Saturday, November 28, 2020

Ulasan Hasil Tantangan Menulis Bareng SLI di Hari Guru Nasional

Hasil Tantangan

Beberapa hari yang lalu (23/11/2020) aku atas nama pribadi, juga selaku pembina (baca: provokator) Sahabat Literasi IAI Cirebon, ngadain tantangan kecil-kecilan, berupa nulis bebas, genre apa saja tentang guru. Tujuannya, sebagai bentuk penghargaan atas jasa-para guru. Menurut hematku, yang pas dilakukan oleh komunitas literasi dalam momentum #HGN ya menulis tentang guru.
Alhamdulillah, sambutan para anggota UKM (saya lebih suka menyebutnya komunitas) SLI ini cukup positif. Di hari-H, yaitu tanggal 25 November 2020, tulisan demi tulisan diposting di grup WA Sahabat Literasi IAI Cirebon. Sampai jam ditutupnya tantangan hasil perpanjangan waktu, pukul 23.30, total keseluruhan tulisan yang masuk ada 28 tulisan.
Dari kedua puluh delapan tulisan tersebut dapat dibagi dalam 4 klaster, yaitu esai, cerita, puisi dan pantun.
Baiklah, aku mau bahas kluster pertama, yaitu esai. Esai pertama datang dari sahabat @Yusuf Paisal Ekos yang berjudul Kisah Guru Inspiratif. Tidak hanya judulnya yang tertulis inspiratif. Isinya juga tidak kalah inspiratif. Bahkan iseng-iseng aku cek di plagiarismdetector, ternyata hasilnya 100% unique. Inilah satu poin yang aku suka. Anggota komunitas berani berkarya, walau bagaimanapun hasilnya (baca: kualitasnya). Karena menulis itu keterampilan, sebuah proses yang butuh latihan demi latihan. Orang bilang jam terabang. Semakin sering latihan menulis, akan semakin bagus, karena terlatih.
Esai inspiratif ini berisi kisah guru
hebat
dan inspiratif bernama Prof Yohanes Surya dengan segala prestasinya dalam mengantarkan anak-anak didiknya menuju sukses. Katanya, guru yang sukses adalah bila mampu mengantarkan muridnya lebih sukses darinya.
Tapi, setelah diterawang lagi, ternyata esai ini memuat cerita. Tapi ini bukan cerpen ya. Tulisannya juga berisi potongan-potongan kisah nyata saja.
Oh ya, sedikit menyinggung cerpen. Meskipun singkatan dari cerita pendek, bukan berarti karena "pendek", lalu ceritanya hanya satu dua paragraf. Kata pendek memang subjektif. Dulu semasih sekolah di MTs, aku juga pernah punya pikiran begitu. Pendek tuh dikiranya cuma satu dua paragraf. Ternyata, pendek itu jika dibandingkan dengan novel. Kalau novel itu satu buku berisi satu kehidupan panjang. Sementara cerpen itu berisi potongan pendek kehidupan, dan panjangannya beberapa halaman saja. Dan cerpen ataupun novel itu termasuk genre sastra-fiksi.
Tulisan berikutnya datang dari @Rahmat Hidayah berjudul "Tentang Guru" perspektif penulisnya, juga berisi ucapan selamat buat para guru. Pengalaman kurang sedap dari gurunya saat ujian juga disinggungnya. Meskipun ia juga bilang kalau jadi guru itu tidak mudah, dan akhirnya dia doakan semoga para guru sabar menghadapi murid semacam penulisnya.hahaha
Esai selanjutnya dari @Sanudi berjudul Oemar Bakrie Era Modern. Sebagaimana judulnya, tulisannya dibuka dengan potongan lirik lagu Iwan Fals: "Tapi mengapa gaji guru Oemar Bakrie sebesar kuda poni". Sayangnya, ia salah nulis sebagain liriknya. Mestinya "seperti dikebiri", tapi ditulisnya "sebesar kuda poni". Ini sekedar catatan kecil dariku.
Adapun isinya cukup memukau, berisi pandangan penulis tentang nasib guru era kini. Meskipun berbagai tunjangan telah diterima oleh banyak guru dan pendidik, tapi tetap saja masih banyak guru honorer yang besaran gajinya habis buat transportasi dan makan satu dua hari.
Ya, kalau mau cari, solusi mah banyak di sana-sini. Misalnya bikin bimbel, kursus, nulis buku, wirausaha, olshop, sambil nge-youtube, dan lain sebagainya. Apalagi di era pandemi ini, pemerintah banyak gelontorkan dana bantuan untuk berbagai kalangan. Mulai dari pinjaman tanpa bunga, hingga dana bantuan sosial. Lumayan buat tambahan modal usaha kan.
Esai terakhir datang dari @Ari Yoseva setelah beberapa puisi dikirimkannya. Dalam tulisannya yang berjudul Hari Guru untuk Muridku, ia tuliskan pengalaman pribadinya selama menjadi guru. Tulisannya semacan refleksi diri sebagai seorang guru yang entah di mana, ia tidak cerita. Ya, katanya meskipun berat, menjadi guru itu mulia. Apalagi, menjadi guru sudah menjadi cita-cita dan jalan hidupnya. Maka, seberat apa pun, harus dijalani dengan senyuman dan kesabaran. Senyuman, canda dan tawa riang anak-anak murid adalah hiburan, obat segala nestapa, katanya. Mungkin juga penghibur lara oleh kecilnya gaji yang diterimanya.. Entah harus tertawa atau menangis.
Karena sudah jam 12.03, untuk sementara sampai di sini dulu ya. Dilanjut besok nanti lagi...

Monday, November 23, 2020

Tantangan Nulis di Hari Guru Nasional 2020

 #TantanganNulisHGN #HariGuruNasional2020 #NulisBarengSLI

Hai gaes
Hai sahabat literasi
Sahabat tahu gak sih kalau besok lusa, tepatnya tanggal 25 November 2020 tuh ada HGN. Apa tuh #HGN? Katanya sih itu singkatan dari #HariGuruNasional.
Oke. Langsung saja gaes. Aku mau ngadain tantangan menulis bebas, free writing, apa saja tentang guru. Kamu boleh bikin *puisi, pantun, cerpen, cerita nyata tentang gurumu, atau tentang cita-citamu jadi guru*, ya kali aja pernah punya mimpi jadi guru, berarti kayak aku. Semasih belajar di madrasah dulu punya keinginan jadi guru. Eh, ternyata malah kuliahnya di bidang hukum Islam. Emaang sih bisa jadi guru, ya guru TPQ, sejak tahun 2006-2012, di Jakarta aku ngajar ngaji Qiraati anak-anak kecil di Jakarta.
Tapi, tak hanya di TPQ loh. Aku pernah ngajar ngaji di satu SDIT di Jakarta. Selain itu, juga ngajar ngaji di TK Islam Al Azhar V Kemandoran. Kalau ngajar di TK Al Azhar Kemandoran, aku seringnya lewat depan gedung DPR RI, bundaran Slipi, dan Kompas Gramedia, yang gak jauh dari pasar tradisional Palmerah yang lumayan macet itu.
Nah, suatu ketika kepala sekolah TK ngasih info lowongan guru di YPI Al Azhar Kebayoran Baru. Aku pun coba ajukan lamaran guru PAI. Rata-rata yang nglamar tuh sarjana pendidikan atau lulusan fakultas tarbiyah. Kabar pengumuman lolos pun tak juga terdengar. Tampaknya, aku belum diterima. Ternyata memang, yang masuk kriteria hanya sarjana pendidikan atau tarbiyah.
Akhirnya, aku pun kubur impian jadi guru di Al Azhar, sembari berkata dalam hati, "Aku harus bisa lanjut S2. Biar bisa jadi dosen. Gpp gagal jadi guru di madrasah, tapi bisa jadi dosen."
Ternyata, kini itu nyata. Aku bisa jadi dosen di
Iaicirebon
setamat S2 di IAIN Syekh Nurjati Cirebon.
Ish ish ish.. Lah kok malah aku yang curhat sih... Ya curcol dikit gpp ya.
Nah, kamu juga bisa nulis *opini, esai, artikel*, atau ngomong (nulis maksudnya) apa saja tentang guru di Indonesia, bagaimana nasibnya, bagaimana semestinya, bagaimana pendidikan di Indonesia, bagaimana kebijakan pemda, pemerintah pusat terhadap guru, problematika guru, suka duka jadi guru, dan lain sebagainya.
Kamu juga bisa cerita tentang gurumu semasa kecil, guru yang impresif, apa tuh? Yang berkesan maksudnya. Ya, bisa kesan positif, misalnya selalu ngasih nilai 100 padahal kamu suka tidur di kelas. Atau suka ngasih kamu coklat di hari ultahmu. Ini sih guru modus.wkwk.. Atau guru yang suka ngajak jalan-jalan.
Bisa juga kesan negatif, misalnya gurumu suka pasang muka cemberut saat masuk kelas. Dikit-dikit marah, gebrak meja, dan lain sebagainya. Guru yang suka ngasih nilai merah, atau nyuruh kamu berdiri di depan kelas, atau ngasih cubitan kecil saat kamu datang terlambat.
Pokoknya apa saja deh.
Nah, tantangan ini khusus buat mahasiswa penghuni grup Sahabat Literasi IAI Cirebon saja ya. Tulisan dikirim di grup SLI, juga boleh dishare di IG dengan tag akun IG @masyharie atau di FB dengan tag akun Masyhari di kolom komentar paling lambat hari Rabu tanggal 25/11/2020 jam 23.30 WIB.
Di awal tulisan jangan lupa diberi tagar begini ya:
Jangan lupa dikasih judul juga ya. Nama penulis juga jangan lupa.
Akan ada Doorprize buat 3 penulis yang beruntung. Sudah, gitu saja ya gaesss.
Salam Literasi.
Yang punya gawe,
Pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Tuesday, July 7, 2020

Profil UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Komunitas Sahabat Literasi IAI Cirebon

Penulis: Masyhari, Gita Handayani, Hardianto

Sahabat Literasi IAI Cirebon (selanjutnya disingkat SLI) merupakan komunitas yang beranggotakan para mahasiswa lintas fakultas dan lintas program studi di kampus IAI Cirebon yang memiliki minat dalam bidang literasi; membaca, memahami, menulis, dan menganalisis, serta ingin menyalurkan bakat dan potensi yang dimiliki terkait dengan literasi agar berkembang secara pesat. 

Komunitas ini diharapkan bisa menjadi forum pertemuan para pembelajar di bidang literasi. Para anggota saling belajar satu sama lain, saling memberi kritik konstruktif, saran dan masukan. Komunitas ini menjadi bengkel penempaan diri dan pengujian keberanian anggotanya dalam menuangkan ide dan gagasannya dalam tulisan. Komunitas ini diharapkan menjadi pabrik literasi yang menghasilkan dan menerbitkan karya tulis yang berkualitas. Tidak hanya itu, melalui komunitas ini bakat-bakat penunjang literasi diharapkan juga bisa dikembangkan secara lebih maksimal, seperti penyuntingan (editing), tata letak (layout), desain grafis, marketing dan lain sebagainya yang terkait dengan penerbitan. 

Selain itu, para anggota komunitas ini diharapkan bisa menjadi pelopor, pioner dan penggerak literasi di kampus IAI Cirebon. Para anggota SLI diharapkan bisa menjadi pioner dan motor penggerak literasi di kalangan para mahasiswa kampus, khususnya dan umumnya di tengah-tengah masyarakat. Mereka bergerak dan menggerakkan.

Ide dan inisiatif mendirikan komunitas ini berawal dari kegelisahan atas problem besar dan mendasar yang terjadi di kalangan mahasiswa secara turun-temurun, yaitu maraknya plagiarisme di dalam karya tulis ilmiah. Tidak sedikit pula mahasiswa yang terindikasi mengerjakan tugas-tugas makalah atau artikel dalam mata kuliah dengan meminjam tangan orang lain. Hal itu tidak lain disebabkan lemahnya kualitas literasi di kalangan mahasiswa. Mereka merasa tidak mampu menghasilkan karya tulis secara mandiri. Kegiatan literasi belum menjadi tradisi di kalangan mahasiswa. Padahal, penulisan dan penelitian ilmiah merupakan bagian dari Tridharma perguruan tinggi yang tidak mungkin bisa dilepaskan dari kehidupan akademik seorang mahasiswa.

Dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan, komunitas SLI memiliki sejumlah program kegiatan. Program perdananya yaitu diskusi rutin. Kegiatan yang dilakukan secara virtual melalui WhatsApp Group ini dimulai pada bulan Mei 2020 bertepatan dengan bulan Ramadan 1441 H. Diskusi dilaksanakan setiap dua hari sekali pada malam hari pukul 20:00-21:00 WIB, dengan menghadirkan narasumber dan host dari anggota komunitas SLI yang terjadwal bergiliran. Materi yang didiskusikan yaitu tulisan dengan genre dan tema bebas dari narasumber pribadi.

Pada bulan Juli 2020, SLI memiliki program kegiatan Tadarus Buku. Kegiatan yang berupa diskusi bedah buku ini dipandu oleh seorang host dan narasumber yang berasal dari anggota komunitas. Narasumber yang terjadwal mengirimkan resensi atas buku yang telah dibacanya. Judul dan genre buku bebas, sesuai dengan minat dan pilihannya; fiksi maupun nonfiksi; ilmiah, popular ataupun sastra.

Program tersebut dibuat untuk 'memaksa' para narasumber untuk membaca buku hingga paham. Sebab, membaca merupakan pintu ilmu pengetahuan. Selanjutnya, mereka 'dipaksa' menuliskan intisari apa yang dipahami dari buku yang mereka baca dengan menggunakan teknik parafrasa, yaitu mengungkapkan kembali apa yang dipahami dengan bahasa dan diksi sendiri. Tulisan-tulisan yang masuk selanjutnya dikumpulkan, diedit dan diproyeksikan untuk diterbitkan.

Selain itu, para anggota diharapkan bisa menerbitkan karya tulis secara mandiri di penerbit Indie atau bahkan bisa menembus penerbit mayor. Pada bulan-bulan berikutnya akan diagendakan kegiatan-kegiatan lain yang menunjang pencapaian tujuan, visi dan misi komunitas.

Komunitas ini berdiri secara virtual pada 18 Maret 2020 ditandai dengan pembuatan WAG Sahabat Literasi STAI Cirebon (SLS) oleh Gita Handayani, mahasiswi Prodi PAI atas permintaan dan inisiatif Bapak Masyhari, Lc., M.H.I, Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam IAI Cirebon. Setelah kampus berubah bentuk menjadi institut, komunitas ini pun mengubah namanya menjadi Sahabat Literasi IAI Cirebon (SLI). 

Agar komunitas berjalan secara terstruktur dan maksimal, diperlukan adanya seorang koordinator yang bertanggung jawab mengatur dan menyukseskan program kegiatan. Maka, pada tanggal 20 April 2020 pukul 20.00, dilakukan pemilihan koordinator komunitas. Melalui voting terbuka di WAG, terpilihlah sahabat Gita Handayani sebagai koordinator pertama komunitas ini. Setelah ditetapkan koordinator, disusun kepengurusan harian yang mengelola komunitas ini. 

Logo Komunitas

Sebagai upaya meresmikan komunitas ini, para anggota merancang dan merumuskan lambang dan logo dari SLI agar selaras dengan cita-cita dan semangat komunitas SLI. Berulang kali logo dirancang melalui tangan-tangan kreatif anggotanya. Proses pembuatan logo terbilang tidak mudah, dibutuhkan ide kreatif, daya imajinasi dan citarasa seni yang tinggi. 

Pada akhirnya, tepat hari Ahad tanggal 07 Juli 2020, setelah melalui diskusi panjang dan revisi yang berulang-ulang, terciptalah sebuah logo yang disepakati bersama. Logo yang terpilih yaitu hasil kolaborasi Muhammad Hardianto (mahasiswa Prodi IAT), selaku pemilik ide dan rancangan sketsa manual dan Sanudi (mahasiswa Prodi PBA), selaku desainer versi digital. 

Bentuk dasar lambang dan logo yang menjadi tanda pengenal SLI adalah bentuk bujur sangkar yang dianyam oleh pita. Bujur sangkar berarti komunitas ini mempunyai cita-cita dan semangat yang selaras dengan tata aturan hukum, budaya, dan norma yang berlaku.

Sedangkan pita yang menganyam bujur sangkar berarti bahwa komunitas ini didirikan atas dasar kesadaran, pemikiran dan kesatuan para anggotanya.

Bujur sangkar dibentuk dari kata literasi (lam-ya-ta-ra-alif-sin-ya) ليتراسي menggunakan Arab Pegon atau tulisan Jawi (tulisan Arab berbahasa rumpun Melayu), menandakan bahwa SLI menjunjung tinggi nilai-nilai luhur karya sastra Melayu klasik yang memiliki aturan ketat untuk memunculkan estetika yang dikandungnya.

Penggunaan jenis huruf Kufi Murabba' untuk menulis kata literasi berarti SLI memiliki semangat mengasah kreatifitas anggotanya dan menghasilkan inovasi dalam berkarya. Khat Kufi merupakan jenis tulisan paling tua yang digunakan untuk menulis Mushaf al-Imam. Khat Kufi Murabba’ merupakan cabang khat Kufi, dibentuk oleh para kaligrafer kontemporer sebagai inovasi dan kreasi dari khat Kufi. 

Pemilihan warna emas sebagai warna bingkai luar berarti bahwa komunitas ini menjunjung kehormatan, kemuliaan dan pengabdian. Pemilihan warna cokelat pada bingkai bagian dalam karena tujuan komunitas ini ikut berkontribusi dalam membangun nilai-nilai kemanusiaan. 

Warna hijau yang menjadi warna pita dan tulisan literasi menyiratkan makna asas-asas keislaman, melambangkan kontinuitas, kesegaran, kealamiahan dan pembaharuan. Hijau merupakan simbol harapan, pertumbuhan, kelahiran, kemakmuran, kesuburan dan dan regenerasi melalui inovasi dan produktifitas yang berkelanjutan.

Wednesday, May 13, 2020

AKU, ANAK-ANAK DAN TOKO GRAMEDIA


MUNGKIN Anda tahu, mungkin juga tidak, semasih kuliah di Jakarta, aku tidak terlalu akrab dengan toko buku Gramedia. Biasanya, aku dan kawan-kawan akan ke Gramedia Palmerah yang letaknya tidak jauh dari kompleks DPR-MPR Senayan itu di akhir tahun. Paling sesekali singgah di stand Gramedia kalau sedang ada Book Fair di Istora Senayan. Itu pun tak selalu beli buku di sana. Anda harus maklum, di sekitar kampus tempatku kuliah di Pejaten Pasar Minggu Jakarta Selatan, saat itu belum ada toko buku raksasa ini.


Mengapa ke Gramedia nunggu akhir tahun? Ya, karena Gramedia pusat di Palmerah ini hampir setiap akhir tahun punya gelaran cuci gudang. Buku-buku yang tak habis di pasaran, saat-saat seperti itu dijual murah mulai lima ribuan. Dengan hanya bermodal seratus ribu sudah dapat buku sekardus. Anda pasti maklum kondisi sebagai mahasiswa di rantau jauh dari orang tua, untuk bisa makan sehari-hari saja sudah syukur alhamdulillah. Apalagi, buku-buku diktat kuliah semua berbahasa Arab. Jadi, buku-buku yang dibeli dari Gramedia ya sekedar buat asupan tambahan saja. Selain itu, lokasinya kan cukup jauh dari kampus.



Setelah lulus kuliah, sekitar tahun 2010, tepat di depan kampusku, berdiri satu mall besar. Pejaten Village namanya. Di pusat perbelanjaan yang bernaung di bawah Lippo Group ini ada toko buku Gramedia yang cukup besar. Setiap belanja kebutuhan rumah di pasar swalayan Mall, aku selalu sempatkan singgah toko buku Gramedia yang ada di lantai 2. Sekedar baca-baca atau kalau ada buku yang ramah isi kantong, aku akan membelinya.



Bila isi kantong tidak cocok, aku harus ngalah. Yang dibeli cukup buku cerita anak yang tipis. Aku, ketika main ke sana kan selalu bawa anak pertama. Karena anak kedua memang belum ada. Meskipun kantong tipis, tapi tetap saja berlama-lama di Gramedia. Ya, sekedar muter-muter baca buku yang ada. Karena orang semodel aku ini tidak sedikit, kursi pun tidak disediakan di sana. Mereka biasanya baca buku lesehan di sekitar rak penuh buku.



Tahun 2012, aku dan keluarga pindah ke Cirebon. Sejak itu, aku dan keluarga tidak terlalu akrab dengan Gramedia. Anda tahu, hingga tahun 2015, kami tinggal di Ciwaringin. Biasanya, aku beli buku di sekitar IAIN, tempatku studi S2. Ya, karena yang dibeli sekedar buku-buku untuk kebutuhan mengerjakan tugas kuliah.



Sekitar tahun 2015, kami pindah tinggal di sekitar Stadion Bima. Bila ada waktu longgar, aku ajak anak-anak dan istri ke perpus 400. Lokasi perpusda Kota Cirebon ini cukup dekat dengan rumah singgah kami. Memang, anak-anak terbilang suka buku, walau itu buku lebih didominasi gambar daripada teks bacaannya. Kan baca dan pinjam buku di perpus gratis. Hanya, beberapa tahun belakangan, aku tidak lagi ajak anak ke sana. Selain karena kesibukan, juga sebab tidak suka dengan warna gedung perpus 400 bagian depannya. Aku kira mirip dengan Damkar, didominasi perpaduan biru tua dan sedikit merah. Setiap kali aku melintasi perpusda itu, aku dibuat gemas. "Sebenarnya, itu ide siapa sih pilih warna begitu? Massak warnanya tidak ramah dan sejukkan mata.



Sesekali, kalau ada uang cukup, aku ajak anak-anak ke Grage Mall. Bukan untuk belanja apa, selain menuju lantai 2 dan 3, toko buku Gramedia. Anak-anak memang suka buku. Kalau selainnya, paling sekedar makan minum yang dibutuhkannya. Maklum, kami keluarga sederhana, ekonomi kelas menengah ke bawah. Buku-buku yang kami beli pun hanya satu dua, sekedar buat 2 anak yang ada.



Entah sejak tahun berapa, di bilangan Cipto dibuka toko Gramedia. Aku lupa. Toko buku ini terbilang baru. Ia masih tampak gagah perkasa meskipun berdekatan dengan Transmart dan CSB Mall yang jauh lebih besar gedungnya. Gedung toko Gramedia ini memang cukup besar, tingginya empat atau lima lantai, kalau tak salah. Aku tidak terlalu hafal jumlah lantainya. Yang pasti, dan ini yang aku sesalkan, toko buku diletakkan di lantai paling atas. Ke sana, harus melewati lantai demi lantai berisi pajangan barang dagangan mainan, peralatan kantor, alat tulis, dan sebagainya, yang tidak pernah kami singgahi kecuali sekali saat beli tas ransel hitam.



Sejak saat itu, setiap kali liburan datang, atau anak-anak ulang tahun, mereka selalu ingin diajak ke toko buku Gramedia. Sebenarnya, aku paling suka belikan buku buat mereka. Aku juga senang ajak mereka ke Gramedia. Buku-buku yang mereka suka pilih di Gramedia yaitu serial komik terjemahan dari Korea. Sekedar misal, buku Keluarga Super Irit. Ya, meskipun cukup edukatif dan berisi panduan hidup hemat, tapi membelinya malah menguras isi kantong. Buku-buku serial Korea ini, meskipun ngajarin irit dan sederhana, tapi harganya tembus sembilan puluh ribu hingga seratus ribu rupiah perbukunya. Tapi ya maklum, tampilannya memang memukau. Sampul dan lembaran isinya full colour. Anak-anak pun sangat suka. Hanya saja, sesampai mereka di rumah, buku-buku itu dilahapnya hanya sekejap mata, satu dua jam duduk, langsung khatam mereka baca.



Syukurnya, tentu aku harus bilang Alhamdulillah, sejak beberapa bulan ke belakang, toko Gramedia Cipto Cirebon ini buka cuci gudang sepanjang waktu. Mereka gelar lapak buku murah di lantai basement, dekat parkiran. Buku-buku yang biasanya dijual 80-100rb itu cukup dibandrol dengan harga 20rb. Ya, memang tidak semua seri buku tersedia. Buku-buku itu pun memang bukan baru terbit, sesuai judulnya: cuci gudang. Tapi, buku itu masih anyar, karena masih terbungkus plastik.



Ya, sejak itu, ketika kami ke Gramedia, yang kami tuju bukan lagi lantai paling tinggi. Bukan hanya karena lelah naik ke lantai atas. Tapi karena buku-buku di dekat parkiran lebih menggiurakan, tepatnya karena lebih pas dengan isi kantong. Seratus ribu di tangan, bisa dapat 6 buku. Ini sperti beberapa hari yang lalu, sebelum berangkat, dua anak aku ajak ke sana, aku beri jatah lima puluh ribu setiap mereka. Anak aku bebaskan memilih buku yang disuka, asalkan harganya tak jauh dari angka 50rb. Dan benar, keduanya dapat masing-masing 3 buku dengan harga 50rb. Mungkin mereka terinspirasi dari buku Keluarga Super Irit yang mereka baca sebelumnya. Ya, meskipun kejadiannya sama. Sesampai di rumah dari Gramedia, mereka langsung buka buku dan membaca. Anak-anak tidak beranjak dari duduknya, hingga masing-masing khatamkan 3 buku yang baru dibelinya. Wassalam.



Cirebon, 13 Mei 2020_00.07 WIB

Tuesday, April 7, 2020

TERSESAT DI HUTAN: GORESAN PENA ZAHWA

TERSESAT DI HUTAN. Demikian judul komik goresan pena Zahwa Al Kayyisah. Anak perempunku yang satu ini kini berusia 8 tahun. Sekolahnya sekarang kelas 2 SD.


Menggambar memang hobinya. Hampir di semua buku tulis bergarisnya ada coretan gambar. Model gambarnya kini banyak didominasi cergam atau sejenis komik. Kali ini, ia saya tawari dia menggambar di bidang kertas tak bergaris, ukuran A4.

Soal menggambar dia autodidak. Hampir tidak pernah ayah atau ibunya ngajari dia menggambar. Sebab, kami memang kurang mahir menggambar. Ia belajar mandiri. Menggambar sesukanya, tanpa ada yang nyuruh ataupun membimbingnya.

Sempat kami antar ia ke Ohayo Cirebon, sebuah lembaga kursus melukis dan menggambar. Namun, saat ikut kelas trial, dia kurang tertarik atau sreg dengan model kursus di sana. Sebab pastinya kurang tahu.

Selain menggambar, ia sangat suka atau bisa dibilang gila baca buku, khususnya buku cerita bergambar atau komik. Ia baca buku hampir setiap hari lebih dari sekali, tanpa disuruh ataupun diajak. Saking "gilanya baca", sambil makan dia baca komik/cergam yang tersedia di rumah. Makannya pun jadi agak lama.

Saat mau tidur, ia pun bawa setumpuk buku, lebih dari tiga. Gegara ini, ibunya jadi gregetan. "Kenapa tidak cukup 1 atau 2 buku saja sih?!" kata ibunya gemas. Soalnya, di atas ranjang jadi berantakan. Begitu ia bangun tidur, bukulah yang pertama kali dijamah oleh tangannya, sebelum ia beranjak dari ranjang.

Memang, meskipun tidak rutin, kami suka belikan buku cerita buat anak-anak, Nabil & Keysa. Kalau sedang liburan, mereka ingin diajak main ke Gramedia, terutama setelah penguasa buku ini buka toko bukunya di jalan Cipto. Buku yang mereka suka komik terjemahan dari Korea (Selatan). Rerata komik ini selain menarik kemasan dan tampilannya, juga bagus dan edukatif isinya. Hanya, harganya kurang bersahabat dengan dompet orang tua. Syukurnya, toko buku ini selalu buka obral murah buku cuci gudang di lantai parkir basement. Sejumlah judul lama diobral dengan banting harga.

Selain itu, komik Detektif Conan juga mereka suka. Buku serial karya Aoyama Gosho & Yamagishi Eiichi ini juga bacaan kesukaan ibunya. Beberapa seri komik ini yang edisi lama saya beli di lapak buku di Blok M, sebagian lagi dari seorang kawannya Gus Rijal dari Surabaya.

Mungkin, buku-buku bacaannya itu cukup berpengaruh baginya. Bisa iya, bisa tidak. Sebab utamanya, saya kira karena faktor SUKA. Saya bilang begitu, karena Nabil, kakaknya juga suka baca buku yang tak jauh beda. Tapi gaya menggambarnya agak berbeda. Zahwa bi(a)sa menggambar kreatif, tanpa melihat contoh atau pola gambar tertentu. Malah, kalau disuruh mengikuti model atau pola, ia mengalami kesulitan. Ini berbeda dengan Nabil. Ia bi(a)sanya menggambar bila ada pola atau model yang dilihat dan ditirunya. Ya, memang anak-anak tidak sama, punya gaya dan kecenderungan yang berbeda-beda.

Yang masih menjadi tanda tanya besar bagi saya adalah terkait teori belajar dan ketrampilan. Bagaimana Zahwa mendapatkan ketrampilan menggambarnya. Ia belajar dan menggambar secara mandiri, tanpa seorang guru yang membimbing dan mengajari teori menggambar. Siapa yang mengajarinya? Ya, sebagai seorang beragama Islam, mudah saja menjawabnya: Allah subhanahu wata'ala.

Semoga ke depan bisa temukan guru yang cocok baginya. Sehingga bisa lebih melejitkan kecerdasan visualnya, seperti kata Howard Gärdner, bahwa suatu kecerdasan akan bisa meningkat bila diberi stimulus atau rangsangan. Dan, kata Master Dedy Corbuzier dalam satu "ceramahnya" bahwa kita seharusnya memberikan dukungan dan kesempatan belajar anak di bidang yang diminati dan lebih dikuasainya. Anak yang suka menggambar, beri ia fasilitas menggambar. Ia akan merasa pintar dan percaya diri. Jangan malah dipaksa kursus matematika, sebab ia tidak bisa berhitung. Ia akan semakin putus asa, sebab ia merasa tidak bisa dan merasa bodoh. Bisa saja itu malah menjerumuskannya dalam jurang kehancuran. Na'udzubillah. Wallahu a'lam.[]

Masyhari

Thursday, March 26, 2020

TRADISI MENULIS DAN PLAGIARISME



Oleh: Masyhari*


Kegiatan menulis tidak dapat dilepaskan dari kehidupan manusia. Dengan tulisan manusia bisa mengabadikan hidupnya, sebab jatah usia hidup manusia terbatas. Dengan adanya karya tulis yang dihasilkan, hidup manusia menjadi abadi. Alhasil, karya tulis merupakan nyawa tambahan yang “diciptakan” manusia sendiri dari hasil usahanya. 

Dikutip dari sejarah.id, bahwa tulisan merupakan batas lorong waktu antara zaman prasejarah dengan zaman sejarah. Zaman sejarah ditandai dengan dikenalnya tulisan di kalangan umat manusia. Tulisan era sejarah awal ditemukan di prasasti-prasasti, berupa ukiran di bebatuan. 


Zaman sebelumnya disebut zaman prasejarah, disebut juga dengan zaman nirleka yang berarti tidak ada tulisan. Peristiwa atau kejadian pada masa itu tidak diabadikan dengan rekaman tulisan, sehingga generasi setelahnya tidak mengetahui detail peristiwa pada masa itu, kecuali melalui penemuan fosil dan tulang-belulang.

Dalam sejarah Islam, khususnya, tulisan memiliki tingkat urgensi yang tinggi. Berbagai cabang dan bidang ilmu pengetahuan, tidak hanya di bidang keagamaan semisal akidah, akhlak, tasawuf, fikih, ushul fikih, dan lain sebagainya, bahkan ilmu eksakta dan sosial semisal sejarah (tarikh), astronomi (falak), kedokteran (ath-thibb), farmasi (shaidalah), kimia, sastra, matematika (riyadhiyyat), dan lain sebagainya dicatat dengan rapi oleh para pakarnya, sehingga kita generasi setelah mereka dapat menikmati dan mempelajari ilmu-ilmu tersebut dan mengembangkannya hingga kini.


Karya-karya tersebut semacam literature review, pustaka yang amat berharga bagi proses penulisan karya-karya selanjutnya, sebut saja misalnya Ibnu Sina (Avicenna), menulis Al-Qanun fi Ath-Thibb-nya, sebuah karya monumental dalam bidang kedokteran. Dalam bidang Ushul Fiqh, ada Imam Asy-Syafi’i dengan Ar-Risalah yang dituliskan melalui tangan santrinya Rabi’ bin Sulaiman Al-Muradi, serta Al-Umm karyanya dalam bidang fikih.


Bagi kita, umat Islam khususnya sungguh beruntung, dahulu selain dihafalkan, Al-Qur’an juga dituliskan di berbagai media, mulai dari pelepah kurma, lontaran kayu, hingga tulang-belulang. Tidak terbayangkan bagaimana seandainya dahulu ayat-ayat tersebut tidak dituliskan? 


Sejarah penulisan Al-Qur’an berlanjut pada masa Abu Bakar. Ketika para sahabat penghafal Al-Qur’an banyak yang gugur di medan perang Yamamah (tahun 12 H), Umar bin Al-Khattab mengusulkan kepada Khalifah Abu Bakar, agar mengumpulkan tulisan ayat-ayat Al-Qur’an yang berserakan itu dan mengkodifikasikannya dengan berbagai rijwayat yang ada. 


Puncaknya, pada masa Khalifah Utsman bin Affan, beliau melakukan semacam penyuntingan, verifikasi dan validasi terhadap riwayat yang ada. Selanjutnya, mushaf Utsmani itu disalin dan disebarkan ke sejumlah wilayah yang ada.


Demikianlah sekilas kisah proses perjalanan panjang bagaimana mushaf Al-Quran terbukukan, mulai dari goresan huruf demi huruf, kata demi kata, ayat demi ayat, surat demi surat, verifikasi, pembukuan, penyalinan hingga penyebaran. 


Hal ini bisa kita analogikan pada proses panjang menghasilkan sebuah karya tulis pada era kini. Dengan konsisten dan penuh komitmen seorang penulis merangkai kata demi kata, satu demi satu, hingga tersusun kalimat. Dari kalimat terangkai sebuah alinea dalam satu topik. 


Selanjutnya tulisan-tulisan itu dikumpulkan dan diverifikasi mana yang layak dan mana yang kurang. Pada tahapan selanjutnya yaitu proses editing (penyuntingan). Bila sudah matang, tulisan dicetak, diperbanyak, diterbitkan dan terakhir didistribusikan kepada para pembacanya.


Begitu pula dengan Hadis Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Bisa kita bayangkan bagaimana seandainya sabda (qaul), tindakan (fi’l) dan keputusan (taqrir) beliau tidak diriwayatkan, lantas dituliskan dan dibukukan oleh para pakar. Tentunya, kita tidak akan bisa membacanya hingga saat ini. Demikianlah tingkat urgensitas tulisan bagi kehidupan umat Islam khususnya, dan umat manusia pada umumnya.


Lantas bagaimana sikap kita sebagai mahasiswa, selaku insan akademis yang terdidik, setiap hari berkutat di bangku perkuliahan? 


Mau tidak mau, sebagai generasi penerus kehidupan, kita harus bergerak cepat membawa tongkat estafet transmisi ilmu pengetahuan dengan aktif menulis, aktif di dunia literasi. Di kampus, aktifitas tulis-menulis tidak mungkin dapat dilepaskan. Kita tahu dan sadar betul bahwa tugas-tugas kampus tidak terlepas dari kegiatan literasi; baca dan tulis. Setiap matakuliah yang merupakan perwujudan dari ilmu yang kita pelajari berupa tulisan dan kita diharuskan untuk mengerjakan tugas-tugas penulisan dan penelitian, dalam rangka mengais dan mengembangkan ilmu pengetahuan, sebagai bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi. 
Karena itu, menghasilkan karya tulis menjadi satu syarat sesorang bisa memperoleh gelar kesarjanaan, berupa skripsi di level sarjana (S1), tesis di level magister (S2) dan disertasi di level doktoral (S3).

Hanya saja, dalam tataran realita karya tulis ilmiah yang dihasilkan mahasiswa –baik artikel, makalah, maupun skripsi-, tidak jarang ditemukan semacam plagiarisme, copas (copy paste) dari tulisan karya orang lain. Copas yang dimaksud, paling parah dengan menduplikasi karya orang lain dan mengakuinya sebagai karyanya, sedikit ataupun banyak. Bentuk minimalnya, dengan mengutip tulisan orang lain dengan jumlah banyak secara langsung hingga berhalaman-halaman apa adanya, menyalin dan menempelkannya saja, tanpa melakukan parafrase, menyesuaikan bahasa penulis asal dengan gaya bahasanya sendiri. 


Lantas, apa faktor penyebabnya? Bagaimana pula upaya atau solusi untuk meminimalisirnya?


Banyak faktor yang mengakibatkan terjadi plagiarisme di kalangan mahasiswa. Berikut ini disebutkan beberapa faktor internal yang ditengarai sebagai penyebab maraknya plagiarisme karya. Mungkin faktor lainnya masih ada lagi.


Pertama, kurangnya minat membaca

Membaca adalah aktivitas menyerap informasi dari sumber tertulis, mencerna dan memahaminya secara utuh. Ketika seseorang malas membaca, maka besar kemungkinan ia minim informasi yang bisa dituangkan ke dalam tulisannya. Kalaupun membaca, tapi tidak dicerna dan dipahami dengan baik, maka ia pun hanya menyalin dan menempelkannya.

Solusi yang ditawarkan, dengan membiasakan diri membaca. Bagi dosen pengampu matakuliah apa saja, bisa menugaskan mahasiswa membaca satu buku tuntas secara cermat dan memahaminya, dimulai dari satu paragraf ke paragraf selanjutnya, dari satu bab ke bab berikutnya, kemudian memintanya menjelaskan kepada kawan-kawannya. Setelah khatam, ia ditugaskan membaca buku lainnya, dan seterusnya. Dengan begitu, dia mulai terbiasa membaca dan menikmati tradisi membaca, meskipun awalnya terpaksa.


Kedua, tidak terbiasa menulis


Kata ahli kebijaksanaan, “Ala bisa karena terbiasa”. Seorang mahasiswa melakukan copas, ketika saya tanya mengapa, dia menjawab karena [merasa] tidak bisa merangkai kata atau merasa tidak percaya diri dengan tulisan yang dihasilkan dari rangkaian kata-katanya sendiri. Hal itu disebabkan karena ia belum memiliki tradisi menulis. 


Sejatinya, dalam menulis jam terbang menentukan kualitas. Bila jarang menulis, jari-jemari tangan akan terasa berat merangkaikan kata demi kata, menuangkan ide dan pikiran. Tulisan yang dihasilkan pun tidak enak dibaca. 


Hal ini berbeda dengan mereka yang jam terbang menulisnya sudah tinggi, setiap hari menulis, maka kata demi kata akan mudah terangkai dan kalimat demi kalimat terkoneksi dengan rapi, sehingga enak dibaca dan mudah dipahami pembacanya.


Solusi mengatasi problem ini kita harus membiasakan diri menulis setiap hari. Seorang dosen bisa memberi tugas lanjutan, setelah mahasiswa membaca, menceritakan dan mempresentasikan hasil bacaannya, ia diminta menuliskan tulisan sederhana apa yang dipahami dari bacaannya dengan redaksi bahasa mahasiswa sendiri. Satu buku diperas menjadi satu hingga tiga halaman saja. Ini semacam jurus mengikat makna yang dipopulerkan oleh Hernowo. 


Selain itu, dosen bisa pula memberikan tugas menulis resume, semacam catatan perkuliahan atau diskusi yang dilaksanakan setiap pertemuan. Dosen memberikan cukup waktu sekitar 15 menit terakhir jelang ditutupnya perkuliahan kepada mahasiswa untuk menulis sekitar setengah atau satu halaman, atau sekitar 5 alinea, berkaitan seputar topik materi perkuliahan. 


Solusi berikutnya, dalam momentum ujian, baik UTS maupun UAS, dosen memberikan soal uraian, mahasiswa diminta menjelaskan suatu persoalan secara argumentatif yang memaksanya untuk mengeluarkan pendapatnya. 


Solusi lain yang tidak kalah pentingnya, yaitu dosen dan mahasiswa membuat komitmen menulis setiap hari. Setiap hari menghasilkan satu tulisan, bebas, apa pun tema dan genrenya.  


Ketiga, tidak menguasai teknik penulisan atau pengutipan.


Kerap terjadinya kesalahan, karena seorang mahasiswa kurang memahami dan menguasai teknis penulisan dan teknis sitasi (pengutipan) yang baik. 


Seorang penulis karya ilmiah semestinya tidak hanya sebatas menyusun kutipan-kutipan dari penulis sebelumnya, akan tetapi menganalisis, menginterpretasikan, menyimpulkan, mengkomparasikannya dengan pendapat pakar lain, dan bisa mengomentari, menanggapi atau bahkan mengkritiknya. Kutipan tidak langsung lebih diutamakan. Sementara kutipan langsung sebaiknya dihindari, kecuali terpaksa, semisal teks-teks suci Al-Quran atau Hadis, ataupun manuskrip yang harus dituliskan apa adanya. 


Solusinya, dosen harus sabar membimbing dan mengarahkan mahasiswa bagaimana menulis dan mengutip yang baik. Ia berikan berbagai macam contoh tulisan yang memuat kutipan. Berikan simulasi pelatihan secara intensif dan berkelanjutan bila diperlukan.


Sebenarnya, masih banyak faktor penyebab lainnya dan bisa kita carikan solusi atas problem-problem tersebut. Sehingga, insan akademis kita bisa menghasilkan karya yang kreatif, bukan hanya copast dan plagiasi dari karya orang sebelumnya. Semoga.  

  
Cirebon, 26 Maret 2020

* Penulis adalah sekretaris PC ISNU Kabupaten Cirebon (2018-2022), dan dosen di STAI Cirebon dan IAIN Syekh Nurjati Cirebon.        
     
  


Ulasan Hasil Tantangan Menulis Bareng SLI di Hari Guru Nasional

Hasil Tantangan #NulisBarengSLI #HariGuruNasional2020 #SahabatLiterasiIAICirebon Beberapa hari yang lalu (23/11/2020) aku atas nama pribad...