Sunday, September 18, 2016

Resensi Novel "Senja Terbelah di Bumi Surabaya"



Oleh: Syukron Ma'mun

Pengarang     : Eni Ratnawati
Penerbit      : Writing Revolution
Tebal            : 400 halaman


Novel ini mengisahkan sebuah keluarga Dirgantara yang kaya raya yang kembali dihantui masa lalu kelam almarhum Dirgantara. Masa lalu yang datang kembali melalui surat-surat misterius yang sekilas tampak romantis, tetapi mempunyai makna yang sulit untuk dipahami, termasuk oleh Bayu Dirgantara yang telah mendapatkan surat misterius itu beberapa kali. Surat yang juga membuat Bayu mengingat wasiat papanya sebelum meninggal untuk mencari anak-anak papanya.
Bayu pun memutuskan pergi ke Surabaya untuk memenuhi wasiat papanya. Sebuah keputusan yang bisa saja membuatnya kehilangan karir di perusahaan. Kepergiannya ke Surabaya bersama Nouri adiknya. Kepergian yang dirahasiakan ke Mamanya, Ny. Dirgantara yang tak ingin masa lalu kelam Tuan Dirgantara kembali dibuka.

Suasana semakin membingungkan, namun Nouri malah tiba-tiba menghilang dan hanya meninggalkan sepucuk surat. Bayu pun merekrut Nayla untuk menggantikan posisi Nouri menjadi asisten Bayu. Pilihan Bayu tidak salah, karena Nayla, meski di awal kerja mengecewakan, banyak membantu teka-teki menemukan keluarga dari Tuan Dirgantara.

Sementara di Jakarta, Ny. Dirgantara yang mengetahui misi anaknya, melakukan tindakan-tindakan penyelidikan tanpa sepengetahuan Bayu. Penyelidikan yang hampir saja membuat nyawanya melayang ditikam oleh orang kepercayaan Bayu.

Meskipun novel ini bercerita tentang penyelidikan ala detektif, tetapi novel ini tetap menyuguhkan bumbu percintaan antar tokoh dan guyonan segar yang bisa meluruhkan ketegangan membaca kisah detektif. Sehingga pembaca bukan hanya diajak penasaran dengan akhir pencarian Bayu dan Ny. Dirgantara, tetapi juga kisah cinta Bayu, Nayla, dan Natasha.

Sekalipun ini adalah novel penyelidikan seperti novel-novel Dan Brown, tetapi penulis novel tetap memberikan pesan-pesan yang mendalam, diantaranya: menjaga keturunan dengan tidak berhubungan badan tanpa ikatan yang halal, tidak berpacaran sebelum menikah, berusaha ikhlas dan pasrah atas takdir yang menimpa, tidak sembarangan membual, dan berusaha semaksimal mungkin melaksanakan amanah atau wasiat orang tua, bagaimanapun buruknya orang tua, sejauh amanah/wasiat itu tidak melanggar hukum dan norma.

Kekurangan novel ini adalah dalam pemilihan diksi ketika mendiskripsikan sesuatu. Tak jarang, deskripsi yang diberikan tidak sampai pada imajinasi pembaca. Sehingga pembaca harus membacanya dengan teliti dan seksama. Namun, kekurangan pendeskripsian itu tak mengurangi kualitas isi cerita, alur, dan konflik dalam novel yang dikemas begitu indah dan selalu membuat pembaca penasaran sehingga ingin mengkhatamkan novel ini sekali duduk.

Cirebon, 30 Agustus 2016

No comments:

Post a Comment

Jangan lupa komentar

Ulasan Hasil Tantangan Menulis Bareng SLI di Hari Guru Nasional

Hasil Tantangan #NulisBarengSLI #HariGuruNasional2020 #SahabatLiterasiIAICirebon Beberapa hari yang lalu (23/11/2020) aku atas nama pribad...