Sunday, January 25, 2015

Wejangan Kyai Masdar FM

Di antara sekian banyak para Kuyaha (bentuk plural dari "Kiyai") PBNU dan senior di NU yang memberikan wejangan dalam rangka briefing bagi calon penerima beasiswa Magister dan Doktoral ke El-Imam Muhammad bin Saud Islamic University Riyadh-Saudi Arabia yang akan diberangkatkan beberapa saat lagi, tercatat nama seorang Ketua Syuriyah PBNU yang progresif dan kerap disebut sebagai kiyai liberal, tidak hanya oleh kalangan fundamentalis dan orang luar NU, namun bahkan tidak jarang kiyai internal NU pun menggugatnya, akibat “kenylenehan”nya. 

Barangkali kita ingat ada sebuah ide ‘aneh’ yang digulirkannya terkait dengan waktu pelaksanaan haji. Bila terbuka ruang ‘berbeda’ dengan sebagian gaya praktik haji Rasulullah, seperti terkait dengan perluasan area sa'i, bahkan saat ini ada lantai bawah tanah, lantai 2 dan seterusnya. Juga terbukanya ijtihad terkait dengan waktu pelaksanaan lempar jumrah. Maka, mengapa tidak mengadakan haji dan wukuf di Arafah secara bergiliran tanggalnya, toh bulan-bulan haji itu tidak hanya bulan Dzulhijjah, tetapi asyhurun ma’lumat  (pada bulan-bulan yang dimaklumi, yaitu Syawal, Dzulqa'dah dan Dzulhijjah). Hal ini karena melihat secara realitas, bahwa pelaksanaan beberapa wajib atau rukun haji dilakukan dalam waktu dan tempat yang bersamaan, dan ini menimbulkan banyak korban jiwa. Selain umat Islam yang hendak melakukan ibadah haji dari tahun ke tahun terus meningkat. Sehingga, kebijakan pembatasan kuota, dianggap bukan sebuah pilihan yang tepat. Tentu, ‘ijtihad’ ini ditentang banyak kalangan. "Haji saja sendiri pada luar bulan Dzulhijjah!" Tantang mereka, para kritikusnya. 
Selain itu, Kiyai yang terkenal dengan gerakan Islam emansipatoris ini juga pernah dianggap sebagai kiyai gender, tidak setuju dengan poligami, namun belakangan, beliau sendiri melakukan praktik poligami. Entah, apa latar belakangannya? Aku tidak tahu pasti. Anda tentunya sudah meraba-raba, siapa Kiyai yang aku maksud. Tiada lain, beliau adalah Kiyai Masdar Farid Mas'udi.

Pertemuan kami siang tadi (21/1/ 2015), dilaksanakan di ruangan beliau di markas PBNU Kramat Raya. Selain membahas tentang [a] variasi dan model perilaku keberagamaan, [b] urgensi berjamaah dan berjamiyyah, dan [c] urgensi mempelajari sejarah, di pertemuan singkat yang berlangsung sekitar satu jam, dimulai pukul sebelas ini, Kiyai Masdar juga menyampaikan ‘kuliah umum’ terkait minimal dua hal yang sempat kucatat. Bahasan ilmiah yang cukup serius. Yang pertama terkait dengan politik dan ketatanegaraan Islam, dan yang kedua adalah terkait dengan zakat. Kedua hal ini memiliki keterkaitan yang sangat erat.


Soal politik, beliau menjelaskan bahwa sejarah mencatat, bahwa Islam adalah agama yang sejak mula muncul telah bergumul dan tak terpisahkan dengan politik dan kekuasaan. Namun, pertanyaannya, mengapa terkait ilmu politik dan ketatanegaraan Islam, kok tidak berkembang?


“ini dipengaruhi oleh banyak faktor, di antaranya adalah dalam tataran realitas sejarah, praktik pemerintahan islam dilakukan secara monarkhi, melalui sistem pewarisan dan cenderung anti kritik. Kritik terhadap penguasa dianggap sebagai sebuah bentuk perlawanan, bid’ah, yang harus dibasmi. Bahkan, Imam Al-Mawardi, tatkala menulis Al-Ahkam As-Sulthaniyyah, beliau berpesan, "buku ini jangan diterbitkan, kecuali setelah aku mati. Apa sebab? Ternyata, di antara isi buku tersebut adalah suksesi kekuasaan dilakukan oleh Ahlul Halli Wal ‘Aqdi, sebuah tim yang berkompeten untuk memilih, bukan berdasarkan sistem kewarisan, turun-temurun. Sementara inilah yang terjadi pada kala itu.” Demikian sekilas yang kutangkap dari penjelasan beliau.

“Khawatir, bila buku itu diterbitkan, bukan hanya jabatan hakim beliau terancam dicabut, bahkan nyawa beliau pun bisa saja melayang.” Lanjut beliau.

Kiyai Masdar juga menjelaskan tentang urgensi bertanah air (memiliki lahan dan kekuasaan) dalam dakwah. Tidak mungkin kita akan bisa berdakwah dengan baik, bila kita hidup di udara, tidak memiliki ikatan nasionalisme di bumi ini. Kita juga tidak akan bisa tenang, bilamana kita dalam kondisi konflik, peperangan, hidup dalam kengerian. Selain itu, relitas sejarah membuktikan bahwa penguasa dunia adalah yang akan menjadi pembawa nilai peradaban. Sehingga, bila kita menjadi bangsa yang kuat, niscaya akan memimpin dunia dan pada selanjutnya akan mudah menyebarkan nilai-nilai peradaban yang baik bagi dunia. Dan, ternyata, yang kuat secara ekonomi lah yang akan menguasai. Saat Uni Sovyet kuat dan berkuasa, ideologi komunisme lah yang berkembang di dunia. Saat Amerika menguasai perekonomian, kapitalisme dan liberalisme pun yang menggurita.


Bila dikelompokkkan, lima rukun Islam itu terbagi menjadi tiga, yaitu hubungan dengan Allah, hubungan dengan pembersihan jiwa dan berhubungan dengan sesama. Terkait dengan hubungan sesama, kita mengenal negara sebagai wujud dari sebuah kontrak perjanian untuk bersyerikat dan berkumpul antara warga masyarakat. Sebagaimana diketahui bahwa negara tidak akan berjalan, bila tanpa adanya anggaran pendanaan, dan anggaran tidak akan berguna bila tidak ada sumber pemasukan dana. Dan, undang-undang APBN-lah yang paling seksi dan strategis untuk dilirik. Mengapa, sebab inilah jantung negara.


Selama ini, pendapatan negara adalah dari pajak. Dan, sebenarnya di dalam Islam sudah terdapat instrumen pemasukan kas, di antaranya berupa sistem zakat, yang berbasiskan pada nilai keadilan dan kesejahteraan sosial. Bila zakat ini dikelola dengan baik dan maksimal, niscaya negara akan makmur. Dalam konteks perzakatan (perpajakan), sebuah negara ibaratnya seorang amil atau lembaga amil zakat, bukan pemilik harta. Negara hanya berfungsi sebagai penarik (al-akhdzu) dan distribusi (at-tasharruf) zakat. Sementara yang terjadi di Indonesia saat ini, belanja negara lebih banyak dihabiskan untuk menggaji aparat pemerintahan. Sedangkan rakyat kecil kurang mendapatkan ruang. Padahal, dalam Islam sudah jelas terdapat delapan golongan. Namun, yang diutamakan adalah fakir dan miskin. Sedangkan ‘amil’ (petugas zakat) hanya perantara antara muzakki dan mustahiq. Bagian petugas, semestinya hanya sebatas diberi ‘uang lelah’, tentunya lebih sedikit daripada fakir-miskin. Bukan sebaliknya.


Secara pribadi, ini adalah pertemuanku dengan beliau yang ke tiga. Yang pertama dan kedua adalah di kantor P3M Cililitan Kecil. Kali pertama aku bisa bertatap muka dengan beliau secara langsung tak lama setelah aku dipertemukan dan diperkenalkan oleh takdir, yaitu ketika beliau berdua sedang mengerjakan proyek alih-bahasa buku Pak Masdar berbahasa Indonesia yang bertajuk Zakat ke dalam bahasa Arab, sekitar tahun 2010 silam.


Sebelumnya, seorang kawan aktivis FK2, Wawan, secara tiba-tiba menyodorkan sebuah kertas berisi teks berbahasa Indonesia dan memintaku untuk menerjemahkannya ke dalam bahasa Arab. Katanya, itu sebuah ‘sayembara’. Akan dipilih beberapa orang yang nantinya diminta mengerjakan penerjemahan sebuah buku. Dan, alhamdulillah, aku termasuk di antara mereka. Akhirnya, aku pun diminta Wawan agar datang ke Cililitan bergabung bersama kawan-kawan lainnya. Inilah kali pertama perkenalanku dengan Cak Fuad, setelah sebelumnya sempat dipertemukan dalam sebuah forum di Albayyinah Buncit Pulo bersama dengan Gus Chollil Nafis dan kawan-kawan FK2. Di kantor P3M, Pak Masdar menjelaskan secara singkat inti pemikirannya yang dituangkan dalam buku yang sudah beberapa kali naik cetak dan diterbitkan ulang oleh beberapa penerbit yang berbeda-beda, juga dengan judul yang tidak sama. Terkait judul buku, pernah aku mendengar penjelasan dari Pak Masdar, sengaja diubah karena para pembaca yang kurang memahami inti pemikiran yang beliau harapkan. Menurut catatan, telah banyak karya tulis ilmiah yang mengkaji pemikiran Zakat beliau, tidak hanya skripsi dan tesis, tapi disertasi.


Pertemuan berikutnya adalah terhadap pemikiran beliau, khususnya saat mengikuti mata kuliah tentang Manajemen Zakat di kampus Pascasarjana IAIN Syekh Nurjati yang diampu oleh Dr Mukhlisin Muzarie. Saat membuat makalah, aku sempat mengutip pendapat beliau dalam bukunya sebagai bahan makalah kelas tentang macam-macam mal zakawi (barang-barang yang dizakati). Tidak sekali dua kali dosen pengampu mata kuliah itu ku ini mengutip pemikiran Pak Masdar. Selain beliau adalah Prof Khozin Nasuha, yang merupakan rektor ISIF Cirebon, kerap mengutip ide-ide berani Pak Masdar di dalam perkuliahan beliau dan juga menyanjung keberaniannya. Kendatipun Pak Masdar kerap ‘dikepruki’ oleh banyak kalangan dan bahkan katanya pernah dilempar sandal dalam sebuah forum karena kenlenehan pandangannya dari status-quo yang mainstream.


Pada kesempatan siang tadi, Pak Masdar juga menjelaskan bahwa terkait dengan “batasan” dalam agama Islam terkait kebaikan, penjelasan teks syariat hanyalah batasan minimun. Artinya, boleh membayar zakat lebih dari batasan yang ditentukan. Dalam bahasa UU di Indonesia, serendah-rendahnya. Sedangkan terkait dengan hukuman (hudud), yang ada adalah batasan maksimum. Dalam bahasa UU di Indonesia, setinggi-tingginya. artinya, bisa lebih ringan daripadanya. Tapi tidak boleh melampaui batasan ini. Terkait dengan ini, Pak Masdar tidak menjelaskan lebih lanjut tentang nalar Ushul Fikihnya. Mungkin karena keterbatasan waktu.


Selain itu, terkait mal zakawi (harta yang waib dizakati) juga bisa masuk ranah ijtihad. Dahulu, di Arab ada zakat onta, lah di Indonesia kan tidak ada. Soal ini, disesuaikan dengan kondisi masa dan tempat. Secara singkat, zakat dibagi menjadi dua, yaitu zakat harta benda (mal) dan zakat fitrah (jiwa). Terkait hal ini, ada sebuah kaidah utama dalam Al-Qur’an tentang zakat yang kerap dikutip oleh Pak Mukhlisin, yaitu mimma kasabtum wa mimma akrajna lakum minal ardh (dari hasil usaha kalian dan yang kalian dapatkan dari hasil bumi).


Karena sudah cukup panjang, dan mata ini sudah terasa berat, ingin segera terpejam, cukuplah sekian dulu. Semoga bermanfaat.[]

Jakarta, 21 Januari 2015_23:

Menulis Itu Sederhana

Menulis, itu sederhana. Bermodalkan sesuatu yang gratisan bernama keMAUan dan eksekusi. Langsung tulis tanpa mikir apa yang mau ditulis. Karena ujung jemari akan berjalan dengan lincah dan begitu apiknya. Semakin enggan untuk berhenti bila ia sudah masuk melangkah dalam ruang samudera kata yang tak bertepian. 
Ah, ini hanya igauan lebay, mungkin. Tapi, berasaskan pengalaman bebas tanpa buku panduan kurikulum yang rajin berganti seirama dengan pergantian kuasa politik, dan berganti menteri.. 
Menulis itu hanya pem-BIASA-an.
Dulu, sewaktu sejarah takdir kehidupan memaksaku tuk masuk ke usia pubertas dan kujatuhkan pilihan pada MA Tabah, aku merasa tak bisa menulis apa. Mengarang dalam PELAJARAN bahasa Indonesia, pun juga soal esai menjadi momok, hantu yang amat menakutkan, bagiku. Entah, apa sebab? Barangkali karena kala itu belum waktunya. Ya, hanya soal waktu, sederhananya. Kalau tak ada pengalaman ‘pahit’ tentu tidak terasa indah hikmahnya.
Dulu, aku mengira, menulis itu bakat. Yang hanya domain mereka yang pandai dan sedari kecil terlahir cerdas. Ternyata asumsiku salah. Para penulis hebat dunia mengatakannya. Menulis adalah sebuah proses belajar. Tak ada kata final.
Adalah Prof Dr Imam Suprayogo, sang manatan rektor UIN Malang, pantas menjadi teladan bagi kita dalam tulis menulis, walau dengan kesibukan aktifitasnya yang amat padat, ia masih sempatkan nulis secara istiqamah setiap (pagi) hari selepas subuh dan tadarus pagi. Ya, istiqamah, setiap hari. Meski, katanya, hanya tulisan sederhana, tanpa rancangan ataupun outline, sebelumnya. Sementara aku, masih angin-anginan. Kalau mau ya nulis, bila enggan ya cuma scrolling status-status fb dan ngiler lihat catatan orang. 
Menulis, selain bermodal keMAUan, ternyata juga harus didukung oleh KEBERANIAN tuk ungkapkan gagasan. Ketakutan-ketakutan dan kekhawatiran pun kerap jadi pengHALANG berat yang harus dilawan.  Takut salah tanda baca, takut tidak enak dibaca, takut menjadi bulan-bulanan pembaca. Ah, namanya dunia sosial, interaksi dengan sesama. Itulah seninya. Tak pengkritik dan pengamat, tidaklah indah dan seimbang dunia. Sadari, bahwa menulis itu tak ada pakem idealnya. Setiap penulis punya gaya uniknya, berbeda satu dengan yang lainnya. Meniru gaya bisa saja, tapi tetap ada ciri khasnya. Tak ada kesamaan yang sempurna. Karena kita dan dunia memang dicipta berbeda. Karena itu, menulislah.

Jakarta-Cirebon, 24-25/01/2015

Bidadari Senja

::::::::::::::::::::::::

Engkau masih
dan tetap saja
tampak ayu
menawan
mataku layu
tegangkan
urat syahwat kaku

meski waktu telah memaksamu
berkepala sudah lima puluh

parasmu masih tampak mempesona
senyummu begitu menggoda

aku, dia, mereka para jejaka muda
diam-diam terpana asmara
Sungguh, usia hanya waktu
Sebab
ia tak jua merenggut
kecantikan parasmu

Andai tak ada dogma
atau tata adat agama
ia, aku, mereka
kan ungkap hati
dengan kata indah
pujimu yang memesona
Boleh Kau kata ini liar penuh dosa
tapi rasa tak apa disejarah
daripada hangus terbakar masa
KAI Kertajaya, 24/01/2015

Thursday, November 27, 2014

القواعد الفقهيّة وتطبيقاتها في المسائل الطبّية


القواعد الفقهيّة وتطبيقاتها في المسائل الطبّية (3-الخاتمة)
المبحث الرابع
في قاعدة المشقة تجلب التيسير
المطلب الأول: معنى القاعدة
        إن الأحكام التي ينشأ عن تطبيقها حرج على المكلف ومشقته في نفسه أو ماله، فالشريعة تخففها بما يقع تحت قدرة المكلف دون عسر أو إحراج.[34]
 المطلب الثاني: من أدلة القاعدة
1- الأدلة من القرآن كثيرة، منها: قوله تعالى: ((يريد الله بكم اليسر ولا يريد بكم العسر))[35]، و((وما جعل عليكم في الدين من حرج))[36]، و((لا يكلف الله نفسا إلا وسعها))[37].
2-  ومن السنة قوله @: ))  بعثت بالحنيفية السمحة)).[38] 
3- الإجماع على عدم وقوع التكليف بالشاق من الأعمال.[39]

المطلب الثالث: القواعد المتفرعة تحتها وتطبيقاتها في مجال الطب
القاعدة الأولى : الضرورة تبيح المحظورات
     ومن الأمثلة المتفرعة عنها:
1- كشف الطبيب على العورة عند الضرورة جائز، مع أن الأصل في ذلك محرم.
2- شق بطن الحامل يجوز عند الضرورة وتعسر الولادة.
3- استعمال المخدر في العمليات جائز للضرورة.[40] 
القاعدة الثانية: الضرورة تقدر بقدرها
     ومن الأمثلة المتفرعة عنها:
1- شق بطن الحامل بالمقدار الكافي دون زيادة.
2- استعمال المخدر يكون بالحد الكافي ولا زيادة.
3- وكشف الطبيب على المرأة عند الضرورة إنما يكون للموضع المعالج فقط.
4- الجبيرة يجب عدم ستر العضو الصحيح إلا بقدر مالا بد منه.[41]
القاعدة الثالثة: إذا ضاق الأمر اتسع
     ومن الأمثلة المتفرعة عنها:
1-    يباح للمرض التيمم عند العجز عن التطهر بالماء.
2-    يباح للمريض الفطر في نهار رمضان إذا شق عليه الصوم.
3-    تصلي المستحاضة ودائم الحدث بعد الوضوئ ولو خرج منهما شيء بعده.
4-    يجوز للرجل لبس الحرير بسبب الحكة.
5-    يجوز للطبيب الجمع بين الظهر والعصر وبين المغرب والعشاء، إذا كان مشغولا بمتابعة مرضاه.[42]
القاعدة الرابعة: الحاجة تنزل منزلة الضرورة عامة كانت أو خاصة
     ومن الأمثلة المتفرعة عنها:
1- جواز حلق المحرم لشعر رأسه عند حاجته لذلك بسبب المرض.
2- جواز العمليات الحاجية كإزالة التشوهات التي حصلت بسبب حريق أو حوادث سيارات ونحو ذلك، أو كإزالة أصبع زائدة، أو يد زائدة، أو سن زائد تضر بالفم.
3- يجوز النظر للعلاج عندما تدعو الحاجة إلى ذلك.[43]
القاعدة الخامسة: ما جاز لعذر بطل بزواله
1-    جواز لبس الحرير من أجل التداوي، إذا زال المرض عاد الحكم إلى الأصل وهو التحريم
2-    وجواز النظر لحاجة العلاج، إذا زال المرض حرم النظر.
القاعدة السادسة: تصرف الإمام على الرعية منوط بالمصلحة
1-    يجب على الراعي أو الإمام على أصحاب الأمراض المعدية الذين يخشى على الناس منهم، وتجب طاعته في ذلك.
2-    يجوز للإمام تحديد أسعار المستشفيات الخاصة إذا كان هناك مغالاة فيها.
3-    يجب على الإمام منع الأدوية من الدخول إلى بلاده إذا رأى فيها ضررا على الناس.
4-    يحرم للطبيب تقرير أية عملية للمريض لا تظهر حاجته إليها.
5-    يجب على الطبيب أن يصرف للمريض أدوية ليس في حاجتها.
6-    يجب على الطبيب أن ينصح لمريضه ويبين له كل ما يتوقف عليه علاجه.[44]

المبحث الخامس
في قاعدة العادة المحكمة
المطلب الأول: معنى القاعدة
        العادة هي المرجع للفصل عند التنازع. وهذه القاعدة بمنزلة العرف في أصول الفقه.
المطلب الثاني: أدلة القاعدة
1- من الكتاب قوله تعالى : (( خذ العفو وأمر بالعرف وأعرض عن الجاهلين))[45].
2- ومن الأثر : (( ما رآه المسلمون حسنا فهو عند الله حسن))[46].     
المطلب الثالث: القواعد المتفرعة عنها وتطبيقاتها في الطب:
       إن القواعد المتفرعة عن قاعدة العادة المحكمة كثيرة، أذكر بعضها الذي أجد فيه المسائل الطبية:
القاعدة الأولى: المعروف عرفا كالمشروط شرطا
معنى القاعدة: إن ما تعارف عليه الناس في معاملتهم –وإن لم يذكر صريحا- هو قائم مقام الشرط في الالتزام والتقييد.[47]
تطبيق القاعدة في المسائل الطبية:
1- إذا اختلف الطبيب والمريض في مقدار أجرة الكشف أو العملية ولا بينة رجع إلى ما تعارف عليه الأطباء في مثل هذه الحالة.
2- إذا تنازع الطبيب والمريض في دخول الأدوية أو الأدوات المستخدمة ضمن قيمة العلاج ولا بينة رجع إلى ما تعارف عليه الأطباء.
3- يلزم الطبيب عند حضور المريض إليه أن يجري له الفحوص المعتادة من دون تفريط في شيء منها كحرارة المريض، وضغط دمه، ونحو ذلك؛ لتعارف الأطباء على ذلك.[48]
القاعدة الثانية: العبرة للغالب الشائع والمطرد لا للنادر
شرح القاعدة : إن القاعدة تعتبر من شروط اعتبار العادة، وهي غلبتها وشيوعها واطرادها بين الناس في جميع معاملتهم ، أو في أغلبها، أما إن كانت غير ذلك، حيث كان العمل بها مماثلا لتركها، أو كان تركها أكثر، لم يلزم تحكيمها.[49]
فروع تطبيقية على القاعدة:
1- إذا زار المريض طبيبا خاصا وبعد الكشف عليه أجري له الطبيب بعض التحاليل ثم ادعى المريض بأن قيمة التحاليل تشملها أجرة الكشف، وأنكر الطبيب ذلك رجع إلى العادة الغالبة أو الشائعة المطردة في ذلك.
2- إذا كشف المريض عند طبيب استشاري ثم اختلفا في قيمة الكشف رجع إلى العادة المطردة أو الشائعة في ذلك. فإن لم يوجد في ذلك عادة مطرد ولا غالبة أخذ بقول المريض؛ لأنه غارم والأصل براءة ذمته من الزيادة.
3- يجوز للصيدلي صرف الأدوية التي جرت العادة الغالبة بلا وصفة طبية مسبقة.[50]
القاعدة الثالثة: الكتاب كالخطاب
معنى القاعدة: إن العبارات الكتابية كالمخاطبة الشفوية في الحكم.
شروط الكتابة المقبولة : (1) أن تكون مستبينة، أي بينة واضحة الخط، و(2) أن تكون معنونة، بأن كانت على الرسم المعتاد.
        ويستثنى في ذلك المعتاد في خط الصراف والأطباء والصيدليين الذين يكتبون ما عليهم في دفاترهم، فيعمل به وإن لم يكن معنونا. والحاصل : أن كل كتاب يحرر على الوجه المعتاد و المتعارف بين الناس يكون حجة على كاتبه كالنطق باللسان.[51]
فروع تطبيقية على القاعدة:
1-    إذا كتب الطبيب للمريض وصفة محددة لزم التقييد بها من قبل المريض والصيدلي.
2-    يجوز للطبيب أن يعتمد تقارير مسبقة في مواصلة علاج الحالة المعروضة عليه، ولا حاجة لإجراء الفحوص من جديد عند ثقته بذلك.[52]

الخاتمة وأهم نتائج البحث
        الحمد لله الذي أنعم علي بكتابة هذا البحث البسيط، وأسأل الله تعالى المزيد من وسعة فضله، أما بعد: فقد توصلت من خلال البحث إلى بعض النتائج، ومن أهمها:
1- إن القواعد الفقهية لها أهمية كبيرة وأثرها واضح في حفظ المسائل الفقهية واستبناطها.
2- إن الشريعة الإسلامية شاملة كاملة، فهي تشمل الأمور الدنيوية كما تشمل العبادة الأخراوية، ولا يجوز الفصل بينهما، والشريعة حاكمة فاصلة بين الناس.
3- إن الشريعة الإسلامية راعت المقاصد والعاداة، وحكمت بها مالم تعارض النصوص والمقاصد الشرعية.
4- إن الشريعة الإسلامية جاءت بكل ما يدفع الضرر والمشقة عن المكلف.
5- إن المسائل الطبية مما ينبغي لعلماء الشريعة الاهتمام بها، ولا سيما فيما يتعلق بالأحكام الفقهية.
6- إن تعليم القواعد الفقهية وتطبيقها في المجالات المتنوعة (كالطبية مثلا) من الأشياء التي ينبغي أن يهتم بها، وذلك لسهولته من جانب وأثره من جانب آخر.
        هذا والحمد لله على كل حال ظاهرا وباطنا، ونصلي وأسلم على المصطفى رسول الله وخير خلقه وعلى آله وصحبه، والله أعلم بالصواب.

فهرس المراجع
1-   الفِقْهُ الإسلاميُّ وأدلَّتُهُ، وَهْبَة الزُّحَيْلِيّ، دار الفكر، سوريَّة- دمشق
2-    المنهاج في علم القواعد الفقهية، رياض بن منصور الخليفي
3-    الوجيز في إيضاح القواعد الفقهية، محمد صدقي أحمد البورنو، مؤسسة الرسالة، بيروت - لبنان، 1422ه/ 2002م
4-    دستور العلماء أو جامع العلوم في اصطلاحات الفنون، القاضي عبد رب النبي بن عبد رب الرسول الأحمد نكري، دار الكتب العلمية، بيروت - 1421 هـ - 2000 م، تحقيق : عرب عباراته الفارسية: حسن هاني فحص
5-    تطبيق القواعد الفقهية على المسائل الطبية، علي عبد العزيز بن إبراهيم المطرودي، بحث غير مطبوع، 1429ه




[1]  المفصل في أحكام الهجرة، علي بن نايف الشحود، 2007، ص 260
[2]  دستور العلماء، القاضي عبد رب النبي بن عبد رب الرسول الأحمد نكري، دار الكتب العلمية - لبنان / بيروت - 1421 هـ، ج3، ص 39
[3] وهذا ما عرفه الشافعي رحمه الله، انظر: الفقه الإسلامي وأدلته، وهبة الزحيلي، ج 1، ص 14
[4]  الوجيز في إيضاح القواعد الفقهية، محمد البورنو، مؤسسة الرسالة، بيروت ، 1422هـ، ص 16، وانظر: المنهاج في علم القواعد الفقهية، ص1
[5]  الوجيز، ص 24.
[6]  المصدر السابق، ص 24-25
[7]  المصدر السابق، ص 38-43.
[8]  المنهاج في علم القواعد الفقهية، رياض الخليفي، ص 3، وانظر: الوجيز، ص 40
[9]  تطبيق القواعد الفقهية  على المسائل الطبية، ص 8
[10]  الوجيز، ص 124 بتصرف.
[11]  متفق عليه، وهو حديث مشهور على صحته، وأخرجه الستة.
[12]  تطبيق القواعد الفقهية، ص 12.
[13]  وهذا تعبير الشافعية، انظر: الوجيز في إيضاح القواعد الفقهية، ص 159.
[14]  تطبيق القواعد الفقهية، ص 14.
[15]  الوجيز، ص 169.
[16]  الآية 36 من سورة يونس.
[17]  رواه مسلم في صحيحه (رقم 541).
[18]  الوجيز، ص 172.
[19]  تطبيق القواعد الفقهية على المسائل الطبية، ص 17.
[20]  الآية 29 من سورة البقرة.
[21]  تطبيق القواعد الفقهية على المسائل الطبية، ص 19.
[22]  المرجع السابق، ص 19.
[23]  الوجيز، ص 179.
[24]  رواه البخاري ومسلم وأصحاب السنن.
[25]  تطبيق القواعد الفقهية على المسائل الطبية، ص 20.
[26]  وهذه القاعدة حديث نبوي على رتبة الحسن أخرجه الإمام مالك في الموطأ عن عمرو بن يحيى عن أبيه مرسلا.
[27]  الوجيز، ص 252.
[28]  تطبيق القواعد الفقهية...، ص 26.
[29]  المرجع السابق، 27.
[30]  المرجع السابق، ص 28.
[31]  المرجع السابق، ص 30.
[32]  المرجع السابق، ص 32.
[33]  الوجيز، ص 265.
[34]  الوجيز، ص 218.
[35]  الآية 185 من سورة البقرة.
[36]  الآية 78 من سورة الحج.
[37]  الآية 286 من سورة البقرة.
[38]  رواه أحمد من حديث جابر، والديلمي من حديث عائشة<
[39]  الوجيز، ص 221.
[40]  تطبيق...، ص 34.
[41]  المرجع السابق، ص 36.
[42]  المرجع السابق، ص 43.
[43]  المرجع السابق، ص 49.
[44]  المرجع السابق، ص 52.
[45]  الآية 199 من سورة الأعراف
[46]  وهو حديث موقوف حسن على عبد الله بن مسعود رضي الله عنه، أخرجه أحمد المسند (الوجيز، ص 270-271).
[47]  الوجيز...، ص 306.
[48]  تطبيق القواعد...، ص 56.
[49]  انظر: الوجيز، ص 295.
[50]  تطبيق القواعد...، ص 57.
[51]  الوجيز، ص 301-302.

[52]  تطبيق القواعد...، ص 59.

Wednesday, November 26, 2014

القواعد الفقهيّة وتطبيقاتها في المسائل الطبّية (1)


القواعد الفقهيّة وتطبيقاتها في المسائل الطبّية
(Penerapan Kaidah Fikih di Bidang Kedokteran)
إعداد : مشهري بن محروس معصوم آل معتصم
(معهد الحكم السلفية  العالي الإسلامي باباكان -  تشيوارينجين – شربون بالتعاون مع قسم الدراسة العليا بالجامعة الإسلامية الحكومية شيخ نورجاتي شربون العام الدراسي 2013 م/ 1434 هـ)


المقدمة          
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعه بإحسان إلى يوم الدين، أما بعد:
فإنّ من المعلوم لدى ذوي العقول السليمة أنّ علم الطب ومهنته تتبوأ مكانة رفيعة بين العلوم، ويُكسى صاحبها هيبة تليق به بحسب علمه وحذقه، وهذا لما فيه من الأهمية العظيمة، حيث ما للطب من علاقة جذرية بحياة الناس، فمن من الناس لا يمرض ولا يعتل ؟ فكل الناس كذلك - إلاّ من شاء الله - لذا نرى الناس يهرعون إلى طلب الاستطباب طمعاً في الشفاء، ويتحملون في ذلك الغالي والنفيس، وكل ذلك يهون أمام نعمة الصحة والعافية.
لذا، قال الإمام الشافعي-رحمه الله- : (( إنما العلم علمان : علم الدين وعلم الدنيا . فالعلم الذي للدين هو الفقه والعلم الذي للدنيا هو الطب))، وقال أيضا: ((لا أعلم بعد الحلال والحرام أنبل من الطب، إلاَّ أنّ أهل الكتاب قد غلبونا عليه)). فذكر بعض العلماء بل وجمهورهم (إن لم يكن مجمعا عليه) أنه من فروض الكفاية التي تأثم الأمة إذا فرطت في تعلمه.[1]
        وأحكام الطب وأنظمته يجب أن تخضع لحكم الله كغيرها من الأحكام قال تعالى: ((إن الحكم إلا لله أمر ألا تعبدوا إلا إياه... الآية))، ولما كانت القواعد الفقهية من أفضل مايعين العاملين في المجال الطبي من غير المتخصصين في الشريعة على فهم الأحكام الشرعية للمسائل الطبية الكثيرة، ومن خصائص القواعد الفقهية : سهولة حفظها، وجمعها لكثير من الفروع الفقهية، وسهولة تطبيقها لمن فهمها. وذلك يغني عن حفظ الكثير من الفروع، ويمكن الأطباء وغيرهم من العاملين في المجال الطبي من فهم الأحكام الشرعية وتطبيقها خاصة عند عدم توفر المفتي،كما في الحالات الإسعافية ونحوها.
        لذلك كله يحتاج العاملون في المجال الطبي إلى الاهتمام بدراسة هذه القواعد والتدرب على تطبيقها، وفهم أثرها،ليستطيعوا من خلال ذلك التعامل مع ما يجد من قضايا طبية، أو على الأقل القدرة على تصوير المسألة للمفتين كما ينبغي.
        فهذا البحث البسيط عبارة عن المحاولة في بيان القواعد الفقهية المتعلقة بالمسائل الطبية، وإني لا أبالغ في أن يكون هذا البحث كدليل للأطباء في التعرف بالأحكام الشرعية وخاصة خلال إجراء أعمالهم الطبية، بل وربما –وأرجو- أن يكون بحثي هذا مفيدا لي نفسي وطبعا للأطباء ولكل من يريد معرفة الأحكام الفقهية المتعلقة بالمسائل الطبية بأبسط طرق وأيسرها، والله ولي التوفيق والله أعلم بالصواب.


التمهيد
في القواعد الفقهية
المطلب الأول: تعريف القواعد الفقهية
أولا: التعريف الإفرادي
القواعد لغة جمع قاعدة، وهي ما بني عليه غيره، فيرادف الأساس.
والقاعدة في الاصطلاح العام : الأمر الكلي المنطبق على جميع جزئياته.[2]
والفقهية هي المنسوبة إلى الفقه، وهو لغة الفهم. والفقه اصطلاحا العلم بالأحكام الشرعية العملية المكتسب من أدلتها التفصيلية.[3]
ثانيا: التعريف المركب
        وأما القواعد الفقهية باعتبارها مركبة فهناك تعارف متعددة عرفها العلماء، والتعريف المختار عندي هو أنها قضية كلية فقهية تدخل تحتها أحكام الجزئيات الفقهية المنطبقة عليها.[4]
المطلب الثاني : أهمية القواعد الفقهية
        للقواعد الفقهية أهمية قصوى لما فيها من فوائد عظيمة وقيمة تتجلى فيما يلي:
1- أنها تضبط الفروع الفقهية وتجمع شتاتها تحت ضابط واحد، فتسهل على الفقهاء والمفتيين ضبط الفقه بأحكامه.[5]
2- أنها تكوِّن الملكة الفقهية القوية لدراسة أبواب الفقه الواسعة واستنباط الحلول للوقائع المستجدة.
3- إن دراستها والإلمام بها تربي ملكة المقارنة بين المذاهب المختلفة.[6]  
المطلب الثالث: حجية القواعد الفقهية
هل يجوز أن نجعل القواعد الفقهية دليلا شرعيا يستنبط منه حكم شرعي؟ فالعلماء اختلفوا في هذه المسألة على قولين: أولهما أنها حجة ، والثاني بعدم حجتها.[7] 
وخلاصة القول إن وجد النص على القاعدة الفقهية وصح سنده ومعناه، فالحجة بالنص في كونه قاعدة تخرج عليها الفروع . وإن عدم النص وصح الاستقراء فالقاعدة الفقهية حجة للاستقراء، وعملا بالظن الراجح ، ولعموم أدلة القياس . وإلا فهي في الحكم كفرع فقهي.[8] أو بعبارة أخرى أنها حجة بشرط عدم دليل يخص المسألة، سواء كان الدليل نصا أو قياسا خاصاً.[9]

المبحث الأول
في قاعدة الأمور بمقاصدها
المطلب الأول : معنى القاعدة
        أنّ أعمال المكلف وتصرفاته من قولية أو فعلية تختلف نتائجها وأحكامها الشرعية حسب مقصده ونيته منها.[10]
المطلب الثاني: أدلة القاعدة
        لهذه القاعدة أدلة عديدة من القرآن والسنة والإجماع، أذكر بعضها تجنبا عن الإطالة:
1- القرآن، وهو قوله تعالى في سورة البقرة : ((وَمَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ وَتَثْبِيتًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ كَمَثَلِ جَنَّةٍ بِرَبْوَةٍ أَصَابَهَا وَابِلٌ فَآتَتْ أُكُلَهَا ضِعْفَيْنِ فَإِنْ لَمْ يُصِبْهَا وَابِلٌ فَطَلٌّ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ (265)
2- ومن السنة حديث أبي حفص عمر بن الخطاب> قال: سمعت رسول الله @ ((إنما الأعمال بالنيات...))[11]، وغير ذلك من الآيات والأحاديث الكثيرة تدل على ذلك.

المطلب الثالث: علاقة القاعدة بالمسائل الطبية
        وهذه القاعدة لها علاقة بالمسائل الطبية من حيث إن كلا من الطبيب والمريض يعمل أعمالا ولهذه الأعمال مقاصد تختلف أحكامها حسب نيتهما.
المطلب الرابع: فروع القاعدة في المسائل الطبية
1- مهنة الطب مهنة شريفة، فمن عمل بها ابتغاء مرضاة الله عز وجل، فهو مأجورعليه، ومن نوى غير ذلك فحكمه حسب النية.
2- صرف الطبيب الدواء للمريض بقصد الإضرار يكون الطبيب جانيا، بخلاف ما إذا قصد نفعه فتضرر.[12]
المطلب الخامس: مستثناة القاعدة وتطبيقها في الطبية
        ولهذه القاعدة مستثناتها وهو قاعدة "من استعجل شيئا قبل أوانه عوقب بحرمانه".[13]

        وتطبيق هذه القاعدة في المجال الطبي، إذا قرر الطبيب عملية لا يحتاج إليها، طمعا في الحصول على مقابل مالي فإنه يحرم، بل وعليه ضمان آثار ما قام به من العملية.[14]


-----------
[1]  المفصل في أحكام الهجرة، علي بن نايف الشحود، 2007، ص 260
[2]  دستور العلماء، القاضي عبد رب النبي بن عبد رب الرسول الأحمد نكري، دار الكتب العلمية - لبنان / بيروت - 1421 هـ، ج3، ص 39
[3] وهذا ما عرفه الشافعي رحمه الله، انظر: الفقه الإسلامي وأدلته، وهبة الزحيلي، ج 1، ص 14
[4]  الوجيز في إيضاح القواعد الفقهية، محمد البورنو، مؤسسة الرسالة، بيروت ، 1422هـ، ص 16، وانظر: المنهاج في علم القواعد الفقهية، ص1
[5]  الوجيز، ص 24.
[6]  المصدر السابق، ص 24-25
[7]  المصدر السابق، ص 38-43.
[8]  المنهاج في علم القواعد الفقهية، رياض الخليفي، ص 3، وانظر: الوجيز، ص 40
[9]  تطبيق القواعد الفقهية  على المسائل الطبية، ص 8
[10]  الوجيز، ص 124 بتصرف.
[11]  متفق عليه، وهو حديث مشهور على صحته، وأخرجه الستة.
[12]  تطبيق القواعد الفقهية، ص 12.
[13]  وهذا تعبير الشافعية، انظر: الوجيز في إيضاح القواعد الفقهية، ص 159.
[14]  تطبيق القواعد الفقهية، ص 14.

Ulasan Hasil Tantangan Menulis Bareng SLI di Hari Guru Nasional

Hasil Tantangan #NulisBarengSLI #HariGuruNasional2020 #SahabatLiterasiIAICirebon Beberapa hari yang lalu (23/11/2020) aku atas nama pribad...