Wednesday, May 31, 2017

Prof. KH. Chozin Nasuha Yang Kukenal

Selamat Jalan Prof Chozin:
Sosok Sederhana dan Penuh Semangat

Oleh: Masyhari

Senja ini (30/05), usai menikmati sajian berbuka puasa, hidangan jamuan penuh bungah bagi yang seharian berpuasa,  dalam satu grup WhatsApp dosen STAIC tersiar kabar sesakkan dada. Sebuah kabar duka saya terima dari seorang kawan dosen,  "inna lillahi wainna ilaihi rajiun, telah berpulang ke rahmatullah, Prof. Dr. KH. Chozin Nasuha Arjawinangun, Selasa sore ini (04 Ramadhan 1438 H/ 30 Mei 2017) pukul 17.00".
Rasanya tak percaya, sosok yang penuh semangat itu pergi tanpa ada kabar sakit terdengar sebelumnya. Saya pun langsung saya tanyakan kepada Pak Ajat, kawan dosen asal Arjawinangun yang kasih kabar tersebut, klarifikasi kebenaran berita duka itu.
"info dari Kang Husen Muhammad boten (tidak) sakit. Pulang dari Sumber jam 14.00. tiba di rmh jam 15.00, trus krasae blenak (rasa tidak enak badan), (akhirnya, bliau) buka (puasa), trus istirahat, trus turu selawase (tidur selamanya)." Jawab kawan saya.

Saya sendiri alhamdulillah bisa berkenalan dengan belau, dan berkesempatan menimba ilmu dari beliau. Meskipun tidak terlalu akrab,  saya cukup mengenal prof Chozin. Saya mengenal nama beliau sejak pertama kali tinggal di Cirebon Jawa Barat, 2012 silam. Selama dua tahun (2012-2014) kuliah kelas pasca sarjana program beasiswa kader ulama yang diinisiasi ditpdpontren kemenag RI di Ma'had Aly Al Hikamus Salafiyah Babakan Ciwaringin Cirebon hampir setiap pekan bisa bertatap muka dengan beliau. Di setiap semester ada mata kuliah yang beliau ampu. Pertemuan semakin intens dan personal, saat beliau menjadi salah satu pembimbing tesis saya di program pasca sarjana IAIN Syekh Nurjati. Sempat beberapa kali saya harus datang ke kediaman beliau di sekitar komplek Pesantren Darut Tauhid Arjawinangun, untuk bimbingan tesis.
Dalam tulisan ringan saya ini, ada beberapa hal yang saya catat dari beliau, semoga bisa menjadi inspirasi bagi saya pribadi khususnya, dan bagi para pembaca umumnya.
Pertama, beliau sosok dosen atau guru yang suka mengakrabi mahasiswanya. Tidak hanya soal materi pembahasan tesis yang akan beliau singgung, dalam proses pembimbingan. Beliau tak jarang juga tanya daerah asal, kondisi, tradisi, histori, dsb seputar daerah asal mahasiswanya, tidak terkecuali saya.
Bahkan, seusai saya diwisuda, beliau sempat kontak saya via telp untuk datang menemui beliau, baik di rumah beliau atau di kampus ISIF. Dari itu, saya tahu tidak hanya saya yang mengenal beliau, tapi beliau juga mengenali saya. Bahkan, beliau tak segan untuk "curhat" kepada saya terkait "urusan" relasi anaknya. Diceritakan karena anak beliau punya calon istri dari Lamongan, daerah asal tinggal saya. Beliau pun banyak tanya soal tradisi, adat istiadat, serta alamat si calon besan. Selain beliau juga minta kontak kawan saya Zainul Hakim yang sudah mudik ke kampung halaman di sekitar Lamongan-Gresik.
Kedua, beliau sosok sederhana dan pekerja keras. Gelar profesor ilmu tafsir UIN Sunan Gunung Djati Bandung, dan jabatan sebagai seorang rektor sebuah kampus, dengan usia senja berkepala tujuh, tidak menghalangi beliau dari  menggunakan moda transportasi umum. Dari rumahnya, beliau lebih memilih mini bus dan angkot untuk menuju kampus tempat beliau mengajar di Pasca IAIN Syekh Nurjati di Jl. Perjuangan atau ISIF di Mejasem. Jarak perjalanan sekitar sejam dengan kendaraan. Hanya sesekali waktu saja beliau diantar oleh santri beliau, semisal Kang Muttaqin atau yang lain. Apa beliau tidak punya mobil pribadi? Entah. Yang pasti rumah beliau sangat sederhana dan beliau punya cukup banyak anak, dan juga sudah bercucu.
Bayangan saya sebelumnya, sosok profesor sederhana hanya ada dalam tradisi orang Mesir, dimana mereka biasa berjalan kaki atau naik angkutan umum dari rumah ke kampus. Ternyata di Indonesia juga ada, dan itu dosen saya sendiri. Patut diteladani, meskipun sudah bergelar profesor doktor, rektor dan berusia sepuh tak menjadikan gengsi untuk berpanas dan berpenat ria di kendaraan umum.
Ketiga, sosok kritis dan guru teladan. Terkait hal ini, kami akrab dengan jargon "kepruki". " Istilah "kepruki" ini saya pertama kali dengar dari beliau di kelas. Artinya, "menyerang" atau mengkritisi pemikiran atau ide yang diungkapkan seseorang. Dalam perkuliahan, beliau tidak suka menggurui, beliau hanya jelaskan garis-garis besar, lebih dominan berisi pertanyaan kritis filosofis daripada pernyataan atau indoktrinasi. Sistem perkuliahan yang beliau terapkan, mahasiswa diberi tugas menyajikan makalah dan mempresentasikannya. Lantas beliau menjadi seperti moderator yang memprovokasi mahasiswa untuk "ngepruki" pemakalah. Setelah diakusi antar mahasiswa berjalan, beliau pun akan ikut ngepruki dengan memberondong pertanyaan kritis kepada pemakalah.
Keempat, sosok pemikir progresif dan penuh semangat. Dalam tatap muka yang ada, terbaca progresifitas pemikiran beliau. Tak heran jika beliau sering berbeda pandangan dan bersebrangan dengan kalangan kiyai pesantren tradisional yang cenderung taklid pada tradisi turats ulama zaman bahoela (baca: salaf) .
Beliau sering mengkampanyekan ide tajdid ilmu pengetahuan, termasuk pengetahuan yang berbasis agama Islam, semisal Ulumul Qur'an, tafsir, fikih dan bahkan Ushul Fikih. Landasan pemikiran beliau, kalau itu disebut sebagai ilmu pengetahun, tentu sederet fann ilmu tersebut tidak kebal kritik atau pembaharuan. Dalam hal ini, beliau pernah menyusun sebuah tulisan dan beberapa bangunan metodologi, kerangka berpikir dan filosofinya. Soal ini, beliau penuh semangat dan suka menularkan "virus" ini ke para mahasiswanya.
Kelima, sosok murid yang baik, yang menghargai "jasa guru" dan kawan yang baik. Di antara wujud penghargaan terhadap seorang tokoh dan pemikirannya adalah dengan kutipan yang dilakukan, baik dalam forum ceramah, perkuliahan ataupun tulisan.
Dalam forum perkuliahan, paling tidak ada tiga tokoh yang saya sering dengar dari beliau, yaitu Cik Hasan Bisri, seorang ahli dalam bidang penelitian dan karya ilmiah. Kedua yaitu Prof Harun Nasutian, seorang pemikir di Indonedia. Harun Nasution merupakan guru beliau di pasca sarjana IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Dalam bidang pemikiran, filsafat dan pembaharuan, tampaknya beliau banyak terinspirasi dari Harun Nasution. Nama ketiga yaitu Kiyai Masdar Farid Mas'udi. Prof Chozin tak sekali menyebut nama ini. Kiyai Masdar, kata Prof Chozin, sangat berani dalam dalam mengungkapkan ide pemikirannya, tanpa takut dicemooh. Bahkan, kisah beliau, Pak Masdar pernah sampai dilempar sandal oleh seorang kiyai dalam sebuah forum diskusi karena ide pemikirannya yang dianggap nyleneh dan menyimpang dari mainstream.
Keenam, tokoh pembela hak kaum minoritas yang tertindas. Beliau bilang, bahwa kawan-kawan penganut kepercayaan dan ajaran minoritas yang dianggap "sesat" dan menyimpang, kerap mendapatkan kezaliman dari pemerintah setempat. Karena itu, beliau bersama kawan-kawan di Isif Cirebon dan fahmina pun akrabi mereka dan lakukan upaya advokasi. Bentuk kezaliman itu misalnya, komunitas Ahmadiyah di desa Manis Lor, Jalaksana, Kuningan, karena kepercayaan mereka oleh pemerintah setempat tidak diakui sebagai penganut agama Islam, hak sipil mereka pun terzalimi. Saat menikah, anak mereka sulit (untuk tidak menyebut "tidak bisa) untuk mendapatkan Surat Nikah, dan tidak tercatat di catatan KUA setempat. Pada giliran berikutnya, berimbas pada akta lahir anak mereka dan hak perdata. Komunitas Sunda Wiwitan di Cigugur Kuningan juga termasuk yang menjadi perhatian beliau, dam kawan-kawan.
Kini, Prof Chozin telah meninggalkan kita semua,  dengan aneka warisan keteladanan akan kesederhanaan,  kesahajaan,  semangat yang menggebu dalam gerakan pemikiran (hirsh), kerja keras, dalam keuletan dan pantang menyerah,  dalam kemandirian dan pembelaan terhadap yang teraniaya.
Sebenarnya, masih banyak hal lain yang perlu dicatat dari kebaikan Prof Chozin. Namun, waktu lah yang belum memungkinkan. Selamat jalan prof Chozin, semoga amal baktimu abadi, dan tercatat sebagai amal baik di sisi Allah subhanahu wata'ala, dan husnul khatimah. Mari takziyah dan doa bersama buat beliau. Alfatihah.
Cirebon, 30-31 Mei 2017/ 5 Ramadhan 1438 H

Wednesday, May 24, 2017

Menulis, Jangan Lupa Membaca

Saat Anda Enggan Menulis, Membacalah

Bisa jadi, Anda suatu ketika merasa tak ada ide, sesuatu yang bisa dituangkan dalam tulisan. Atau ketika sedang menulis, tiba-tiba terhenti, karena ada suatu informasi atau data yang tidak Anda ketahui. Itu tandanya Anda masih manusia, wajar punya kekurangan. Maka, berhentilah sejenak. Jangan Anda paksakan diri untuk menulis. Satu hal yang harus Anda lakukan adalah membaca. Cari buku, khususnya, terkait dengan tema tulisan yang ingin atau sedang Anda tuliskan. Atau buku apa saja yang ingin Anda baca.

Suatu ketika, Eni Ratnawati pernah mengatakan bahwa "cara menulis adalah dengan banyak membaca". Artinya, kualitas dan kuantitas bacaaan akan mempengaruhi tulisan. Semakin sedikit bacaan seseorang, semakin rendah kualitas tulisannya. Begitu pula, bila ia banyak membaca, meningkat pula kualitas tulisannya. Dari tulisan seseorang bisa diketahui seberapa rajin dia membaca. Dari kutipan yang dilakukannya. Dari gaya penulisannya yang biasa, ataukh luar biasa menggugah selera. Apakah tulisannya dipenuhi fakta ilmiah, data akurat dan analogi rasional ataukah dipenuhi hoax, data khayalan dan kerancuan nalar.

Tradisi menulis harus berbanding lurus dengan tradisi membaca. Keduanya bagai dua sisi mata uang, tak dapat dipisahkan. Jangan berkhayal bisa menjadi penulis yang handal, bila Anda malas membaca, malas menikmati karya tulis para pendahulu Anda yang telah makan asam garam dunia literasi.

Anda tahu Komik Detektif Conan, bukan? Buku karya Aoyama Gosho ini terinspirasi oleh buku fiksi detektif "Sherlock Homes". Bahkan, si "Conan", sang tokoh utama komik yang kemudian diputar di dalam film serial kartun konon diambil dari penulis buku "Sherlock Homes" yaitu Sir Arthur Conan Doyle.

Anda pernah mendengar nama "Raudhah An Nazhir"? Apaan tuh? Itu bukan nama sebuah taman, tapi judul sebuah buku karya Ibnu Qudamah Al Maqdisi Al Hanbali. Kitab "babon" Ushul Fikih mazhab Hanbali ini banyak merujuk buku pendahulunya yaitu Al Mustashfa karya Hujjatul Islam, Abu Hamid, Imam Al-Ghazali. Tampaklah, Ibnu Qudamah telah melumat habis al Mustashfa Al Ghazali sebelum menulis bukunya. Dan, masih banyak kisah pembacaan lainnya yamg dilakukan oleh para ilmuan penulis terdahulu.

Jadi, kini saatnya Anda membaca! Berjalan-jalanlah ke toko buku. Manjakan mata Anda melihat aneka buku berjajar di rak-rak yang penuh pesona. Kalau bisa, beli buku secara rutin. Itu adalah cara menghargai sebuah karya.  Jangan biasakan minta buku gratis. Apalagi sehabis itu tidak dibaca. Kalau mau baca gratis, di perpustakaan saja. Hape sejuta dua juta bisa dibeli, buku hanya 40 ribu mengapa Anda bilang mahal harganya?

Cirebon, 24 Mei 2017

Monday, May 8, 2017

Sekolah Abaikan Persoalan Sosial Kemasyarakatan?

Sekolah Abaikan Persoalan Sosial Kemasyarakatan?
Oleh: Masyhari


Saya mempunyai seorang kawan (sebut saja Yanto). Di kampungnya, ia terbilang "pemuda langka", aset masyarakat yang berharga. Di usianya yang ke 26, ia tercatat sebagai sekretaris DKM di kampungnya. Ia merupakan pengurus DKM termuda, karena rerata pengurus DKM sudah tua dan manula, usia 50an-60an tahun. Saat ini, ia tercatat sebagai kandidat master di sebuah kampus negeri di Jawa Tengah.
Dia bisa dibilang seorang single-fighter. Dan demikianlah yang dirasakannya. Karena pemuda dan remaja kampungnya, pada umumnya jarang -untuk tidak menyebut tidak ada- yang turut serta aktif dalam kegiatan keagamaan dan kemasyarakatan di kampungnya. Akhirnya, sampai saat ini, tak satu pun organ kepemudaan hidup dan eksis di kampungnya. Karang taruna tak ada. Ikatan remaja masjid pun tinggal nama. IPNU-IPPNU ataupun IPM-IRM pun belum dikenal di sana. Tampaknya, banyak hal yang digelisahkannya, khususnya terkait fenomena masyarakat yang dihadapi, baik terkait dunia pendidikan ataupun dunia sosio-cultural dan keagamaan yang digeluti.

Satu hari, ia bertukar pendapat, mengkritisi fenomena pendidikan sekolah yang, satu sisi mengaktifkan dan memaksimalkan kegiatan siswa di sekolah, baik dengan kegiatan belajar sesuai kurikulim di sekolah model full-day, hingga kegiatan intra dan ekstrakurikuler. Para siswa pun berjibaku dg tugas-tugas "pendidikan" di lingkungan sekolah dengan penuh semangat. Nilai-nilai berupa angka di raport pun diperebutkan, dan kejuaraan bertingkat- tingkat pun dikejar sekuat tenaga. Inilah yang disebut dengan prestasi yang membanggakan, baik bagi sekolah maupun oleh orang tua di rumah. Para siswa ini kebanyakan jago "kandang". Kandang itu bernama sekolahan. Bangunan fisik tembok, dikelilingi pagar. Berbilang-bilang medali dikalungkan, sejuta prestasi ditorehkan. Namun, di masyarakatnya, ia jarang bergaul, apalagi berperan dan andil dalam kegiatan kemasyarakatan. Dengan tetangga rumahnya saja ia tidak mengenal dan dikenali. Keluar pagi sebelum pukul tujuh, dan pulang ke rumah sementara hari sudah petang. Di hari libur pun ia masih sibuk dengan tugas sekolah,  sekedar bersantai di dalam rumah, bermain-rehat atau rekreasi mencari hiburan keluar di akhir pekan.

Selama ini, kebanyakan tugas yang diberikan sekolah, jarang yang secara teknis bersentuhan langsung dengan masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya. Terbukti, masjid-masjid hanya dipenuhi kaum manula dan anak-anak usia TK. Kegiatan taklim di masjid tidak banyak diikuti oleh para remaja usia sekolah menengah dan mahasiswa. Mereka seakan lenyap, tiada kentara, bahkan belangnya pun tak terbaca mata.

Akibatnya, ia bisa dikata sukses dalam sekolah, namun gagal di masyarakatnya. Kalau setiap siswa mengalami hal serupa, entah bagaimana masa depan "rumah besar kita"?
Sementara dalam teori-teori digemakan dan di mimbar-mimbar seminar diteriakkan bahwa pemuda adalah generasi masa depan. Pelajar adalah agen perubahan. Lantas, bila selama belajar di sekolah hanya dituntut untuk menaikkan ratingnya di lembar-lembar raport, sementara ia jarang dan bahkan tak pernah mengenal dunia masyarakat nyata di sekitarnya, bagaimana ia tidak gagap bila setelah lulus ia dituntut untuk bisa melakukan perubahan? Bisa berinteraksi dan bergaul dengan masyarakat saja sudah bersyukur.

Ini satu PR dunia "pendidikan sekolah". Kurikulum yang ada hendaknya dilakukan perubahan. Pun diharapkan para guru dan pihak sekolah melakukan upaya bimbingan dan pengarahan agar para siswanya turut berperan aktif di masyarakat. Dalam tugas-tugas sekolah pun disisipkan adanya interaksi siswa dg melibatkan masyarakat sekeliling tempat tinggalnya. Karena selama ini, fenomena yang terjadi, banyak siswa dan ortu masih menganggap angka sebagai tujuan dan tarjet dari pendidikan di sekolah. Siswa dituntut untuk aktif belajar di sekolah dan di kegitan intra dan ekstra, karena akan menunjang dan meningkatkan nilainya di mata para gurunya. Sementara perannya di masyarakat, bisa dibilang jarang -untuk tidak menyebut "tidak pernah"- dimasukkan dalam daftar proyek sekolah yang dapat menunjang prestasi dan dimasukkan dalam nilai raportnya. Maklum, karena tarjet yang dikejar masih angka dalam kertas.

Hal ini tentunya tidak berlaku pada sekolah yang sudah tidak menuhankan angka, dan sekolah yang sudah sadar akan pentingnya peran pemuda dalam perubahan masyarakat menuju kemajuan dan lebih baik. Semoga. Di pesantren-pesantren dan sebagian madrasah di sejumlah daerah, sudah banyak melakukan upaya pengakraban pelajarnya dengan masyarakat. Kegiatan pengabdian masyarakat, bakti sosial menjadi agenda rutin. Sebut saja misalnya Mak Tarbiyatut Tholabah Kranji-Lamongan. Di sana, para santri memiliki kegiatan pengabdian masyarakat berupa bakti sosial, sejenis KKN (Kuliah Kerja Nyata) selama beberapa hari di perkampungan atau daerah pelosok.

Bahkan, tak jarang pesantren yang mewajibkan kegiatan pengabdian masyarakat kepada santri yang hendak tamat, sebagai satu syarat kelulusan. Sampai-sampai kebijakan "penahanan ijazah" pun diberlakukan, hingga rampungkan masa pengabdian, semisal di Pondok Modern Gontor Ponorogo. Pesantren Mambaus Sholihin Suci Manyar Greasik, Al-Amin Prenduan-Madura, Pesatren Sidogiri dan sebagian pesantren Al-Irsyad juga melakukan program pengabdian.

Bila sekolah-sekolah di seluruh Nusantara ini melakukan upaya serupa, upaya mendekatkan para pelajarnya dengan masyarakat sekitarnya, tentu akan muncul para pemuda pejuang, generasi perubahan sosial yang tidak gagap menghadapi dunianya. Tidak harus serupa Gontor yang menahan ijazah hingga rampung masa setahun pengabdian. Tapi paling tidak, upaya pengakraban itu dilakukan dengan serius, soal teknis banyak modelnya. Yang terpenting, misinya agar para siswa yang tidak hanya berprestasi di bidang akademik dan sebangsa sekolah, tapi juga siap menjadi agen perubahan masyarakat dan generasi penerus bangsa. Semoga.

Ulasan Hasil Tantangan Menulis Bareng SLI di Hari Guru Nasional

Hasil Tantangan #NulisBarengSLI #HariGuruNasional2020 #SahabatLiterasiIAICirebon Beberapa hari yang lalu (23/11/2020) aku atas nama pribad...