu telah mencintaimu dengan segala cinta
ada belaian lembutnya
ada senyum yang tak berkesudahan
ada embun yang senantiasa menyegarkan hari-hari kemarau panjang
ada cahya rembulan di tengah malam gelap berawan
tak berbintang
cinta itu begitu dekat
Babakan, 18/11/2013

Bentang Pustaka: Pengiriman Naskah

Sunday, November 17, 2013

Dunia “Tembok Ratapan”

Oleh Masyhari

Setiap hari
Setiap ujung jari
Mengisahkan apa yang ada di kepala empunya
Hatinya,
emosi dirinya,
prinsipnya,
sudut pandangnya,
            idenya,
sesuai loyalitasnya.
Tak terkecuali hari ini
Masih seperti yang kemarin & lusa
mungkin esok kan tetap sama
Ataukah akan berubah?!! Entahlah?!
Ada yang berdoa, meratap dalam dindingnya
Ada yang bernasehat,
mungkin berharap akan ada yang bertaubat
Ada yang mengumpat,
Menunjuk muka lawan ideologinya
Ada yang menjaja dagangannya
Ada yang menyebar kabar,
Sebagai bukti solidaritas
Ada pula yang untuk uang semata
Tidak untuk yang lainnya
Dan, ada yang Cuma bisa berdoa dalam hatinya
Dari kejauhan mim wau di sini, agar mereka, saudara-saudaranya
selamat dan tabah menerima coa dan ujian
gempa,
kudeta,           
krisis,              
hutang,          
perang,
kelaparan yang melanda..
entahlah!! Ramadhan tinggal 2-3 hari lagi. Semoga damai di bumi ini!!
sungguh beraneka warna
tembok ratapan maya, tak jauh dengan yang nyata!!
Ada yang benar-benar maya, ada yang benar-benar nyata!!
Fenomena dunia
Tragedi semesta
Cirebon, 06 Juli 2013 M/ 27 Sya’ban 1433 H _ 14.00 WIB

Antara Menerjemah dan Menulis

Oleh Masyhari, Lc

Menerjemah dan menulis adalah dua pekerjaan yang positif dan bermanfaat. Masing-masing memiliki plus-minusnya, jika dibandingkan.  Menerjemah akan banyak menyumbangkan banyak ilmu baru kepada kita, dari karya yang kita terjemahkan, juga melatih kekuatan bahasa kita.

Sekilas, menerjemah tampaknya lebih mudah daripada menulis. Melihat, karena menerjemah, cukup mengalihbahasakan sesuatu yang sudah ada. Sementara menulis, membuat sesuatu yang memang belum ada. Namun, sejatinya, menerjemah sangatlah penuh dengan kompleksitas, tantangan dan ‘ketidakenakan’. Seorang penerjemah tidak bisa menerjemah semaunya sendiri, ngasal sekarepe udele dewe. Karena, bila demikian, bisa jadi, apa yang hendak disampaikan sang penulis tidak akan tersampaikan kepada pembaca. Seorang penerjemah harus mengetahui kemana tulisan itu bermuara. Apabila menerjemah dilakukan secara asal, bisa jadi akan memunculkan banyak kata-kata terjemahan yang ambigu maknanya, sehingga menyulitkan pembaca untuk memahami intisari kalimat hasil terjemahan.

Dalam menerjemah, seorang translator dituntut untuk memahami alur pemikiran penulis, berupaya menjiwai sedalam mungkin, dan bertindak seakan ia sendiri penulisnya. Bahkan, apabila buku itu ditulis pada beberapa masa yang telah lalu, penerjemah harus berupaya flasback ke masa itu. Kondisi sosial, budaya, politik, dan lain sebagainya saat buku itu ditulis juga perlu dipertimbangkan. Dan tidak kalah penting dari itu, identitas penulis itu sendiri, siapakah dia, latar belakangnya, corak dan aliran pemikirannya dan lain sebagainya, agar penerjemah tidak salah paham dan salah tafsir. Setelah ia memahami teks secara benar dan tepat, ia pun bisa mengalihbahasakannya ke dalam bahasa sasaran secara tepat. Demikianlah kompleksitas dan tantangan, sekaligus tuntutan bagi penerjemah, agar mendapatkan hasil terjemahan yang berkualitas.

Oleh karena itu, sikap terburu-buru dalam menerjemahkan, yang kerap kali disebabkan tuntutan deadline dari penerbit, bisa mengurangi kualitas hasil penerjemahan itu sendiri. Dalam menerjemahkan teks, penerjemah seharusnya menguasai materi yang sedang diterjemahkannya. Artinya, selain ia mengusai tata bahasa dan karakter bahasa asal dan bahasa tujuan, ia juga harus menguasai bidang yang akan diterjemahkan. Dan, apabila ia bukan ahli spesial di bidang yang akan diterjemahkan, paling tidak ia mengetahui sedikit banyak tentang tema itu. Semakin ia mengusai bidang tersebut, semakin baik pula hasil terjemahannya.  Selain itu, sebagai bahan pengayaan, ia diharapkan memiliki referensi yang memadahi terkait materi yang diterjemahkan, baik berupa kamus bahasa, kamus istilah bidang tertentu, dan lain sebagainya. Karena, tentunya, penerjemah bukanlah manusia yang sempurna dan mengetahui segalanya. Karena tentunya ia akan mendapati kosa kata baru yang memintanya untuk diketahuinya.

Penguasaan penerjemah terhahadap karakter bahasa asli sangatlah penting. Dalam konteks bahasa Arab misalnya, kosakata tertentu antara zaman terkadang mengalami pergeseran dan bahkan perubahan makna. Misalnya saja, kata “سيّارة (sayyarah) zaman dahulu yang dipakai di dalam QS. Yusuf [12]: 19 berarti kafilah (rombongan) musafir, baik (naik kendaraan unta ataupun tidak, namun kebanyakan rombongan musafir menggunakan kendaraan, dalam konteks saat itu, onta atau kuda), tentunya berbeda dengan “sayyarah” yang dipakai dalam bahasa Arab kontemporer, yang berarti mobil, dan lain sebagainya. Apabila, penerjemah lengah dan kurang mengusai struktur dan karekter bahasa, misalnya bahasa Arab, bisa jadi akan terjadi kesalahan dalam membaca dan memberi tanda baca (harakat). Kesalahan dalam hal ini sangatlah fatal, karena akan mengubah arti dan terkadang pemahaman. Oleh karena itu, keberadaan editor yang berlapis-lapis dalam satu penerbitan menjadi sangat penting. Diharapkan akan mengurangi kesalahan dalam penerjemahan, selain prosesediting oleh penerjemah sendiri, sebelumnya.

Demikianlah sebagian kompleksitas kerja menerjemah, berbeda dengan menulis. Meskipun menulis adalah meng”ada”kan sesuatu yang belum ada sebelumnya, namun menulis jauh lebih mudah daripada menerjemah. Karena menulis sangatlah bebas, lepas, tanpa satu pihak pun yang memaksanya untuk menggoreskan kata ini dan itu. Ia bebas berdiksi ria dan bereksplorasi semaunya, bebas mengeluarkan gagasan dan pendapatnya, tanpa terpaku pada pemikiran orang lain. Kalaupun terpengaruh atau terpaku, ia secara suka rela memilihnya, tanpa ada unsur paksaan. Tiada yang membatasinya, selain etika dan asalkan tidak merugikan orang lain.
Menulis, dapat membuat penulisnya puas, lepas, plong, setelah tulisan itu selesai dituliskannya, setelah sebelumnya mengendap dalam otak dan apabila disimpan terlalu lama bisa jadi akan menjadi penyakit. Menulis tak ubahnya seperti seorang yang mengeluarkan angin (baca: kentut), membuang kotoran atau membuang air (baca: berak dan kencing). Ia terasa puas, setelah itu semua dilaluinya dan dikeluarkannya secara tuntas. Bedanya, kalau makanan atau air yang ada di perut sangatlah terbatas, ia akan habis secara cepat. Sementara materi ada di dalam otak, hati, pikiran, diri kita, atau apalah istilahnya, sangatlah banyak dan seakan tiada batas, dan tiada pernah ada habisnya. Semakain ia dikeluarkan, semakin ia akan terus mengalir melimpah, tiada yang dapat menghentikannya, kecuali jika penulis sendiri memang tidak menghendakinya.

Bagi sebagian orang, khususnya penulis, menerjemah menjadi titian yang mengantarkannya dari satu tepian ke tepian lain. Menerjemah hanyalah sebuah tangga yang akan mengantarkannya pada tangga lain yang lebih tinggi. Dengan menerjemah, calon penulis akan banyak belajar merangkai kata dan meramunya menjadi struktur kalimat, dan kemudian paragraf. Melalui tangga ini, kita terkadang harus terpenjara oleh teks yang kita terjemahkan sendiri dan terjebak oleh pemikiran penulisnya.  Dan mau tidak mau, kita harus mengikuti alur pemikirannya. Sebagai proses, itu tidaklah mengapa, karena menerjemah merupakan media pembelajaran yang sangat berharga. Dan tidak mengherankan apabila dalam proses belajar itu kita akan sering diterpa badai topan, diguncang gempa yang begitu dahsyat menerjang, dan juga arus besar yang mengarah pada tujuan yang tidak kita kehendaki. Semua itu akan menempa penulis agar lebih lihai dalam menumpahkan isi pemikirannya dan bahkan dalam menelurkan gagasan yang sama sekali baru. Selamat menulis!
Cirebon, 14/11/2013

Menjadi Penulis

Oleh Masyhari, Lc
Menulis adalah suatu aktifitas yang mulia. Karena itu, menjadi seorang penulis merupakan harapan dan sekaligus cita-citaku, selain menjadi pengamal sedikit ilmu yang sedang dan telah dipelajari. Entah sejak kapan tepatnya, cita-cita, minimal keinginan ini muncul? Kalau tidak salah, sejak aku masih mengenyam studi di bangku Madrasah Aliyah (setingkat SMA). Sejak aku suka membaca artikel-artikel ataupun sebatas berita, di koran Jawa Pos yang setiap harinya selalu update di mading OSIS MA Tabah. Hanya saja, saat itu, keinginan itu masihlah sangat jauh untuk kugapai. Mengapa demikian?
Menulis, atau dalam bahasa dulu disebut “mengarang” termasuk ‘materi pelajaran’ yang saya takuti. Mengarang adalah momok, minimal bagi saya. Setiap kali ada pelajaran mengarang dalam bahasa Indonesia, atau pelajaran apa saja yang bentuk ujiannya esai, sudah pasti seakan ia hantu yang sangat menakutkan.
Yang ada di benakku, saat itu, mengarang bukanlah pekerjaan yang mudah. Karena mengarang adalah menciptakan sesuatu yang sama sekali baru. Maksud saya, walaupun materi atau isi tulisan bukan barang baru, tapi paling tidak, diungkapkan dengan bahasa lain yang sama sekali baru. Benar-benar pekerjaan otak kanan, yang lebih dominan kreatifitas dan imajinasi yang bersifat berkembang dan tidak statis. Saat itu, saya memang sama sekali merasa tidak berbakat untuk menuangkan gagasan dalam bentuk tulisan. Entah mulainya dari mana? Bagaimana rentetan atau sususan antar paragraf, bahkan bagaimana merangkai dan menyambung antar kata? Sama sekali blank bagi saya, saat itu, semoga tidak untuk saat ini.
Setiap ada perlombaan tulis menulis, entah itu KIR (Karya ilmiah Remaja) ataupun resensi tingkat lembaga, aku hanya gigit jari. Harus puas sebagai penonton semata. Selepas lomba perlombaan, biasanya aku akan menyempatkan untuk ‘mencuri’ tahu karya tulisan para peserta untuk sekedar saya baca sekilas saja. Ketika membaca itu, saya terkagum dan sekaligus heran dengan penulisnya. Bagaimana mereka, yang notabene seumuranku, bahkan ada juga adik kelasku, yang bisa merangkaikan kata demi kata menjadi satu tulisan utuh? Saat itu, yang terpikir olehku hanya, mungkin mereka memang cerdas dan berbakat menulis, sementara aku tidak.
Akan tetapi, anehnya, meskipun bukan yang merasa bisa menulis, namun saat itu aku beberapa kali menulis surat pribadi, untuk teman dan kenalan baru. Aku sempat beberapa kali menulis surat pribadi untuk mereka, sekedar bercerita, dan lain sebagainya. Entah mengapa kok bisa?
Pikirku, mungkin ini tulisan bebas dan tidak ada pakemnya, sehingga aku bisa semauku untuk mengungkapkan apa yang ingin saya ungkapkan, menyampaikan apa yang ingin saya sampaikan. Barangkali, jawaban dari pertanyaan “mengapa tulis menulis dan mengarang menjadi momok bagiku, dan mungkin juga bagi beberapa temanku yang lain” adalah karena (1) menulis dianggap sebagai pelajaran dan pekerjaan yang mengharuskan pelakunya untuk mengikuti pakem dan aturan tertentu, stuktur susunan kalimat, diksi dan lain sebaginya. (2) menulis sering dibahasakan dengan mengarang, sehingga yang terkesan adalah sulitnya. Padahal kalau mau, sebagai guru bahasa Indonesia, agar seratus persen, minimal mayoritas, dari anak didiknya bisa jadi penulis, cukup ajak mereka menulis apa saja yang ingin ditulisnya mulai dari hal-hal yang sederhana; menulis diari, catatan harian, surat kepada sahabat atau orang yang ingin diajaknya bicara, menulis tentang apa yang dia inginkan dan lain sebagainya.
Menulis butuh kepercayaan diri dari calon penulis, agar ia berani mengungkapkan sesuatu dan merangkaikan kata-kata ‘hati’nya ke dalam bentuk tulisan. Sehingga, untuk menumbuhkan kepercaaan diri sesorang bahwa menulis bisa dilakukan oleh setiap orang, perlu dimulai dari hal-hal yang dianggap remeh, paling sederhana dan mudah. Karena yang terpenting, bagi pemula, adalah munculnya keyakinan diri, bahwa AKU BISA. Apabila keyakinan ini sudah muncul pada diri seseorang, ia akan tidak ragu-ragu untuk menuangkan gagasannya dalam bentuk tulisan. Tidak perduli apakah tulisannya sesuai dengan kaidah tata bahasa atau tidak. Tidak peduli, tepat atau tidakkah diksi yang dipilihnya. Tidak peduli, apakah antar satu kata dengan kata lainnya nyambung atau tidak. Tidak peduli, antar satu paragraf dengan yang lainnya saling memiliki keterkaitan atu tidak. Yang terpenting adalah, aku bisa menulis. Untuk memecahkan mitos yang menyatakan “menulis hanya bisa dilakukan oleh orang-orang pilihan, hanya orang-orang yang cerdas dan berbakat”. Padahal faktanya, tulis-menulis adalah proses menuju dan keahlian yang harus dicapai dengan membiasakan tiga hal, yaitu latihan, latihan dan latihan. Mungkin, inilah yang ingin ditekankan oleh Natalie Goldberg, pencetus metode “menulis bebas” dalam “Alirkan Jati Dirimu” (MLC, Bandung: 2005). Buku inilah yang menurut saya paling menarik dan paling berpotensi untuk membuat seseorang menjadi penulis, yaitu dengan menghilangkan “momok” itu sendiri. Menulis bukan pelajaran, bukan pekerjaan, akan tetapi melepaskan beban dan kegundahan hati. Menulis merarti mengungkapkan sesuatu yang mengendap dan selama ini tersimpan dalam hati, yang bila tidak dituliskan akan menjadi kegalauan stadium tiga dan menurun hingga tujuh turunan. Saya tidak membayang betapa akutnya itu.
Bukti betapa besarnya harapanku untuk bisa menjadi penulis adalah beberapa buku terkait dengan kepenulisan aku beli, satu persatu, diantaranya (1) “Kiat menjadi Penulis Sukses” karya Abu Al-Ghifari, yang kubeli 02 Maret 2005, (2) “Menulis Artikel itu Gampang”, karya Nurudin (3) “Proses Kreatif Penulis Hebat”, karya kompilasi para novelis dan cerpenis, yang diterbitkan DAR MIZAN, keduanya kubeli tanggal 13 Maret 2005 di Gramedia Blok M, (4) “Dasar-Dasar Meresensi Buku”, karya Daniel Samad, yang kubeli di arena IBF Jakarta, 4 Shafar 1427 H, (5) “Menulis Diari, Membangkitkan Rasa Percaya Diri, dari kompetisi menulis catatan harian Penerbit Kaifa yang diterbitkan atas komando Hernowo, di MLC, (6)“Alirkan Jati Dirimu”, Natalie Goldberg, yang kubeli di Gunung Agung Kwitang, 01 Januari 2006, selain buku-buku lain yang masih terkait denga kepenulisan. Nah, buku kedua terakhir ini, yang paling banyak memberi pengaruh bagi saya, sekaligus menggugahku bahwa menulis itu mudah. Menulis itu bisa dilakukan oleh siapa saja. Buku-buku ini aku beli, tentunya, agar aku bisa tercerahkan dan bisa menjadi penulis.
Setelah membaca buku-buku tersebut, muncul satu kepercayaan, paling tidak satu pemahaman, bahwa menulis bukanlah bakat. Menjadi penulis bukan seperti satria baja hitam yang cukup ucap “berubah”, lalu kita akan menjadi penulis seketika itu. Untuk menjadi penulis, tidak mungkin bisa kita meminta alat dari kantong ajaib Doraemon, yang akan bisa menjadikan kita sebagai penulis secara instan. Menulis, sekali lagi, adalah proses. Tidak seorang pun penulis, yang bertaraf Internasional dan paling produktif pun, terlahir sebagai penulis, artinya ia lahir langsung bisa menulis, tentu tidak ada.
Menurut Saut Sitompul dalam kompilasi puisinya “Tulis”, yang kudapatkan Cuma-cuma saat peluncurannya di teater kecil TIM Jakarta, 24 Pebruari 2006. Ia menulis:
//Tak usah terlalu di pusingkan
bagaimana cara menulis puisi
Cukup dengan pena di tangan
berjongkok di taman
ada daun jatuh
tulis
ada rumput menghijau tulis
ada tanah terbakar
tulis
da anak pipit terjatuh dari sarangnya
tulis
ada bau mesiu
tulis
tulis
tulis
tulis
ada hujan
tulis
ada titik-tikik terang
tulis
lalu aduk dengan kelepak
ladam telapak kuda sedikit
cukup cukup cukup
nah ini ada puisi
dalam puisi ini ada bunyi
bunyi kecapi atau cemeti
itu tak penting
dalam pusi ini juga ada bau
bau ubi bakar atau babi panggang
itu juga tak penting
tapi ini puisi berbunyi
tang! 1978.
Barangkali, Saut dan juga Natalie, bisa dikatakan ‘berhasil dalam memberikan corak baru dalam kepenulisan. Nah, mulai menulis secara bebas, seakan tiada aturan yang mengikat kita, sehingga kita bisa berbuat apa saja dengan pena dan tulisan kita. Tidak peduli bila tulisan itu tidak sesuai dengan kaidah bahasa, tidak memperhatikan kaidah atau bahkan melawannya.
Selain menulis surat, tulis menulisku kuaktifkan dengan menulis buku diary, catatan harian, mungkin sekitar 10 buah buku diary kecil yang sudah aku hasilkan, tentu dengan pakem bebas. Yang terpenting adalah bisa menulis. Itu rumusku. Kegiatan tulis-menulisku semakin aktif semenjak merebaknya ponsel (hp) yang memiliki konten SMS, yang tiada lain adalah mengirim pesan melalui tulisan. Meskipun disebut short, pendek, tapi kita bisa menulis sepanjang karakter yang bis dimuat hp kita. Sms ini cukup mengasah ketrampilan kita untuk menuangkan gagasan atau sekedar mengungkapkan isi hati. Kemudian, setelah muncul jejaring sosial berupa fb (face book), tulis-menulis bebas semakin terwadahi. Siapa pun ingin menulis, secara bebas ia bisa tuliskan, baik melalui dindingnya sendiri, dalam status, dalam catatan fb, atau berupa personal Message/ chat. Meskipun sebenarnya, sebelum adanya sms dan fb, sudah marak namanya blog. Bahkan, banyak sekali media nasional yang online yang menyediakan kolom menulis bebas selayaknya blog, seperti kompasiana dan lain sebagainya. Saya kira, media-media semacam ini sangat efektif untuk membuat orang menjadi penulis, khususnya bagi guru bahasa untuk mencetak muridnya menjadi penulis dan pengarang.
Memang, saat ini aku sendiri belum menjadi penulis artikel atau yang lainnya yang dimuat di media massa, ataupun buku yang diterbitkan. Barangkali, alibi saya masih merasa belum mampu untuk menulis, dan untuk mengisi kekosongan ini, cita-cita tersebut, untuk sementara, saya arahkan dengan menerjemah buku. Dengan harapan, semoga dengan banyak membaca dan kemudian menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia, saya akan banyak belajar teknik kepenulisan, melatih kepiawaian dalam merangkai kata, menuangkan ide-ide dan gagasan saya nantinya, dan tentunya akan banyak menambah wawasan yang saya petik secara materil, sebagai bahan yang bisa dituliskan nantinya. Semoga. 

Cirebon, 12/11/2013, pada 01.00-03:35 (WIB) Waktu Indonesia Babakan

Menulis itu penting?!

Oleh Masyhari

Bila dimaqasidkan,
menulis akan masuk dalam hierarki "dharuriyyat" (primer), bukan sekedar hajiyyat (kebutuhan sekunder), apalagi sekedar tahsiniyyat (tersier)
Bisa saja kau tak percaya
atau pula tersenyum kecut mencibirnya
Mari kita berandai-andai saja,
andai al-Quran tidak dituliskan
Zaid bin Tsabit dan kawan-kawannya enggan
andai Utsman bin Affan tidak mengambil tindakan
andai Syihabuddin al-Zuhri tidak membukukan hadits
andai Imam Malik tidak menulis al-Muwattha’
andai ar-Rabi’ bin Sulaiman tidak menulis ar-Risalah Imam syafi'i, gurunya
andai An-Nu'man Abu hanifah tidak menulis al-Fiqh al-Akbarnya
andai Al-Bukhari tidak menulis Al-Jami' Al-Shahihnya, tidak akan ada Ibnu hajar dengan Fath Al-Barinya
andai Imam Muslim tidak menulis Shahihnya,
andai Imam Ahmad tidak menulis Musnadnya
andai Al-Qasthalani tidak menulis Irsyad Al-Sari
andai Al-Syairazi tidak menulis Al-Muhadzdzab, tidak akan ada Al-Nawawi dengan Majmu’nya
Andai Ibnu Quddamah tidak menulis Raudhah Al-Nazhir, tidak akan ada Al-Thufi dengan Mukhtashar dan Syarahnya
andai Ibnu Khaldun tidak menulis muqaddimah dan kisah perjalanannya
andai Ibnu Batuthah tidak men”dokumentasi”kan rihlahnya
andai Laskar Pelangi tidak ditulis Andrea Hirata, mungkin pak SBY tak akan memberinya bintang jasa
Kita tidak akan pernah mengenalnya, bahkan tidak akan pernah mendengar tentang mereka...
Andai pak Kiai Dachlan tidak menulis, kita mungkin ta’kan kenal Qiraati
Ya, andai aku tidak menulis status ini, anda tidak akan membacanya.

Cirebon, 25/04/2013

Manfaat Menerjemah (1)

Masyhari


Menerjemah memang lebih sulit dan berat daripada "menulis". Hanya saja, menerjemah banyak manfaatnya, diantaranya: 1) menambah banyak informasi-ilmu yg sebelumnya tak diketahui, 2) menambah perbendaharaan kosa kata. Karena dengan menerjemah, kita akan buka-buka referensi buku terkait, minimal kamus, 3) manfaat secara ekonomis, lumayan cepat cair hasilnya. Unat menyambung hidup sementara dunia.
Lanjutkan menerjemah, dan selamat menulis!

Banyak manfaat yang bisa diperoleh saat menerjemahkan buku. Yang paling utama adalah ilmu, informasi dalam buku. Seperti saat menerjemahkan buku "Syarh ash-Shudur" karya Imam Jalaluddin as-Suyuthi, yang kebanyakan memuat hadits dan atsar tentang keadaan orang-orang mati dan kondisi alam kubur. Banyak hal yang sebelumnya tidak aku ketahui. Akhirnya, aku pun tahu. Alhamdulillah.

Banyak hadits dalam buku tersebut yang memperkuat pernyataan bahwa ahli kubur (mayat di dalam kubur) mendengar apa yg diucapkan kepadanya, termasuk talqin. Diantaranya, hadits tentang Ummu Mihjan, wanita tukang sapu masjid Nabawi yg mati. Tanpa sepengetahuan Rasulullah, ia dikubur. Kemudian beliau mengunjungi kuburnya, kemudian beliau shalat jenazah di samping pusaranya. Setelah itu, beliau menanyainya yang tentunya sudah di dalam kubur. Hanya saja, beliau menyatakan, bahwa yang bisa mendengar ucapan mayat, saat itu, hanya Nabi, dan beliau menegaskan bahwa ahli kubur lebih tajam pendengarannya daripada sahabat yang masih hidup.

Hadits tersebut juga menunjukkan disyariatkannya shalat jenazah meskipun mayat teah dikuburkan.

Terkait dengan talqin dan ucapan di atas kuburan, As-Suyuthi menyebutkan di antaranya HR. Ath-Thabrani dan Ibnu Mandah, dari Abu Umamah dari Rasulullah. Bahwa beliau menganjurkan agar bila mayat telah dikuburkan hendaknya ada yg mengucapkan, "Hai fulan bin fulanah," Sungguh, dia mendengar, tp tidak menjawab." Hendaknya dia mengucapkan, "Sebutlah yang menjadi pedomanmu di dunia, yaitu syahadat Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah (2 kalimat syahadat), dan kalimat ridha (Aku ridha Allah sebagai Tuhanku, Islam agamaku, Muhammad saw hamba dan Rasul-Nya, dan al-Qur’an sebagai Imamku)."


Hadits tersebut juga menyebutkan bahwa saat di kubur, bahwa seseorang dinisbatkan kepada ibunya. Apa dalam hal ini bisa diberlakukan qiyas?! Artinya, seseorang yang masih hidup bisa dinisbatkan kepada ibundanya, misalnya: Shaleh bin Hasanah. Perlu pembahasan khusus. 

Ulasan Hasil Tantangan Menulis Bareng SLI di Hari Guru Nasional

Hasil Tantangan #NulisBarengSLI #HariGuruNasional2020 #SahabatLiterasiIAICirebon Beberapa hari yang lalu (23/11/2020) aku atas nama pribad...