Sunday, February 21, 2016

Kecermatan

Pagi ini, jarum jam analog di dinding hapeku mununjuk angka di antara 5 dan 6. Kubersiap segera untuk ke Stasiun, berharap agar tak ketinggalan kereta pagi yang terjadwal pukul 8.00. Maklum, jarak rumah dan jalan protokol, tempat mangkal angkot cukup jauh, sementara aku jalan kaki. Ya, konon, sejam sebelum berangkat, harus sudah print-out tiket, karena yang kupegang batu kertas booking-an yang kubeli dari minimarket. Andai saja, ada kawan yang rumahnya dekat stasiun, bisa kutitipkan motor. Alangkah indah lagi jika punya lapak/ lahan di sana.
Beruntung sekali rasanya, angkot yang kutumpangi, di tengah perjalanan, para penumpang yang didominasi anak sekolahan pada turun, hingga tadinya penuh, sekarang kosong-mlompong. Tinggal aku dan sopir.
"Mas, ke Prujakan, stasiun ya?"
"Ya, pak."
Langsung, sopir motong jalur, yang jauh lebih dekat dari jalur yang semestinya. "Wah, ini supir baik hati nih!" Dalam hati kuberkata.
Angkot sudah berada di depan stasiun. "Pak, berapa?" Tanyaku, sambil kukeluarkan uang lembaran 5rb dan 2rb.
Melihat lembaran uang yang kubawa, supir hanya tersenyum, tanpa kata terucap dari bibirnya. Apa dia jadi bisu ya?hehe.
Entah aselinya berapa ongkos Kedawung-Prujakan, tak begitu penting. Yang penting, sudah sampai stasiun, sebelum jadwal keberangkatan, dan bilapun lebih, itu sebatas terima kasih atas kebaikanhati.
Kulangkahkan kaki, menapaki dua tiga anak tangga stasiun, setelah kubanting ringan pintu angkot. Mata langsung menuju fokus pada CTM, alat untuk cetak tiket mandiri. Satu persatu jemariku memencet keyboard merangkai kode booking yang tertera. Kupegang mouse, arahkan kursor pada tulisan "cetak". Jreng jreng.
"Kode booking yang anda masukkan sudah kadaluarsa. Hubungi Costumer Service." Begitu kira² bunyi (emang ada bunyinya?) di layar monitor.
Lah kok bisa? Segera kutanyakan pada petugas, setelah kusapa.
"Maaf pak, ini kenapa ya? Padahal ini masih jam 6 ya!"

"Coba sini lihat booking tiketnya!" Pinta petugas.
Kuserahkan booking tiket pada petugas itu.
"Lah, ini khan tanggal 25, kemarin, Pak!"
Lah!!
Setelah kucermati, ternyata benar (pake) bingiiiits.
"Padahal, kemarin saya pesannya di minimarket untuk hari Senin loh!" Sementara di kertas booking tak tertulis Harinya, hanya ada tanggal.
Walhasil? aku harus beli tiket baru untuk hari ini.
"Silahkan ke loket saja pak. Lain kali lebih teliti lagi pak."
Segera kulangkahkan kaki, tiga empat langkah menuju loket. Kebenaran, tidak antri, sedang sepi, hanya ada satu orang pembeli.
"Bu, masih ada tiket Tegal Arum untuk tujuan Senen pagi ini?"
"Maaf, sudah habis pak. Adanya Matarmaja berangkat pukul 06.30 harga 115rb, Majapahit 90rb berangkat pukul 07.00, dan....."
"Majapahit ajha bu."
"Ya pak, mohon maaf, pinjam katepenya sebentar."

Alhamdulillah, akhirnya dapet tiket juga, dan lebih pagi lagi, meski harus membayar lagi. Pengennya biar ekomomis, eh ternyata harus keluar lebih lagi.heheh

Memang, saat membeli tiket, sudah bilang hari Senen, tapi karena kekurangcermatan dalam melihat tanggal, kasir Alfamart dan akhirnya aku, pun salah, keliru.
Namun, beruntung lah, masih ada tiket untuk hari ini (yang terjangkau isi dompet). Kalau tidak, bisa² keberangkatan hari ini tertunda, harus balik lagi ke rumah. Oh, tidak.
Alhamdulillah, meskipun sama² ekonomu, tapi ternyata kereta Majapahit cukup nyaman, jauh lebih bagus daripada Kertajaya, Matarmaja, apalagi Tegalarum. Maklum, baru sekali ini naik Majapahit. Dan, beruntung, tiketnya cuma 90rb. Padahal, di onlinenya masih mahal, dekat angka 200an. Semoga bermanfaat.

Bismillahi majreeha wamursaha inna rabbi laghafurun rahiim.
Sampai jumpa Cirebon, selamat datang Jakarta.
Kereta Majapahit, 26/10/2016

No comments:

Post a Comment

Jangan lupa komentar

Ulasan Hasil Tantangan Menulis Bareng SLI di Hari Guru Nasional

Hasil Tantangan #NulisBarengSLI #HariGuruNasional2020 #SahabatLiterasiIAICirebon Beberapa hari yang lalu (23/11/2020) aku atas nama pribad...